
Bahkan di rumah saja Leo selalu mengurung dirinya di dalam kamar akibat terlalu kesal karena tidak ada yang mau menolongnya. Hanya ada Nisa di rumah tersebut dan malah bermain dengan kucingnya. Wanita itu tentunya sebagai orang yang mencintai Leo sangat terpukul saat mengetahui bahwasanya Leo mencium ibu Laura.
Ia baru mengetahui Leo pernah berpacaran dengan ibu guru tersebut. Ia memang baik dan tidak marah kepada Leo Apalagi setelah laki-laki itu mendapatkan kasus yang sangat luar biasa sehingga membuat kedua orang tuanya marah besar akan tetapi Nisa datang untuk menghibur laki-laki itu walaupun tidak diizinkan untuk masuk ke dalam kamarnya tapi Nisa terus berada di luar kamar pria itu sambil bermain dengan kucing milik laki-laki tersebut.
Ia tergolong orang yang sangat setia, bahkan sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaannya yang saat ini sangat terpukul mengetahui kenyataan tersebut. Sedangkan Leo ia menganggap Nisa seperti sahabatnya sendiri seperti tidak ada apa-apanya. Nisa tidak masalah jika laki-laki itu tidak mengetahui perasaannya yang sesungguhnya, lagi pula mereka adalah sahabat walaupun lewat tidak menganggapnya sebagai orang yang tak menyukai laki-laki tersebut maka ia menganggap dirinya sebagai sahabatnya sepanjang masa dan selalu ada di sampingnya.
“Kenapa? Dia belum mau keluar juga?” Nisa mengangkat kepalanya dan melihat jika orang tersebut adalah ibunya Leo.
Wanita itu menganggukan kepalanya dan menatap sedih ke arah Leka. Leka menghela napas panjang dan mencoba untuk mengetuk pintu kamar anaknya.
“Leo, keluar kamu dari kamar! Seharian mengurung diri di dalam kamar bukannya belajar yang benar malah membuat masalah untuk orang tuamu! Kamu tahu hampir saja ayahmu akan dipenjara, kamu ini tidak pernah mendengarkan kata-kata orang! Keluar kamu!”
Tok
Tok
Tok
Leka dengan keras mengendor pintu itu hingga nyaris tumbang. Leo yang berada di dalam kamar tersebut yang tidak nyaman mendengarnya lantas terpaksa untuk membuka pintu kamarnya. Ia melihat tatapan tajam ibunya yang saat ini tengah berkacak pinggang.
“Kenapa Mama dan Papa pedulikan ini? Bukannya kalian lebih mementingkan pekerjaan dan uang kalian daripada anak sendiri? Bahkan Mama lebih menyayangi binatang peliharaan daripada anaknya sendiri! Semua kelakuan nakal yang aku lakukan di sekolah maupun kepada orang lain adalah agar mama bisa dipanggil dan aku bisa bertemu dengan mama! Semua itu aku sengaja melakukannya hingga aku pun terbiasa dan sifatku menjadi seperti ini. Awal mulanya terbentuk sifatku adalah karena kalian!!”
Plak
Nisa langsung memejamkan matanya dan menyentuh pipinya saat melihat Leo yang ditampar dengan sangat keras. Tentunya Leka tidak akan setuju mendengar ucapan yang anaknya katakan itu walaupun benar.
__ADS_1
“Berani sekali kamu berteriak di depan orang tuamu! Mana etikamu?”
Leo menghembuskan nafas lelah dan kemudian mengusap kepalanya dengan sangat frustasi, tidak ada lagi orang yang akan berada di pihak yang pernah semua orang telah membencinya. Ayahnya tentu saja berharap bahwa ia bisa menyelesaikan sekolahnya apalagi ia sekarang sudah kelas 3. Laki-laki tersebut menghembuskan nafas pasrah dan menatap ke arah ibunya.
“kalian selalu bertanya di mana etika dan attitude saat berbicara dengan orang lain, tapi pernahkah kalian memberikan aku pelajaran seperti itu?”
