BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Tetangga Baru


__ADS_3

Gue nengok ke rumah sebelah dari jendela kamar gue. Malam itu, hujan turun menyapa tanah. Tidak begitu lebat, namun kalau nekat nerobos, ya basah. Suara gemuruh petir membuat malam yang sepi menjadi ramai. Gue bisa lihat sebagian kecil bagian dalam rumah itu saat kilat menyambar sesekali. Rupanya beberapa jendela di rumah itu belum dipasangi tirai. Kebanyakan lampu ruangan di rumah itu padam.


"Nak?" Ibu masuk ke kamar gue sambil membawa sepiring apel yang sudah dikupas rapi, lengkap dengan jus jeruk dingin. "Masih belajar?"


Gue menunduk, mendapati buku latihan fisika gue terbuka di atas meja. Oh, iya! Tadi gue lagi belajar, sebelum akhirnya hujan dan perhatian gue malah teralihkan ke rumah hantu di sebelah. Sial banget, kamar gue adalah kamar yang jendelanya menghadap ke rumah itu.


"Makan cemilannya, ya! Biar perut kamu nggak jadi kosong." Ibu meletakkan piring penuh apel dan jus jeruk di atas meja belajar gue. Dia mengusap kepala gue. "Sudah jam sepuluh. Jangan belajar sampai terlalu larut!"


"Iya, Bu. Nanggung. Lagi sedikit aja." Gue melahap satu potongan apel sekaligus. Hm! Manisnya..


Ibu duduk di atas tempat tidur gue. "Ngomong-ngomong, Ibu sudah ketemu sama pemilik rumah sebelah tadi pagi," Ibu membuka obrolan.


Gue menoleh ke arah Ibu, menunggu bagaimana reaksi Ibu tentang tetangga baru kami yang menyebalkan dan angkuh itu.


"Ibu bawakan nastar keju," imbuh Ibu.


Hah? Ibu bawakan dia makanan? Buat apa? Dia orang kaya, kan? Pastinya dia langsung menolak nastar keju buatan Ibu gue yang nggak setara sama selera lidahnya.


"Dia langsung makan habis nastarnya," Ibu terbahak.


"Ma-makan habis?" tanya gue gagap.


"Ibu diundang masuk, lalu disuguhkan teh. Ternyata perabotan di rumahnya tidak terlalu banyak. Rumahnya hanya penuh dengan rak buku dan buku yang banyak sekali!"


Alis gue berkerut. Perempuan pesolek seperti itu, bukannya menata rumah dengan indah, tapi malah koleksi buku?


"Kayaknya kamu bakalan cocok kalau berteman dengan dia. Sama-sama hobi baca buku."


"Idih! Nggak mau!"


"Tapi waktu ketemu Ibu, dia orangnya baik, ramah, malah nawarin makan di sana."


Gue bergidik. Rupanya orang itu bermuka dua. Dia tidak seperti itu waktu gue berdiri di depan rumahnya. Cuma berdiri, loh! Tapi dia sewot minta ampun! Kayak gue bakal nyuri perabotan rumahnya. Emangnya cewek kerempeng kayak gue, bermuka pencuri, ya?


"Dia cerita kalau dia baru lulus SMA tahun lalu. Tapi nggak lanjut kuliah."

__ADS_1


"Tunggu, Bu! Dia baru tamat?" gue kembali ingat-ingat bagaimana tampang perempuan itu. Dia kelihatan terlalu dewasa untuk ukuran baru tamat SMA.


"Iya. Beda tiga tahun sama kamu."


Hmm.. Mungkin karena dia pakai make up yang tebal, jadi kelihatan lebih dewasa dari umur sebenarnya. "Lalu, kenapa dia nggak lanjut kuliah?"


"Sibuk, katanya."


"Sibuk?"


Ibu mengangguk. "Sibuk kerja. Dia dari SMP sudah menghasilkan uang sendiri karena nggak punya orangtua. Dia cerita, waktu dia akhirnya sendirian, dia kerja serabutan supaya bisa sekolah. Untungnya dia ada kenalan yang bisa bantu dia sampai akhirnya jadi terkenal seperti sekarang."


"Terkenal?"


Ibu menghela nafas. "Mungkin waktu kamu ketemu sama dia, mood-nya lagi jelek dan dia capek. Tapi sebenarnya dia orang yang baik, kok!" Ibu bangkit dari duduknya. "Habiskan cemilannya, lalu tidur, ya!"


"Iya."


