BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Perasaan


__ADS_3

"Capek?" Satya duduk di sebelah gue dengan sepiring penuh daging sapi panggang dipadu dengan jagung dan paprika bakar. Aroma manis terkuar dari makanan yang Satya bawa. Tanpa basa-basi, Satya menyodorkan piring itu ke tangan gue. "Makan pelan-pelan!"


"Makasi, Kak," gue menerima piring Satya, kemudian melahap makanan di atasnya dengan perlahan. Kerenyahan paprika membuat perut gue semakin lapar.


Pak Hasan memang jago masak. Semua masakannya enak. Rena berdiri di sekitar Pak Hasan, menjaganya dari Gilang. Hampir saja Gilang menaburkan penyedap yang dia kira lada bubuk. Dia juga memanggang daging langsung dengan aluminium foilnya. Memang lebih baik salah satu dari kita menjaga tangan Gilang agar tidak usil.


"Enak?"


Gue menunduk, sadar hampir setengah isi piring telah berpindah ke perut gue. "Banget!"


Tangan Satya tiba-tiba terjulur ke wajah gue, ujung jarinya mengusap sudut bibir gue. "Lo kayak anak kecil," kata Satya, seraya tersenyum. Senyumnya ini memang harus diwaspadai.


"Kak Satya nggak makan?"


"Belum ada yang matang lagi."


Spontan gue menyodorkan daging sapi yang masih mengepulkan asap putih ke arah Satya. "Coba!"


Satya meraih tangan gue, membiarkan kehangatan dari tubuhnya mengalir melalui genggaman tangannya. Dia langsung memakan daging sapi dari garpu yang masih gue genggam. Jarak wajah kami hanya beberapa sentimeter, membuat gue bisa melihat bagaimana eksotisnya lekuk wajah Satya di bawah lampu ruangan yang temaram. Jika diperhatikan lebih seksama, Satya orang yang manis.


Satya tiba-tiba mendongak. "Iya, enak!" lagi, dia tersenyum.


Gue buru-buru menarik tangan gue, dan kembali melahap makanan di piring. Astaga, coba saja Rena yang ada di posisi gue, pastinya dia bakalan senang banget!


"Geser!"


Kami mendongak mendengar perintah itu. Gilang berdiri di hadapan kami. Tangan kanannya membawa sebuah piring besar, sementara tangan kirinya memegang segelas wine yang tadi dia beli.


"Gue mau duduk di sini! Kalian geser!"


Berhubung Gilang adalah tuan rumah di sini, gue sama Satya nurut saja apa maunya. Tidak lucu kalau kami ribut hanya masalah sofa.


Gilang duduk di samping gue, sementara Satya pindah ke sofa lainnya. Wajah Gilang berseri-seri setelah makanan di piringnya masuk ke dalam mulut.

__ADS_1


"Nggak nyesel minta Pak Hasan yang manggang, kan?"


"Nih!" Gilang menyodorkan sepotong udang dari garpunya. "Aaa!"


Gue melahap udang itu tanpa ragu-ragu. Daritadi, memang udang ini yang paling menarik perhatian gue.


Satya berdiri tiba-tiba hingga kakinya terantuk meja di depannya. Air mukanya tidak enak dilihat. "Gue mau ke toilet," pamitnya dengan suara pelan.


"Dia kenapa?" tanya gue pada diri sendiri. Apa saking kebeletnya nahan pipis, makanya wajah Satya sampai seperti itu?


"Menurut lo, Satya itu bagaimana?"


Gue balik menatap Gilang yang melontarkan pertanyaan aneh. Gilang tidak membalas tatapan gue. Dia memandang lurus ke arah Rena yang tengah sibuk membantu Pak Hasan di halaman belakang. "Satya?"


"Apa lo lihat dia sebagai laki-laki?"


Gue tambah bingung. "Dia memang laki-laki, kan?"


Gue kaget, bukan karena tahu Rena suka Satya, tapi karena Gilang sadar akan perasaan Rena. "Sejak kapan lo tahu?"


"Jelas banget terlihat." Gilang melahap sepotong cumi bakar, lalu menyeruput wine-nya sedikit. "Pertama kali gue ketemu mereka, gue pikir kalian cuma tiga orang remaja yang bersahabat. Tapi, tingkah Rena berbeda. Dia suka diam-diam mencuri pandang ke arah Satya," Gilang menoleh ke gue dengan tatapan lurus, "dan Satya diam-diam mencuri pandang ke lo."


