
Debi berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit yang sudah sangat dia kenal. Lampu lorong itu bersinar terang, seolah membiarkan Debi melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba dia berhenti, nafasnya memburu, dadanya terasa nyeri seperti ditusuk seribu jarum.
Debi mendongak. Dia melihat dua orang paruh baya yang sudah familiar untuknya. Seorang laki-laki berjas hitam dengan raut wajah murung, ditemani seorang wanita yang tengah duduk sambil menangis.
"Debi?" suara itu membuat Debi terkejut. Saat menoleh, ia menemukan Satya-kakak kelas yang belakangan ini menjadi dekat dengannya. "Lo nggak apa? Wajah lo pucat banget!" dia memegangi lengan Debi.
"Rena..." Debi menjawab pelan. Dia masih berusaha mengatur nafasnya. "Rena... Gimana?"
Satya tidak menjawab. Dia hanya membalas tatapan Debi. Mereka diam dalam kesunyian untuk beberapa lama. "Mau nyamperin orangtua Rena?"
Debi mengangguk. Satya membantunya untuk kembali berdiri dengan stabil. Begitu Debi bisa mengatasi rasa nyeri yang melanda, dia kembali berjalan. Kali ini dia berjalan perlahan. Tidak ada gunanya jika dia ikut masuk rumah sakit kali ini.
"Malam, Oom, Tante!" sapa Debi. Kedua orang yang ia sapa menoleh begitu mendengar suaranya. "Rena gimana?"
Wanita paruh baya itu kembali menangis. Ia tampak berantakan, tidak seperti biasanya. Rambutnya terurai sembarangan, baju tidur membalut tubuhnya yang langsing. Matanya sembab tanpa tersentuh make up sedikitpun seperti hari biasa.
"Masih di ruang operasi," jawab laki-laki berjas. "Debi, bisa bawa istri saya istirahat di ruang tunggu?"
"Aku tidak mau, Pa! Anakku sedang di dalam, berjuang untuk hidup! Mana bisa aku istirahat!?" pekiknya histeris. Ekspresinya menunjukkan keteguhan hati yang mantap. Laki-laki itu urung membuka mulut lagi.
"Oom Reka sama Tante Nami sudah makan malam? Saya bawakan roti," Satya maju untuk menyerahkan bungkusan yang dia bawa. Namun tidak ada yang menerima. Nami tetap menangis, sementara Reka memandang ke pintu ruang operasi.
Debi memberi isyarat agar Satya mengikutinya. Sebelum berlalu, Satya menaruh bungkusan rotinya di dekat ibunya Rena. "Gue belum tahu cerita lengkapnya. Ada apa sebenarnya?"
Satya mengusap tengkuknya dengan bimbang. "Rena.. Kecelakaan."
Debi menangkap raut wajah bersalah dari Satya. Tapi dia tidak berani mengambil keputusan. Debi memilih menunggu penjelasan dari Satya. Dia sudah cukup kaget mendengar berita Rena ada di rumah sakit dari ibunya yang bekerja di rumah sakit tempat Rena dirawat.
Dari penjelasan ibunya, kondisi Rena tidak baik. Rena harus dioperasi segera. Tidak banyak yang bisa pihak rumah sakit lakukan.
__ADS_1
"Ada apa, Kak?"
Satya menunduk. "Rena kecelakaan karena gue."
Debi tercekat. Tenggorokannya terasa sangat kering begitu mendengar pengakuan dari Satya. "Apa?" Debi bertanya untuk memastikan. Dia belum mau percaya dengan apa yang telinganya dengar.
Satya memijit keningnya. "Rena.. Dia tiba-tiba lari. Kejadiannya cepat banget. Lalu ada truk-" Debi memegang lengan Satya, memintanya untuk berhenti bicara. Dia tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi. "Gue minta maaf..."
Debi tidak tahu harus menjawab apa. Pikirannya penuh dengan bayangan wajah Rena. Rena yang dia kenal selama dia hidup. Rena yang selalu menemani di saat-saat sulit sekalipun.
Debi mencari tempat duduk. Kakinya terasa lemas. Dia tidak boleh membiarkan jantungnya bekerja lebih keras lagi. Debi perlu istirahat sejenak. Semuanya begitu tiba-tiba, menghantamnya sangat keras.
"Lo baik-baik aja, Deb?" Satya memastikan. Dia ikut duduk di sebelah Debi.
"Saat ini gue nggak mau dengar cerita apapun dari Kak Satya," jelas Debi. "Rena lagi berjuang di sana, dan gue nggak mau menjadikan Kak Satya satu-satunya orang yang bersalah di sini. Gue akan dengar cerita Kakak di waktu gue rasa sudah siap."