Ibu berlalu dari kamar gue dengan menyisakan seribu tanda tanya di kepala gue. Jangan-jangan, yang kemarin gue lihat itu sebenarnya adalah artis! Wajar, sih, kalau artis jadi senewen waktu lihat gue yang bukan siapa-siapa nangkring di depan rumahnya. Dia, kan, harus jaga privasi.


Bicara tentang minta maaf, gue masih belum ketemu Satya. Di ekskul juga dia nggak nongol. Kata temen gue, dia lagi sibuk latihan basket. Selesai ekskul, gue samperin ke lapangan, eeeeh Satyanya sudah pulang. Apa biasanya dia memang sesibuk ini, ya? Sampai gue susah nyariin dia. Kemarin-kemarin gue ketemu terus sama dia.


Fix! Dia marah dan nggak mau ketemu sama gue. Waduh, kalau begini ceritanya, gawat, nih! Masa sebelum mati gue malah punya musuh?


Gue langsung menghubungi Rena. Gue harus cari info tentang mood Satya sebelum memutuskan untuk menghubunginya lewat telepon. Pada nada dering kelima, akhirnya Rena mengangkat teleponnya.


"Yaaaah?" suara Rena terdengar serak dari seberang.


"Ren, lo udah tidur?"


"Hmmm.. Siapa, nih?"


Wah, anak ini pasti angkat telepon tanpa melihat nama penelepon di layar smartphone-nya. "Debi, nih!"


"Kenapa, Deb, malam-malam nelpon?"

__ADS_1


"Tentang Kak Satya.."


"Kak Satya kenapa?" Rena terdengar menegang dari seberang. Jelas dia kepo gebetannya ada apa-apa.


"Lo chat sama dia hari ini?"


"Hmm.. Nggak. Dia nggak balas chat gue lagi setelah nanya kabar lo kemarin."


Gue berpikir sejenak. "Kira-kira, suasana hatinya lagi bagus, nggak?"


"Emang kenapa, Deb?" Rena malah balik tanya. "Lo ada masalah ama Kak Satya?"


"Mmm.. Gue kayaknya udah buat Kak Satya tersinggung, deh!"


"Tersinggung gimana?"


Yaelah.. Masa gue cerita hal ini ke Rena? Nanti dia sendiri malah jadi makin canggung kalau ketemu Satya. "Pokoknya ada masalah sedikit," jawab gue akhirnya. "Gue rencananya mau menghubungi Kak Satya, tapi masih ragu."


"Astaga, lo ragu buat minta maaf?" Rena berdecak dari seberang telepon. "Minta maaf itu nggak menurunkan derajat, Deb! Kalau lo emang merasa salah, apalagi sampai buat orang lain tersinggung, minta maaf aja!"


"Iya, deh, iya.. Sekarang gue telepon Kak Satya dulu."


"Ya udah, gue mau lanjut tidur. Kabari gue besok pagi di sekolah, ya!"


Gue menutup telepon. Benar kata Rena. Gue harus minta maaf. Satya jelas marah ke gue. Sikapnya yang berubah drastis setelah pertemuan terakhir kami, membuktikan perkiraan gue benar adanya.


Potongan terakhir apel akhirnya masuk ke mulut gue. Renyahnya buat mulut gue nggak bisa berhenti ngunyah. Jus jeruk gue habiskan dalam sekali minum. Perut gue sudah terisi full lagi. Artinya sudah waktunya gue pergi tidur.


Gue menimang-nimang smartphone di tangan gue. Perasaan gue gundah gulana. Hujan di luar jendela semakin lebat, membuat suara riuh. Gue nggak ngantuk sama sekali.


"Astaga, Deb! Lo tinggal telepon Kak Satya, terus minta maaf! Kenapa jadi gugup begini?" protes gue pada diri sendiri. Lucu aja, gue malah mikir ini-itu, padahal belum bicara apapun ke Satya.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Apa Satya masih bangun, ya? Kalau nanti gue nelpon, ternyata dia sudah tepar? Jangan-jangan malah tambah marah sama gue? Nggak jadi baikan, dong?


Gue menghela nafas panjang. Mencoba menenangkan pikiran yang jadi mumet sendiri. Memang lebih baik kalau gue bicara langsung sama Satya. Besok sebelum ke rumah sakit buat kontrol, gue bakalan cari dia sampai ketemu. Bila perlu, gue bakal pantengin dia di depan gerbang sekolah. Gue nggak boleh sampai kehilangan jejaknya lagi dan membiarkan masalah ini jadi berlarut-larut.

__ADS_1


***


__ADS_2