
"Tiketnya?"
Satya berbalik saat mendengar petugas pemeriksa tiket masuk, meminta tiket kami. Gue bergegas maju dan menyerahkan kedua tiket. Dalam perjalanan menuju kursi kami, tidak banyak yang bisa kami bicarakan. Bahkan kami menutup rapat mulut kami masing-masing.
Suasana menjadi canggung selama film berjalan. Saking tegangnya, gue sampai bisa mendengar suara popcorn tergilas gigi geraham gue.
Di tengah perjalanan film, gue memberanikan diri melirik ke arah Satya yang duduk tenang di sebelah kiri gue. Tanpa sadar, gue tersenyum melihatnya ketiduran. Mungkin dia lelah karena setelah sekolah usai, dia lanjut latihan basket.
Gue jadi memperhatikannya tanpa sembunyi-sembunyi lagi. Wajah tidurnya lebih polos dari anak anjing yang sering mangkal di depan poskamling kompleks perumahan gue.
Tiba-tiba saja, gue teringat Rena. Rena yang kini hidup di dalam debaran jantung gue. Rena yang membawa rasa sukanya sampai ke liang kubur.
Ada apa dengan gue? Kenapa gue malah berpikir hal-hal romantis bersama Satya? Kalau terus begini, gue nggak pantas sama sekali dikatakan sebagai sahabat, kan?
Kepala gue pening memikirkan ini sendirian. Gue ingin lari, sekaligus ingin mendekap Satya erat-erat. Namun, begitu Satya mendekat, debaran jantung Rena mengingatkan gue untuk menjaga jarak.
Gue nggak jago masalah perasaan. Gue bukan orang yang peka. Masalah pengamatan, gue amat sangat kurang. Jalan yang gue pilih, belum tentu tidak menyakiti pihak manapun.
"Lo lagi mikir apa?" Satya mendadak berbisik.
Gue mengangkat wajah yang sedaritadi tertunduk. Satya terbangun dari tidurnya. "Bukan hal penting."
"Kalau bukan hal penting," Satya meregangkan tubuhnya, "boleh gue tahu?"
Mata gue mengerjap. Sejak kapan Satya jadi kepo? Ngomong-ngomong, wajah baru bangunnya oke juga. "Nggak boleh."
Satya tidak menjawab, dan kembali memandang ke depan. "Gue ngobrol sama cewek-cewek tadi, karena mereka teman SMP gue."
Astaga! Urat malu gue rasanya mau putus karena terlalu malu!
"Gue nggak suka sama cewek yang terlalu menonjolkan bentuk tubuh seperti mereka."
"Sukanya yang gimana?" mulut gue nyerocos sendiri.
"Woi, kalau mau ngobrol, di luar aja!" seseorang nimbrung dari belakang kami. Jelas sekali kalau kami mengganggu penonton lainnya.
Gue dan Satya saling lempar senyuman kecut. Kemudian kami menyimpan obrolan kami untuk nanti. Di sisa film itu, gue tidak bisa konsentrasi. Satya juga terlihat gelisah di tempat duduknya. Kami memang duduk di sana, namun pikiran kami melayang jauh.
__ADS_1
Akhirnya, sembilan puluh menit yang penuh dengan perjuangan itu, berakhir. Gue berjalan beriringan ke luar gedung bioskop bersama Satya. "Sekalian makan malam, yuk?" ajak gue.
Sebetulnya, gue belum mau jika harus berpisah dengan Satya. Meskipun hanya semenit, gue harap bisa bersama Satya lebih lama lagi.
"Di sana ada makanan Jepang. Mau coba?"
"Boleh!" gue setuju.
Kami berakhir memesan semangkuk ramen dan katsudon untuk makan malam. Jam masih menunjukkan pukul enam sore. Mall tampak mulai ramai oleh muda-mudi yang berkunjung. Setelah memesan makanan, Satya tidak melepas gue dari jangkauan matanya. Meskipun gue memperhatikan ke arah lain, gue tahu bahwa Satya tengah mengawasi.
"Debi," panggil Satya, mencoba menarik perhatian gue agar tertuju padanya. "Soal pembicaraan kita tadi..."
Nah! Pembicaraan ini akhirnya tidak bisa gue hindari. Gue belum menyiapkan hati dan masih bingung. Tapi, mendengar Satya mengungkitnya, membuat hati gue senang.
"Tipe perempuan yang gue sukai..." Satya tersenyum, membuat jantung gue melompat-lompat kegirangan, "...seperti yang sedang duduk di depan gue."
