BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Puber


__ADS_3

Gilang makan dengan lahap di hadapan gue. Dia sengaja datang ke bangsal rawat inap gue hanya untuk makan di depan gue. Pipinya mengembung karena saking banyaknya dia memasukkan makanan ke mulutnya.


"Minum dulu, Nak!" Ibu menyodorkan gelas yang penuh dengan air pada Gilang. Bukannya meraih gelas itu, Gilang langsung menyeruputnya dari tangan Ibu.


"Bocah," bisik Satya yang anteng duduk di sebelah gue. "Kenapa dia ke kamar rawat inap lo?"


"Sejak kemarin," gue mendesis sebal. Kalau gue ular, udah gue patuk orang gila satu ini!


Jadi, ceritanya begini. Gue harus rawat inap untuk pemulihan kondisi, setidaknya tiga hari. Lalu, Gilang yang waktu itu dirawat di sebelah gue juga minta rawat inap. Dia merengek pada dokter jaga yang akhirnya luluh. Tipe orang kaya yang nggak tahu uangnya mau diapakan.


Selama rawat inap, Gilang selalu datang ke kamar rawat inap gue. Dia berceloteh ria dengan Ibu, seakan Ibu adalah ibu kandungnya sendiri. Dia membawa banyak makanan, tapi tidak mau makan semuanya sendirian. Ibu selalu mendapatkan makanan enak selama menemani gue di rumah sakit, begitupun dengan Kak Dika.


"Gue maunya istirahat di sini, tapi dia selalu datang," gue masih berbisik pada Satya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi Satya urung untuk pulang. Kami tengah bicara santai mengenai kehidupan sekolah yang gue lewatkan selama dua hari ini, sebelum Gilang ngerecokin.


"Satya dan Rena juga boleh ikutan!" Gilang berseru tiba-tiba.


Gue dan Satya saling tukar pandang. Kami asyik merutuk Gilang dalam hati, sampai tidak mendengar apa yang Gilang bicarakan. "Ikutan apa?" tanya Satya.


"Manggang di rumah gue. Soal bahan dan alat, biar gue yang beli."


"Emang lo tahu, apa aja yang perlu dibeli?" selidik gue.


"Pemanggang sama daging, kan?" jawab Gilang enteng, seperti biasa. Sepertinya otaknya tidak di-design untuk memikirkan hal-hal lain selain mengarang cerita.


Gua dan Satya menghela nafas bersamaan. "Biar gue yang nemenin lo beli bahan nanti," gue mengajukan diri. "Tunggu kesehatan gue bagus dulu."


"Gue juga bakal nemenin lo," sambung Satya.


"Si putri bawel juga pasti minta ikut kalau kalian pergi, kan?"

__ADS_1


Gue angkat bahu. Sudah pasti Rena akan ikut. Dia bakalan nempel terus sama gue.


"Sebelum itu, kamu harus benar-benar sehat kembali!" Ibu memperingatkan.


Kak Dika muncul dari pintu kamar ruang rawat inap gue, membawa ransel besarnya. Gue baru ingat, hari ini dia akan pergi lagi ke Depok untuk melanjutkan pendidikannya. "Dik, kamu harus baik-baik jaga diri, ya!" Kak Dika meluk gue erat. "Selesai pendidikan, gue bakalan cari kerja dekat rumah, atau kita beli rumah di Depok aja, ya?"


"Emang segampang itu pindah rumah?" gue tertawa. "Kak Dika tenang aja. Debi emang bakalan sering kambuh-kambuhan, tapi Debi punya tujuan untuk selesaikan sekolah menengah atas. Debi nggak mungkin segampang itu menyerah."


Kak Dika mencium kening gue penuh sayang. Dari sorot matanya, gue tahu bagaimana dia merasa berat hati pergi ninggalin gue yang masih di rumah sakit. "Makasi sudah bertahan, Dik!"


"Dika," Ibu menyodorkan amplop cokelat pada Kak Dika. "Bekal buat kamu. Kalau kurang, langsung bilang sama Ibu, ya!"


"Astaga, Bu! Dika digaji selama magang! Nggak usah dikasi uang saku segala! Emangnya Dika masih bocah!?"


Ibu tetap memaksa Kak Dika menerima amplop yang Ibu berikan. "Kamu anak Ibu dan kamu berhak mendapatkan hal yang sama dengan yang Debi dapatkan."


Kak Dika memeluk Ibu lebih lama. Suasana di ruangan itu menjadi sendu karena tingkah Kak Dika. "Bu, Dika sempat telepon sama Ayah. Ayah bilang, tidak bisa pulang bulan ini karena banyak kerjaan."


