Buk Guru, Ayo menikah!

Buk Guru, Ayo menikah!
Part 38


__ADS_3

Laura gelabakan ketika ayahnya bertanya seperti itu. Ayahnya paling tidak menyukai yang namanya keterlambatan. Ia tidak menceritakan kepada ayahnya sehingga sang ayah tampak marah kepadanya. Ayahnya Leo berusaha untuk menenangkan sang ayah.


“Tenanglah Hans, kamu tidak usah terlalu banyak berpikir seperti itu. Mungkin Laura belum membayarnya bukan tidak akan membayarnya.”


“Setelah acara di aula, kamu temui papa dan jelaskan semuanya.”


“Hm,” ucap Laura dengan suara malas. Ia tidak tahu bahwa orang berdua itu adalah orang penting di universitas ini.


Laura pun tidak ingin orang beranggapan bahwasanya ia masuk ke dalam universitas tersebut melalui jalur orang dalam. Laura menarik nafas panjang, Ia pun pergi ke arah angin dan tidak peduli lagi dengan aula tersebut. Jika orang berdua itu adalah donatur yang dikatakan oleh temannya tadi buat apa iya mendapatkan perhatian dari mereka berdua.


Laura berjalan-jalan di sekitar fakultas miliknya sehingga ia tak sengaja bertemu dengan Anwar. Laura memberikan senyum kepada Anwar yang begitu sangat bersemangat saat bertemu dengannya. Terlebih lagi ia dan Anwar begitu dekat dan sudah banyak mereka melakukan kegiatan bersama.


“Kenapa nggak ke aula? Bukannya orang lagi rame banget di sana? Kamu tahu di sana katanya ada anak donatur itu juga makanya tuh cewek-cewek pada ngebet ke aula buat ngeliat anak donatur yang katanya tampan banget.”


Aulia mengangkat satu alisnya dan menyipitkan matanya. Ia ingin menyelidiki apakah yang dikatakan oleh Anwar itu benar. Jika benar itu artinya anak donatur yang dimaksud adalah Leo. Bukannya laki-laki itu sedang sakit? Kenapa ia harus ikut dengan ayahnya.


“Lo, kalau ngomong nggak usah bercanda,” ucap Laura dengan kesal kepada Anwar.


Anwar tentunya tidak terima karena dianggap bercanda oleh Laura. Ia mengatakan yang sebenarnya sehingga para wanita sedang berlarian ke arah aula. Jadi dari mana ia bercanda mengatakan hal tersebut.


“Gue lo anggap bercanda? Sumpah lucu banget lo, noh lihat tuh cewek-cewek pada ngebet ke aula.” Laura menatap ke arah para wanita yang berlarian ke aula. Melihat pemandangan itu maka yakin bahwasanya Anwar tidak berbohong kepadanya.


Ia memasang wajah cemberut karena wanita itu jujur saja bahwa ia merasa sangat cemburu dan tidak terima sekaligus saat melihat hal tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, ia akan berusaha menjadi orang yang baik dan juga tidak terlalu cemburuan dengan hal yang semacam itu.


“Woah kenapa wajah lo?” tanya Anwar yang tampak seperti ledekan.


Laura menarik nafas panjang dan kemudian mendorong tubuh Anwar yang entah kenapa selalu saja membuatnya sedikit kesal. Ia pergi begitu saja dan Anwar yang melihat hal tersebut terkejut. Ia pun mengejar Laura akan tetapi wanita itu terburu-buru ikut juga pergi ke aula. Maka Anwar pun berhenti berlari dan menganggap bahwa Laura sama seperti wanita lainnya.

__ADS_1


“Cewek sama aja,” ucap Anwar kemudian pergi.


Sementara itu Laura langsung memasuki aula yang penuh dengan mahasiswa. Pas sekali iya malah melihat Leo memberikan kata sambutannya. Laura hanya bisa tercengang karena tidak pernah melihat Leo yang berdiri di atas mimbar tampak menggunakan jas seperti orang yang begitu pintar dan juga memiliki wibawa.


