Buk Guru, Ayo menikah!

Buk Guru, Ayo menikah!
Part 26


__ADS_3

Leo tersenyum masam. Ia benar-benar merasa sangat sedih untuk sekarang karena Laura benar-benar berhenti mengajar di sini. Ia tak sanggup meneruskan untuk menjadi guru di sekolah ini dan selalu saja menjadi pembicaraan anak murid. Ia juga tidak ingin mengharapkan hal tersebut tapi Leo yang biang masalah dari ini semua benar-benar sangat menyesalinya.


Tidak bisa diulang kembali, semuanya telah terlanjur terjadi. Bukan harapan keduanya akan tetapi itu adalah takdir yang harus mereka lalui. Leo melihat Laura yang pergi dari sekolah tanpa melakukan perpisahan seperti guru lainnya. Mungkin ia terlalu malu dengan anak muridnya, sehingga ia tidak ingin melakukan acara tersebut padahal guru-guru telah menawarinya.


Banyak dari guru yang merasa sedih dengan kepergian wanita itu, namun tidak sedikit pula yang merasa gembira di hatinya karena saingan mereka berkurang satu. Leo benar-benar tidak mengharapkan mereka semua beranggapan seperti itu. Melihat Laura yang hengkang dari sekolah, Leo tidak ingin menemuinya terlebih dahulu karena ini masih di lingkungan sekolah.


Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti dulu, lantas pria itu lari ke dalam toilet dengan wajah marah. Marah kepada diri sendiri dan marah kepada orang lain yang telah membully Laura. Mereka benar-benar kejam dan tidak pernah memikirkan bagaimana nasib orang lain.


Sementara itu Leo baru tersadar apa yang telah dipikirkannya tidak pernah ia pikirkan sebelumnya kepada korbannya. Ia menyesal kenapa harus seperti itu sehingga membuat Laura dalam masalah. Laura adalah orang yang paling dicintainya dan sangat dihargai olehnya, bagaimana mungkin ia bisa melihat Laura di bully.


Mungkin begitu juga alasan orang yang telah menyebarkan fotonya dengan Laura. Ia merasa tidak terima dengan Leo yang telah membully pacarnya.


“Leo oh Leo kenapa kamu menjadi orang sangat tolol,” ucap pria itu yang kesal kepada diri sendiri.


Ia menarik napas panjang dan membasuh wajahnya lalu mengusapnya dengan kasar. Hatinya bergejolak saat ini dan ingin sekali ia meninju kaca yang ada di depannya. Tapi Leo berusaha untuk menahan emosinya yang terus meletup-letup.


Kemudian setelah menenangkan diri dan bersandar pada pintu barulah ia bisa tenang sedikit. Leo menarik nafas beberapa kali dan mengeluarkannya secara perlahan. Hal tersebut terus ia lakukan dengan teratur.


“Laura, tenang saja. Aku tidak akan mengecewakanmu di lain hari. Mungkin saat ini aku telah mengecewakan dirimu tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahmu, tapi lain kali aku akan berusaha menjadi orang yang selalu ada di samping ini dan memberikan alasan yang kau inginkan.”


Leo menganggukkan kepalanya dengan penuh yakin. Ia pasti bisa melakukannya dan membuat bangga Laura. Apalagi itulah yang paling ia harapkan. Sesuatu yang begitu mendalam.


Laki-laki itu keluar dari dalam toilet. Ia melihat beberapa para pria yang tengah memperhatikan dirinya. Ia tahu bahwasanya orang tersebut tidak menyukai dirinya, Tapi Leo memang tidak ingin mencari masalah terlebih dahulu. Apalagi ia telah berjanji kepada Laura.


Saat melewati koridor ia bertemu dengan Alex dan Naufal. Alex telah bisa masuk sekolah lagi dan mereka tidak saling menyapa. Naufal yang menjadi penengah di antara kedua belah pihak tersebut merasa bingung. Ia menyapa Leo akan tetapi Alex ada di sampingnya dan merasa tidak enak.

__ADS_1


Leo juga tidak bersuara sama sekali untuk membalas sapaan tersebut sehingga Naufal benar-benar bingung dan menatap k arah Alex yang juga merajuk dan langsung pergi begitu saja. Ia menarik napas panjang dan harus lebih bersabar lagi.


“Kedua belah pihak memang sangat sukar untuk akur. Jadi gue yang menjadi penengah ini harus berbuat seperti apa?” tanya Naufal kepada dirinya sendiri. Ia menghela nafas panjang dan menjadi tim netral bukanlah sesuatu yang mudah.


Ia harus merasakan kedua belah pihak yang marah kepada dirinya tapi mau berbuat apa lagi karena ini yang lebih baik. Sebab bisa menjaga persahabatan mereka. Naufal mengejar Alex dan kemudian merangkul pundak pria itu. Alex marah besar dan kemudian menyingkirkan tangan Naufal. Tentunya Naufal sangat terkejut dan kemudian membujuk Alex.


“Ayolah, kenapa kalian harus saling bermarahan? Bukannya kita adalah sahabat? Kenapa tidak berkumpul seperti dulu lagi?”