Baiklah anak ini pandai sekali mengskakmat orang tuanya. Leka lantas pergi dan meminta agar Nisa mengurus anak tersebut. Leo memandang ke arah Nisa yang saat ini menyaksikan pertengkaran antara ia dan orang tuanya.
Karena kondisi moodnya yang sangat jelek sehingga Leo masuk ke dalam kamarnya dan kemudian membanting pintu tepat di depan Nisa, Nisa menarik nafas panjang dan kemudian menundukkan kepalanya.
“Apa salah ku?”
••••••••
Ia merasa tidak tega karena telah mengecewakan ibunya tersebut, tapi mau bagaimana lagi karena dirinya juga tidak mengharapkan kejadian seperti itu bisa terjadi. Semuanya telah terlanjur dan ia bahkan tak mampu untuk membela diri.
“Laura! Kamu masih belum mau keluar juga? Ayo makan dulu!”
Laura begitu banyak pikiran, belum masalah keluarga, belum lagi masalah pekerjaannya yang terancam di sekolah. Untuk masalah tugas-tugas yang akan ia hadapi untuk menyelesaikan kuliahnya. Semuanya terasa sulit, kecerdasan yang dimiliki Laura saat ini sama sekali tidak memiliki harga.
Perutnya memang terasa sangat lapar, tapi mengingat pandangan ibunya yang tampak marah kepadanya membuat ia tidak selera makan lagi. Apalagi masalah baru bertubi-tubi membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih maka dari itu Laura terus mengurung dirinya di dalam kamar.
Ayahnya kembali mengetuk pintu, hanya laki-laki tersebut yang mau peduli dengannya dan tidak langsung menghakimi dirinya. Ia tahu semua ini karena ayahnya yang sangat menghargai Leo.
“Keluar lah dulu sebentar, jangan mengurung diri dan menyakiti diri sendiri di dalam kamar. Papa pasti akan membicarakannya ini dengan orang tuanya Leo, jadi kamu tidak usah memikirkan pekerjaan lebih dulu.”
__ADS_1
Laura pun keluar dari dalam kamarnya setelah mendengar ucapan ayahnya tersebut. Ia memandang ke arah ayahnya dengan tatapan sedih dan kemudian memeluknya dengan sangat erat. Sementara itu sang ibu melihat dari bawah.
Ia merupakan tangannya dan tidak marah, akan tetapi ia marah kepada Leo. Leo anak nakal itu, dari dulu ia tidak pernah menyukai laki-laki tersebut karena temperamen yang buruk.
“Memang dia hanya akan membuat masalah untuk anak kita.” Laura memandang ke arah ibunya yang saat ini tengah mengerjakan pekerjaan dapur sambil memarahi dirinya.
Lantas ia melepaskan pelukannya dengan sang ayah dan kemudian turun untuk mengisi perutnya yang terasa sangat lapar. Laura merasa canggung dengan ibunya yang terus-menerus memarahi dirinya sehingga ia tidak mendengarkan wanita itu lagi.
“Ini semua salah kamu yang berpacaran dengan anak itu! Andai saja jika ia tidak berpacaran denganmu, mungkin tidak akan terjadi kejadian seperti ini.”
“Sudahlah, anak kita telah besar. Leo juga tidak masalah.”
“Tidak masalah apanya? Jelas-jelas anak itu sangat nakal dan bahkan sampai memukuli temannya sendiri. Dia juga suka membully kan? Apalagi dia melecehkan anak kita, kau masih membelanya? Tampaknya Kau sangat jahat kepada anak mu sendiri.”
“Bukan seperti itu, bukankah Laura telah menjelaskan bahwa ciuman tersebut tidak salah Leo juga.”
“Kau terlalu memanjakannya!! Apa gunanya aku di sini jika tidak dihargai sama sekali?”
Laura yang hendak memasukkan makanan ke mulutnya langsung menghentikannya. Ia merasa tidak enak.
••••••
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1