Buk Guru, Ayo menikah!

Buk Guru, Ayo menikah!
Part 34


__ADS_3

Hari ini Laura mencoba tantangan yang begitu berat. Akan tetapi akan berusaha untuk menyelesaikan tantangan tersebut yang diberikan oleh Leo. Di mana Laura menyanggupi untuk bertemu dengan orang tua Leo. Laura menarik nafas panjang karena ini merupakan tantangan yang begitu penuh dengan rintangan.


Leo meyakinkan Laura ketika wanita itu hendak menginjakkan kakinya di depan pintu rumah Leo. Apalagi saat itu Leo telah memberitahukan kepada ibunya bahwasanya ia akan membawa Laura untuk bertemu dengan ibunya. Ibunya tersebut tampak sangat tidak terima karena harus bertemu dengan Laura karena mereka mengingat hubungan di masa lalu yang tidak begitu baik.


Apalagi mengingat jika Laura adalah orang yang paling menyebalkan yang pernah ia temui dan tidak pernah menghormatinya. Bagaimana mungkin ia bisa menganggap wanita itu sebagai menantunya nanti. Tetap saja orang yang paling ia cintai adalah Nisa dan berharap bahwasanya Anisa bisa menjadi menantu yang terbaiknya.


Sementara itu Nisa juga hari ini datang. Ia akan memberikan penjelasan kepada ibunya Leo bahwasanya ia tidak menyukai Leo dan lebih berharap bahwa Leo lebih baik bersama dengan Laura walaupun ia harus berbohong kepada dirinya sendiri. Menurut Nisa kebahagiaan Leo lebih utama, dan itulah yang paling menantang dari seorang Nisa.


Leo yang sudah mengetahui dengan jelas bahwa Nisa menyukainya sejak kemarin wanita itu menyatakannya hanya bisa mengagumi wanita itu yang penuh dengan kehebatan untuk menahan rasa cemburu. Rasa kagum yang ia pendam di dalam hatinya bukan berarti menyukai Nisa. Ia sendiri terkejut ketika Nisa mengatakannya tapi Nisa berjanji bahwasanya ia lebih mementingkan kebahagiaan Leo.


“Leo, aku benar-benar takut saat ini,” ucap Aulia seraya menelan ludahnya. Ia menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya secara perlahan. Entah apa yang saat ini ia rasakan, akan tetapi jantungnya berdetak sangat hebat dan tidak bisa berbuat apapun.


“Tidak usah takut. Biasanya kan kamu juga selalu melawan ibuku, ke mana keberanian kamu pada saat menjadi guru? Inikah guru killer yang terkenal itu?” Laura menarik nafas panjang. Apa yang dikatakan oleh Leo memang benar akan tetapi itu kan di saat dirinya masih menjadi seorang guru yang mana itu adalah menjadi kewajibannya untuk membimbing anak-anak.


Akan tetapi sekarang levelnya sudah berbeda, Laura bukan lagi seorang guru dan saat ini ibunya Leo adalah calon mertua dirinya. Apalagi untuk mendapatkan restu dari orang tersebut sangatlah sulit membuat Laura hampir menyerah di awal


Sementara itu Nisa sudah datang terlebih dahulu dan tampak ia telah duduk bersama dengan orang tuanya Leo di ruang tamu. Leo tersenyum menatap ke arah Nisa yang saat ini tengah menyambut dirinya bersama dengan Laura. Nisa pun menyuruh Laura untuk duduk di sampingnya agar lebih dekat lagi dengan orang tuanya Leo.


Terlihat wajah ibunya Leo sama sekali tidak senang dan langsung membuang muka. Mungkin masa lalu masih teringat pada dirinya saat ia berkelahi dengan Laura. Laura pun menundukkan kepalanya karena semua itu juga demi kebaikan Leo. Memang yang salah adalah orang tuanya Leo yang tidak memperhatikan perkembangan anaknya dan lebih sibuk untuk bekerja.


“Kenapa? Kamu pasti terkejut bahwa orang tua Leo adalah saya ya sekaligus mempunyai sekolah tersebut.”


Mata Laura langsung membulat dan rasanya ia tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh ibunya Leo tersebut seolah-olah menganggap derajatnya lebih tinggi. Padahal wanita itu sama sekali tidak berhasil mendidik anaknya walaupun dalam mencari nafkah ia berhasil. Laura menarik nafas panjang untuk menenangkan jiwanya yang menggebu-gebu.


“Selalu saja seperti itu, apakah ibu terus ingin membanggakan status ibu yang lebih tinggi? Saya tahu apa yang saya lakukan dulu Memang keterlaluan terhadap ibu. Saya meminta maaf karena semua yang saya lakukan adalah demi kebaikan anak ibu itu sendiri.” Terlihat senyum miring yang jelas di wajah orang tuanya Leo membuat Laura menatap ke arah Leo ingin mengadu kepada laki-laki tersebut bahwa ia sudah tidak sanggup untuk menghadapi ibunya dengan sabar.

__ADS_1


Jika seperti ini jiwanya untuk melabrak orang tuanya Leo semakin menggebu-gebu. Untung Leo terus ada berada di sampingnya dan menggenggam tangannya untuk menenangkan dirinya. Sementara itu Nisa menenangkan ibunya Leo.


