
Gue menghirup udara pagi yang dingin. Embun masih turun di sekitar gue ketika gue ke luar rumah. Sinar matahari pagi sudah menghiasi ufuk timur dunia. Gue memakai kupluk untuk menjaga telinga gue tetap hangat. Waktunya jalan-jalan pagi.
Jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Hanya ada beberapa keluarga yang sudah memulai aktifitas mereka. Sebagian lainnya masih berada di peraduan.
Besok, gue sudah bisa kembali bersekolah. Selama gue di rumah, Rena memenuhi janjinya dengan membawakan salinan dari semua catatan pelajaran yang sudah gue lewatkan. Tapi sembilan puluh persen catatan yang dia bawa adalah hasil pinjam dari teman sekelas gue. Pintar anak itu!
"Lo jalan lamban amat?"
Gue menoleh ke belakang, agak kaget karena tidak sadar ada orang di belakang gue. "Maaf!" ujar gue pada laki-laki gondrong yang menggunakan masker. Tubuhnya tinggi banget! Kira-kira, gue cuma sebatas dadanya. Gue menepi, mempersilakan dia untuk jalan duluan. "Silakan!"
"Lo anak mana?"
Gue bengong ditanya begitu, lebih ke arah nggak mengerti maksud dari pertanyaannya. "Anak perumahan sini," jawab gue seadanya.
"Ya, nggak mungkinlah anak perumahan sebelah jalan-jalan sampai sini pagi-pagi buta begini," sindirnya. "Lo anak rumah nomor berapa?"
"Lo mau nyulik gue?"
"Buat apa gue nyulik bocah kurus macam lo? Nggak bisa dimakan."
Gue meneliti manusia mencurigakan yang berdiri di hadapan gue. Rambutnya yang panjang hampir menutupi matanya. "Kenapa lo pakai masker? Supaya nggak ketahuan waktu nyulik orang?"
"Aaargh!" dia melepas maskernya dengan sebal. "Gue nyasar! Puas lo!?"
Alis gue berkerut. "Nyasar gimana?"
"Tadi gue nyari minimarket karena gue kelaparan! Waktu mau pulang, gue lupa lewat jalan mana. Perumahan ini banyak ada jalan, jadi gue nggak ingat!"
"Emang rumah lo yang mana?"
"Gue lupa nomornya. Pokoknya rumah besar yang serem banget!"
Waktu dia bilang begitu, rumah yang terlintas di pikiran gue adalah rumah hantu yang ada di sebelah rumah gue. "Lo tinggal sama istri lo yang bawel itu?"
"Istri? Lo mimpi, ya? Salah orang lo"
Gue cuma angkat bahu. Gue sendiri nggak mau bahas wanita angkuh itu pagi-pagi. Ternyata dia punya suami pikun begini? Pantas saja wanita itu stres dan jadi marah-marah sendiri.
__ADS_1
Tapi sepertinya laki-laki ini terlalu muda untuk jadi suami seseorang. "Gue antar pulang!"
"Yakin? Lo nggak bakal buat gue tambah nyasar, terus tiba-tiba lari ninggalin gue, kan?"
"Drama banget hidup lo!" sindir gue. Gue berjalan mendahului kembali menyusuri jalan yang tadi gue lewati. Dia mengikuti tanpa memberikan jarak. Ternyata benar takut kalau gue kabur ninggalin dia sendirian. Gue kayak mungut anak anjing.
"Udah gue bilang, cari rumah yang gampang gue ingat jalannya, malah nyari rumah di tempat begini! Sejam waktu gue habis buat mondar-mandir nggak jelas! Awas aja lo datang nanti, kerjaan lo nggak bakal beres!" gerutunya di belakang gue.
"Ngomel sendiri," gue balas menyindir.
"Ini masih jauh? Kenapa lo jalannya pelan banget? Gue harus cepet nyampe rumah, nih!"
Gue berhenti dan berkacak pinggang di depannya. "Lo lurus aja dari sini, nanti ada pertigaan lo belok kanan, terus ada perempatan lo belok kiri, lurus lagi dikit, nemu-"
"Astaga! Gue nggak ingat!" dia langsung menyerah.
"Ya sudah! Kalau nggak bisa ingat jalannya yang mana, lo diam aja dan ikuti gue!"
"Habisnya, jalan lo lamban amat! Gue harus cepet nyampe rumah!"
