
Laura menatap ke arah Ibunya Leo yang saat ini tengah tersenyum ke arah dirinya. Tentu saja pemandangan seperti itu akan menjadi suatu hal yang sangat aneh bagi dirinya sebab melihat orang yang biasanya memasang wajah judes kepadanya berubah menjadi begitu baik untuk sesaat membuatnya sedikit terkejut.
Tapi untungnya Laura masih bisa menjaga sikap dan tidak spontan mengeluarkan kata-kata yang memprovokasi. Lagipula ia tahu bahwasanya orang tersebut merupakan orang yang penting bagi kehidupan Leo. Ia adalah orang yang mencintai Leo dan sudah seharusnya untuk mencintai apa yang disukai oleh Leo.
“Ada apa Tante?” tanya Laura kepada ibunya Leo tersebut. Ia mengajak Laura untuk berbicara dua mata dan Laura tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh wanita tersebut.
Wanita itu menarik nafasnya cukup panjang. Terlihat jelas bahwasanya wajahnya tampak sangat kelelahan. Selama ini anaknya tidak pernah mendengarkannya tentu saja hal itu menjadi sesuatu yang begitu menyakitkan bagi dirinya. Mau bersedih tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Mungkin dia hanya akan menikmati hasil buah dari kesibukannya di masa lalu.
“Bagaimana keadaan Leo akhir-akhir ini? Aku benar-benar khawatir dengannya, tapi aku suka begitu takut untuk menanyakan keadaannya secara langsung. Seperti yang kau katakan bahwa aku dulu terlalu sibuk dan tidak bisa hadir dalam perkembangan anakku sendiri sehingga apa yang telah terjadi sekarang itu adalah buah di masa lalu. Aku tidak dekat dengannya dan bahkan dia kadang marah kepadaku.” Pada kenyataannya ibunya Leo begitu kuat, ia rela menyingkirkan egonya untuk menanyakan keadaan anaknya kepada Laura.
Laura yang mendengarnya pun seakan tidak percaya dan sekaligus tersenyum. Ini adalah yang ia dengar dari ibunya Leo selama ini namun tidak pernah bertanya tentang anaknya kepada dirinya selama menjadi guru. Perasaan Laura luluh lantah begitu saja. Ia tersenyum lebar kepada ibunya Leo.
“Tante, Saya benar-benar terharu bahwa tante menanyakan keadaan anak tante. Selama ini Tante tidak pernah bertanya kepada saya selaku guru BK dulu, inilah kata-kata yang ingin saya dengar dari mulut tante,” ucap Laura seraya menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
“Aku tidak tahu harus seperti apa lagi. Hanya kau yang tahu bagaimana perkembangannya selama ini.”
“Perkembangannya cukup baik, walaupun sedikit terhambat dalam masalah sifatnya. Mungkin karena tidak mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tuanya sehingga ia masih memiliki sifat kekanak-kanakan. Tapi tenang saja sekarang dia mulai berubah dan aku melihat perubahan yang begitu besar dan dia mau berusaha untuk menjadi orang yang menghormati orang lain. Bahkan dia berkata kepadaku bahwa dia ingin membantu ayahnya dan belajar berbisnis.”
Terlihat jelas senyuman yang begitu lebar di wajah wanita itu ketika mendengar anaknya yang berkeinginan seperti itu. Tampaknya bersama Laura memang ada sedikit kemajuan. Ia memperhatikan Laura dengan baik, dirinya terlalu egois ingin menjodohkan Leo bersama dengan Nisa padahal anak itu tidak bisa mencintai orang selain Laura.
__ADS_1
Namun Laura juga tidak terlalu buruk hanya saja egonya yang terlalu tinggi. Ia akan berusaha untuk mengesampingkan ego tersebut dan memulai hidup baru.
“Laura, selama ini aku begitu angkuh. Bahkan aku tidak berani mengakui kesalahanku sendiri berbeda dengan suamiku. Suamiku sampai marah karena itu dan sekarang perlahan aku mulai menyadari apa kesalahanku.”
