
Gue geleng-geleng kepala lihat Rena lari-lari kecil nyamperin gue yang sedang duduk di teras depan kelas. Senyuman anak itu merekah seperti bocah yang baru mungut uang sepuluh ribu di jalan. "Yang keberapa?" tembak gue tanpa basa-basi. Nggak perlu basa-basi sama anak ini kalau kalian sudah kenal dia sejak masih di dalam orok.
Rena berkacak pinggang dengan gaya sombongnya begitu tiba di depan gue. "Dua puluh enam," jawabnya bangga. Rambut panjangnya yang bergelombang dia hempaskan ke belakang punggung.
"Dan lo tolak?"
"Iya, dong!" Rena menjawab sengit. "Dia nggak buat gue deg-degan kayak di drama-drama gitu! Mana mungkin gue pacaran sama orang yang nggak ngasih sensasi khusus buat gue."
Gue angkat bahu. Syarat untuk jadi pacar Rena memang begitu. Harus bisa buat dia deg-degan. Sampai detik ini, belum ada yang bisa. Dalam arti lain, Rena nggak pernah pacaran. "Padahal yang tadi itu anaknya guru kimia kita, lho!"
"Yah.. Sayangnya nggak ada chemistry di antara kita." Rena duduk di sebelah gue. "Lo udah makan?"
Gue mengangkat kotak bekal gue yang kosong sebagai jawabannya. "Lo belum makan siang? Mau gue temenin ke kantin?"
"Yuk! Nanti gue beliin lo es cendol!" Rena narik tangan gue, nggak sabaran. Kami berjalan beriringan menuju kantin sekolah, meskipun jam istirahat sisa sepuluh menit lagi.
"Ren, kalau nggak salah dengar, Ketos nyariin lo, lho!" gue teringat sama salah satu gosip yang tadi gue dengar waktu makan siang.
"Emang gue salah apa?"
"Salah, karena nolakin cowok-cowok di sekolah kita?" goda gue. Rena manyun kayak ikan. "Ya, kali aja dia juga mau nembak lo."
Rena ikut angkat bahu. "Eh, lo sama Andi, gimana?"
Gue jadi teringat sama wajah Andi. Andi itu pacar gue sejak dua bulan yang lalu. Dia orang yang baik, sebelum dia ketemu sama Rena. Dan kemarin adalah terakhir kali kami bertemu. Andi mengaku suka sama Rena dan tidak bisa lanjut pacaran sama gue. "Kita udah putus."
"Hah!? Serius? Padahal Andi orangnya asyik, lho!" Rena melongo, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Gue, sih, untuk saat ini nggak begitu ambil pusing masalah lawan jenis. Tiga kali gue pacaran, akhirnya selalu sama. Mereka kepincut sama Rena, si anak borju yang tidak punya kekurangan. Fisik, oke. Wajah, oke pakai banget. Masalah uang, orangtuanya itu pengusaha kaya yang kekayaannya nggak akan habis tujuh turunan. Nggak akan ada laki-laki yang nggak tertarik sama Rena.
"Gue tunggu di sana, ya?" gue nunjuk salah satu bangku panjang yang kosong. "Gih, pesan makanan! Bentar lagi sudah bel masuk."
Rena ngacir buat pesan makanan, sementara gue anteng duduk sambil memperhatikan sekitar. Kantin sudah agak sepi. Beberapa anak sudah kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
__ADS_1
Gue baru memulai kehidupan sekolah menengah atas gue sejak seminggu yang lalu setelah MOS. SMA Swasta Pelita adalah sekolah incaran gue karena mereka memenangkan olimpiade matematika dan gue mau jadi salah satu kandidatnya nanti.
Rena ternyata ngintilin gue buat sekolah di sini. Alasannya simple, dia mau jagain gue seperti biasa. Memang nggak ada yang bisa sesigap dia dalam hal jagain gue. Yah, kita sudah bareng sejak kecil. Tentu saja Rena sudah tahu apa yang harus dilakukan kalau gue sampai kolaps lagi.
Mata gue tiba-tiba saja terpancang pada gerombolan murid laki-laki yang masih nangkring di kantin. Salah satunya duduk di atas meja dan bercerita dengan semangat. Temannya yang lain menanggapi tidak kalah hebohnya. Namun salah satu dari mereka malah asyik menikmati soto di depannya. Dia seolah tidak terlalu tertarik dengan cerita temannya, tapi tetap menghargai dengan cara duduk di sana sambil makan.
"Lihat apa?" Rena ternyata sudah duduk di sebelah gue. Dia mengikuti arah pandangan gue. "Ooh, mereka sering nongkrong di kantin sampai last minute. Nanti juga lo terbiasa lihat mereka yang heboh begitu."