Satya temenung menatap perempuan di hadapannya. Dia selalu kagum dengan cara bicara dan pemikiran Debi. Perempuan cerdas dengan banyak keahlian, kecuali olahraga. Sebelumnya, Satya sudah siap jika dia harus dibenci oleh Debi karena sahabat dari perempuan itu kini terbaring pasrah di meja operasi, dan bagi Satya, dialah penyebabnya. Namun kenyataan berkata lain. Dia masih diberi kesempatan untuk menjelaskan lebih detail apa yang terjadi, meskipun itu tidak sekarang.
"Kalau Rena bangun nanti, gue bakal minta maaf sama dia," gumam Debi. Matanya masih tertutup. Dia berusaha mati-matian agar tidak sampai menangis. Jika emosinya tidak dapat dia kendalikan, itu adalah akhir dari kesadarannya. Debi ingin tetap sadar, setidaknya sampai ada kabar bahwa Rena baik-baik saja.
Satya diam-diam menikmati lekukan wajah Debi. Jarang ada kesempatan seperti ini. Namun, dalam hatinya, dia tahu apa yang membuat hubungan Debi dan Rena merenggang. Dia sangat tahu alasan Rena marah pada Debi yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Satya menunduk, memilih untuk menelan ceritanya dalam-dalam. Tidak ada untungnya bagi dia jika memperkeruh suasana hati Debi. Sudah untung Debi masih mau bicara dengannya setelah kejadian ini.
"Nak?"
Debi membuka mata mendengar suara ibunya. Dia menggigit bibir bawahnya untuk meredakan ledakan emosi di dalam dadanya.
"Nak, kamu nggak apa-apa?" tanya wanita berseragam perawat. "Tenang, ya!" wanita itu duduk di sebelah Debi, lalu membelai kepalanya penuh sayang.
"Malam, Tante Linda!" sapa Satya.
__ADS_1
"Satya, nggak pulang?" tanya Ibu Debi. "Kamu daritadi di sini. Sudah makan?"
Satya menjawab dengan senyuman sumbang. Linda memang dikenal sebagai ibu yang baik hati dan khawatir akan segala hal. "Sebentar lagi, Tan.. Mau nunggu kabar Rena."
Linda melirik ke arah anaknya. Dia sadar kalau anaknya sedang berusaha menenangkan diri. Dia tidak boleh gegabah dalam memberi respon agar anaknya bisa tetap tenang. "Sekarang yang bisa kita lakukan adalah berdoa. Rena sedang berusaha di dalam sana."
"Rena akan selamat, kan?" Debi memastikan, tapi ibunya sendiri tidak berani menjawab pertanyaannya. Terlalu sombong rasanya jika Linda yang menentukan hidup-mati seseorang. Apapun bisa terjadi di ruang operasi.
"Ayo, kita temani orangtua Rena! Mereka pasti memerlukan dukungan dari kita." Linda membantu Debi berdiri. Mereka berjalan beriringan, kembali ke tempat orangtua Rena berada.
Tepat saat mereka tiba, pintu kamar operasi terbuka. Seorang laki-laki berseragam hijau tua keluar didampingi perempuan berusia dua puluh tahunan. "Orangtua Pasien Rena?" panggilnya.
Reka dan Nami segera mendekat, begitu juga dengan Debi, Satya, dan Linda. Mereka semua diam, menunggu kalimat yang akan dikeluarkan dokter penanggung jawab Rena.
"Kami sudah lakukan sebisa mungkin. Namun cedera yang Rena alami sangat fatal. Kemungkinan Rena untuk hidup, tidak lama."
"Nggak mungkin, Dok!" bentak Satya. "Tadi waktu saya bawa Rena ke rumah sakit, dia masih buka mata waktu saya panggil! Rena nggak segawat itu!"
"Dik, dimohon tenang!" perawat perempuan di belakangnya maju. "Di sini rumah sakit, tidak baik bicara teriak-teriak begitu!"
Nami ambruk bersimpuh ke lantai. Wajahnya pucat pasi. Kedua tangannya terkulai lemas di sisi tubuhnya. "Anakku.. Astaga.. Anakku.." gumamnya pelan. Dia dapat merasakan lubang besar yang muncul di dalam dirinya.
Debi meremas tangan Linda. Waktu Linda menunduk, wajah anaknya tidak kalah pucatnya dengan wajah Nami. Linda tahu bahwa anaknya tidak baik-baik saja. "Maaf, saya harus bawa Debi ke UGD," pamitnya. Orangtua Rena tidak menjawab. Mereka masih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Bu.. Sakit, Bu.." Debi ganti meremas bajunya, menahan rasa sakit.
"Ayo, ayo! Kita ke UGD! Bertahan sedikit lagi!"
"Tante, saya bantu, ya?" Satya berjongkok di depan Debi. Debi terkulai ke atas punggung Satya. "Debi, gue mohon! Tetap jaga kesadaran lo!" pinta Satya dan mulai berlari ke arah UGD, diikuti Linda.
__ADS_1
***