Buk Guru, Ayo menikah!

Buk Guru, Ayo menikah!
Part 28


__ADS_3

Meskipun telah mendapatkan kabar dari Leo bawah ia ingin menikahi bu guru Laura yang katanya digadang-gadang sangat cantik oleh laki-laki tersebut membuat hatinya terasa sangat sedih akan tetapi ia berusaha untuk tetap terlihat normal dan tetap datang ke rumah Leo untuk membantu laki-laki tersebut mendapatkan kepercayaan dari orang tuanya lagi.


Jujur saja orang tuanya masih saling bertengkar dan menyalahkan satu sama lain. Rencananya Leo ingin membuat mereka saling akur dan tidak terlalu berpikir yang tidak tidak tentang dirinya. Ia lebih bahagia jika melihat orang tuanya dapat mengakui kesalahan mereka dan tidak saling bertengkar. Walaupun ia seringkali mengkode mereka tapi rasanya mereka tetap saja sukar untuk dipisahkan.


“Leo, kenapa lo nggak bicara sendiri aja sama mereka buat mereka bisa merubah sikap. Lagi pula lu kan pengen niat mau merubah sikap lo itu dan gue yakin pasti mereka akan senang. Katanya lu kan mau nikah coba lo deketin orang tua lo dan bantu pekerjaan mereka siapa tahu lo bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak untuk menikah nanti.” Senyum palsu yang diberikan oleh Nisa begitu kuat hingga tidak disadari oleh Leo bahwasanya wanita itu hanya menjadi badut. Nyatanya hatinya begitu teriris buat ketika mengucapkan suatu hal yang tidak bisa mendukung pihaknya.


Leo menarik nafas panjang dan berpikir apa yang dikatakan oleh Nisa ada benarnya juga. Kenapa ia tidak mendekati orang tuanya dan meminta bantuan mereka untuk memberikannya pekerjaan walaupun harus sambil kuliah. Kebetulan sekali ia benar-benar ingin menikahi Laura dan rasanya jika menikah masih mengharapkan pendapatan dari orang tua merupakan suatu hal yang sangat memalukan.


Kenapa ia tidak menggunakan cara tersebut untuk membantu orang tuanya dan sekaligus bisa mendapatkan pekerjaan dari itu dan mulai belajar berbisnis seperti ayahnya. Leo tersenyum kearah Nisa yang telah memberikan pendapat tersebut. Ia langsung mengajak wanita itu melakukan tos.


“Emang Nisa sahabat gue ini paling pintar.” Nisa hanya terkekeh ketika mendengar apa yang telah diucapkan laki-laki tersebut yang telah menjunjung dirinya.


Ia menarik nafas panjang dan kemudian menatap ke arah kucing milik Leo. Leo Tidak terlalu senang dengan kucingnya tersebut akan tetapi Nisa yang begitu senang dengan kucing yang bernama Mochi milik laki-laki itu. Setiap hari Ia bermain dengan Mochi dan bahkan jika Leo tidak keluar dari kamarnya pasti dia akan bermain dengan kucing itu untuk menghilangkan rasa bosan dan jenuhnya.


“jujur aja ya gue bener-bener kamu heran sama lo kenapa suka sama tuh kucing,” ucap Leo sambil bermain game.


Nisa memandang ke arah Leo dengan tatapan tidak terima. Tentu saja kucing itu sangat menggemaskan sehingga dirinya merasa benar-benar ingin memakan kucing tersebut walaupun itu hanyalah sebuah candaan dirinya saja karena terlalu gemas.


Ia menghela nafas panjang melihat Leo yang sedang bermain game tersebut. Ia mengambil ponsel laki-laki itu dan otomatis langsung mengeluarkannya dari permainan game itu. Tentu saja Leo sangat marah dan tidak terima dan merebut hp-nya dengan kasar. Ia menatap ke arah Nisa marah dan berkacak pinggang.


“Lo harus bisa ngontrol diri lo sendiri, ingat katanya mau nikah sama ibu Laura itu, kalau udah mau nikah kurangin deh main game online-nya. Sumpah nggak ada gunanya sama sekali Lo main game online beginian.”


Leo terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Nisa itu. Tapi apa yang dikatakan oleh wanita tersebut juga ada benarnya Jadi ia tidak bisa membantah ucapan Nisa dan kemudian pergi begitu saja ke dalam kamarnya.


Nisa menarik nafas panjang dan menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan jalan pikiran laki-laki itu yang terlalu kekanak-kanakan. Entah apa yang telah dilakukan oleh laki-laki tersebut sehingga dirinya tidak bisa menjadi orang yang lebih dewasa lagi. Mungkin karena tidak ada bimbingan dari orang tuanya yang selalu sibuk.


Sementara itu Nisa menunggu kepulangan dari tante dan juga Om yang juga belum kunjung datang. Padahal Ia ingin membantu Leo membujuk orang tuanya untuk berbaikan.


Setelah menunggu waktu yang cukup jenuh, akhirnya orang tuanya Leo pun datang dan Nisa dengan cepat menghampiri mereka.

__ADS_1


“Tante, Om, kalian pulang bersama?”


Wanita itu tersenyum dan kemudian mengusap kepala Anisa. Melihat kehadiran Nisa di rumah mereka bukanlah sesuatu yang mengejutkan karena sudah sering wanita itu bertamu ke rumah ini.