Sebenarnya gue agak sebal mendengar Ibu berkata seperti itu. Ibu bukanlah orang yang santai. Ibu juga bekerja, ditambah harus ngurus gue yang sakit-sakitan. Lalu kenapa Ayah harus bekerja sedemikian rupa, sampai tidak sempat pulang ke rumah?


Gue menunduk dengan kening berkerut. Selama ini, kami hidup seadanya. Tidak ada peningkatan yang drastis pada hidup kami, padahal Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya. Apa yang Ayah kejar? Jabatan? Mimpi?


Kami melepas perjalanan Kak Dika. Setelah itu, Gilang kembali bersemangat dengan cerita perjalanan hidupnya. "Gil, stop! Nyokap gue perlu istirahat!" Gue melempar bantal ke arah Gilang. "Sini lo, main sama gue aja!"


"Lo juga perlu istirahat, Deb!" Satya mengingatkan. "Tante istirahat aja, biar saya yang nemenin Gilang di kamarnya." Satya bangkit dari duduknya, kemudian langsung menyeret Gilang keluar kamar gue. Tentu saja Gilang tidak langsung mau ikut. Dia meronta minta dilepaskan. Namun, tenaga Satya yang selalu melakukan olahraga, lebih besar ketimbang tenaga Gilang. Dengan mudah Satya berhasil membawanya pergi.


Kamar gue menjadi hening. Ibu tertawa begitu gue menghempaskan diri di atas ranjang. "Ramai sekali, ya?" Ibu ikut merebahkan diri di sofa dekat ranjang gue. "Tidak pernah seramai ini selama kamu SMP. Apakah ini karena kamu sudah masuk masa puber?"


"Apa hubungannya, Bu?"

__ADS_1


"Karena kamu jadi dikelilingi sama laki-laki."


Gue menggeleng keras, merasa tidak setuju dengan pendapat Ibu. "Kayaknya Ibu salah paham sama tingkah mereka," gue menjelaskan. "Satya itu gebetannya Rena. Ibu sadar, kan, bagaimana tatapan Rena setiap kali ada Satya? Debi nggak mungkin merebut gebetan sahabat sendiri."


"Lalu Gilang?"


"Astaga, Bu! Cewek mana yang bakalan suka sama cowok otak batu macam Gilang? Debi keki luar biasa setiap kali ngobrol sama Gilang! Harga diri dan kepercayaan dirinya terlalu tinggi!"


Ibu malah terbahak mendengar jawaban gue. Air matanya sampai keluar saking kerasnya Ibu tertawa. "Ibu punya firasat bagus dengan dua orang itu. Mereka buat kamu lebih aktif dari biasanya."


Baguskah begitu? Gue memang lebih aktif dari sebelumnya, tapi semakin sering pula gue masuk rumah sakit. Gue melemah, tapi mimpi gue melambung.


Gue tersenyum sedih. Ternyata gue mirip dengan Ayah yang penuh ambisi. Gue terlalu fokus sama apa yang gue inginkan, sampai terkadang lupa dengan batas maksimal tubuh gue.


"Nak.. Ibu tidak akan melarang apapun yang mau kamu lakukan. Kamu bebas, selama tahu batasan dirimu. Bertemanlah dengan banyak orang baik seperti mereka. Mereka yang akan jaga kamu."


"Kecuali Gilang!" tandas gue kesal. "Ibu nggak tahu bagaimana dia hidup, kan? Dia bahkan nggak bisa pulang habis belanja di supermarket depan kompleks!"


"Oh, ya?"


"Debi sendiri yang antar dia pulang waktu itu!" gue menggebu, mengingat bagaimana anehnya dia saat itu. Gue masih bete kalau ingat dia ngomel di belakang kuping gue. "Waktu anter Debi ke sekolah juga, dia nggak tahu arah jalan pulang! Gilang berkeras nunggu Debi sampai jam pulang sekolah. Tahunya, dia malah bikin heboh dan tebar pesona di sekolah Debi!"


"Bagus, kan? Jadi ramai."


"Apanya?" gue bergidik seperti orang kedinginan. "Gilang itu tipe spesies yang hampir punah di muka bumi, tapi Debi nggak keberatan kalau dia punah!" gue tertawa sendiri.


"Kalau begitu, Satya adalah tipe yang kamu suka?"


Gue membalas tatapan Ibu dengan wajah bingung. Satya? Tentu saja dia laki-laki baik hati idaman setiap perempuan.

__ADS_1


***


__ADS_2