Buk Guru, Ayo menikah!

Buk Guru, Ayo menikah!
Part 40


__ADS_3

“Kenapa rasanya aku masih kesal kepada orang itu? Dia benar-benar menguji kesabaran ku,” ucap Ke dengan suara serak dan menandakan bahwasanya laki-laki tersebut benar-benar marah dan ingin mencekik Anwar yang begitu songong padahal dia hanyalah teman Laura biasa. Namun gayanya melebihi daripada orang lain.


“Sudahlah tidak usah dipikirkan, lagi pulang orang seperti itu tidak seharusnya kita pedulikan. Lagi pula aku takut betul bahwasanya Anwar hanyalah bercanda, tidak usah dimasukkan ke dalam hati.”


Leo menghela napas. Lagipula siapa yang mempedulikan orang seperti itu, ia sama sekali tidak peduli dan tidak ingin melihatnya. Laura hanya terkekeh dan pada kenyataannya cowok itu tidak ingin mengakui rasa gengsinya. Padahal terlihat jelas bahwa ia juga menganggap hal tersebut menjadi masalah yang begitu serius.


“Lagi pula ak tidak menganggapnya seperti itu. Hanya kau yang berspekulasi sendiri dan tidak mencari kebenarannya terlebih dahulu.”


Laura menarik nafas panjang dan kemudian menganggukan kepalanya percaya kepada laki-laki itu. Anta harus seperti apa lagi yang meyakinkan bahwa laki-laki tersebut adalah orang yang salah.


“ingat kamu jangan pernah memarahi orang di depan umum dan Apalagi kamu adalah anak donatur yang begitu terkenal di universitas ini jadi kamu harus pandai bersikap kepada orang lain. Jangan sampai kamu dibenci oleh orang lain,” nasehat Laura kepada laki-laki tersebut. Jelas-jelas ia merasa kesal kepada Leo namun ia berusaha untuk menahannya.


Dari tadi pagi hingga sekarang laki-laki itu terus membuat gaduh dan selalu saja ada tingkahnya. Padahal Laura begitu khawatir dengan kondisinya yang malam tadi hujan-hujanan. Apalagi yang melihat jelas bahwasanya benar-benar pucat.


Laura pun mengangkat tangannya dan meletakkannya di kening Leo. Awalnya laki-laki itu terheran-heran apa yang sedang dilakukan oleh Laura. Namun ketika ia menyadarinya Ia pun langsung terdiam dan menjauhkan tangan Laura dari keningnya. Ia tidak ingin Laura mengetahui bahwa ia sedang sakit.


Laura sudah terlanjur memegang keningnya dan tau bahwa tubuh Leo terasa sangat panas. Ia pun menghentikan jalan dan menyuruh agar Leo duduk terlebih dahulu. Leo tak memiliki pilihan lain dan terpaksa mematuhi apa yang saat ini Laura perintahkan.


“Ada apa? Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja, untuk apa pedulikan aku. Yang harus lebih dipedulikan adalah kamu yang pulang hujan-hujanan.”


Laura menarik napas pasrah. Laki-laki ini bahkan begitu tidak pandai menjaga kesehatannya. Padahal Laura bisa saja pulang dan pria tersebut tidak perlu mengkhawatirkannya.


“Kenapa malam tadi kamu mengikuti ku? Aku bisa saja pulang sendiri dan tidak butuh bantuan mu. Lihatlah sekarang kamu sakit seperti ini yang salah siapa? Ya sudah jelas adalah aku.” Mata Leo membulat dan ia tidak ada pikiran untuk membuat wanita itu merasa bersalah karena dirinya.


“Hey jika seperti itu aku yang salah. Tidak usah khawatir kan aku, aku yang berbuat ulah sendiri dan sudah jelas aku harus menanggung resikonya. Kenapa kau harus peduli,” ucak Leo mencoba untuk mencairkan suasana walaupun ia tahu dengan jelas hal tersebut tidak akan ampuh.

