Buk Guru, Ayo menikah!

Buk Guru, Ayo menikah!
Part 43


__ADS_3

Laura menarik napas panjang dan mengerjapkan matanya. Ia menatap ke arah samping dan melihat jika hari begitu sangat cerah dan Laura baru sadar jika dirinya tidur di samping Leo dan sedang berada di rumah sakit. Laura pun mencoba untuk membangunkan Leo yang ada di sampingnya dan sangat nyenyak tertidur.


Mungkin pria itu kelelahan setelah demam yang begitu tinggi melanda dirinya. Bahkan ia tidak bisa bersekolah hari ini karena masih berada di rumah sakit dan kebetulan ia telah mendapatkan izin.


Leo membuka matanya dan orang yang pertama yang ia lihat adalah Laura. Pemandangan seperti inilah yang ia inginkan setiap pagi ketika bangun ia melihat Laura ada di sampingnya Tengah menggenggam tangannya. Leo menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Tampaknya Itu adalah sebuah harapan semu yang tidak akan pernah bisa terkabul kepada dirinya.


Padahal ia Ingin secepatnya menikahi Laura akan tetapi orang tua mereka yang tidak menyetujuinya termasuk Laura sendiri karena merasa masih terlalu muda untuk menikah.


Leo menarik nafas panjang. Ia menganggap tangan Laura begitu kuat membuat Laura yang tidak terlalu fokus dengan laki-laki tersebut langsung menatap ke arah Leo. Ia mengerutkan keningnya merasa heran dengan keadaan Leo.


“Ada apa dengan mu? Tampaknya kau begitu lelah.”


“Bukan tampaknya lagi tapi memang sangat lelah,” ucap pria tersebut seraya sambil mengeluh. “Melihatmu setiap pagi seperti ini tampaknya sangat menyenangkan. Aku ingin segera menikahimu tapi kenapa semua orang seakan-akan tidak mengizinkanku untuk menjadikan mu seseorang istri secepatnya.”


Laura terpaksa menghembuskan napasnya dengan perasaan kesal. Harus berapa kali ia jelaskan pada laki-laki tersebut bahwasanya mereka masih terlalu muda untuk menikah. Laura sendiri belum siap untuk menjadi ibu rumah tangga dan memiliki anak. Walaupun mereka memiliki rencana bahwa menunda memiliki anak tapi tetap saja tidak ada yang tahu dengan takdir. Itulah yang akan ia khawatirkan.


“Sudah berapa kali aku katakan bahwa kita terlalu dini untuk menikah. Kita akan menikah setelah kita mendapatkan pengalaman masing-masing dan sudah melewati begitu banyak rintangan. Setelah melewati semua itu barulah kita pantas untuk menikah.”


Leo menatap ke arah Laura dengan serius. Jika seperti itu ia akan meyakinkan wanita tersebut untuk bersamanya selamanya dan ia akan melewati setiap rintangan kehidupan yang begitu menyulitkan.


“Aku akan tetap bersama dengan Ibu guruku yang cantik ini,” ucap Leo membuat Laura lagi-lagi merasa tergoda namun ia berusaha untuk menampilkan wajah datarnya agar tidak diledeki oleh laki-laki itu.


“kalau mau tersenyum, senyum aja Bu,” jahil laki-laki itu dan kemudian Laura mendorong tubuhnya ke samping dan hampir saja terjatuh.


Seketika itu juga Laura sangat panik dan berusaha untuk menarik tangan Leo agar tidak terjatuh dari ranjang. Sempat laki-laki itu terjatuh maka urusannya akan semakin repot.


“Ingat, aku terus ada di sampingmu dan mencintaimu.” Leo kemudian mengecup kening Laura sebelum akhirnya ia beranjak dari ranjang rumah sakit itu menuju ke dalam toilet.

__ADS_1


Sudah seharian penuh ia berada ada di ranjang tersebut dan rasanya tubuhnya sangat kaku. Ia berusaha untuk meregangkannya sejenak. Laura juga memandang ke arah dirinya yang saat ini harusnya pulang ke rumah.


Tapi untungnya ia telah meminta izin kepada ayahnya sehingga ayahnya tidak perlu repot mencari dirinya. Ia menatap ke arah kaca dan memperhatikan penampilannya tidak terlalu buruk itu untuk pulang.


“Leo aku pulang dahulu!”


Leo yang sedang berada di dalam toilet dan terdengar gemercik air lantas membuka pintu toilet dan menata ke arah Laura dengan pandangan tidak suka.