Gue geregetan sendiri sama laki-laki yang nyolotnya minta ampun ini. Gue berusaha keras agar emosi gue nggak sampai meledak. Ketika memandang wajahnya dengan seksama dan agak lama, gue merasakan ada yang familiar darinya.
Gue menghela nafas panjang. Kembali berjalan pulang. Gue berusaha keras untuk menutup telinga setiap kali dia ngedumel. Dia ini laki-laki, tapi mulutnya ada tiga, ya? Sepanjang perjalanan sama sekali nggak pakai rem. Nyerocooooss mulu.
Gue sengaja berhenti mendadak waktu dia ngedumel sendiri lagi. Dia menghindar di detik terakhir sebelum nabrak gue. "Lo kenapa malah berhenti mendadak!?" cicitnya, terdengar kesal.
Gue menunjuk rumahnya. "Yang ini rumah lo?"
Dia menoleh. Begitu sadar sudah sampai, wajahnya langsung sumringah. "Akhirnya sampai! Lo masuk aja, gue buatin teh hangat. Tapi lo nggak boleh di rumah gue lama-lama."
Hhh.. Ini pasangan suami-istri suka banget nyari perkara, ya? Siapa juga yang mau ke rumah hantu kayak begitu. "Nggak usah. Gue langsung pulang aja," tolak gue. Tanpa menunggu jawaban dari laki-laki nggak waras tadi, gue langsung beranjak dari hadapannya.
"Woi!" dia tiba-tiba teriak waktu gue mau masuk rumah. "Ternyata lo tetangga gue?"
"Ya terus?"
"Lain kali, anterin gue belanja ke swalayan depan, ya!"
__ADS_1
Gue memutar bola mata, sebal sendiri melihatnya. Waktu gue masuk ke rumah, ternyata Ibu sudah ada di dapur. "Ngomong ama siapa, Nak?"
"Orang sebelah." Gue duduk di meja makan, mengambil segelas air hangat dan menenggaknya banyak-banyak.
"Baik, kan, orangnya?"
"Uhuk! Uhuk!"
"Pelan-pelan minumnya, Deb!"
"Baik apanya!?" gue jadi sensi. Sekarang gue ngerti, orang itu bermuka dua! Dia ular berbisa yang siap memangsa gue! Niat gue buat minta maaf ke istrinya sampe menguap tidak bersisa saking kesalnya gue sama mereka.
"Nanti siang Ibu mau bawakan daging ayam kecap ke sana. Dia bilang, dia suka makanan manis."
"Debi nggak mau ikut!"
"Kenapa?"
"Nggak mau! Pokoknya nggak mau!"
Kak Dika masuk ke dapur. Rambutnya acak-acakan dan dia hanya memakai kolor. Matanya masih terpejam. Kak Dika membentur pintu kulkas sebelum akhirnya membuka mata.
"Pagi, Dika!" sapa Ibu. "Kamu lapar?"
"Haus, Bu," jawabnya dengan suara serak. Dia menggaruk-garuk kepalanya sambil mengerjap. "Bu, aku mau tidur sampai siang, boleh?"
Ibu tertawa mendengar Dika meminta ijin seperti itu. "Boleh, Nak! Gunakan waktu libur kamu untuk istirahat sebanyak mungkin."
Kak Dika langsung berbalik dan naik ke kamarnya lagi di lantai dua. Gue yakin, dia bakal melewatkan sarapan, hingga makan siang. Kak Dika kalau sudah tidur, ada gempapun dia tetap tidur pulas.
"Debi, kamu ikut ke sebelah, ya?
"Nggak mau, Bu!" gue tetep kukuh sama pendirian gue. Bisa mati berdiri gue kalau sering-sering ketemu sama mereka. "Debi mau main sama Rena siang nanti. Debi nggak ada waktu buat nengokin orang sebelah!" gue ngacir ke kamar.
Nggak jadi. Pokoknya gue nggak mau minta maaf sama pasangan sebelah. Tekanan darah gue bisa naik terus kalau bicara sama mereka. Ngomong seenaknya dan nggak menghargai ketulusan gue.
Daripada ngurusin mereka, lebih baik gue belajar seharian di rumah. Berhadapan dengan angkat lebih mudah ketimbang dengan orang-orang macam mereka.
__ADS_1
***