
Ting
Leo menatap ke arah ponselnya yang memberikan pemberitahuan. Ia pun menarik napasnya dan kemudian mengambil ponsel itu dengan gerakan yang terlihat malas. Ia menatap ke layar ponselnya sembari melihat jam.
Mengetahui jika orang yang memberikan notifikasi tersebut adalah Laura membuat senyum di wajahnya terukir. Ia sedang menunggu wanita itu dan kebetulan sekali ia bisa mendapatkan notifikasi dari perempuan tersebut. Tampaknya ia berusaha menghubungi setelah mendapatkan panggilan tak terjawab beberapa kali dari dirinya.
Benar saja saat ia membaca chat wanita itu, ia sedang bertanya kenapa menghubungi dirinya.
Laura: “ada apa? Kapa menghubungi ku sampai beberapa kali? Apakah ada masalah?”
Leo yang membaca pesan tersebut menyunggingkan senyum. Ia merindukan wanita itu dan permasalahan mengenai perjodohan yang ingin dilakukan oleh orang tuanya jujur saja sudah membuat Leo begitu pusing. Wajar saja jika Ibunya ingin menjodohkan dirinya dengan Nisa karena Nisa memang sangat baik dan sudah akrab dengan keluarganya. Terlebih lagi ibunya tidak menyukai Laura yang mana mereka pernah bertengkar sebelum Laura mengetahui bahwasanya ibunya adalah istri dari pemilik sekolah tersebut.
Ia pikir Laura marah juga karena ada alasannya. Wanita itu sedang membela dirinya dan memberitahukan kepada mereka bahwa kesibukan mereka tersebut telah mengganggu sifat anak mereka.
Leo sungguh berterima kasih kepada kepedulian Laura. Ia harap bisa terus bersama dengan wanita itu selamanya tanpa syarat.
Leo: “Tidak apa-apa. Hanya merindukan mu.”
Laki& yang itu tersenyum dan langsung menelpon Laura. Tak lama sambung telepon itu pun diangkat oleh Laura. Melihat hal tersebut Leo angkat senang dan tak sabar mendengar suara manis Laura.
“Ada apa sih? Kayaknya kangen banget,” ucap Laura terkekeh dan tak lama wanita itu mengubah panggilan menjadi Videocall.
Leo melihat wajah wanita itu yang tengah berbaring tanpa ada riasan sama sekali. Tampaknya ia hendak tidur dan wajahnya yang natural itu rasanya ingin sekali membuat Leo cepat-cepat menghalalkan wanita tersebut.
“Kangen,” ucap Leo dengan suara manjanya dan Laura yang mendengar dari seberang sana terkekeh.
“Masa? Kenapa? Cerita, ak tahu kamu pasti lagi ada masalah,” ucap Laura yang benar bisa menebak keadaan Leo sekarang.
Leo menatap ke arah Lauradneban pandang bangga. Tampaknya wanitanya itu benar-benar peduli dengan dirinya. Bahkan ketika ia belum mengatakan apapun Laura sudah bisa menebak bahwa ia telah memiliki masalah yang begitu berat sehingga membuatnya terus saja kepikiran.
“Laura, sekarang aku baru tahu kalau kamu benar-benar mencintai aku. Kenapa nggak dari dulu aja sih kita balikan?”
Terdengar hewan nafas yang ku cukup kencang dari seberang sana dan tampaknya Laura sedang kesal kepada laki-laki itu.
“Suka-suka aku,” ucap wanita itu dengan santai dan sedikit terselip nada kesal kepada Leo.
__ADS_1
Leo yang mendengar hal tersebut terkekeh. Ia menarik napas panjang dan meletakkan wajahnya dengan sangat serius di depan kamera membuat Laura yang ada di seberang sana merasa salah tingkah dengan tatapan laki-laki tersebut. Ia sengaja mengedipkan matanya membuat Laura semakin tergoda.
“Leo, sudah berhenti. Cepat katakan apa yang ingin kau katakan bukannya malah membuat orang lain penasaran dengan tingkah mu yang seperti itu,” ucap Laura yah kesal seraya menarik napas panjang.
Leo pun menganggukkan kepalanya. Tampak pria itu sudah mulai mengerti dan terlihat dari raut wajahnya sudah berubah tidak seheboh tadi.
“Sebnearanya aku punya masalah.” Laura mengangkat satu alisnya menunggu pria itu melanjutkan apa yang akan ia katakan, “akan tetapi aku benar-benar bingung saat ini. Rupanya ibu ku juga mengalami hal yang sama seperti ibumu dulu yang tidak merestui hubungan kita.”
Deg
Laura yang ada di seberang sana pun terkejut dan tidak bisa berkata-kata lagi. Memang sedikit sulit jika itu adalah warisan orang tua Leo. Mengingat apa yang telah dulu ia lakukan kepada wanita tersebut dan mengatakan bahwa orang tua Leo tidak pandai mendidik anak.
Laura pun membuang pandangannya dengan sedikit lesu. Kali ini ia mengaku kalah dan tidak tahu harus melakukan apalagi. Jika memang harus mundur maka ia akan siap melaksanakannya.
“Aku mengerti kenapa ibumu tidak setuju.”