“Aku bisa mengantarmu pulang.” Laura menggelengkan kepalanya karena merasa bahwa yang dilakukan Leo tidak perlu. Ia bisa pulang sendiri.


“Tidak usah. Oh iya rumah sakit sudah mama mu lunasi kemarin.”


Setelah itu Laura pun pulang begitu saja tidak menunggu Leo yang bermohon agar tetap bersamanya dan pulang bersama. Laura hanya terkekeh sambil menarik nafas cukup panjang.


Ia ingin menjadi orang yang begitu setia dan selalu ada di samping Leo. Tampaknya keinginannya begitu besar, namun ia akan tetap mengusahakan semua itu bakal terjadi.


••••••••••


Laura menatap ke arah universitasnya yang ada di depan. Ia sangat terburu-buru karena masuk terlalu telat. Ia berusaha untuk pergi ke kelasnya dengan berlari begitu kencang. Setelah sampai di dalam kelas semua orang menatap ke arah dirinya termasuk dosennya.


Laura hanya menyengir dosen tersebut dan kemudian ia mengakui kesalahannya itu. Ia pun mendapatkan hukuman karena keterlambatannya tersebut.


Waktu berjalan begitu cepat dan pada akhirnya kelas tersebut selesai. Laura menghembuskan napasnya dan kemudian keluar dari dalam kelas berburu-buru dengan langkah yang cepat. Tampak sekali bahwa ia sangat kelelahan apalagi mendapatkan tugas tambahan karena terlambat tadi pagi.


“Ada apa dengan lo? Besok kita ada praktek tampaknya lo gelisah banget. Takut ya nilai prakteknya rendah.”


Laura lantas menyenggol bahu Anwar. Tidak seperti yang dipikirkan oleh Anwar, sebenarnya dirinya baik-baik saja dan tidak ada yang salah akan tetapi dirinya hanya memikirkan bagaimana keadaan Leo sekarang. Entah kenapa semakin hari perasaannya semakin besar kepada laki-laki tersebut. Ia selalu ingin bersama dengan laki-laki itu, apakah salah jika dia menginginkan hal tersebut? Tentunya hal itu bukanlah sebuah kesalahan.

__ADS_1


“Laura, apa yang harus kamu lakukan sekarang? Kelas telah selesai dan juga tugas begitu banyak. Kenapa masih bisa bisanya memikirkan Leo sementara itu kamu tidak mengerjakan tugasmu sama sekali.” Laura mencoba mengeluh kepada dirinya sendiri.


Ia tidak menyadari ucapannya dan juga begitu pula dengan kehadiran Anwar. Anwar yang mendengar hal tersebut mengerutkan kedua keningnya dan menyenggol pundak Laura agar bisa membuat wanita itu tersadar. Ia telah mengetahui bahwa Leo adalah pacar wanita tersebut, wajar saja orang yang baru saja pacaran pasti akan merasa kasmaran.


“Kenapa sih? Kayaknya lu banyak masalah banget.”


Laura menghembuskan napasnya dan menggelengkan kepalanya. Sebenarnya ia tidak terlalu banyak masalah, akan tetapi dirinya lah yang membuat terlalu banyak masalah.


“Sebenarnya nggak juga. Tapi gue mau ke perpustakaan dulu mau ngeresensi buku. Sumpah tugas yang paling gue benci seumur hidup gue,” ucap Laura sambil cemberut dan laki-laki itu hanya menertawakan Laura.


“Kalau gitu semangat buat lo, kita hidup perlu perjuangan.”


“Ya lo benar,” ucap Laura Soraya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan lalu kemudian Ia berlari ke arah perpustakaan.


Anwar menggelengan kepala tidak mengerti kenapa ada orang seperti Laura ini. Dia memang sangat menggemaskan dan tingkahnya terkadang seperti kekanak-kanakan, akan tetapi ia adalah orang yang paling pintar dan paling serius di dalam kelas mereka.


Sesampainya Laura di dalam perpustakaan ia melihat buku-buku yang begitu menarik untuk ia resensi. Akan tetapi mencatatnya lah yang paling ia malas dan juga membacanya. Walaupun membaca bisa membuatnya menjadi lebih berpengetahuan lagi tapi terkadang sisi manusianya ada yang tidak suka membaca.


“Manusiawi,” ucap Laura tanpa disadari olehnya ketika pikirannya begitu berputar-putar antara mau membaca buku itu atau tidak.


Pada akhirnya ia pun memutuskan untuk tetap membacanya.


••••••••


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2