
Laura menyentuh dadanya ketika Leo telah pergi. Apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya? Kenapa ia merasa sesuatu masuk ke dalam jantungnya. Apakah sekarang ia sudah menyadari bahwa masih ada sisa rasa dengan Leo? Tidak mungkin seperti itu, kan?
Laura terus memastikan bahwa ia baik-baik saja dan seperti biasanya saat orang lain menganggap dirinyalah normal. Ia telah melupakan Leo dan ia tidak ingin mengingat hubungannya dengan pria itu lagi. Sekarang, laki-laki itu semakin berani untuk mencium bibirnya dan itu artinya ia telah sangat serius.
Itu adalah ciuman pertamanya dengan seorang cinta pertamanya. Jujur saja Leo adalah satu-satunya mantan yang dimiliki oleh Laura. Begitu pula dengan Leo, Laura hanyalah satu-satunya mantannya. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka hanya pernah berpacaran satu kali dan itu juga tanpa mereka sadari masih memiliki perasaan yang sama.
Ketika Laura berpacaran dengan Leo, pada saat itu ia masih sangat polos. Tidak mengetahui apapun dan hanya menyukai saru sama lain. Sekarang telah menyadari bahwa di hati mereka ada nama mantan yang masih belum bisa dihapuskan.
“Aku mungkin sudah gila.” Kemudian Laura meninggalkan tempatnya begitu saja dan menghadiri sang ibu yang mungkin masih marah kepada ayahnya.
Laura akan menjelaskan kepada ibunya agar tidak terjadi pertengkaran dengan ayahnya. Laura begitu panik saat mendengar suara keributan yang berasal dari dalam kamar sang ayah dan ibu. Lantas wanita itu bergegas secepatnya mendatangi kamar sang ayah.
Tangga demi tangga ia daki hingga sampai di kamar sang ayah yang berada di paling atas. Ia pun menempelkan telinganya di pintu kamar mereka. Laura bisa mendengar suara ibunya yang sangat marah kepada ayahnya.
“Sudah aku katakan, bahwa anak itu tidak berpendidikan sama sekali. Walaupun ia di sekolah kan di tempat yang mahal maupun tempat yang terkenal akan kepintarannya tetap saja tidak akan bisa merubah perangainya yang buruk seperti itu! Kau ingin membiarkan anak kita jatuh ke tangannya? Jika Laura bersama dengan orang seperti itu walaupun mereka memiliki harta kekayaan yang sangat besar tetap saja suatu hari nanti anakmu akan hancur! Kau ingin melihat dia terpuruk?”
Laura menundukkan kepalanya. Sebagai seorang guru tentunya Ia juga memikirkan hal tersebut. Tapi mau bagaimana lagi memang Leo yang seperti itu. Laki-laki tersebut tidak dapat diubah oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Namun Leo tidak semudah itu untuk merubah dirinya. Sebagai guru yang menangani anak itu tentunya ia benar-benar bisa merasakannya betapa ia harus memakan hati ketika mendidik Leo.
“Leo pasti bisa berubah, tidak usah terlalu khawatir kepadanya. Dia adalah anak yang cerdas, aku bisa melihat kemampuannya! Bahkan dia bisa dipercaya!”
Ya, Laura juga merasakan hal yang sama dengan ayahnya. Walaupun ia pemalas tapi dia juga memiliki kecerdasan.
“Kenapa kau selalu mencari pembelaan? Apakah tidak tahu bahwa umurnya masih muda? Lebih mudah daripada anak kita? Apa kata keluarga nanti. setidaknya Jangan memikirkan tentang masalah percintaan anak mu dulu.”
__ADS_1
Laura menarik nafas panjang dan kemudian memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar orang tuanya.
Tok
Tok
Tok
Mereka pun berhenti bertengkar kemudian pintu dibuka. Laura memandang ke arah kedua orang tuanya dan tersenyum. Mereka pasti bisa ditengahi.
