
Langit begitu cerah alam tetapi tidak secerah suasana hati Leo yang setiap hari terus mendengar teriakan sang ibu yang sangat kesal kepada dirinya karena masalah yang ia buat tidak semudah itu untuk menyelesaikannya.
Belu lagi ayahnya yang jarang pulang tapi karena masalahnya dengan cepat ia pulang ke rumah dan hanya untuk memukuli dirinya. Mereka tidak sadar dengan apa yang telah mereka lakukan. Leo rasa mungkin selamanya ia tidak akan menyadari bahwa anaknya seperti ini adalah karena perbuatan mereka juga.
Mereka tidak pernah mendidik Leo dengan benar, sehingga Leo harus melakukan kesalahan terlebih dahulu barulah diperhatikan. Karena terus-menerus seperti itu maka Leo berusaha untuk terus membuat masalah sehingga ia menjadi keterusan. Laki-laki itu begitu membenci keluarganya, apalagi menyadari bahwa Laura juga marah kepadanya. Apakah masih ada orang yang peduli dengannya?
Tentu saja masih ada Nisa, wanita itu begitu baik walaupun ia tidak mampu membalas kebaikan yang diberikan oleh Nisa. Tapi ia bersyukur masih ada orang yang mau peduli dengannya dan setiap hari ini Nisa datang ke rumahnya untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.
“Anak itu sudah dua hari tidak keluar kamar, bahkan sama sekali tidak makan! Semua ini karena kamu yang tidak becus menjaganya!!” teriak sang suami kepada istrinya tersebut. Sudah seperti ini barulah mereka saling menyalahkan.
Tentunya istrinya tidak terima ketika dia harus disalahkan, ia merasa semua ini juga bukan salah dirinya. Ia tersenyum kecut.
“Kau hanya akan menyalahkanku? Apakah kau juga tidak menyadari perbuatanmu itu? Tidak hanya aku yang salah tapi kau juga! Kau terlalu lebih mementingkan uang daripada anak kita! Sebentar aku tidak bisa diam karena harus pergi ke sana kemari.”
“Aku juga sama sepertimu, kau ibunya sementara itu tugasku memang untuk mencari uang, Jadi kau tidak ada hak menyalahkanku. Tugasmu sebagai seorang istri adalah menjaga anak dan dapur!!”
“Sejak kapan kau berpikiran kuno seperti itu? Aku tidak pernah mendengar kau berbicara seperti itu sebelumnya!!” teriak istrinya dengan sangat kesal dan kemudian menampar suaminya.
Perkelahian tersebut tidak bisa dielak sama sekali. Mereka bertengkar di depan kamar Leo, sehingga laki-laki itu merasa muak ketika mendengarnya. Bukan menyadari kesalahan masing-masing tapi malah saling menyalahkan. Leo mengepalkan tangannya dan kemudian membuka pintu dan membantingnya dengan sangat keras sehingga orang tuanya yang sedang bertengkar itu langsung terdiam dan menatap ke arah Leo. Leo menarik nafas panjang dan menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam.
“Tidak usah berkelahi di depan kamarku! Kalian berdua memang salah, tidak perlu saling menyalahkan.”
Leo kemudian meninggalkan kamarnya dan berjalan ke arah luar. Ia bertemu dengan Nisa yang baru saja hendak datang ke rumahnya. Nisa terkejut melihat Leo yang mulai keluar dari dalam kamarnya dan mau beradaptasi. Namun melihat wajah kesal laki-laki tersebut ia tidak berani menyapanya dan melihat Leo yang mengeluarkan motornya dan pergi dari rumah.
“Apa yang baru saja terjadi pada Leo? Kenapa Leo kayak lagi marah gitu?” Nisa membuang segala pikirannya yang tidak masuk di akal. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu dan memastikan apa masalah yang sebenarnya terjadi.
Ia melihat orang tua Leo yang saling bertengkar dan bahkan sampai sekarang belum juga berakhir. Padahal anak mereka sudah keluar dari dalam rumah tapi mereka lebih mementingkan pertengkaran tersebut.
__ADS_1
“Tante, Om! Apa yang kalian lakukan? Leo keluar dari rumah, kenapa Om sama Tante tidak mengejarnya?”
Mereka menatap ke arah Nisa dan kemudian sang istri menghampiri Nisa dan memeluknya m ia berharap Nisa bisa membujuk Leo.
“Nisa, kamu tahu sendiri anak itu sulit sekali untuk dibujuk! Memangnya kau tidak bisa membawanya pulang ke rumah? Kami berdua sudah sangat kelelahan dengannya.”
Nisa mainan anak panjang dan mulai mengerti kenapa Leo pergi dari rumah. Alasan laki-laki tersebut begitu kuat dan ia juga jika berada di posisi Leo akan meninggalkan rumah dengan sangat kesal. Ia merasa bahwa dirinya tidak sekuat Leo, ia juga paham kenapa Leo sampai seperti itu.
