Buk Guru, Ayo menikah!

Buk Guru, Ayo menikah!
Part 41


__ADS_3

Ibunya Leo begitu panik mengetahui bahwa anaknya masuk ke dalam rumah sakit. Ia langsung pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisi anaknya yang katanya dalam keadaan buruk. Sementara itu Leo masih tidak menyangka bahwa Ibunya datang bukan Laura yang datang.


“Kenapa kamu bisa masuk rumah sakit? Aku dengar bahwa wanita itulah yang membawamu masuk rumah sakit. Apakah dia melukai mu? Katakan saja jika dia melakukan sesuatu, tidak usah takut sama sekali.” Leo menghela napas panjang dan kemudian menyuruh ibunya duduk terlebih dahulu daripada begitu panik.


“Tidak usah begitu khawatir kepadaku, aku baik-baik saja,” ucap Leo berusaha untuk menenangkan ibunya. “Oh iya aku demam gara-gara hujan-hujanan tadi malam jadi tidak perlu khawatir dengan kondisi kesehatan ku. Satu lagi, aku sudah semakin membaik. Tapi jujur Leo senang mama memiliki waktu untuk menjenguk Leo.”


Ibunya menghilang atas panjang dan tidak mungkin tidak menjenguk anaknya sendiri. Bagaimana pun juga Leo adalah anak kandungnya, dan sudah seharusnya ia menjaga anak itu.


“Karena Kau adalah anak kandungku dan tentu saja aku merasa khawatir. Apalagi demam mu begitu tinggi. Bagaimana mungkin aku tidak khawatir dengan hal tersebut.”


“Biasanya Mama tidak pernah khawatir dengan kesehatanku.”


Ibunya lantas tidak bisa berbicara apapun ketika anaknya mengatakan sebuah fakta yang tidak pernah ia bisa hindari. Namun sekarang demi anaknya ya berusaha untuk berubah secara perlahan. Leo tersenyum melihat ibunya yang begitu gengsi untuk mengakui kesalahannya. Kesalahan terbesar oleh orang tua adalah mereka gengsi untuk meminta maaf kepada anaknya dan mencoba menjadi Ibu yang perhatian.


“Bagaimana keadaan mu? Sudah semakin membaik bukan?”


“Tidak terlalu baik,” ucap Leo benar dan ia tid bisa mengatakan bahwa dirinya semakin membaik karena sedang menunggu kedatangan Laura yang tak kunjung juga datang. Apakah masih banyak kelas yang harus diikuti oleh wanita itu hingga dirinya harus pulang sampai malam.


Ibunya melihat sang anak yang tampak khawatir pun lantas mengerutkan kening. Apa yang sedang dipikirkan oleh anak ini? Kenapa dia begitu banyak pikiran?


“Sedang apa kamu? Kenapa Mama melihat jika kamu seperti orang yang sedang gelisah?”

__ADS_1


Leo pun menggaruk kepalanya dan tidak ingin mengatakan kebenarannya bahwa ia sedang menunggu Laura. Mengingat permusuhan ibunya yang masih menegang dengan Laura membuatnya tidak berani mengatakan yang sesungguhnya.


“Apakah ibumu ini masih Ibu kandungmu? Kenapa rasanya aku melihat jika kau tidak peduli denganku? Kau tampak seperti sedang berusaha menghindariku. Tapi nyatanya kau tidak akan pernah bisa menghindariku sama sekali.”


Leo menganggukkan kepalanya bawah atau yang dikatakan oleh ibunya itu adalah benar. Bahwa ia tidak akan bisa lari dari ibunya. Bahkan ibunya tahu keresahan hatinya.


“Baiklah, kali ini aku menyerah. Aku sedang menunggu Laura. Katanya wanita itu akan datang kembali namun sampai sekarang ia belum datang, apakah telah terjadi sesuatu di jalan?”


Sang Ibu memutar bola matanya. Seolah-olah begitu muak mendengar anaknya yang begitu lebih peduli dengan Laura daripada dirinya.


“Apa yang hebat dari dirinya sehingga membuatmu tergila-gila?”


“Dia adalah mantan pacarku sekaligus pacar pertamaku. Aku sudah menyukainya sejak SMP dan aku pulalah yang mengejar-ngejarnya.”


“Aku tahu jika aku tidak pernah menjadi orang yang hebat di mata mu.”


“Sudahlah Ma, Mama tidak aku hargai karena kita kurangnya berinteraksi. Mama tidak perlu merasa sedih jika itu juga terjadi karena perbuatannya Mama.”


Terdengar helaan nafas yang begitu kencang dari ibunya. Setelah itu ia menangis dan Leo tidak bermaksud membuat ibunya menangis. Ia pun merasa bingung apa yang harus ia lakukan ketika telah melakukan kesalahan seperti ini.


“Mama, aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, kau tidak perlu khawatir. Lagi pula Mama bisa merubahnya mulai sekarang.”

__ADS_1


“Walaupun mama berusaha untuk berubah mulai sekarang tapi mama berharap sama kamu tetap memilih Nisa dan tidak memilih dia.”


Leo tidak bisa bersuara setelah mendengar keinginan egois sang ibu. Ia tidak akan pernah melakukan hal tersebut. Ibunya adalah contoh orang yang benar-benar begitu mengerikan.


“Pada kenyataannya mama adalah orang yang sangat egois. Jika Mama ingin berubah, berubahlah karena diriku tapi mama tidak boleh mengusik apa yang aku sukai.”


Ibunya tidak bisa berbuat apapun ketika mendengar anaknya lebih membela wanita itu. Ia tidak ingin orang sombong seperti Laura akan menjadi menantunya. Wanita itu pun menarik nafas panjang dan membuang pandangannya lalu tak sengaja melihat baura yang malah datang.


Ibunya memperhatikan ekspresi Leo yang berubah menjadi ceria. Ia melambaikan tangannya ke arah Laura yang hanya terdiam melihat bahwa ibu Leo juga ada di sini. Ia tidak ingin mencari masalah dengan ibunya Leo akan tetapi tatapan ibunya Leo menjelaskan bahwa wanita itu berusaha mencari masalah dengannya.


“Tante,” panggil Laura ke arah wanita itu.


“Ya.”


“Mama aku datang tidak apa-apa kan?”


Laura mengurutkan keningnya kenapa Leo harus bertanya seperti itu. Bukannya itu adalah ibunya Leo dan sudah jelas bahwa ia tidak keberatan Jika dia datang untuk menjenguk anaknya sendiri.


“Ya tidak apa-apa.”


•••••••

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2