Sungguh tenang sekali mendengar pengakuan yang dilontarkan oleh ibunya Leo tersebut.
“Tante, tante tidak usah khawatir tentang itu. Tante bisa mendekati Leo karena Leo juga sangat mencintai tante. Mungkin karena pantai yang terlalu mengekang pilihannya makanya ia tampak menjadi seorang pembangkang.”
Ibunya Leo tersebut mengangguk paham. Ia menoleh ke belakang dan menatap ke arah Leo yang heran dengan kedua orang itu karena penasaran apa yang tengah mereka bicarakan.
•••••••
“Apa yang ibuku katakan kepadamu tadi? Dia tidak menyuruhmu untuk menjauhiku bukan?” sepertinya Leo benar-benar ketakutan jika hal tersebut terjadi.
Laura menggelengkan kepalanya dan Leo yang melihat hal tersebut sedikit lega. Akhirnya ia tak disuruh oleh ibunya untuk menjauhi dirinya. Ia benar-benar ketakutan jika Laura lebih memilih menjauh daripada terus bersamanya.
“Ibumu hanya bertanya bagaimana keadaanmu sekarang. Aku menjawab yang sejujurnya dan mengatakan bahwa kamu begitu mencintainya. Katanya dia mau berubah demi dirimu perlahan-lahan dan mulai untuk mendekatimu,” ucap Laura dengan suara yang sedikit senang namun Leo merasa canggung ketika mendengarnya walaupun ia jujur saja hatinya juga merasa senang.
Laki-laki tersebut menundukkan kepalanya. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, pada kenyataannya wanita itu sangat kuat dan selalu berada di samping Leo.
__ADS_1
“Laura, terima kasih.” Laura menatap ke arah Leo seakan tidak percaya mendengar laki-laki tersebut berterima kasih kepada dirinya. Ia menarik kedua sudut bibirnya dan kemudian membalas rasa terima kasih Leo tersebut dengan senyuman yang begitu lebar.
Ia menganggukkan kepalanya dan kemudian meraih tangan Leo dan menggenggamnya. Perlahan-lahan Leo juga sudah mulai membaik, laki-laki tersebut berusaha untuk dekat dengan Laura dan meletakkan kepalanya di pundak Laura. Ia merasa nyaman jika Laura terus berada di sampingnya.
“Aku ingin tidur di sisi mu, apakah boleh?” tanya laki-laki tersebut dan Laura menganggukkan kepalanya saja. Seharusnya Leo tidak perlu bertanya seperti ini lagi karena ia pasti akan mengizinkannya.
“Tidak apa-apa, silakan saja,” ucap Laura yang begitu wellcome dan membuat Leo tertawa bersama.
“Kamu cantik banget sih, sampai sekarang aku masih bingung kenapa Tuhan bisa menciptakan makhluk secantik kamu dan bahkan berada di sampingku.” Seketika itu juga wajah Laura berubah menjadi masam. Ia tahu gombalan tersebut untuk dirinya namun ia sama sekali bukan tipe orang yang suka digombali. Entah kenapa ada perasaan jijik ketika mendengar gombalan tersebut namun jika berhasil gombalan itu akan membuat dirinya begitu memerah.
“Kamu terlalu banyak menghayal, kata-kata manis seperti itu tidak zaman lagi,” ucap Laura seraya menarik nafas panjang dan kemudian meletakkan kepalanya di kepala Leo yang sedang berbaring di pundaknya.
Mereka pun tidur berdua dalam satu ranjang. Mungkin itu akan menjadi pemandangan yang indah. Ibunya Leo yang tidak sengaja melihatnya pun merasa bahwa dirinya begitu telah bersalah telah membuat anaknya untuk berpisah dengan Laura yang sangat ia cintai itu.
Melihat keharmonisan Laura dan Leo membuatnya merasa iri. Ia ingat seperti Laura yang dihargai oleh Leo dan bahkan begitu dicintai oleh anak tersebut.
“Leo, sekarang kamu sudah besar. Sejujurnya Mama masih belum ikhlas melihatmu bersama dengan wanita lain. Tidak disangka anak mama telah besar.”
•••••••
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.