Buk Guru, Ayo menikah!

Buk Guru, Ayo menikah!
Part 37


__ADS_3

Saat ini Laura dan juga Leo sedang tertawa melalui panggilan video. Mereka menceritakan kekonyolan keduanya saat mencoba untuk merayu ibunya Laura. Leo benar-benar dibiarkan di luar begitu saja tidak dihargai sebagai seorang tamu.


Akan tetapi itu akan menjadi sebuah cerita yang seru di antara keduanya. Pada akhirnya Leo pun pulang dan ia juga menceritakan bahwa ibunya sangat marah dan berusaha untuk terus menjodohkannya. Walaupun berita tersebut adalah berita keduanya akan tetapi mereka menganggap sebuah lelucon agar tidak terlalu terbawa serius.


“Bagaimana keadaan mu sekarang? Kamu benar-benar baik-baik saja, kan?” Laura menganggukkan kepalanya. Ia sangat baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari dirinya.


“Aku baik, walaupun sedikit kedinginan tapi tempatnya itu adalah hal yang biasa karena kita telah ujan-ujanan tadi.”


“Nanti kalau sakit kabarin aja, aku siap datang untuk menjadi pembantu mu.” Aulia yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas. Hal tersebut telah menjadi sesuatu yang begitu biasa dalam hubungan mereka. Apalagi yang memiliki Leo memiliki sedikit lawakan yang kadang membuat Laura tertawa gelak.


Melihat tawa wanita itu Leo selalu saja bahagia. Pada kenyataannya kebahagiaan mereka begitu sederhana. Tidak terlalu repot karena keduanya tidak menganggap sesuatu begitu serius.


“Leo, kamu lagi sakit ya? Kenapa wajah kamu pucat banget?” tanya Laura yang begitu khawatir dan berusaha untuk menyentuh kening Leo yang ada di dalam panggilan video itu.


Laura tahu apa yang ia lakukan begitu konyol. Namun ia berusaha semaksimal mungkin untuk merasakan suhu tubuh Leo dari jarak jauh. Tampak wajah Leo menolak apa yang ia tanyakan. Akan tetapi Laura tidak bisa dibohongi dan jelas mengetahui bahwa Leo sakit.


“Kenapa? Aku sama sekali tidak sakit. Aku baik-baik saja,” ucap Leo dan kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Apalagi sudah melihat wajah ibu guru yang cantik di depan ini, seketika rasa sakit pada diri ku hilang begitu saja. Makanya ibu bisa gak sih 24 jam selalu bersama murid mu yang tersayang ini?” tanya Leo dan Laura hanya bisa menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Dalam keadaan genting seperti ini laki-laki itu masih sempat-sempatnya bercanda. Sedangkan ia begitu khawatir dan tidak tahu akan melakukan apa saking takutnya jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Leo.


“Leo berhenti bercanda. Aku benar-benar takut dan tidak bisa tenang. Kenapa kau malah sempat-sempatnya bercanda.”


“Ciehh perhatian!” Laura menarik napas panjang dan kemudian langsung menutup kamera hingga membuat Leo yang di seberang sana terus berteriak karena berusaha untuk mencari wajah Laura.


Laura tidak tahu akan merespon teriakan Leo atau tidak, karena ia begitu kesal kepada laki-laki itu yang tidak menghargai ucapannya sama sekali. Walaupun Leo aku bawa itu adalah bercandaan akan tetapi Laura tidak bisa menganggap hal tersebut sebuah lelucon karena keadaan laki-laki itu benar-benar serius berbeda dengan situasi yang lain.


“Laura maafin aku!” Leo masih berusaha untuk menego dengan Laura. Laura pun akhirnya luluh dan kemudian membuka kameranya.

__ADS_1


Wajahnya terpampang dengan jelas di wajah Leo. Leo yang melihat hal tersebut tersenyum lebar. Wanita itu begitu cantik dan jantungnya berdebar dengan kencang. Menurutnya orang yang paling cantik adalah Laura.