“Jangan bertengkar lagi karena ku, masalah percintaanku biar aku sendiri yang mengurusnya. Siapapun itu, Aku yang akan menjalaninya dan tahu mana yang terbaik.”
“Kau dengar itu anak mu tidak ingin dipaksa olehmu!”
Setelah itu wanita tersebut pergi begitu saja. Entah ada apa dengannya tapi terlihat jelas bahwa raut wajahnya sangat menyesali semua ini. Ia yang masih bimbang dan terhalang oleh gengsi yang luar biasa, membuat dirinya tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia hidup di atas omongan orang lain dan itu benar-benar bukan tipenya sama sekali.
•••••
Suasana pagi begitu cerah. Laura melihat motor Leo yang terparkir di depan gerbang. Ia tidak tahu apalagi rencana pria itu. Laura tidak bisa bermain-main lagi dengannya, dan harus memberikan sebuah hukuman yang mungkin bisa membuat laki-laki tersebut jera.
“Di mana Leo?” Sang satpam tersebut menundukkan kepalanya. Laura pun semakin yakin bahwa sesuatu telah terjadi. Tapi entah apa yang telah dilakukan laki-laki tersebut. Laura pun mengepalkan tangannya. “Anak itu pasti berbuat sesuatu lagi. Aku tidak tahu harus seperti apa lagi menghukumnya.”
“Iya Buk, terjadi tawuran antar sekolah di dalam. Mereka mencari Leo dan alhasil anak-anak di sini terpancing dan kemudian terjadilah tawuran tersebut.” Laura ternganga setelah mendengar jawaban dari sang satpam. Ini lebih parah dari segalanya, mereka tidak tahu malu melewati gerbang sekolah orang lain. Apalagi sekolah ini sangat terpandang, pastinya akan mencoreng reputasi sekolah.
__ADS_1
“Kenapa kalian tidak menghentikannya? Bukannya Bapak satpam di sini?”
“Saya tidak bisa menghentikannya karena dia melukai Pak Hadi dan saya lagi mau ingin membawanya ke rumah sakit.”
Laura mengepalkan tangannya dan kemudian berlari dengan kencang untuk melihat situasi yang sebenernya terjadi. Anak itu apa yang harus ia lakukan? Laura mendengar suara sirene polisi yang berdatangan. Ini bagus dan Aulia memiliki kekuatan untuk melawan mereka.
Ia mengikuti polisi tersebut walaupun dirinya sudah dilarang untuk tidak ikut ke dalam demi keamanan.
Laura melihat dengan jelas anak muridnya yang ketakutan berlarian keluar gerbang. Hatinya tersayang apalagi melihat dengan jelas perkelahian di tengah lapangan. Para murid tidak bisa mengelak dan guru yang sudah datang. Para guru pria coba untuk memisahkan, beberapa guru juga terluka karena menengahi perkelahian tersebut.
“Ya ampun Buk, cepat buk keluar!’
Laura membantu para guru tersebut terlebih dahulu kemudian mengarahkan anak-anak keluar dari lingkungan sekolah tersebut yang sangat berbahaya. Mereka berlari pun dengan rasa ketakutan yang luar biasa.
Kemudian Laura menghampiri lapangan dan melihat bagaimana Leo yang berlumuran darah. Untungnya para polisi langsung datang dan melepaskan tembakan peringatan. Anak murid tersebut yang saling berkelahi lantas berlarian kocar kacir. Laura menarik nafas lega dan kemudian menatap ke arah Leo yang terlihat sangat marah kepada dirinya sendiri.
Lihatlah pria ini belum bisa bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan dan harus membuat orang lain terlibat. Polisi lantas menangkap Leo dan memborgol tangannya. Laura hanya bisa melihat dengan wajah datar.
Sementara itu Leo tampak kecewa. Sepertinya semua orang akan menyalahkannya dan tidak ada yang percaya dengan dirinya.
••••••
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.