Gue menahan mati-matian agar tidak tersenyum, tetapi percuma. Rasa bahagia memenuhi isi kepala gue. Mendapatkan dua kali pernyataan suka dari Satya, membuat akal sehat gue menghilang.
"Hei! Kalian berdua!" Gilang muncul entah dari mana, membuyarkan atmosfer yang tadi sudah susah payah dibangun Satya. "Lagi mau makan? Gue gabung, ya?"
"Kalau gue jawab 'nggak boleh', lo mau pergi dari sini?" tanya Satya.
"Baik." Sepertinya mood Gilang sedang bagus. Terakhir kami bertemu, dia menampar gue dan terlihat marah. "Lo lagi ngapain ke sini? Cuma makan doang?"
Gilang menggeleng. "Habis borong buku dan alat tulis. Terus, gue lapar. Malah ketemu kalian."
"Mana belanjaan lo?"
"Dibawa ke rumah sama asisten gue. Gue pulang naik taksi online nanti. Lo nggak percaya gue ke sini buat beli buku? Lo kira gue buntuti kalian?"
"Lo buntuti gue, kan?"
"Nggak!"
Gue memicingkan mata. "Iya. Lo buntuti gue."
"Aaargh! Memang apa salahnya!?" cicit Gilang yang akhirnya bicara jujur. "Gue merasa bersalah, jadi gue mau minta maaf. Tapi, lo malah langsung pergi ke rumah Satya."
__ADS_1
"Kenapa nggak nunggu gue pulang aja?" tanya gue nggak mengerti. Jalan pikiran Gilang memang tidak bisa ditebak.
"Nggak tahu. Gue spontan jadi ikut lo sampai sini."
Gue menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Semudah itu jawaban yang keluar dari mulutnya. "Lo udah pesan makanan?"
"Sudah. Ngomong-ngomong, kalian bicarakan apa?" Gilang kepo. Kami berdua hanya diam, karena sangat memalukan jika harus menceritakan apa yang baru saja terjadi. "Gue tebak, ya?" senyuman miring Gilang yang khas terukir di wajahnya.
"Lo mending bicarakan yang lain, deh!" usul Satya.
"Lo bilang suka sama Debi lagi, ya?" dia bicara seolah itu bukanlah hal yang penting.
"Iya!" tantang Satya.
Gilang menoleh ke arah gue. "Lo sendiri, masih bingung, karena masih menganggap jantung itu milik Rena?"
"Lo nguping?" gue makin curiga kalau dia mendengar semuanya.
Gilang bersandar pada kursi. Dia memandang gue dengan tatapan tidak percaya. "Debi, gue tahu kalau lo ingin menjadi sahabat yang baik untuk Rena. Lo menyesal nggak sempat berbaikan di saat terakhir. Itu lo jadikan alasan sebagai sebuah hukuman yang lo buat sendiri."
Di dalam hati, gue setuju dengan semua yang Gilang katakan. Gue memang mencari pelarian untuk semua masalah ini. Tidak ada jalan keluar lain yang bisa gue ambil. Rasa bersalah terus menghantui gue, begitu gue tahu bahwa Rena telah tiada.
"Sekarang kita buka-bukaan aja, ya, di depan Satya, mumpung orangnya ada di sini." Gilang membenahi posisi duduknya. "Debi, jawab yang jujur, ya!"
"Tergantung pertanyaannya," jawab gue dengan hati-hati.
"Kalau Satya didekati perempuan lain, gimana?"
"Nggak gimana-gimana," dusta gue.
Satya tertawa keras mendengarnya. "Bukannya cemburu?" dia tersenyum geli.
"Nggak usah buka kartu!" cicit gue kesal.
Gilang menghela nafas panjang. "Debi, jujurlah..." ujarnya dengan suara pelan. "Lo nggak usah sembunyi lagi. Jangan terus jadikan Rena sebagai alasan."
"Gue mau pulang." Gue langsung kabur. Gue bisa merasakan wajah gue menjadi merah karena desakan Gilang sedaritadi. Bukannya marah, gue malah malu dengan perasaan gue yang goyah.
__ADS_1
"Jangan lari!" Satya menarik tangan gue. Dia menarik gue sampai berbalik, tapi gue tidak berani mengangkat wajah. "Jangan pergi lagi, Debi... Rasa sukaku sudah tidak bisa dibendung lagi. Aku sayang kamu, Deb..."
***