“Nah gitu dong kan kelihatan cantiknya.”


“Leo, kamu lagi sakit ya?” Tidak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi pada akhirnya Leo mengaku.


Leo pun tersenyum kecut karena merasa bahwasanya tubuhnya semakin lemas dan ia tidak ingin mengkhawatirkan Laura.


“Baiklah, sekarang kamu istirahat. Tutup aja dulu vc nya supaya kamu fokus dengan kesehatan mu.”


••••••••


Laura menatap ke arah universitas yang ada di depannya. Ia ingin membayar uang UKT yang belum sempat dibayar olehnya bulan lalu. Karena uangnya yang tidak terlalu mencukupi membuat dirinya tidak bisa berbuat apapun selain menunggak terlebih dahulu. Laura tidak ingin membuat dirinya menjadi beban orang tuanya.


Saat sedang merenung tiba-tiba temannya datang dan Laura menatap ke arah temannya tersebut sambil memberikan senyum kepada Laura.


“Lo kayaknya repot banget, pengen tahu ya masalah gue? Tapi mau bagaimana lagi setiap orang kan memang memiliki masalahnya sendiri.” Laura menepuk pundak wanita itu dan hendak pergi.


Akan tetapi temannya terus berusaha untuk mengejar Laura. Ia merasa sedih karena ia tahu sedikit masalah Laura yang tidak lagi bekerja dan apalagi ia kuliah di kedokteran pasti membutuhkan biaya yang banyak. Biasanya ia selalu memberikan gaji kerjanya sebagai seorang guru untuk membantu ibunya membayar UKT tersebut.


“Gue sumpah bingung Ca, UKT gue kemarin masih nunggak.”


“Wih, tumben banget lo kayak gitu.”


Laura menarik napas panjang dan menganggukkan kepalanya karena ia merasa bahwasanya apa yang dikatakan oleh temannya tersebut memang benar. Tumben sekali ia seperti itu karena biasanya Laura akan tepat membayar uang UKT. Ia berusaha menjadi orang yang disiplin agar disukai oleh banyak orang.


Laura, entah apa yang saat ini ia harus lakukan. Ibunya tidak boleh mengetahuinya karena ia tidak ingin membuat ibunya tersebut merasa khawatir dengan masalahnya itu.

__ADS_1


Menurut Laura ia bisa menyelesaikannya sendiri. Tidak membutuhkan bantuan dari orang tuanya. Lagi pula dirinya ingin menjadi orang yang mandiri tidak ingin merepotkan banyak orang.


“Tapi gue bentar lagi mau ke aula. Kalau misalnya udah nggak sanggup lagi sama masalah lo cerita aja. BTW di sini kita kedatangan salah satu donatur penting di universitas kita.”


“Orang penting? Kenapa gue nggak tahu?”


“Mungkin karena lo terlalu sibuk kali.”


Wanita itu pergi begitu saja meninggalkan Laura yang masih bingung siapa yang sebenarnya datang ke universitas ini katanya adalah donatur universitas tersebut. Ia ingat jika orang tersebut adalah orang yang cukup kaya dan bahkan bisa membantu anak yang disiplin. Maka dari itu ia harus bersiap-siap juga ke aula untuk mendapatkan perhatian dari donatur tersebut.


“Aulia!” Aulia mengerutkan keningnya ketika mendengar orang yang memanggil dirinya. Ia menoleh ke belakang dan tahu bahwa orang itu adalah ayahnya Leo dengan sekali lihat.


“Loh kok Om ada di sini?”


“Kamu gak tahu kalau Om bakal isi acara di sini, papa kamu juga ada.”


Laura membulatkan matanya seketika saat melihat ayahnya yang datang dari dalam universitasnya dengan wajah yang sedikit masam.


“Papa!”


“Laura, kamu tidak bayar UKT ya dari kemarin?”


•••••••


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2