
“Tapi kau mengatakan ini sama sekali tidak berbohong sama gue, kan? Ingat gue nggak akan pernah mau dibohongin oleh siapapun.” Laura memandang ke arah Leo dan menganggukkan kepalanya. Semua yang ia ucapkan adalah kenyataan yang ada. Terserah jika laki-laki tersebut akan mengingatnya atau tidak, Laura berharap bisa menceritakan yang sebenarnya pun sudah merasa lega. Jika mendapatkan jaminan bonus dan tahu bahwa Juan mengingat masa lalunya kembali tentunya itu adalah nilai plus.
“Tentu saja gue ngomong yang apa adanya. Terserah mau percaya atau enggak, tapi ini yang bener-bener gue ceritain kau terjadi di dalam hidup gue dan lo.” Leo menganggukkan kepalanya percaya. Ia memandang ke arah Laura dengan seksama membuat wanita itu langsung menundukkan kepalanya tidak berani banyak berbicara.
“Kalau gitu lo lanjutin aja ceritanya. Kenapa gue bisa ada di dalam rumah sakit ini? Seharusnya jikalau benar-benar pacar gue lu tahu semuanya.”
“Gue nggak akan nutupin ini. Mau kecelakaan karena mau ngejemput gue di universitas Indonesia. Pada saat itu memang gue yang ngebet banget pengen dijemput, dan pada akhirnya Lo kecelakaan dan gue gak bisa menyalahkan orang lain selain diri gue sendiri.” Leo mengangkat satu alisnya. Hanya itu saja wanita itu menceritakannya?
Nisa mengatakan bahwa orang yang menyebarkan dirinya kecelakaan adalah memang Laura. Dia pikir memang ada rencana khusus yang dilakukan oleh wanita itu, tapi tidak pernah tahu bahwa kecelakaan tersebut hanya kesalahannya sendiri? Tidak bisa dikaitkan dengan Laura.
Tapi kembali lagi bahwa ia tidak mengetahui yang sebenarnya. Bisa saja Laura berbohong kepadanya, apa wanita tersebut membohongi Leo? Agar bisa bebas dari hukum? Baiklah alasan itu sangat masuk akal, tapi ia harus mencari bukti lainnya.
“Kalau kayak gitu ceritanya lo nggak salah sama sekali.”
Naura yang sudah sangat pasrah mengangkat kepalanya. Ia memandang ke arah Leo dengan tatapan tidak percaya, Leo apakah telah memaafkannya? Laura meneteskan air matanya dan bertanya sekaligus memeluk tubuh laki-laki itu yang sudah sangat ia rindukan.
“Tapi lo juga nggak benar. Memaksa pacar lo sendiri buat jemputin lo dj saat dia nggak bisa tentunya pikirannya jadi jauh dan lo nggak boleh ngelakuin itu lagi di masa depan.” Laura menganggukkan kepalanya dengan patuh. Baiklah dirinya tidak akan mengulangi hal yang serupa lagi. Ia pasti akan memperhatikan keselamatannya serta keselamatan orang lain.
“Yang lo omongin ada benarnya. Tapi lo sama sekali nggak ngerasain apapun setelah gue cerita semua ini?” Leo lantas mengangkat satu alisnya bingung?
Benar tidak ada reaksi apapun setelah ia mendengar cerita itu. Apakah yang dikatakan oleh wanita tersebut bohong? Sementara itu pikiran Laura adalah apakah Leo tidak bisa sembuh total kembali atau pikirannya saja yang terlalu banyak dan belum bisa meyakinkan otak Leo?
Laura tampak sedih, sementara itu Leo sama sekali tidak mengerti dan hanya mengerutkan keningnya hingga terdengar helaan nafas dari laki-laki itu.
“Lo ambilin gue makanan itu bentar.”
__ADS_1
Laura yang mendapat perintah tersebut dengan cepat melakukannya. Ia lemparkan senyum ke arah Leo dan kemudian melakukan tugasnya. Sementara itu Leo benar-benar terbengong.
“Ini.”
“Kalau udah selesai lu keluar.”