__ADS_1


Laura mendorong tubuh Leo hingga hampir terjatuh. Tapi untungnya Leo bisa menahan keseimbangannya dan menatap ke arah Laura yang tampak kesal. Sepertinya kali ini ia menyinggung perasaan Laura lagi. Ia harus meminta maaf kepada wanita itu.


“Baiklah, maafkan aku karena telah menyinggung mu. Jujur saja aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu.”


Laura menganggukkan kepalanya. Laura kali ini setuju dengan Leo dan memakan laki-laki tersebut akan tetapi tatapan matanya masih mengintimidasi Leo hingga membuat Leo tidak bisa bergerak dengan bebas.


“Jika kau sudah memaafkanku harusnya kamu tidak menatapku seperti itu lagi. Kenapa rasanya tatapanmu begitu tajam?”


Laura menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Apa yang harus ia katakan kepada laki-laki itu karena memang tidak perlu ada yang dijelaskan.


“Ayo kita ke rumah sakit. Ingat tidak ada penolakan sama sekali kamu harus ikut.”


Leo tercengang mendengar keputusan sepihak yang diberikan oleh Laura. Tapi ia sadar dirinya memang tidak bisa menolak apa yang dikatakan oleh wanita itu.


“Terserah mu saja.”


••••••


Laura tercengang dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Leo. Apakah benar laki-laki itu takut dengan jarum suntik? Kenapa rasanya Ia tidak percaya sama sekali sebab wajah Leo begitu sangar dan membuktikan bahwa ia adalah orang yang berani dan tidak takut dengan apapun.


Namun pengakuan laki-laki itu yang takut dengan jarum suntik membuat tawa Laura tidak bisa ditahan dan Leo yang melihat Laura mendatangkan dirinya harus rela dihina oleh wanita itu di depan matanya. Mau bagaimana lagi ya benar-benar takut dengan jarum suntik.


“Aku tidak menyangka bahwa kamu dengan jarum suntik. Baik deh aku akan memeriksamu saja.”


Laura mendapat ke arah suster yang juga tertawa. Wanita tersebut benar-benar membuat Leo tidak habis pikir. Kenapa para wanita menertawakan dirinya yang takut dengan jarum suntik, bukankah itu adalah hal yang paling manusiawi? Bahkan banyak preman yang juga takut dengan jarum suntik.

__ADS_1


“Kamu memang orang yang paling lucu sedunia. Takut dengan jarum suntik itu adalah sesuatu yang benar-benar di luar nalar.”


“Memangnya apa yang salah kalau takut dengan jarum suntik?”


“tenanglah kamu tidak akan disuntik hanya diperiksa saja,” jelas suster itu dan kemudian untuk mencoba mengecek tensi Leo.


Laura keluar dari ruangan itu dan menunggu suster selesai memberikan obat dan mengecek kesehatan Leo. Bahkan Laura menyarankan agar Leo dirawat terlebih dahulu sehari di rumah sakit ini.


Tidak lama suster pun keluar dari ruangan dan mengatakan bahwa Leo Ingin bertemu dengannya. Laura juga tidak memiliki banyak pilihan dan langsung masuk ke dalam ruangan tersebut dan melihat Leo yang sedang memandang ke arah dirinya dengan cukup tajam.


“Kenapa kamu malah meninggalkanku?”


“Kamu istirahat dulu di sini dengan baik. Karena aku harus mengurus sesuatu, ingat aku akan kembali lagi.”


Leo hendak bangun dan melepaskan impuls yang akan tetapi Laura langsung mengancam dengan tatapan tajamnya.


“Kamu kayak anak yang manja aja tidak bisa ditinggalkan sama sekali. Ini juga demi kebaikan kamu dan juga aku. Ingat tetap di rumah sakit sebelum aku pulang.”


“Tapi kamu mau ke mana?”


“Aku akan pergi kuliah karena masih ada kelas.”


Tampak wajah Leo sangat cemberut. Ia menghela napas dan menganggukkan kepalanya. Lagipula ini demi kebaikan Leo dan Laura seperti yang dikatakan oleh wanita itu.


••••••

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2