Buk Guru, Ayo menikah!

Buk Guru, Ayo menikah!
Part 7


__ADS_3

Leo menatap danau yang ada di belakang sekolah dengan pandangan sedih. Ia meninggalkan sekolahnya dan tak peduli lagi dengan orang yang ada di sana yang tengah mencarinya. Ia harus menuntaskan rasa kecewanya.


Ia tidak menangis tapi hatinya terasa pedih hingga ia tak mampu untuk berbicara mengungkapkan betapa menyakitkan rasa yang tengah ia alami saat ini.


Hanya amarah yang ada di dalam dada yang terus berkobar. Setiap membayangkan betapa tidak adilnya sekolah tersebut hanya karena ia dicap sebagai anak nakal membuat dirinya langsung mengepalkan tangan dan menendang apapun yang ada di depannya. Ia bahkan sampai menjadikan pohon yang ada di sana sebagai samsak dan ditinjau hingga tangannya terluka.


Tidak merasa sakit sama sekali. Setiap kali yang melakukannya malah merasa puas dan ingin meninjunya kembali seolah-olah menjadikan pohon tersebut sebagai orang-orang yang tidak mendengarkan isi hatinya. Ia adalah seorang pria dan emosinya tidak bisa dikontrol dengan mudah sehingga dirinya terus memikirkan bagaimana caranya balas dendam.


Yang lebih membuat dirinya marah adalah Laura yang berada di pihak Lukas, padahal laki-laki itulah yang salah dan memulai duluan. Jadi melihat Laura yang malas menyalahkan dirinya membuat ia tidak bisa tenang dan selalu berteriak rencana di pinggir danau tersebut dan meninju angin walaupun itu tidak ada gunanya dan lebih mirip seperti orang yang tidak waras.


Laura menatap dari kejauhan Leo yang begitu sangat emosi. Ia sengaja tidak menghampirinya terlebih dahulu karena tahu bahwa situasi belum bisa sepenuhnya ia kontrol. Mendengar Leo yang sangat marah kepadanya ia cukup merasa menyesal. Tapi itu hanya sedikit dan penyesalan tersebut adalah sebuah bentuk penyesalan seorang guru terhadap muridnya yang tidak bisa menghentikan perkelahian tersebut lebih awal.


Laura menghela nafas panjang dan melihat Leo yang perlahan mulai menenangkan dirinya dan mengusap wajahnya dengan frustasi. Tampaknya pria itu sendiri sudah mampu menguasai amarahnya sedikit demi sedikit.


Melihat hal tersebut Laura pun tidak bisa berpikir banyak lagi dan langsung memutuskan untuk menemui Leo secepatnya sebelum amarah laki-laki itu kembali naik. Bagaimanapun juga Ia adalah guru BK dan harus bertanggung jawab mengenai murid-muridnya.


“Apakah sudah selesai?” Leo menolehkan kepalanya dan lalu ia membuang wajah dan hendak meninggalkan tempat itu karena merasa muak dengan melihat Laura. “Jika sudah selesai jangan lupa untuk ke ruangan kepala sekolah. Kebetulan ibumu tidak terlalu jauh dan telah kembali ke sekolah. Setidaknya kau cerminkan lah sebagai seorang anak dari pemilik sekolah. Agar nama sekolah yang didirikan oleh ayahmu tidak tercoreng!”


Laura terdiam dan memperhatikan bagaimana reaksi Leo setelah ia memperingati laki-laki itu. Tampaknya Leo tidak peduli dan hendak pergi. Laura pun memejamkan matanya. Mungkin ia belum berhasil sepenuhnya tapi ia akan mencobanya nanti.


“Apa pedulimu.”


“Jangan lupa lakukan apa yang aku katakan tadi ketika amarahmu sudah mereda.”


Laura pun pergi meninggalkan Leo yang mengepalkan tangannya. Padahal Ia ingin mendengar bujukan dari Laura, tapi tampaknya ia terlalu berangan-angan padahal Laura menganggap dirinya sebagai murid. Ia saja yang terlalu berlebihan.


“Baiklah,” ucap laki-laki tersebut dengan lemah dan kemudian terkekeh menertawakan dirinya yang begitu konyol.

__ADS_1


Ia memandang punggung Laura dan mengepalkan tangannya. Kemudian Ia pun kembali menatap ke arah danau karena hanya dengan begitu ia bisa merasa lebih tenang.


••••••••


Seperti yang dikatakan oleh Laura tadi, Leo pun datang ke ruangan kepala sekolah ketika ia telah bisa meredakan amarahnya dan mulai bisa mengendalikan pikirannya. Di situ sudah ada Lukas yang babak belur namun telah diobati.


