BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Rumah Hantu


__ADS_3

Gue berakhir diboyong ke rumah Gilang sore itu karena satu dan lain hal. Ibu mengizinkan dengan suka rela anak gadisnya dibawa oleh laki-laki nggak berotak ini.


"Kuncinya mana, ya?" dia merogoh saku celananya, lalu saku kemejanya. "Gue lupa naruh kunci rumah di mana."


"Dobrak aja, udah!"


"Itu kayu jati asli. Kalau lo dobrak, bahu lo yang patah."


Gue menarik nafas panjang. "Lo naruh kuncinya di mobil, mungkin?"


Dia menggaruk-garuk dagunya. "Gue nggak bawa apa-apa ke mobil kecuali laptop."


Serius? Nggak bawa apa-apa? Entah kenapa, gue maju dan meraih gagang pintu. Saat gue dorong pintu rumahnya yang setinggi dua meter itu, pintu itu langsung terbuka.


Gue noleh ke Gilang yang nyengir. "Hehe, gue lupa ngunci pintu rumah," akunya.


"Lupa?"


"Yah, pokoknya pintu sudah terbuka! Ayo masuk!" dia melenggang masuk tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Gil, lo lupa ngunci pintu, loh!" gue mengingatkan.


"Udah biasa begitu," jawabannya malah buat gue makin khawatir. "Lo mau langsung ke ruang baca?" tanyanya sambil berjalan.


Kami melewati ruang tamunya yang bernuansa biru langit. Ruang tamu itu tampak kosong. Hanya ada satu meja panjang yang dikelilingi sofa. Sebuah jendela besar terbentang di kiri ruang tamu, memperlihatkan halaman depan rumah gue yang sederhana. Tidak ada pajangan apapun, padahal akan ramai rasanya jika ada tanaman di sudut ruangan dan beberapa lukisan di dinding.


"Gil, bahaya kalau lo lupa ngunci pintu rumah begitu," gue melanjutkan pembicaraan sambil mengikutinya. "Kalau ada maling, bagaimana?"


"Kasih aja maling masuk," sahut Gilang seraya terbahak. "Pintu yang itu!" dia menunjuk salah satu pintu. "Itu ruang baca gue. Kalau lo mau langsung ke sana, boleh. Kalau mau keliling rumah dulu, silakan. Tapi lantai dua dan tiga, kosong. Belum gue renovasi karena belum tahu mau gue pakai apa. Kalau lo ke sana, yang ada cuma debu."


"Seriusan gue boleh lihat-lihat?"


"Why not?"


"Semua ruangan tanpa terkecuali?" gue memastikan. Takutnya gue masuk ke kamar tidurnya dia, kan nggak enak.


"Sampai ke kamar mandi gue, lo boleh lihat. Santai aja!" dia berkacak pinggang. "Gue mau buat cookies sama jus dulu."


"Oke."


Setelah mendengar jawaban gue, Gilang langsung pergi ke arah dapur. Hanya ruangan itu yang tampak dari luar. Sepertinya dapur rumah ini dibiarkan sedikit ter-expose.

__ADS_1


Gue menimbang beberapa detik, ingin memasuki ruangan yang mana terlebih dahulu. Pintu yang pertama gue buka adalah pintu kamar mandi lantai satu. Tidak ada yang spesial di sana. Ruangan itu hanya sebatas shower untuk mandi dan toilet duduk.


Pintu kedua adalah kamar tidur Gilang. Ada sebuah tempat tidur berukuran besar yang ditata di tengah ruangan. Perabotan di ruangan itu hanya sebuah meja kosong dan kursi. Lalu, ada pintu di dalam ruangan itu yang gue tebak menuju kamar mandi pribadinya.


Ruangan ketiga adalah pintu menuju ruang baca yang dia tunjukkan. Jadi gue lewatkan itu dulu. Gue menuju pintu kaca yang setengahnya tertutup gorden. Begitu gue membuka pintu itu, ada sebuah halaman yang sangat luas membentang. Sayang sekali halaman itu tidak terawat. Hanya hamparan tanah kosong.


"Cemilan siap, Tuan Putri!" seru Gilang.


"Gil, lo nggak pengen menata rumah lo jadi lebih ramai?"


Gilang mengerutkan keningnya. "Gue perlu suasana tenang buat nulis."


Gue menghela nafas. "Bukan itu! Maksudnya, rumah lo ini luas tapi kosong. Gantung lukisan atau foto, kek!"


"Gue nggak suka selfie. Lukisan.. Gue nggak sempat beli."