“Nisa, juga merasa sangat khawatir dengan keadaan Leo ketika tante malah lebih mementingkan pekerjaan daripada anak tante sendiri. Maka dari itu Laura dan Nisa sependapat.”


Ibunya Leo menatap ke arah Nisa dengan tatapan tidak terima. Laki-laki tersebut berusaha untuk memberitahukan kepada ibunya bahwasanya apa yang dikatakan oleh Nisa dan juga Laura memang terjadi kepada dirinya sehingga ia tidak bisa menjadi orang yang lebih baik lagi seperti yang diharapkan oleh ibunya.


“Tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan oleh Nisa dan juga Laura. Mereka hanya berharap bahwasanya anakmu ini bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Nisa sebagai orang yang selalu bersama Leo selama ini pasti tertekan karena kenakalan Leo. Apakah mama masih menutup telinga juga? Beberapa kali orang mengatakan bahwa itu adalah salah orang tuanya tapi kalian terus menganggap bahwa kalian tidak salah sama sekali.”


Ibunya Leo menganggukkan kepalanya. Baiklah untuk kali ini ia merasa bersalah, akan tetapi dirinya tidak akan membiarkan orang-orang menyalahkannya kembali.


“Baiklah jika kalian terus menyalakan saya, apa boleh buat jika kalian semua mengatakan bahwa saya adalah orang yang salah maka saya akan mengakuinya.”


Laura menarik nafas lega setelah mendengar apa yang dikatakan oleh orang tua Leo. Setidaknya dia mulai sadar dengan perbuatannya yang bisa membuat anaknya menjadi lebih buruk lagi.


“Saya cukup senang jika tante mulai menyadarinya.”


Nisa menggelengkan kepalanya. Ibunya Leo tidak mengetahui banyak tentang dirinya karena ia sibuk bekerja. Bahkan anaknya sendiri ia tidak bisa mengurusnya dengan baik jadi Nisa mentah-mentah mengatakan bahwasanya orang tua Leo tidak mengetahui apa-apa tentang dirinya.


“Tante, Saya berani jamin bawa tante tidak mengetahui apapun tentang saya. Jadi tante berhentilah bersikap seperti itu. Saya sama sekali tidak akan pernah menyetujui perjodohan ini.”


“Nisa,” ucap ibunya Leo tidak terima. “Kamu bisa menggantikan tante dan mendapatkan harta warisan tante.”


“Saya tidak pernah menyukai hal tersebut,” ucap Nisa seraya menarik nafas panjang.


Ibunya Leo menatap ke arah Laura. Laura tidak lagi gugup sama sekali, saat ini wanita tersebut tengah menatap ke arah ibunya Leo dengan tatapan berani. Ia menarik napas panjang dan tersenyum membalas tatapan wanita itu.

__ADS_1


“Ada apa? Apakah sudah berubah pikiran?”


“Saya akan memaafkan sikap kamu di masa lalu. Tapi saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian.”


“Mama!” sanggah Leo dengan perasaan marah.


“Tidak ada tapi-tapian,” ucap ibu laki-laki tersebut dan kemudian pergi begitu saja.


Nisa, Laura dan juga Leo saling berpandangan. Mereka seakan sudah sangat putus asa dan tidak bisa berbuat apapun. Nisa memandang ke arah Laura dengan tatapan tidak enak, akan tetapi Laura memaklumi hal tersebut karena tidak merupakan kesalahan Nisa.


“Maafkan aku, aku tidak akan pernah mendambakan posisi ini. Aku akan berusaha untuk mengambil hati Tante dan menjelaskan kepada Tante bahwa Nisa tidak akan pernah mau menjadi istri dari Leo karena bagaimana pun Laura lebih pantas,” ucap Nisa dengan suara yang sedikit sumbangan sebab harus menahan perasaannya.


Laura yang melihat hal tersebut menjadi sangat terharu. Apalagi ia juga sudah mengetahui bahwasanya Nisa pernah menyukai Leo. Apa yang harus ia lakukan? Jika sudah begini ia tidak akan sanggup untuk menjadi orang yang begitu jahat.


Laura sangat mengerti dengan posisi Nisa saat ini. Menjadi orang yang mengikhlaskan tentunya tidak mudah yang diucapkan. Begitu banyak perjuangan hanya demi merelakan orang yang dicintai.


Laura menarik napas panjang dan memutuskan untuk pulang menenangkan diri dari pada terus memikirkan hal ini yang tidak akan pernah habisnya. Ia juga tidak tahu harus seperti apa mengatakan kepada Leo bahwa ia sudah merasa sangat tidak sanggup untuk bersama laki-laki itu karena akan menyakiti beberapa orang di sekitarnya.


Namun keinginan egois yang ada di dalam hatinya tidak bisa ditampik karena Laura juga ingin merasa bahagia bersama dengan orang yang sangat dicintainya. Tidak hanya Nisa yang ingin seperti itu dirinya juga tidak jauh berbeda.


"Sudahlah, nanti saja membahas ini." Laura kemudian pergi begitu saja dengan wajah yang terlihat tampak sangat merasa bersalah.


"Kak Laura!"


••••••

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2