BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Pertemuan Kedua


__ADS_3

Gue duduk untuk mengatur nafas setelah berjalan mengikuti irama langkah kaki Rena memasuki beberapa toko di dalam mall. Rena sudah melupakan tujuan awalnya, malah asyik membeli baju baru dan pernak-pernik yang entah kapan akan dia pakai.


"Lo lanjut sendiri aja," gue bersandar ke pembatas kaca, membuat diri gue senyaman mungkin. "Gue nunggu lo di sini aja. Lagian, pintu barat deket dari sini. Jadi begitu lo selesai, kita bisa langsung cabut."


"Lo nggak apa?" Rena berdiri di sebelah gue. Air mukanya khawatir, sadar sudah khilaf. "Kita perlu ke rumah sakit?"


Gue menggeleng. "Cuma perlu istirahat."


"Gue beliin minum dulu, ya?"


Gue merogoh botol minuman yang sedari tadi anteng diam di dalam tas. "Gue udah bawa," jawab gue. "Udah, Ren! Lo shoping aja sampai puas. Nanti kalau ada apa-apa, gue langsung kabari lo."


Rena tampak bimbang sejenak. Jelas dia nggak rela jalan-jalan sendiri, sementara gue duduk dengan wajah pucat sendirian di sini.


"Pak Anton, seret bocah satu ini!"


"Astaga, Non! Masa saya nyeret majikan saya?"


Gue nyengir melihat Pak Anton yang mangap-mangap nggak jelas. "Sini bawa belanjaannya! Saya yakin banget Rena masih mau belanja lebih banyak dari ini. Biar saya yang jaga untuk sementara."


"Gue janji bakalan cepat balik ke sini!" Rena meremas tangan gue, seolah berterima kasih karena memberinya kesempatan untuk shoping.


Mata gue nggak bergerak dari Rena saat dia berjalan menjauh. Teman gue satu itu memang unik dan bikin gemas. Gue yakin, begitu pulang nanti, dia sudah mengantongi lebih dari sepuluh nomor kenalan baru.


Yah, begini nggak buruk juga. Gue jadi bisa cuci mata, lihat cowok-cowok ganteng lalu-lalang. Semoga aja bukan Andi yang nongol di depan hidung gue. Nggak lucu banget kalau nostalgia di sini.


Gue merogoh tas untuk mengambil obat. Kosong! Astaga.. Gue lupa bawa obat untuk siang. Gimana bisa gue ceroboh kayak begini? Oke, oke! Nggak boleh panik. Gue pernah ketinggalan obat sebelumnya dan nggak terlalu berdampak bagi tubuh gue. Gue harus bertindak hati-hati saat ini.


Waktu gue lagi sibuk mikirin kupu-kupu yang terbang di padang rumput nan hijau, tiba-tiba saja ada keributan tidak jauh dari tempat gue duduk. Awalnya hanya beberapa orang saja yang berlarian ke arah sumber suara, namun lama-kelamaan orang-orang mulai berkumpul. Jiwa kepo gue terusik.


Gue ikutan nimbrung sama kerumunan. Gue ini termasuk orang yang tingginya rata-rata. Jadi nggak ada yang gue bisa lihat kecuali puncak kepala orang-orang.


"Ada apa, sih?" gue bergumam pada diri sendiri.


"Ada cowok yang maksa ngajak kenalan. Ceweknya cantik banget, tapi judes. Jadi mereka berantem, deh!"


Gue noleh ke orang yang nyahut. "Lha? Kak Satya?"


Orang itu ikutan noleh. "Lho? Debi?"

__ADS_1


"Ngapain Kak Satya di sini?"


"Lagi nyuci baju," sahutnya sambil manyun. "Ya, jelas lagi belanja, Deb!"


"Sendirian?" gue mengedarkan pandangan. "Nggak sama anak-anak yang kemarin?"


"Gue nggak harus sama mereka terus. Mereka bukan istri gue."


Alis gue terangkat, membenarkan jawabannya. "Oh ya, yang berantem tadi, si cewek, apa dia seusia saya? Rambut panjang sepinggang bergelombang? Kulit putih kayak tembok? Terus ditemani laki-laki pakai kemeja putih berumur tiga puluh tahunan?"


"Lo kenal?"


Gue terkekeh. "Kenal, Kak! Dia Rena, teman saya. Satu sekolah juga ama kita."


"Oh! Rena yang 'itu'? Gue sering dengar gosipnya di sekolah. Tapi belum pernah ketemu langsung," ujar Satya. "Ternyata orangnya secantik itu. Pantas saja semua jadi heboh."


Hahahaha, dan sudah pasti Satya juga jatuh hati padanya. Tinggal tunggu waktu saja dia minta nomor telepon Rena dari gue.


"Ngomong-ngomong, lo belanja banyak banget?" dia mengomentari tas belanjaan yang gue jinjing. Gue refleks bawa semua belanjaan Rena waktu mau lihat kenapa orang-orang berkerumun.