Gilang menggiring gue ke ruang bacanya. Gue melongo saat melihat isi ruangan itu. Ruang baca Gilang bisa dikatakan ruangan paling luas di lantai satu ini. Di seluruh dindingnya tertanam rak buku setinggi atap. Lalu ada dua ruas rak buku lagi di tengah ruangan. Gue kagum melihat caranya menata dan mengumpulkan semua buku yang ada. Dari semua ruangan, hanya ruangan ini yang tampak berwarna, karena sampul buku yang berwarna-warni.


"Lo bisa pilih buku yang mana aja." Gilang melewati rak buku di tengah ruangan, lalu duduk di sofa berwarna hijau lumut yang diletakkan di bawah jendela besar. Tirainya terbuka, membiarkan sinar matahari masuk. Gilang membuka daun jendela. Angin sepoi langsung berhembus masuk.


Gue buru-buru mengambil salah satu buku karya penulis asing yang gue kenal, kemudian mengikutinya duduk di sofa. Ternyata sofa itu sangat nyaman. Empuk sampai rasanya bisa tenggelam di atasnya.


"Gue nggak ada waktu buat beli ini-itu. Kerjaan gue banyak. Gue lebih milih untuk tidur atau baca buku di waktu senggang gue."


Luar biasa.. Di usianya yang belum menginjak dua puluh tahun, dia sudah se-'tua' ini. Apa dia nggak pernah tahu bagaimana cara bersenang-senang?


Lha? Sekarang gue malah iba sama dia? Orang kepala batu kayak Gilang ternyata punya sisi yang bisa dikasihani juga. Gue kira dia sekedar remaja nyolot yang keras kepala.


"Orangtua lo, mana?"


"Udah nggak ada." Gilang menyodorkan segelas teh hangat ke gue. "Ini teh aroma melati, buat Neng Kunti yang paling baik sedunia!"


"Sial, lo! Malah ngatain gue kunti!" gue ikut ketawa. Gue menyeruput teh yang Gilang hidangkan. Aromanya sangat harum dan rasanya manis. "Pinter lo bikin teh."


"Tadi gue nyoba bikin jus. Tapi malah berantakan."


"Selama ini lo hidup kayak gimana, sih? Bikin jus aja nggak bisa?"


"Nggak musti bisa bikin jus, kan? Nilai hidup gue itu tergantung seberapa nyamannya hidup gue."


Gue mengangkat alis. "Lo macam guru agama." Gue nggak ngerti sama anak ini.

__ADS_1


"Lo bebas keluar-masuk rumah gue. Tapi bawakan gue masakan nyokap lo, ya?"


Oooh, ini tujuannya? Yah, nggak masalah, sih.. Selama gue bisa baca banyak buku. Sepadanlah sama masakan nyokap gue.


"Sebelum ini, lo tinggal di mana?"


"Jakarta."


"Jauh juga lo pindah?"


"Uang gue udah banyak."


"Hahaha," Terserah lo, dah mau ngebacot apa. Capek gue nanya. Maunya supaya akrab, makin lama malah makin keki.


Lama kami dalam diam. Gilang duduk santai di sebelah gue sambil membaca sebuah buku tebal yang bahkan gue nggak bisa baca judulnya.


Diam-diam, gue memperhatikan Gilang dari balik buku di tangan gue. Dia kurus banget. Pipinya tirus dan kulitnya sepucat hantu. Rambutnya hitam kelam, seperti tinta bolpoin. Bulu matanya ternyata panjang.


"Kenapa?" Gilang tiba-tiba mengangkat wajahnya. "Kenapa melototin gue?"


Otak gue berpikir untuk mencari alasan. "Gue cuma mikir, kenapa lo bisa kurus banget? Lo nggak makan yang benar, ya?"


"Gue makan kalau ingat." Gilang angkat bahu.


"Makan itu kebutuhan dasar hidup manusia, Gil! Lo harus makan setidaknya tiga kali sehari!"


"Gue bakal makan, kalau yang masak nyokap lo."


Ya, ya, ya. Nanti gue bakal bagi makanan ke anak ini. Tapi nggak tiga kali sehari juga, dong?


"Ngomong-ngomong, kenapa lo santai banget ngomong sama gue? Gue ini tiga tahun lebih tua daripada lo!"


"Tua aja bangga," cebik gue. "Itu, lo baca buku apa?"


"Hm?" Gilang mengangkat bukunya. "Lo nggak bisa baca judulnya?"


Gue meneliti tulisan yang tertera di sampul buku. "Astaga! Bahasa apa itu!?"


"Rusia."


***

__ADS_1


__ADS_2