
Hari begitu cerah, Laura seharusnya senang karena dia sudah mendapatkan pekerjaan tetap sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit yang besar di Jakarta. Apalagi prestasinya begitu besar dan tentunya ia menjadi orang yang sangat populer karena memiliki kecantikan serta kepintaran yang luar biasa.
Begitu hebat reputasinya, namun nyatanya ia tidak pernah bahagia belakangan ini dan terus-terusan memasang wajah masam. Ibunya yang melihat hal tersebut sangat tidak tega dengan anaknya. Tapi apa boleh buat, ini semua demi kebaikan mereka bersama. Jadi mau tidak mau Laura harus bisa mengikhlaskan pasangannya. Sangat sakit tentunya, tapi itulah kenyataan.
“Kenapa harus aku? Leo, kamu merasa rindu denganku tidak? Dulu kamu paling semangat untuk menemuiku dan lebih daripada diriku sendiri. Bahkan aku merasakan cintamu luar biasa. Tapi sayang sekali kisah cinta kita harus berakhir seperti ini.”
“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan.” Ibunya datang dari arah dapur sambil membawakan air hangat untuknya. Kemudian ia meletakkannya di depan Laura dan meminta agar wanita itu lebih bersemangat lagi. “Kenapa harus murung seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah kamu sendiri yang menyetujuinya untuk tidak bertemu lagi dengan Leo? Sekarang kenapa kamu menyesalinya?”
“Aku tidak pernah ikhlas mengatakannya. Mereka semua benar-benar keterlaluan menyudutkan ku.”
Ibunya yang mendengar hal tersebut tentunya sangat marah. Ia mengepalkan tangannya dan kemudian menarik nafas serta menghembuskannya secara perlahan.
“Sebenarnya dari dulu aku memang tidak menyukai hubungan ini, andai pada saat itu aku benar-benar melarangmu dan tidak berhubungan dengan Leo. Mungkin kau tidak akan sampai seperti ini. Galau memang adalah hal yang wajar, Jika kamu terus berlarut-larutan persegi maka aku tidak segan-segan memarahimu. Kamu tidak boleh melakukan itu. Masih banyak laki-laki lain di dunia.”
“Tapi laki-laki itu bukan Leo.”
“Apa salahnya jika kamu mencoba dengan pria lain?”
Laura menatap ke arah ibunya dengan pandangan serius. Ibunya tersebut tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaannya. Dia juga mencoba untuk melupakan Leo, Tapi semua itu tidak semudah yang diperkirakan oleh orang tuanya. Leo benar-benar ada di sepanjang tahun bersama dengannya menikmati tahun-tahun mereka dengan penuh dramatis. Sekarang pria itu tidak ada lagi di dalam kehidupannya. Lantas ia harus seperti apa lagi? Laura muak dengan dirinya sendiri yang tidak bisa bertindak dan malah menyerah di tengah jalan.
“Kamu memang sedikit keras kepala untuk dinasehati. Tapi Mama sangat berharap bahwa kamu bisa cepat sadar,” tutur ibunya sambil menghilangkan nafas dan menatap ke arah air minum yang telah dibawakan untuk Laura itu. “Ini diminum dulu. Jangan terlalu stress, Kamu adalah seorang pahlawan yang menyelamatkan banyak nyawa. Jika kamu sampai stres dan melakukan operasi maupun mengobati orang lain maka akan berdampak buruk bagi pasien mu. Kamu juga tidak ingin menjadi orang yang tidak bisa menyelamatkan orang lain kan?”
Laura menganggukkan kepalanya dan kemudian mengambil air minum yang diberikan oleh ibunya itu. Ia langsung menegaknya sampai habis. Wanita itu menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskan napasnya perlahan-lahan, ia terus melakukannya seperti itu hingga perasaannya jauh lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
“Laura, Kamu harus menjadi orang yang kuat. Ingat bukan demi pria itu saja, Tapi demi keluargamu. Sekarang kamu telah mencapai impian mu, apakah kamu ingin mengorbanka nya begitu saja? Tentu itu tidak akan pernah sepadan.”
