
Perasaan Laura begitu was-was. Ia menatap ke arah ruangan operasi Leo. Kecelakaan tunggal yang dialami oleh Leo begitu mengerikan. Laki-laki tersebut benar-benar sangat kritis bahkan harapan hidupnya semakin berkurang setiap harinya. Ia benar-benar tidak tahu harus seperti apa lagi untuk menyelamatkan Leo.
Setiap malam Laura hanya menangisi laki-laki itu. Lagi pula hatinya begitu sakit saat mengetahui bahwasanya Leo sampai sekarang belum sadarkan diri. Luka yang ada di kepalanya begitu parah, bahkan orang-orang sangat tidak yakin dengan keselamatan hidupnya.
Beberapa bagian tubuhnya terluka dengan cukup dalam sehingga harus dilakukan penjahitan dan juga operasi. Saat ini Laura tengah berdoa di depan ruangan operasi Leo. Ia ditemani oleh ibunya dan juga sekaligus ibunya Leo. Matanya bengkak menandakan bahwa ia semalaman terus menangis.
“Tenanglah Laura, Leo tidak menyuruhmu untuk bersedih sampai seperti ini. Jika dia melihatmu dia pasti tidak terima dan ingin kau hidup lebih baik lagi. Kau boleh bersedih tapi jangan sampai menangis seperti ini tidak ingin makan.”
Ibunya Leo yang mendenga permohonan dari ibunya Laura tersebut lantas meminta Laura untuk makan terlebih dahulu. Akan tetapi Laura sama sekali tidak ingin makan dan menggelengkan kepalanya. Ia terus menangis.
“Bagaimana mungkin aku bisa makan sementara dia tidak makan. Kemarin dia begitu aktif dan aku tidak menyangka bahwa nasib buruk akan menimpa dirinya. Aku benar-benar sakit hati, Aku ingin di sini bersamanya,” ucap wanita itu sambil terisak-isak.
Ibunya pun menghilang nafas dan membiarkan Laura untuk meratapi kesedihannya yang tidak ada artinya itu. Melihat Laura yang tidak ingin makan dari kemarin membuat hatinya cukup sakit tapi apa boleh buat karena wanita tersebut begitu larut dengan kesedihan.
Sementara ibunya Leo juga sama akan tetapi ia berusaha untuk tegar di depan orang lain. Berbeda dengan Laura yang sangat lemah. Ia Terus menerus menangis hingga rasanya air matanya sudah kering.
“Jika kamu seperti ini makam Mama yang akan kita khawatir. Satu lagi Laura, Leo ingin kamu hidup dengan baik, kenapa kamu tidak mempertimbangkan untuk makan terlebih dahulu dan kemudian menunggu dia di sini.” Ibunya terus-menerus membujuknya yang tidak ada hasilnya tersebut.
“Mama, kenapa musibah terjadi begitu saja? Padahal baru saja dia mengantarkan aku pergi kuliah. Pada saat itu kami telah bercanda dan tidak pernah menyangka bahwasanya akan seperti ini. Aku sakit hati Mama, Aku ingin dia sadar segera. Apalagi dia begitu senang saat bisa masuk ke universitas Indonesia bersama dengan ku. Pasti saat ini dia benar-benar sedang bersedih. Apa yang harus aku lakukan jika sesuatu yang buruk terjadi kepadanya?”
Ibunya Leo tidak sanggup mendengar ucapan Laura lagi. Ia memegang tangan Laura dan kemudian menatap ke arah wanita itu memohon agar tidak mengatakannya lagi. Rasanya begitu sakit dan ia sendiri entah tidak tahu bagaimana rasanya perasaan tersebut.
__ADS_1
“Tidak usah terlalu dipikirkan, semua terjadi juga karena sesuatu yang tidak diinginkan. Berhentilah menangis, tante juga tidak sanggup mendengar ucapanmu itu lagi.”
Hingga pada akhirnya mereka menangis bersama-sama. Sementara itu para ayah sedang memperhatikan para perempuan tersebut yang tengah bersedih. Bukan mereka sedang tidak sedih, akan tetapi mereka juga sama sedihnya namun berusaha untuk menutupnya.