"Makanan lo kapan datang? Lima menit lagi bel, lho!"
Rena menoleh ke arah stand. Sedetik kemudian, anak pemilik stand membawakan pesanan Rena. "Silakan, Neng!" ujarnya sambil melemparkan senyuman paling manis untuk Rena.
"Oke juga, tuh!"
"Nggak usah godain gue, deh!" Rena mulai melahap nasi goreng pesanannya. Tepat setelah suapan terakhir masuk ke dalam mulut Rena, bel masuk berbunyi. Kami bergegas kembali ke kelas sebelum guru pelajaran berikutnya datang.
***
Lalu lintas siang itu cukup ramai. Yah, namanya juga jam pulang sekolah. Banyak anak yang keluyuran jam segini. "Ren, habis ini lo bukannya ada les balet?" tanya gue, ingat kalau hari ini adalah hari Rabu.
"Jam empat, kok!" Rena melirik jam tangannya. "Masih ada waktu sejam."
"Kasihan sopir lo nungguin, tuh!" dagu gue mengedik ke arah laki-laki berkemeja putih yang menunggunya. "Pak! Sini, Pak!" gue panggil supirnya Rena.
"Mau lo ajakin minum es cendol juga?" tanya Rena. "Yang begini, nih, makanya orang-orang rumah gue jadi pro sama lo."
"Gue baik hati. Makanya mereka demen ama gue."
"Iya, Non? Ada apa?" tanya Pak Anton.
Bertepatan dengan itu, es cendol kami datang. Gue menyerahkan bagian gue ke Pak Anton yang menerimanya dengan canggung. "Sini duduk, Pak! Diminum dulu."
"Waduh, Non! Seriusan ini?"
__ADS_1
"Elaaaah.. Pake basa-basi pula! Dah, sini duduk!" gue nepuk kursi plastik di sebelah gue. Pak Anton menurut saja, lalu mulai menikmati es cendolnya. "Bang, pesen satu lagi, ya!" seruku pada penjual es cendol.
"Besok lo ada acara?" tanya Rena disela minumnya. "Gue mau belanja kasur baru buat Kimberly. Kasihan udah lapuk."
"Bukannya baru tiga bulan yang lalu lo beliin dia kasur?"
"Ganti suasanalah!"
Yah, anak sultan mah bebas! "Oke, besok gue anter sepulang sekolah."
Di siang yang terik itu, kami menghabiskan es cendol dengan hati gembira. Lumayanlah, ditraktir Rena. Pak Anton pun merasa senang mendapat rejeki penghilang dahaga. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rena akhirnya berangkat menuju tempat les baletnya.
Gue celingukan nyari angkot yang menuju ke arah rumah gue. Untung saja masih ada beberapa angkot yang stand by di depan sekolah. Saat masuk, di dalam angkot itu baru ada gue dan ibu-ibu yang bawa belanjaan banyak banget. Sopirnya pasti nunggu angkotnya isi penuh dulu, baru jalan. Gue mengisi waktu senggang itu dengan melamun melihat ke luar jendela.
"Wah.. Itu bukannya anak-anak yang nongkrong di kantin tadi, ya?" gue ngomong sama diri sendiri, melihat segerombolan murid laki-laki dari sekolahku hendak menyeberang jalan. Ternyata mereka juga naik ke angkot yang sama dengan yang gue naiki.
Sampai di dalam pun, mereka masih heboh cerita ini-itu. Gue ngerasa kurang nyaman karena gue sendiri cewek di sana-ibu tadi nggak masuk hitungan, ya! Baru saja mau turun, sopir angkot malah nginjek gas.
Gue diam seribu bahasa. Berusaha nggak menarik perhatian mereka. Jangan sampai, deh, gue di sapa. Apalagi kalau mereka tahu gue dekat sama Rena. Bakalan repot gue.
"Eh, lo anak sekolah kita, ya?"
Astaga! Apa, sih, yang buat salah satu dari mereka jadi notice gue?
"Tumben lihat di angkot ini."
Gue noleh, sempat melirik dasi yang dia kenakan. Garis dua. Mereka kakak kelas. "Iya, Kak. Tadi saya habis ngadem sambil minum es cendol. Jadi pulangnya telat. Biasanya naik angkot kloter pertama."
"Gue Satya!" dia mengulurkan tangannya, hendak berjabat tangan. Cowok satu ini malah lebih tertarik kenalan sama gue ketimbang nimbrung sama grupnya. Oh! Dia yang sibuk makan tadi rupanya!
"Debi," gue nyambut uluran tangannya.
***
__ADS_1