BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Kemajuan


__ADS_3

Rena berdiri di depan kelas gue saat jam pulang sekolah tiba. Kelas gue belum selesai menerima pelajaran matematika di jam terakhir. Kami tadi sepakat menyelesaikan satu bab lagi, padahal sepuluh menit lagi akan bel pulang.


Kebiasaan kelas kami memang seperti itu. Kami seperti memiliki ambisi yang sama: menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Tidak jarang kelas kami pulang tiga puluh menit sampai satu jam lebih lama.


Rena tidak keberatan. Dia santai kalau nggak ada les atau masih ada waktu sebelum jam lesnya setelah sekolah. Arah rumah kami berlawanan arah, tapi Rena selalu menyempatkan diri untuk ngobrol sama gue. Kadang kami nyemil atau belanja bareng.


Satu jam berlalu. Akhirnya kelas kami dibubarkan. Saat gue keluar kelas, Rena tengah asyik berbicara di telepon. Gue duduk di depannya. Rena memberi isyarat untuk menunggu semenit sebelum dia selesai. Ya sudah, giliran gue bengong nungguin dia.


"Sorry," ujar Rena ketika dia sudah menutup teleponnya. "Tadi dari gebetan baru gue."


"Siapa?"


"Candra. Anak SMK sebelah."


"Kenal darimana?"


"Medsos." Rena menyelipkan smartphone-nya ke dalam tas. "Gue hari ini ada les musik. Tapi masih sekitar sejam lagi. Mau beli roti bakar buat cemilan dulu?"


"Yuk!" gue mengikuti Rena melangkah menuju gerobak pedagang roti bakar yang mangkal di dekat sekolah.


"Gue belum nyapa bokap lo, Deb!" Rena menambahkan.


"Bokap gue nggak kalah sibuknya sama orangtua lo."


"Maksudnya?"


"Dia udah ke luar kota lagi. Katanya, sih, mau ketemu direksi atau apalah gitu, untuk kenaikan jabatan."


Rena merangkul bahu gue. "Tapi untungnya nyokap lo selalu ada setiap hari, ya?" Rena tersenyum. Gue sadar ada nada sedih di dalam suaranya. Jelas saja dia sedih. Bagaimana tidak? Orangtuanya selalu sibuk. Sudah untung namanya kalau bisa bertemu sekali dalam seminggu. Gue sama bokap cuma terpisah beda kota. Sementara Rena sama orangtuanya biasa beda negara. Anak ini kangen banget sama orangtuanya.


Kami sampai di gerbang sekolah. Pak Anton yang bersandar di pintu mobil langsung berdiri tegak. Dia pasti senang, akhirnya Nona Kecil Rena keluar dari sekolah dan menampakkan batang hidungnya.


"Ntar, ya Pak! Kita mau makan roti bakar dulu!" Rena berseru, mematahkan semangat Pak Anton. "Sini, Pak! Ikut makan juga!"


Gue nyengir ke arah Rena. Tumben banget dia sendiri yang inisiatif ngajakin Pak Anton. "Tumben banget, Ren?"


"Biar ga semuanya berpihak sama lo! Mereka itu orang gue!" Rena mencubit gemas pipi gue.


Kami bertiga duduk di bangku panjang di belakang gerobak dagang roti bakar, menunggu pesanan selesai. Rena ngoceh tentang gebetan barunya, si Candra. Dia bicara seolah sudah mengenal Candra selama bertahun-tahun, padahal mereka mulai chatting semalam.


Jalanan di depan kami agak ramai, karena jam pulang sekolah. Matahari bersinar terik di atas kepala kami. Bau roti bakar yang harum membuat kami semakin lapar.

__ADS_1


"Gimana hubungan lo sama Kak Satya?" tanya gue, nggak sanggup menahan rasa ingin tahu yang sedaritadi gue sembunyikan.


Rena berdeham. "Kak Satya itu beda urusan," ujarnya dengan wajah bersemu merah. "Duuh, sumpah, deh! Gue itu nggak percaya diri di depan dia. Setiap papasan, kaki gue gemetar!"


Hah? 'Papasan'?


"Beberapa kali sempat saling sapa dan ngobrol sebentar, sih.."


Kening gue mengernyit. "Jadi, sampai sekarang lo ama Kak Satya nggak ada kemajuan?"


Rena menghela nafas panjang. "Kak Satya orangnya kayak lo, Deb!"


"Maksudnya?"


"Dia lebih fokus ke pelajaran, ke teman-temannya, dan ke olahraga. Dia nggak terlalu ambil pusing masalah pacaran."