Leo terkejut melihat tatapan pasrah yang diberikan oleh Laura. Bukan tatapan semacam itu yang ia inginkan. Jelas-jelas adalah tatapan di mana Laura mulai bersemangat dan menunjukkan bahwa dia adalah orang yang tidak pantang menyerah.
“kenapa ketika aku melihat wajahmu malah kamu malah terlihat sedang putus asa? Emangnya apa kamu nggak bisa berusaha gitu buat meyakinkan mama? Tenang aja tidak kamu kasih aja tipsnya buat orang tua bisa percaya kepada anaknya seperti yang dilakukan oleh ibumu dulu. Kamu pasti memiliki solusinya.”
Akan tetapi Laura berusaha untuk membuang egonya. Ia menarik nafas kemudian menundukkan kepalanya. Dunia memang terlihat kejam tapi ia yakin bahwasanya ini adalah ujian.
“Sudahlah aku tidak memiliki solusi sama sekali untuk saat ini. Kamu juga tahu jika aku merasa tidak enak dengan orang tuamu. Aku memang sedikit tidak menyukainya karena tidak bisa mendidikmu sehingga kamu menjadi orang yang seperti ini. Dia terlalu angkuh bagaimana mungkin aku bisa memiliki orang tua yang seperti itu.”
Laura menarik nafas panjang dan kemudian menatap ke arah Leo yang ada di sebelah sana dengan pandangan serius.
“Laura, kenapa kamu tidak berjuang saja? Aku yakin kamu pasti mencintaiku dan ingin orang tuaku menerimamu.”
Laura menganggukkan kepalanya. Siapa yang tidak ingin mendapatkan restu dari orang tua yang dicintai olehnya.
“Ya aku tahu. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa berkata-kata, mungkin kita akan mencari jalan keluarnya bersama-sama nanti. Aku ingin beristirahat dulu.”
Leo yang ada di sebelah sana pun melakukan kepalanya dan terpaksa melepaskan Laura. Ia sendiri merasa tidak rela melakukan hal tersebut, tapi apa boleh buat tampaknya Laura juga butuh ketenangan setelah mendengar kabar itu.
Apalagi ia tahu betul bahwasanya Laura memang sulit untuk menerima orang tuanya. Maka dari itu ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya bahwasanya orang tuanya telah menjodohkan dirinya dengan Nisa. Ia tidak akan tahu bagaimana reaksi Laura nanti kedepannya.
__ADS_1
“Aku harap kamu bisa mempertimbangkan semua ini. Kamu adalah orang yang hebat.”
Leo mematikan sambungan video call-nya dan kemudian meletakkan hp-nya di sampingnya. Wajahnya terlihat tidak nyaman dan pandangannya kosong, ia menarik nafas panjang dan menundukkan kepalanya.
“Jika memang tidak bisa baiklah.”
••••••
Laura termenung dan kemudian keluar dari dalam kamarnya. Sebenarnya rasanya saat ini tidak enak dan ingin dibebaskan. Perkara orang tua Leo sebenarnya ia membenci karakter mereka yang tidak bisa mendidik anak Dan menganggap bahwa anak hanyalah urusan biasa.
Jadi Laura ingin berpikir-pikir dahulu jika memiliki mertua yang seperti itu. Ia ingat bahwasanya hidup dengan mertua tidak akan pernah enak dan pasti banyak omongan. Apalagi Leo nantinya akan meminta uang dari orang tuanya dan mau tidak mau pasti ia akan ikut dalam masalah rumah tangganya.
Jadi untuk apa dirinya terus-menerus berharap bahwasanya bisa diterima di keluarga orang itu yang pada dasarnya tidak akan pernah bisa dan nantinya akan terpukul.
“kenapa kamu berjalan sendirian supaya tidak memiliki kehidupan?” tanya sang ibu yang kebetulan melintas di depan tangga.
Laura menarik nafas panjang dan menundukkan kepalanya. Ibunya benar kenapa ia malah berjalan seperti itu, Laura pun menundukkan kepalanya kembali dan berharap bahwasanya bisa menikmati kebebasannya untuk sesaat.
“Capek,” ucap Laura dengan santainya dan mengingat dirinya juga tidak memiliki pekerjaan dan hanya menjadi pengangguran sambil menjadi mahasiswa.
Dari dulu orang tuanya memang tidak ingin anaknya bekerja karena ia ingin fokus menjalankan studinya. Namun Laura juga mengetahui bahwasanya orang tuanya bukanlah orang kaya dan ia harus menjadi orang yang bisa bekerja sendiri dan mampu membiayai kuliahnya.
“Kalau capek itu istirahat, bukan jalan di tangga kayak orang gak punya otak aja. Kamu lihat pandangan kamu itu kosong, gimana kalau terjadi sesuatu atau kamu jatuh dari tangga?”
Laura pun menarik nafas panjang dan tersenyum ke arah ibunya. Ia turun perlahan-lahan dari tangga tersebut dan kemudian menghampiri ibunya lalu memeluknya.
“Biaklah, terima kasih sudah mengkhawatirkan ku. Tapi buktinya aku baik-baik saja tuh,” ucap Laura membuat orang tuanya sedikit kesal dan kemudian melepaskan pelukan dirinya dengan Laura.
“Terserahmu saja, aku tidak ingin jika terjadi sesuatu kepadamu. Ayo ke dapur cepat untuk makan.
|••••••
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1