Laura menghembuskan nafasnya dan menyeka air matanya itu. Ia mendongak ke atas menahan takut sekaligus berdoa kepada Tuhan bahwa sesuatu yang buruk tidak akan menimpa Leo. Leo pasti baik-baik saja dan iya sebentar lagi akan membuka matanya. Laura mencoba untuk mempercayai hal itu dan membuang jauh-jauh sesuatu yang buruk terus menghantuinya tersebut.
“Aku harus berpikir positif terlebih dahulu. Leo pasti akan selamat.”
••••••
Laura terus memandang parah dalam ruangan tempat di mana Leo dirawat. Ia baru saja selesai menjalankan operasi dan untuk saat ini belum bisa orang untuk menjenguknya. Hanya beberapa orang saja yang bisa melihat Leo termasuk ibunya.
Sampai saat ini Laura belum berani untuk menjenguk ke dalam Karena ia merasa takut jika tidak bisa menahan diri dan menangis di dalam ruangan itu. Ibunya juga menyuruhnya untuk memperhatikannya di luar saja agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi.
Laura menundukkan kepalanya. Oh Tuhan selamatkanlah Leo untuk dirinya dan orang lain, ia harus bisa melawan rasa takut tersebut dan terus berdoa sebagai kuncinya.
“Leo, bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kau sedang ketakutan? Apakah kamu sekarang sedang menungguku di dalam?” Laura bertanya-tanya sambil menatap ke arah Leo yang ada di dalam ruangan tersebut sedang dipenuhi dengan kabel-kabel rumah sakit.
Ia penduduk di depan ruangan itu dan melihat bahwa ada ayahnya Leo yang menghampiri dirinya. Ia duduk di samping Laura dan kemudian mengusap belakang wanita itu.
Ia mengerti bagaimana perasaan Laura saat ini dan maka dari itu ia berusaha untuk membantu Laura sadar bahwasanya ia juga harus memperhatikan diri sendiri daripada terus mengkhawatirkan Leo namun mengabaikan dirinya.
__ADS_1
“Sebenarnya Leo juga tidak ingin melihatmu yang terpuruk seperti ini. Dia ingin kau menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi dan mencoba untuk hidup dengan teratur agar tidak membuatnya khawatir.”
“Aku sengaja membuatnya khawatir agar dia bisa membuka matanya dan memperingati aku,” ucap wanita itu yang sudah kehilangan akalnya.
Ayahnya Leo menarik nafas panjang. Ia pun juga menghembuskan nafasnya secara perlahan. Anak muda memang seperti itu dan lebih bersedih daripada orang tua kandungnya. Wajah Laura benar-benar pucat hingga membuat orang lain khawatir namun sampai sekarang Ia tetap Kekeh tidak ingin makan maka dari itu orang berusaha untuk membujuk Laura.
“Secara logika apakah dia akan bangun Jika kamu tidak makan? Makanlah terlebih dahulu dan kemudian kamu sebagai seorang calon dokter harusnya bisa menghadapi mental seperti ini.”
Laura lantas menangis sejadi-jadinya. Apa yang dikatakan oleh orang tuanya Leo itu benar. Ia menghembuskan napasnya secara perlahan dan menganggukkan kepalanya. Ya dia harus menjadi orang yang lebih kuat lagi.
“Baiklah, terima kasih telah menasehatiku.”
Tiba-tiba Nisa datang dan duduk di sampingnya. Laura sendiri tidak menyangka dengan kehadiran wanita itu. Nisa meraih tangan Laura dan kemudian menggenggamnya. Laura benar-benar iri dengan Nisa yang begitu tegar menghadapi ujian dalam hidupnya. Ia ingin seperti di sana pun tidak bisa.
“Berhentilah Kak menangis, semua orang juga bersedih. Tapi kita harus lebih kuat lagi dan tidak menyakiti diri sendiri.”
Nisa begitu baik kepadanya. Ia mencintai Leo dan berusaha untuk mengikhlaskannya dan bahkan ketika Leo sedang berada di rumah sakit pun ia berpura-pura untuk tidak bersedih. Ia ingin menjadi seorang Nisa dan begitu pula Nisa yang ingin menjadi dirinya.
••••••
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.