Akan tetapi dirinya yang selalu bersama bersama dengan Leo merasa itu menjadi sebuah hal yang lucu karena tidak pernah melihat Leo sebelumnya seperti itu.


“Itu beneran dia?” tanya Laura dan tertawa pelan. Ia menarik napas panjang dan berusaha untuk mengatur ekspresinya agar tidak dianggap aneh oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.


“Sumpah ganteng banget woi, anak donatur lagi.”


Laura yang mendengar hal tersebut menetap ke arah wanita tersebut dengan pandangan sinis. Ia menatap lagi ke arah Leo yang kebetulan telah menemukan keberadaan dirinya. Laura lantas membuang wajahnya. Laura pun pergi dari aula itu begitu saja dan sungguh tidak ingin melihat Leo yang berlagak sombong.


••••••


“Laura!” Laura menatap ke arah Leo yang memanggil dirinya. Wanita itu memperhatikan Leo dengan jelas. Ia tersenyum miring saat melihat penampilan laki-laki itu yang betul-betul tampak lebih dewasa dari biasanya.


“Kenapa emangnya? Saya mau buat bangga bapak saya dan bisa menjadi pewarisnya secepatnya supaya saya bisa nikahin ibu.” Laura yang mendengar hal tersebut lantas hendak memuntahkan isi perutnya. Ia begitu geli mendengar kata-kata Leo yang entah kenapa terdengar begitu lucu.


“Sumpah nggak lucu banget tahu, Tapi nggak papa deh supaya lo senang.”


“Nah gitu dong,” ucap Leo dan merangkai Laura. Laura terkejut dan menatap ke arah sekitar orang yang memperhatikan mereka. Jujur saja Laura sangat malu dan berusaha untuk melepaskan rangkulan Leo pada pundaknya.


Apakah Leo tidak melihat di sekitar bahwa begitu banyak orang yang tengah memperhatikan mereka dan Laura jujur saja merasa malu.


“Leo, kamu apaan sih. Kamu gak lihat orang di sekitar sedang memperhatikan kita? Kenapa rasanya kamu sama sekali kayaknya nggak punya rasa malu sama sekali?” Laura menarik nafas panjang dan memberikan senyum kepada teman-temannya yang merasa iri dengannya. Berbeda dengan Laura yang begitu malu sementara itu temannya memberikan raut wajah yang berbeda.


“Laura, emangnya kamu nggak bolehkan? Kamu tahu kan bahwa Aku ingin menunjukkan ke setiap orang bawa aku adalah pasanganmu yang paling pantas untuk berdiri di sampingmu. Begitu pula dengan diriku hanya satu orang yang pantas berdiri disampingku yaitu adalah kamu.”

__ADS_1


“Kenapa di sini? Di mana papamu dan juga papaku?”


“Tau aja Papa kamu datang kenapa nggak nengokin dia. Aku disuruh cari kamu, Ayo kita pergi ke kantin.”


Laura mengikuti Leo yang berjalan menuntun dirinya. Hingga ia bertemu dengan sang ayah yang telah menunggunya dengan wajah masam. Laura pun membuang wajahnya dan duduk di samping Leo yang memberikan beberapa jarak kepada sang ayah.


“Kamu nggak bisa bayar uang UKT kenapa nggak bilang sama orang tua kamu?”


“Aku nggak mau buat mama dan papa khawatir. Aku berusaha untuk membiayai kuliahku sendiri.”


“Ingat Kamu adalah anak Papa satu-satunya, tentunya Papa dan Mama tidak akan membiarkan kamu berusaha sendiri karena membiayai kuliahmu adalah kewajiban kami.”


Laura memandang ke arah ayahnya Leo yang setuju dengan ucapan ayahnya itu. Laura tidak bisa berbuat apapun dan ia menundukkan kepalanya tahu bahwa salah.


“Papa, sudah membayarkan uangku UKT mu. Ingat, jangan mengulanginya lagi.”


“Nanti Laura akan membayarnya.”


Ayahnya pun menarik nafas panjang. Ia menatap ke arah Laura dan saat ini sedang memasang wajah cemberut.


“Sudahlah Om Mending anak Om buat saya saja.”


••••••


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2