“Tante dan Om tidak bisa saling menyalahkan. Coba kalian intropeksi diri.” Nisa begitu memiliki nyali yang sangat kuat untuk menyatakan hal tersebut. Ia menundukkan kepalanya dan kemudian melangkah dengan sangat pelan selalu keluar dari rumah.
Karena tidak ada Leo di rumah jadi untuk apa ia mendengarkan pertengkaran orang tersebut yang tidak akan ada ujungnya. Nisa berharap bahwa orang tua Leo mulai mengerti dengan akar masalahnya dan tidak akan saling menyalahkan seperti itu.
Leo saat ini berada di sisi jembatan. Tatapannya begitu dalam ke arah lautan. Ingin sekali iya menjatuhkan dirinya ke dalam laut tersebut, apalagi ia merasa bahwa tidak ada lagi yang perlu dipertahankan di dunia ini. Tapi mengingat bahwasanya ia belum menikah dengan Laura dan juga belum memiliki anak dari wanita itu rasanya sangat tidak rela. Ia ingin menikah terlebih dulu. Bahkan dalam keadaan seperti ini Leo sangat percaya diri bahwa ia bisa menikahi Laura. Tidak peduli apakah Laura akan menyetujuinya atau tidak, jika tidak ingin maka ia akan memaksanya.
Sedangkan Laura tidak sengaja melihat Leo yang tengah menatap ke arah lautan dengan pandangan yang berbeda. Ia yang baru saja pulang dari kuliah tersebut merasa tidak enak hati, bagaimana jika Leo melakukan sesuatu yang sangat nekat? Apakah ia sanggup menghentikan laki-laki itu dengan kondisi mereka yang saling bermusuhan.
“Kenapa sih gue masih mikirin itu, nyawa lebih penting daripada masalah saat ini,” ucap wanita itu dan meminta agar sang ojek menurunnya di sini saja. Wanita itu menarik napas panjang dan menatap ke arah Leo dengan perasaan yang sangat cemas. Semoga saja tidak terjadi sesuatu kepada laki-laki tersebut.
Untungnya ia bisa lebih dulu menggantikan laki-laki itu sebelum benar-benar memukul wajahnya. Leo sangat sok saat melihat Laura ada di depannya. Ia meminta maaf dengan suara serak dan sangat bersalah.
“Maaf, tidak bermaksud ingin memukul ibu.” Suasana jadi jangkung sehingga kedua belah pihak bingung ingin mengucapkan kalimat apa sebagai pencair suasana.
Laura berusaha membuka suara agar Leo tidak mau terlalu larut dalam kesedihannya. Apalagi ia merasa tidak tega melihat wajah pria itu yang sangat menyedihkan. Tampaknya sesuatu telah terjadi kepada Leo.
“Leo ada apa sebenarnya dengan kamu? Kamu tidak akan bunuh diri, kan?”
Leo terkejut dengan apa yang ditanya oleh Laura. Tidak mungkin ia akan bertindak seperti itu. Leo masih memiliki pikiran dan masih ingin hidup, alasannya hidup juga karena orang yang ada di depannya. Ia seakan masih memiliki secerah harapan yang bisa membuatnya keluar dari dalam masalah ini.
__ADS_1
“Tidak mungkin aku akan bunuh diri. Ciehh Ibu perhatian.”
Laura yang mendengar nama sangat kesal selain dan ia hendak pergi meninggalkan pria itu. Ia benar-benar telah menyesal mencoba untuk menyelamatkan Leo. Nyatanya anak itu baik-baik saja dan saat ini tengah meledek dirinya.
“Apa yang kau katakan? Sama sekali tidak memiliki adab terhadap seorang guru.”
“Tapi saya benar-benar merasa senang saat ibu mencoba untuk menanyakan masalah uang saat ini tengah saya hadapi. Orang tua saya seperti biasa tidak bisa menyadari kesalahannya dan malah saling mengalahkan.”
Laura menatap ke arah Leo, dengan sekali lihat dia sendiri tahu bahwa Leo memang membutuhkan seseorang untuk membicarakan masalah ini. Laura kemudian terselenggara Leo dan marai dengan laki-laki itu. Leo cukup terkejut dan memandang ke arah Laura dengan tatapan meminta maaf dan ingin menarik tangannya kembali.
“Ceritakan saja yang sebenarnya, aku pasti akan mendengarkanmu.”
“Ibu beneran?”
“Hm.”
Leo menarik nafas dan mulai menceritakan masalah yang sebenarnya terjadi. Ia menceritakan dari awal hingga pertengkaran yang dilakukan oleh orang tuanya. Hatinya begitu merasa sesak saat mengatakan hal tersebut dan mereka bertengkar juga karena dirinya. Leo berada di titik yang serba salah. Ia tidak tahu harus melakukan apa agar membuat mereka menyadari kesalahannya dan tidak bertengkar lagi.
Laura yang mendengar hal itu sangat prihatin, ia memeluk tubuh Leo dan Leo langsung membalas pelukan Ibu.
“Saya tidak sedang meminta perhatian ibu.”
“Tapi ibu mu ini peduli dengan mu.”
Leo mulai merasa sedih karena tahu bahwa Laura memandangnya sebagai muridnya.
••••••••
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.