
Seperti biasa Leo akan lebih memilih bermain PS ketimbang mengerjakan hukuman yang diberikan oleh guru. Ia lebih senang menyuruh Nisa mengerjakan semua itu untuknya. Lagi pula wanita itu rela melakukan apapun deminya, maka ia harus bisa memanfaatkan wanita itu sebaik mungkin.
Serangan Leo berteriak-teriak saat bermain game Mobile Legends sembari mengumpatkan kata-kata kasar. Nisa pun menutup kedua telinganya Karena tidak tahan mendengar teriakan laki-laki itu dan bahkan bertengkar dengan rivalnya yang ada di dalam game tersebut.
Tapi karena ia mencintai laki-laki itu dan mereka telah bersahabat sejak lama, maka ia sama sekali tidak berani menegur Leo takut membuat laki-laki tersebut marah.
Sebenarnya ia terganggu dan malah sangat terganggu, tapi apa boleh buat demi kebahagiaan Leo. Leo menghempaskan stik ps-nya dan kemudian mengumpat dengan bahasa kebun binatang. Ia sangat frustasi dan kemudian menyapu rambutnya.
Ia memandang ke arah Nisa yang menuliskan semua buku yang harus ia salin. Kebetulan sekali Nisa bisa meniru tulisannya dan ia tak perlu khawatir lagi.
“Gimana? Lo udah selesai belum?” Nisa memutar bola matanya malas dan selalu saja menanyakan pekerjaan yang sedang ia lakukan dan sama sekali tidak menanyakan bagaimana apakah ia lelah atau tidak.
“Gue udah capek banget, lo aja yang nulis lagi!”
“Sini penanya! Lo lelet banget!” bisa tentunya tidak terima dikatai seperti itu dan hendak menonjok wajah Leo akan tetapi ia teringat bahwa wajah itu sangat berharga. “Tonjok aja kalau lu berani! Lo mau nasibnya sama kayak Lukas?”
Bisa menelan ludahnya dan tentu saja ia tidak ingin nasibnya seperti itu dan harus masuk rumah sakit. Lagi pula ia juga tidak akan mungkin menonjok wajah laki-laki tersebut.
“Udahah gue capek mau pulang!” Nisa pun pergi dari rumah Leo tanpa berpamitan.
Leo mengukir senyum miring dan memang itu yang ia hendaki. Akhirnya parasit Nisa itu pergi juga. Apakah Leo sama sekali tidak merasakan persahabatan di antara dirinya dan Nis? Padahal ia sudah hidup bersama dengan wanita itu cukup lama. Tentunya ia merasakan persahabatan tersebut makanya ia menganggap bisa seperti laki-laki dan berkata kasar kepada wanita itu dan tidak menyadari perasaan Nisa yang sangat mendalam. Ia tahu wanita itu menyukainya tapi menurutnya mungkin hanya sebatas iseng. Sebab Ia tidak begitu mengerti dengan perasaan seorang wanita makanya ia bisa berlagak seenaknya.
“Tulisannya jelek banget!” keluh Leo padahal jelas-jelas tulisan Nisa jelek karena mengikuti tulisan laki-laki tersebut yang sangat jelek lagi. Mungkin sampai saat ini pria itu tidak pernah menyadari bagaimana dirinya yang lebih buruk. Terkadang terlalu pede juga tidak baik.
Leo menghela nafas yang terpaksa melanjutkan menulis semua itu. Walaupun ia tidak menyenangi apa yang pernah dilakukannya tapi itu cukup bisa menghilangkan rasa sesak di dadanya karena kalah turnamen.
__ADS_1
•••••••
Bel telah berbunyi dan Leo dengan santainya masih berdiam di depan gerbang dan menunggu satpam akan mengunci dirinya di luar. Ia bisa beralasan telat datang agar bisa bolos. Bagaimana pun juga ya belum menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Laura dan takut akan dimarahi wanita itu.
Hanya Laura lah yang mampu mengendalikan Leo. Tapi tidak sepenuhnya karena terkadang Laura juga harus memakan hati saat berbicara dengan laki-laki itu.
“Leo! Kenapa kau masih ada di depan? Ayo cepat masuk! Kamu mau dikunci di luar atau gimana!”