"Lo deketinnya kayak gimana?" tanya gue. "Jangan-jangan, lo deketinnya agresif kayak cowok-cowok yang demen sama lo, ya?"


"Gue nggak terlalu agresif, kok!" Rena membela diri. "Gue emang tertarik sama dia, tapi gue nggak mau terlalu kelihatan begitu." Rena melirik gue. "Kadang gue pakai lo sebagai alasan buat ngobrol sama dia."


"Lha? Kenapa malah bawa-bawa gue?" protes gue.


"Soalnya Kak Satya satu ekskul sama lo dan dia pernah jenguk lo di rumah sakit." Rena tersenyum manis. "Nggak apa, kan? Nggak apa, ya? Biar durasi ngobrol gue ama Kak Satya makin panjang."


"Ngambek, ih!" Rena malah mencubit pipi gue tanpa ampun. "Besok nyalon, yuk?"


"Lepas!" gue menepis tangannya. Sakit banget pipi gue dijadiin sansak mulu sama nih anak! "Besok jadwal kontrol gue."


"Pergi kontrol ama siapa?"


"Sendiri."


"Nyokap lo?"


"Dinas sore."


Rena menoleh pada Pak Anton yang diam seribu bahasa. Matanya terpancang pada roti bakar yang tengah disajikan ke atas piring plastik. Ilernya hampir netes saking laparnya. "Pak!" panggil Rena. "Jadwal les besok bisa di-cancel?"


"Waduh, Non! Nggak bisa begitu! Nanti kena masalah sama Bu Friska! Non ingat, kan, terakhir kali Non Rena bolos les? Bu Friska mengganti waktu yang Non pakai main dengan lembur di hari besoknya!"


"Ih, nggak usah buka kartu, Pak!" Rena memukul lengan Pak Anton. Tampak sebal karena Pak Anton nyerocos.

__ADS_1


"Maksudnya, kalau lo bolos, besoknya lo lembur les?" gue memastikan. Sungguh, berita ini baru buat gue. Rena beberapa kali bolos les karena mau main sama gue selama ini.


"Sekali-sekali, gue juga pengen main, Deb! Gue ini remaja enam belas tahun yang dalam masa puber. Nggak mungkin gue ikutin semua jadwal les yang bikin mumet."


Gue geleng-geleng kepala. Ternyata anak ini bisa stres juga. Gue kira semua masalahnya teratasi karena dia cantik dan kaya raya. "Gue janji bakalan lebih sering main sama lo. Tapi, lo nggak boleh keseringan bolos les lagi, ya?"


Rena nyengir lebar. "Makasi, Deb!" jawabnya seraya meluk gue.


"Permisi, roti bakarnya!" Abang penjual roti bakar menyodorkan tiga potong roti bakar pada kami.


Jalanan di depan kami mulai sepi. Banyak angkot yang sudah penuh dan memilih mengantar murid-murid untuk pulang ke rumah masing-masing. Kami menikmati roti bakar yang masih hangat dalam diam.


Tiba-tiba gue teringat sama tetangga baru gue yang nyebelin. "Ren! Gue punya tetangga baru!" baru juga mau mulai cerita, nada bicara gue sudah tinggi, saking gemasnya.


"Oh, rumah hantu di sebelah rumah lo itu?"


"Iya!"


Rena menangkap emosi gue yang meluap-luap. "Kenapa lo?"


"Orangnya ternyata sombong banget!" gue manyun. "Cewek cantik tapi namanya Gilang."


"Lo udah pernah ketemu sama dia?"


"Gue udah pernah diusir sama dia!"


"Seriusan, lo!?" Rena ikut naik pitam. "Wah, nggak usah disapa lagi orang kayak begitu!"


"Idih, gue juga ogah nyapa orang ganas macam begitu!" gue menggigit roti bakar pesanan gue. "Walau nanti nyokap gue sendiri yang nyuruh gue mampir ke sana, gue nggak mau! Wangi parfumnya aja buat gue sesak!"


"Nggak usah, nggak usah!" dukung Rena bersemangat. "Meskipun nanti dia pingsan karena kelaparan di sana, lo nggak usah kasih dia makanan! Nasi pun jangan!"


Gue tertawa mendengar usul Rena. "Dia kaya, Ren! Nggak ada istilah kelaparan di kamusnya."


"Kaya mana sama gue?"


Gue garuk-garuk dagu. "Kaya lo, deh! Sekalian bayarin roti bakar kita, ya!"


"Eh, punya saya, biar saya sendiri yang bayar," Pak Anton angkat suara.


"Pak Anton nggak mau saya traktir!?" cicit Rena, tersinggung.

__ADS_1


***


__ADS_2