Alex yang menerima pertanyaan itu merasa tidak terima. Ia menatap ke arah Naufal dan kemudian mendorong tubuh laki-laki tersebut. Semudah itu kan untuk bermaafan dengan Leo yang sangat memiliki aku yang tinggi.


Tidak semudah itu untuk bermaafan dengan Leo. Leo adalah orang yang tidak bisa memikirkan perasaan orang lain dan selama mengikuti pria itu ia benar-benar bisa merasakannya. Tapi mau bagaimana lagi karena semuanya telah terlanjur terjadi. Ia telah membenci pria itu cukup lama dan berpisah dengannya merupakan jalan yang baik.


“Jika kau ingin ikut dengannya tidak masalah. Memangnya kamu bisa sanggup?”


••••••


Entah siapa yang salah namun Naufal saat ini benar-benar berusaha untuk membuat Alex dan Leo kembali akur. Segala daya upaya ia lakukan. Seperti saat ini, ia sedang mempertemukan Alex dan Leo secara diam-diam. Mungkin Alex sendiri tidak menyangka dengan hal tersebut sangat marah ketika Naufal membawa dirinya untuk menemui laki-laki itu.


“Kenapa lo membawa dia ke depan gue?” tanya Leo dan membuang wajahnya.


Naufal tersenyum canggung, pria itu menggaruk lehernya dan kemudian menatap ke arah Alex dan Leo bersamaan. Bagaimana caranya Ia menjelaskan kepada mereka semua bahwa ia ingin sekali persahabatan mereka kembali lagi seperti dulu.


“Kalian kenapa harus seperti ini? Kenapa tidak berbaikan saja dan menjadi seperti dulu lagi?” Terdengar dari suara Naufal benar-benar mengharapkan persahabatan mereka kembali.


“Tidak ada yang perlu dijelaskan kepada orang bodoh seperti dia. Dia tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, kenapa lo harus peduli dengannya? Emangnya lu lelah hidup dan ingin menjadi budaknya selamanya?”

__ADS_1


Leo yang mendengar perkataan Alex tersebut tidak terima dan ingin memukul laki-laki itu. Naufal lantas menahan tangan Leo dan kemudian ia memisahkan keduanya sehingga pertengkaran tersebut tidak terjadi. Naufal menarik nafas lega setelah ia berhasil memisahkan kedua orang tersebut.


“Memang agak sulit menenangkan kalian berdua. Tapi tidak apa-apa, ini lebih baik lagi daripada kalian sampai sempat memukul.” Naufal menatap ke arah Leo dan tersenyum. Ia tahu suasana seperti apa yang saat ini dirasakan oleh Leo. Pasti Leo sedang bersedih karena dirinya Laura harus kehilangan pekerjaannya. “Jangan menjadi orang yang tidak tahu diri, Ibu Laura rela mengorbankan jabatannya demi menyelamatkan lo. Itu artinya dia pengen ngeliat lo berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dan bisa menghargai persahabatan. Jangan seperti ini yang tidak tahu bagaimana menghargai teman yang telah hidup bersama lo.” kemudian Naufal menatap ke arah Alex.


“Gue nggak butuh nasehat dari orang seperti lo,” cela Alex terlebih dahulu sebelum sempat Naufal memberikan petuah kepada laki-laki tersebut.


“Buat lo Alex, persahabatan kita sudah cukup lama dari kita masuk sekolah. Kenapa harus berakhir dengan seperti ini? Gue tau lo nggak akan tahan dengan sifat Leo, tapi tidak harus seperti ini karena persahabatan kita jauh lebih berarti. Gue juga yakin kalau Leo bisa berubah.”


Alex menatap ke arah Leo dan membuang wajahnya setelahnya. Pada dasarnya mereka berdua ingin bermaafan hanya terbatas gengsi saja. Naufal merasakan hal tersebut makanya ia berinisiatif untuk membuat mereka berbaikan.


Laki-laki itu meraih tangan Leo dan kemudian ia juga mengambil tangan Alex dan kemudian Ia menyatukannya seperti sebuah jabatan tangan. Naufal tersenyum simpul melihat hal tersebut, karena inilah yang sangat ia harapkan. Mereka bisa berbaikan kembali.


“Jangan pernah mengabaikan persahabatan kita. Kita adalah pria yang mempunyai harga diri dan juga bisa mempertahankan persahabatannya bukan hanya sekedar gengsi.”


Alex dan Leo saling bergandengan dan kemudian mereka berdua terdiam sebelum akhirnya saling berpelukan dengan perasaan rindu. Naufal yang melihat hal tersebut tersenyum simpul, ia tidak bisa menyangka bahwa apa yang ada di depannya ini benar.


“pemandangan yang jauh lebih berarti dari apapun,” ucap laki-laki itu dan kemudian ikut merangkul kedua temannya dan mereka pada akhirnya melakukan pelukan bertiga. “Akhirnya kalian bisa berdamai juga!”


Naufal tersenyum lega dan mereka berbaikan dengan cara seorang laki-laki dan bahkan saling tinju sebagai candaan. Tentunya yang paling khawatir di sini adalah Naufal takut mereka kembali bermusuhan.


••••••


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2