“Leo jangan berbuat ulah lagi cepat masuk,” ucap seseorang yang juga baru datang dengan mobilnya dan tak lain adalah kepala sekolah yaitu asisten ayahnya sendiri.
Leo pun tidak berani membantah karena takut orang itu akan melaporkan ke ayahnya dan nasibnya akan sangat buruk nantinya. Leo menarik nafas kan menganggukkan kepalanya lalu memasukkan motornya ke dalam gerbang. Rencananya untuk membolos pun akhirnya berakhir dengan sia-sia. Ia tidak bisa lagi memiliki alasan yang bertubi-tubi untuk membolos.
Kemudian laki-laki itu pergi ke kelasnya. Naufal dan Alex sudah menunggunya sambil melambaikan tangan. Leo pun menyunggingkan senyum miring dan kemudian memberikan salam pertemuan diantara sahabat dengan melakukan tos.
“Kenapa lo liat-liat?!” tanya Alex saat melihat salah satu anak yang sangat culun di kelas mereka dan hanya menggunakan kacamata tengah menatap ke arah mereka. Padahal itu semua hanyalah fenomena biasa, tapi karena ia culun dan pendiam apalagi seorang pria tentunya menjadi bahan Bullyan.
Kebetulan Laura pun datang untuk mengajar dan langsung melemparkan penghapus ke kepala Leo. Leo berdesis dan sangat marah. Ia belum mengetahui bahwa orang yang melemparnya dengan penghapus tersebut adalah Laura.
“Berani-beraninya lo!” namun saat menyadari bahwa orang tersebut adalah Laura barulah Leo langsung diam dan menelan ludahnya .
Laki-laki itu pun berakhir dengan menyalahkan teman-temannya yang tidak memberitahukan bahwa Laura tela datang.
“Ibu guru yang cantik dan baik hati maaf, saya tau ibu pasti tidak terima tubuh saya yang indah ini dilihat sama orang lain. Saya mengerti ibu pasti cemburu!”
Mata Laura pun membulatkan begitu juga dengan orang-orang yang di kelas sudah terbiasa mendengar gombalan Leo terhadap ibu guru Laura. Leo pun menarik nafas panjang dan bersiap-siap untuk diamuk oleh wanita itu.
__ADS_1
“CEPAT AMBIL POSISI PUSH UP DI DEPAN! DAN 50 KALI PUSH UP UNTUK KESALAHANMU TELAH MEMBULLY TEMAN SEKELASMU! DAN 50 PUSH UP UNTUK KAMU YANG TIDAK BISA MENGHORMATI SAYA YANG DI DEPAN!”
“WOAH!!” semua anak murid pun tertegun ketika mendengar hukuman itu. Benar-benar hukuman yang sepadan dan sama sekali tidak boleh berhenti.
Leo pun menghela nafas dan kemudian langsung memposisikan tubuhnya seperti posisi push up.
Laura memutar bola matanya dan kemudian membuka buku biologi yang ia bawa untuk memberikan materi kepada anak muridnya.
“Anak-anak semua buka buku halaman 149, kita akan mempelajari tentang pembelahan mitosis dan Meiosis! Ada yang tau apa itu pembelahan mitosis dan miosis?”
“Saya buk!!” teriak Rani dengan semangat dan merupakan anak yang pintar.
“Baik apa itu pembelahan Meiosis Rani?”
“Pembelahan Meiosis adalah pembelahan sel yang berlangsung dalam dua kali pembelahan dan menghasilkan empat sel anakan. Masing-masing sel anakan ini mengandung separuh kromosom dari jumlah kromosom induknya. Pembelahan meiosis terjadi pada waktu pembentukan gamet-gamet.”
“Oke bagus Rani! Siapa yang tau pembelahan Metosis?”
“Pembelahan mitosis adalah tipe pembelahan sel yang menghasilkan dua sel anakan. Sel anakan ini memiliki karakter identik secara genetik dengan sel induk. Artinya kedua sel anakan yang terbentuk mempunyai susunan genetika yang sama, termasuk sama jumlah kromosom dengan induk!” jawab Leo sambil melakukan push up.
Laura pun menarik nafas dan kemudian ia melanjutkan pembelajaran tidak memperdulikan Leo maupun memujinya karena telah menjawab pertanyaannya.
•••••••
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.