Orang tua Lukas tidak terima dan menyalahkan ibunya yang tidak bisa memberikannya pendidikan. Bahkan orang tua Lukas meminta keadilan. Apakah ia tidak malu sama sekali padahal anaknya sendiri yang memulainya. Ternyata pria itu bahkan sampai menangis dan Leo yang melihat hal tersebut benar-benar merasa geli.


“Dasar anak bajingan kamu!!! Berani-beraninya kamu memukuli anak saya!!”


Leo pun mengangkat satu alisnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sudah seperti ini pun pria tersebut terlihat sangat sombong.


“Kenapa tidak berani? Dia hanyalah orang yang tidak berguna tapi mencoba untuk melawan!”


“Leo!” teriak ibunya dan meminta anak itu diam.


Leo patuh kepada ibunya dan seketika itu juga ia menutup mulutnya dan memandang ke arah Laura juga kepala sekolah yang sudah menyidang mereka. Permasalahan ini tidak sesederhana itu. Bahkan harus sampai mengecek CCTV yang ada di sana karena Marina tidak terima anaknya disalahkan. Ia yakin betul bahwa Leo memang tidak bersalah dan memulainya duluan.


“Kenapa kamu melakukan itu? Sudah menjadi jagoan? Berani-beraninya!! Dasar anak tidak berguna! Kau hanya bisa membuatku malu!!” Begitu kencang sang Ibu memarahi Lukas dan bahkan sampai memukulnya.


Laura yang melihat hal tersebut lantas cepat memisahkannya. Apalagi dengan kondisi Lukas yang sangat kritis. Pasti pria itu merasa sangat bersalah sekaligus merasa sakit.


“Ibu hentikan buk! Dia anak ibu dan kondisinya saat ini sedang terluka! Anda tidak bisa main hakim sendiri. Sebaiknya kita rawat dulu anak itu dan jangan memukulnya! Untuk urusan hukuman, sekolah akan memberikan sanksi kepada keduanya!” Laura mengatakannya dengan sangat berani dan bahkan Leo merasa cemburu kepada Lukas karena pria itu mendapatkan perhatian dari Laura sementara dirinya tidak diperhatikan sama sekali.


Terdengar helaan nafas dari kepala sekolah. Ia memandang ke arah Marina dan apakah setuju jika Leo diberikan hukuman. Marina pun menundukkan kepalanya dan kali ini tidak bisa melindungi anaknya. Melihat sifat anaknya yang tidak terkontrol memang sudah seharusnya ia memberikan hukuman kepada anak itu.


“Hukum saja semau kalian!”

__ADS_1


Marina pun pergi begitu saja. Leo menarik nafas dan memandang ke arah Laura yang tersenyum miring ke arah dirinya.


“Kali ini kamu tidak akan bisa berlindung!”


••••••


“Ada apa kau menemui Ibu?” tanya Laura seraya memperhatikan soal-soal yang akan Ia berikan kepada anak murid.


“Mau mengerjakan ulangan yang udah ketinggalan!”


“Ingat tugas mau menyalin semua buku ini menggunakan tulis tangan.” Laura menunjuk ke arah semua buku yang sudah bertumpuk sebagai hukuman untuk Leo.


Itu sebagai hukuman awal, Selain itu masih banyak hukuman yang diberikan kepada Leo, salah satunya ia harus membersihkan sekolah seperti penjaga sekolah.


“Pasti Saya tidak mungkin melupakan ucapan seseorang jika itu berasal dari ibu Laura!”


Laura memberikan beberapa tumpukan soal-soal yang harus dikerjakan Leo.


“Karena kedatangan mu di sini untuk menebus nilai, kerjakan semua di sini!!”


Laura memperhatikan Leo dengan sangat seksama agar ia tidak lengah ketika pria itu malah mencontek. Bahkan ia sampai tidak masuk kelas dan meminta guru lain menggantikan dirinya. Karena ia juga seorang manusia memperhatikan laki-laki tersebut tentunya membuatnya ngantuk dan bahkan sampai tertidur.


Leo memandang Laura yang telah terlelap di mejanya. Ia pun menghampiri Laura dan kemudian menatap wajah Laura yang terlelap.


“Kau begitu cantik, kamu menganggap ku sebagai murid tapi sayangnya aku menganggap mu sebagai wanita. Aku akan menikahi mu setelah menikah. Maafkan aku berbuat lancang!” Leo mengecup kening Laura dan tersenyum. Ia membayangkan bagaimana ekspresi Laura jika melihat ini.


•••••••

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2