Laura menganggukan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh ibunya itu ada benarnya juga. Ia tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan.
“Aku percaya sama mama dan sangat mencintai mama. Mama pasti bisa membantuku untuk berjuang.”
“Tentu saja.”
••••••
Laura baru saja menyelesaikan operasi. Ia tampak kelelahan dan air perlu menghiasi sekitar kening dan lehernya. Tiba-tiba salah satu suster melaporkan kepadanya ada salah satu orang yang ingin bertemu dengannya. Laura tidak tahu jika ada janji dengan orang tersebut.
Setelah mengetahui bahwa orang itu benar-benar nekat ingin bertemu dengannya dan bahkan terus berteriak di luar rumah sakit membuat dirinya akhirnya berinisiatif untuk menemui orang itu. Ia sangat penasaran Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa orang tersebut benar-benar ingin bertemu dengannya.
Laura menghembuskan nafasnya. Setelah itu ia keluar dan benar melihat jika ada salah satu pengunjung yang benar-benar tidak tahu dengan sopan santun dan memaksa untuk bertemu dengannya. Laura lantas memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas dokternya.
“Ada apa? Kenapa kamu mencariku? Apakah ada sesuatu yang pen....” Laura tidak bisa melanjutkan ucapannya. Wanita itu mengedipkan matanya beberapa kali karena tidak menyangka orang yang ingin bertemu dengan dirinya itu adalah Leo. “Leo?”
“Laura,” ujar Leo dengan penuh semangat dan kemudian menghampiri wanita itu yang masih bengong di tempat. Sementara itu security berusaha untuk menghalanginya. “Akhirnya aku benar-benar bisa bertemu denganmu.”
“Pak security biarkan dia di sini. Dia adalah tamuku.”
Meskipun kondisinya tadi sangat lelah tapi karena telah bertemu dengan Leo semua itu hilang begitu saja dan dirinya sangat bahagia. Wanita itu menyuruh Leo untuk mengikutinya di belakang dan mereka mencari tempat yang lebih sepi untuk berbincang berdua.
__ADS_1
Sementara itu di dalam hati Laura bertanya-tanya Ada apakah gerangan laki-laki tersebut berusaha untuk menemuinya? Benar-benar di luar dugaannya dan Laura rasanya ingin pingsan di tempat.
“Ada apa denganmu? Kenapa ingin bertemu denganku?” Laura tampak sangat profesional dan tidak berbicara seperti biasanya dengan Leo.
“Sekarang gue, maksudnya aku telah mengetahui semuanya. Kamu adalah pacarku. Aku mencintaimu, Laura aku telah mengingat masa lalu kita dan dirimu.”
Laura langsung mengedipkan matanya tidak percaya. Oh Tuhan benarkah apa yang dikatakan oleh Leo ini? Laki-laki itu tidak berbohong kepadanya kan? Benar-benar di luar dugaannya, nikmat apa yang telah didapatkannya sekarang? Laura meneteskan air matanya dan kemudian memeluk Leo.
Mereka berdua saling melepaskan rindu yang sudah lama terpendam. Benar setelah memeluk Laura barulah ia bisa mendapatkan ketenangan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.
“Aku tidak tahu bahwa orang di sekitarku berbohong. Termasuk orang tuaku dan Nisa. Nisa menganggap aku sebagai sahabatnya dari kecil tapi dia adalah orang yang pertama ingin memisahkan kita.”
Refleks Laura langsung melepaskan pelukan tersebut. Tentu saja ia tidak bisa menerima fakta itu. Apakah benar bahwa Nisa ikut adil dalam masalah ini dan membohongi dirinya? Tapi jika dipikir-pikir Nisa tampak tidak menyukainya akhir-akhir ini.
“Leo, kamu tidak boleh membenci mereka. Aku yakin mereka hanya ingin yang terbaik untukmu.”
“Memang aku hampir mati saat itu, nama sekarang aku baik-baik saja. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
••••••••••••
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1