"Ini bukan belanjaan saya. Semua punya Rena," sanggah gue. Kening Satya berkerut. Gue menangkap sebuah kesan negatif untuk Rena dari Satya. "Bukan, bukan! Rena nggak nyuruh saya buat bawa belanjaannya!"


"Jadi, tadi saya istirahat di sana," gue nunjuk bangku yang tadi gue tempati. "Saya nawarin diri buat jagain belanjaannya Rena sementara dia keliling lagi. Kasihan aja kalau sopirnya disuruh bawa belanjaan sebanyak ini, apalagi Renanya masih mau tambah tentengan."


"Lo masih mau istirahat?" Satya merebut semua tas belanja dari tangan gue. "Lo agak pucat. Lagi nggak enak badan? Capek banget nemenin temen lo itu, ya?" Satya berjalan mendahului menuju bangku tadi. Mau-nggak mau gue harus mengikuti dia, karena dia bawa semua belanjaan Rena.


"Udah biasa kayak begini. Saya cuma capek sedikit." Gue duduk di sebelah Satya. Dia sibuk merapikan tas belanjaan yang tadi gue angkut asal-asalan. Kita diam sejenak. Gue kira dia bakal langsung pamit, ternyata nggak. Dia malah nemenin gue. Hhh.. Segitu pengennya ketemu Rena, ya?


"Deb!"


"Ya, Kak?"


"Ngomongnya santai aja, dong! Gue nggak enak lo pakai 'saya' begitu," Satya garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal. Tumben banget ada kakak kelas yang nggak senioritas.


"Oke."


"Temen lo masih lama baliknya?"


Gue noleh ke arah kerumunan yang mulai berkurang. "Masih kayaknya." Gue sudah terlalu sering lihat Rena kena masalah seperti itu, dan gue nggak ambil pusing. Dia punya Pak Anton yang merangkap sebagai bodyguard-nya. Kalaupun gue ikutan nyela, jadinya malah gue yang masuk rumah sakit.

__ADS_1


"Lo nggak nengokin temen lo di sana?"


Gue ketawa renyah. "Dia itu pemegang sabuk hitam. Gue lebih aman kalau duduk diam di sini."


"Oooh.. Gosip itu ternyata benar, ya? Gue dengar dia banting wakil ketua OSIS kita."


"Seriusan!?" cicit gue kaget. Kalau yang ini, gue nggak tahu. Apa itu alasannya Ketos nyari dia?


"Eh, ada yang jual minuman promo! Lo mau nyoba?"


"Gue udah bawa minum," gue pamerin lagi botol minuman gue ke Satya.


Satya malah ngakak. "Tumben gue lihat ada yang hang out tapi bawa minuman sendiri!" Satya mengisi air matanya setelah puas tertawa. "Tunggu di sini! Gue traktir lo," perintahnya dan langsung ke stand penjual minuman yang dia maksud.


Gue ikutan garuk-garuk kepala. Gigih juga anak itu. Tapi kayaknya dia orang yang baik. Nggak ada salahnya ngasih nomor Rena ke dia dengan cuma-cuma. Lagipula, kalau Rena menolak, Rena tinggal tidak membalas pesan dari Satya. Beres!


Beberapa menit kemudian, Satya kembali dengan membawa dua gelas minuman. Dia berjalan hati-hati kembali ke sebelah gue. "Minuman dataaang!" Satya menyerahkan salah satunya ke tangan gue.


"Wah, maaf gue ngerepotin. Sampai ditraktir segala."


"Santai, bos! Gue juga minta maaf udah ganggu waktu istirahat lo, malah ngajak ngobrol."


"Nggak apa, bos!" gue ikut jawab ngasal. "Kak Satya emang ke sini mau belanja apa?"


"Pakaian dalam."


Gue cengak. Dia jawabnya tanpa ekspresi dan keluar enteng banget dari mulutnya, padahal kita lawan jenis dan baru kenal. "Mana hasil belanjanya?"


"Nggak jadi beli. Gue lupa bawa uang."


Lha? Bisa, ya, ke mall tapi lupa bawa uang segala? "Tapi beli minuman bisa?" tanya gue sangsi.


"Promo, Sis! Beli satu gratis satu," Satya nyengir kayak kuda. Tanpa sadar, gue jadi merhatiin bocah satu ini. Sepertinya dia anak yang easy going dan gampang diajak bergaul. Ceplas-ceplos pula, nggak membedakan kalau gue itu lawan jenis. Tumben ada laki model begini. Apa kalau di depan Rena dia bakal santai begini juga, ya?


Gue merogoh smartphone yang anteng di saku rok abu gue. "Kak, ini nomor Rena," gue nyodorin nomor telepon Rena yang terpampang di layar smartphone gue.


"Lo nggak punya pulsa?"


Lha? Kok pulsa?

__ADS_1


***


__ADS_2