“Nisa, Kamu mau bertemu dengan Leo ya? Kenapa? Apakah laki-laki itu belum datang juga?”


Bisa menahan tangan Ibunya Leo karena dirinya merasa tidak perlu memanggil Leo karena yang ingin ditemuinya bukanlah Leo melainkan ibunya Leo.


“Tante gak usah. Tante kedatangan Nisa ke sini agak beda nih. Tante coba tante ingat deh Leo itu kenapa bisa berubah jadi seperti itu. Karena dia kurang pengawasan dari kalian, dia sengaja berbuat ulah untuk mencari perhatian kalian sehingga akhirnya dia merasa nyaman dan terbentuklah karakternya yang seperti itu. Dia melihat tante yang marahan sama Om pasti merasa sakit hati. Jadi kalian harus berbaikan dan mencoba untuk berdiskusi dengan Leo.”


Istrinya dan sang suami saling bertatapan. Mereka menarik nafas panjang dan kemudian tersenyum ke arah Nisa bersamaan.


“Nisa, tidak usah dipikirkan. Kami sudah memikirkan itu semua, dan kami telah berbaikan dan mencoba untuk berkomunikasi dengan Leo.”


Nisa tersenyum lebar dan kemudian menatap ke arah ibunya Leo dengan tatapan lega.


“Bagus kalau kayak gitu. Apalagi katanya Leo mau berubah perlahan-lahan menjadi orang yang lebih baik lagi.”


Nisa tak bisa berkata-kata setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya Leo tersebut. Ia menatap ke arah pintu kamar Leo dan merasa tidak yakin karena pasti jika Leo mendengarnya akan sangat marah.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Nisa dengan rasa bersalah. Tidak mungkin ia akan membuat laki-laki itu semakin membencinya.


••••••••


Leo memandang ke arah ibunya yang saat ini tengah duduk di ruang tamu bersamanya. Setelah cukup lama ia menunggu momen ini akhirnya ia merasakan perasaan seperti ini. Jujur saja di wajah Leo terdapat sebuah gambaran rasa bahagia yang tidak ternilai.


Inilah yang ia inginkan, momen yang berharga yang tidak pernah terjadi dalam hidupnya dan hanya terjadi di beberapa kali. Leo menarik nafas panjang dan menatap ke arah sang ibu dan ayahnya yang sudah bermesraan kembali dan bahkan mulai mengerti dirinya.


“Papa, Mama, kalian benar-benar serius kan? Bukan hanya berakting di depanku saja, kan?” tanya pria itu dengan wajah sedikit pesimis.

__ADS_1


“Apa yang kamu pikirkan Leo, tenanglah kita pasti akan menjadi orang tua yang baik untukmu kali ini. Kami benar-benar menyesal karena tidak bisa membimbing kamu dari kecil dan bahkan pertumbuhan kamu tidak ada kami dampingi. Setelah hari yang bahagia seperti ini aku rasanya ingin sekali menjodohkan Nisa yang telah bisa membantuku berbaikan dengan ayah mu dengan mu.” Saat mendengarnya Leo terkejut bukan main.


Ia tidak menyangka bahwa orang tuanya bisa berpikiran seperti itu. Tentu saja ia tidak ingin menikah dengan Nisa karena yang ia inginkan hanyalah Laura. Haruskah ia mengatakan kepada orang tuanya?


“Leo nggak mau nikah sama Nisa. Nisa itu sahabatnya Leo, bukan calon istrinya Leo. Leo bisa memilih calon istri sendiri.”


Sang istri terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan anaknya. Ia mandiri ke arah suaminya dengan tatapan bingung, bukankah Nisa dengan Leo begitu dekat? Kenapa sekarang seperti orang yang bermusuhan.


“Lho kenapa? Selama ini kalian juga dekat dan bahkan Nisa sering sekali datang ke rumah?”


“Ya karena dia sahabat sahabatnya Leo. Hanya Mama yang berpikir berlebihan, Papa juga begitu. Leo nggak mencintai Nisa sama sekali.”


“Kata Nisa kamu mau berubah menjadi orang yang lebih baik lagi, Mama yakin semua ini juga karena Nisa, kan?” tanya sang ibu dengan penuh harapan dan laki-laki itu malah menggelengkan kepalanya.


Kata siapa ia berubah karena Nisa, ia ingin berubah karena dirinya sendiri yang telah banyak melihat dari kebodohannya telah membuat banyak kegaduhan yang mengakibatkan orang yang dicintainya terkena imbasnya. Barulah ia menyadari kesalahannya selama ini dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Nisa.


“Memangnya Nisa mengatakan seperti itu?” Leo sangat yakin bahwa Nisa tidak mungkin mengada-ngada seperti itu dan lagi pula walaupun ia kadang mengerti bahwa Nisa menyukai dirinya tapi tidak mungkin wanita itu berbuat sejauh ini.


“Jadi bukan karena Nisa? Bagus jika kamu berubah bukan karena seorang wanita.”


“Kurang lebih seperti itu, tapi bukan Nisa orangnya,” ucap laki-laki tersebut yang membingungkan orang tuanya.


“Lantas siapa orangnya?”


“Ibu guru Laura.”


Orang tuanya benar-benar terkejut dan saling bertatapan. Apa yang disukai oleh Leo dari wanita itu. Bukannya ia sering menghukum Leo?


•••••

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2