“Oh, oke oke.” lantas Laura keluar begitu saja dengan wajah yang benar-benar bahagia. Ia tidak menyangka telah semakin akrab dengan Leo. Semisalnya tidak bisa mengingat masa lalu mereka maka ia akan membuat laki-laki tersebut jatuh cinta kembali kepadanya. Tidak ada yang tidak mungkin dan Laura sangat yakin.
•••••••
Setelah beberapa jam Laura meninggalkan laki-laki tersebut. Leo merasakan Jika ada yang aneh pada dirinya. Entah apa yang sebenarnya terjadi kepadanya, tapi otaknya benar-benar mendidih dan tidak bisa berpikir banyak. Ia tidak mungkin kan menjadi gila?
Beberapa serpihan ingatan hendak menyatu kembali. Namun dengan cara itu malah membuat otaknya terasa sakit dan Leo merasakan kepalanya hampir meledak. Laki-laki tersebut berteriak mengeluh kesakitan sehingga Nisa yang masih berada di luar mendengar perhiasan dari ruangan pasien berlari masuk dengan sangat khawatir.
Setelah itu ia memanggil suster dan dokter melalui panggilan darurat. Ia menghampiri Leo dan duduk di sampingnya.
Leo menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya perlahan. Ia memandang ke arah Nisa sambil menyatukan alisnya. Untuk menghormati Nisa ia pun memberikan senyum terbaiknya.
“Nisa, kepala gue sakit banget. Kayaknya gue mau ingat dengan masa lalu gue.” Nisa yang mendengar hal tersebut langsung menjauhkan tangannya dari tubuh Leo.
Apa yang baru saja dikatakan oleh laki-laki tersebut? Apakah dirinya sama sekali tidak salah dengar? Leo mulai perlahan mengingat masa lalunya? Entah kabar baik atau kabar buruk, tapi dirinya benar-benar ketakutan dan tubuhnya bergetar.
“Lo jangan nakut-nakutin gue, lo pasti sembuh dan gak akan ingat dengan masa lalu lo lagi.”
“Lo nggak seneng?” tanya Leo yang sambil menahan rasa sakit itu sekaligus terkejut dengan Nisa yang sama sekali tidak bahagia bahwa ia akan mengingat kembali masa lalunya.
__ADS_1
“Gue nggak akan pernah senang kalau resikonya lo harus kenapa-napa. Lo nggak usah berpikiran yang aneh-aneh, gue kayak gini juga karena gue ngerasa bahwa diri gue ini sama sekali nggak pantas.”
Entah apa yang dimaksud oleh Nisa, nomor Leo sama sekali tidak peduli dan lebih mengutamakan rasa sakitnya. Sakit yang luar biasa, hingga pada akhirnya dokter dan suster datang juga. Leo bisa bernafas dengan langka dan kemudian meminta dokter dengan suster cepat-cepat menolongnya.
Nisa diminta untuk keluar ruangan. Wanita itu menganggukkan kepalanya kepada dokter dan berjalan lemah keluar dari dalam ruangan tersebut.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Dokter mengatakan jika ingatannya tidak dipicu maka ia tidak akan terpancing. Sebenarnya apakah ada orang lain yang telah menceritakannya kepada Leo? Apakah itu Laura?”
“Nisa bagaimana Leo di dalam? Dia baik-baik saja, kan? Tidak, aku tidak puas jika hanya bertanya kepadamu.”
“Tante maaf tapi dokter lagi ada di dalam.”
“Oh. Memangnya nggak boleh keluar sendiri jengukin?”
“Nisa nggak tau juga. Sebenarnya Leo perlahan mulai mengingat ingatannya kembali makanya dia merasakan sakit. Nisa curiga orang yang melakukan itu adalah Laura, dia tidak terima karena wanita itu telah dilupakan.”
Orang tuanya Leo hanya bisa menghela nafas. Mungkin Laura belum mengetahui resikonya.
“Papa telepon Laura dulu sebelum dia pulang ke Indonesia.”
“Baiklah.”
Ayahnya pun mencoba untuk menghubungi Laura. Tampaknya Laura juga tidak terlalu jauh dari rumah sakit ini dan di dalam panggilan tersebut dia bersedia untuk menghadap kepada orang tua Leo dan berdiskusi.
••••••
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.