"Debi!" Rena menghampiri dengan sepiring daging yang sudah dipanggang. "Cobain yang ini! Barusan gue coba pakai bumbu yang beda!"


Gue mengerjap. Masih tidak sadar dengan Rena yang berdiri di hadapan gue. Perkataan Gilang sedetik lalu, mampu mengalihkan dunia gue.


Rena yang tidak mendapat reaksi dari gue, memilih bersimpuh di depan gue. Rasa cemas terpancar dari bola matanya yang cantik. "Debi?" panggilnya sambil menggoyang-goyangkan lutut gue.


Gilang meraih salah satu udang di piringnya dan langsung memasukkannya ke mulut gue. "Telat banget lo! Sumpah! Sok pintar tapi ternyata nggak tahu apa!" Gilang terbahak.


Gue mengunyah pelan udang di mulut gue. Otak gue juga berputar kembali di porosnya. "Lo.. Bercanda, kan?"


Gilang tersenyum tipis. Matanya tampak sendu di bawah redupnya lampu. "Ren, gue mau ngomong serius sama Debi. Bisa kasih kami waktu berdua?"

__ADS_1


Rena memandang Gilang dan gue bergantian. Dia menyelidiki apa yang terjadi antara gue dan manusia kepala batu di depannya. "Lo nggak ngajak Debi berantem, kan?" terkanya.


"Gue mau nyatakan cinta," Gilang menjawab ngawur. Dalam hati, gue ingin tertawa mendengar jawaban Gilang. Mana mungkin Rena akan percaya dengan alasan seperti itu?


"Astaga! Maaf!" Rena langsung pergi menjauh. Gue sempat menangkap pipinya yang bersemu merah saat hendak pergi. Dia percaya?


Gilang terkikik pelan, tahu bisa membodohi Rena. "Dia percaya!" bisiknya, merasa lucu. Melihat gue yang nggak menanggapi leluconnya, Gilang mengatur nafasnya agar kembali tenang. "Jadi," Gilang mulai serius, "lo benar nggak tahu gimana perasaan Satya?"


Gue menggeleng pelan. Gue memperhatikan ekspresi Gilang, ingin sekali dia tertawa seperti tadi dan mengatakan bahwa dia juga hanya bercanda. Tapi, yang gue temukan malah sebaliknya. Gilang membalas tatapan gue tanpa berkedip. Tidak ada senyuman jahil seperti biasa yang terulas dari bibirnya.


"Satya, dia memperhatikan lo, lebih banyak dari yang gue duga." Gilang bersandar di sofanya. "Waktu di sekolah, dia pasang badan ketika gue ngebet ngajak lo pulang. Awalnya gue kira itu karena dia khawatir sama sahabatnya. Kecurigaan gue beralasan waktu lo dirawat inap. Satya datang setiap hari dan selalu duduk di samping lo berjam-jam. Dia bercerita bagaimana kehidupan sekolah karena lo nggak bisa sekolah waktu itu."


Pikiran gue melambung ke kenangan di mana Satya menceritakan bagaimana keadaan sekolah waktu gue rawat inap. Serunya latihannya dia dan juga Rena yang buat heboh karena mendapatkan pernyataan cinta dari Ketua OSIS.


"Tadi pagi, Satya datang lebih dulu daripada Rena. Dia sampai lupa bawa handphone saking buru-burunya."


"Darimana lo tahu?"


"Gue pengamat jitu, Deb. Gue terbiasa mengamati sekitar gue sebagai bahan referensi tulisan gue."


Gue memandang tangan gue yang saling bertaut. Gue tidak memperhatikan Satya se-detail itu. Selama ini, gue cuma fokus pada Rena dan selalu mencari cara agar Satya dekat dengannya.


"Satya suka sama lo, Deb," Gilang merendahkan nada suaranya. Tatapan matanya tidak sedikitpun mengisyaratkan sebuah kebohongan.


Gue menggeleng keras. "Nggak boleh! Nggak boleh begitu!" gue meraih tangan Gilang. "Satya nggak boleh suka sama gue!"


"Perasaan orang nggak bisa dikendalikan. Gue nggak ada kuasa untuk hal itu."


"Tapi perkataan lo belum terbukti!" gue berkeras. Memang tidak ada bukti yang memperjelas kesaksian Gilang. "Bisa aja lo cuma berasumsi."


"Mau buktikan?" Gilang tersenyum miring. "Lo ikuti jalan cerita yang gue buat, ya!"


***

__ADS_1


__ADS_2