BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Perpisahan


__ADS_3

Gue berlari menyusuri lorong rumah sakit yang sudah sangat gue kenal. Lorong dengan dinding putih dan beberapa petunjuk, seperti letak APAR, denah lantai satu, dan letak UGD.


Nafas gue tersengal, dada gue terasa nyeri, namun gue urung memelankan laju lari gue sebelum bertemu dengan orangtua Rena. Saat ini, mereka pasti merasa sedih dan marah.


Ketika tiba di ujung lorong rumah sakit, gue berhenti. Gue berusaha menghirup udara banyak-banyak, memenuhi rongga dada gue dengan oksigen. Tangan gue meremas jaket yang gue kenakan, mati-matian menahan nyeri di dada. Gue melihat dua orang paruh baya yang gue kenal.


Ayah Rena tampak rapi dengan setelan jas hitamnya, mungkin Beliau kemari langsung dari kantornya setelah mendapat kabar dari pihak rumah sakit. Sementara ibu Rena, hanya memakai piyama. Rambutnya tergerai dan wajahnya tanpa make up sedikitpun. Mereka berdua menoleh ke pintu ruang operasi berkali-kali.


"Debi?"


Gue menoleh mendengar nama gue disebut. Satya berjalan cepat menghampiri gue. Tampangnya berantakan dengan rambut acak-acakan. Dia masih mengenakan seragam tim basket, lengkap dengan jaket olahraga sekolah.


"Lo nggak apa? Wajah lo pucat banget!" tanyanya sambil memegangi lengan gue.


"Rena..." gue menjawab pelan. Gue masih berusaha mengatur nafas gue yang ngos-ngosan. "Rena... Gimana?"


Satya tidak menjawab. Dia hanya membalas tatapan gue dengan mata nanar dan agak merah. Sepertinya dia habis menangis. Kami saling membisu untuk beberapa lama. "Mau nyamperin orangtua Rena?" tanya Satya pada akhirnya.


Gue mengangguk saja. Satya langsung membantu gue agar dapat berdiri dengan stabil lagi. Begitu gue bisa mengatasi rasa nyeri yang menyiksa, gue kembali berjalan perlahan. Gue harus mengingat batasan diri gue. Nggak ada gunanya kalau gue masuk UGD sekarang gara-gara serangan jantung.


Ibu Rena menangis sambil terduduk. Kedua tangannya menutupi wajah cantiknya. Wajah cantik yang diturunkan ke Rena. "Malam, Oom, Tante!" gue menyapa. Orangtua Rena menoleh begitu mendengar suara gue. "Rena gimana?" tambah gue, walaupun gue tahu apa jawabannya. Gue hanya mau seseorang mengatakan bahwa Rena baik-baik saja, meski itu hanya bohong belaka.


Namun tidak ada jawaban. Tidak ada jawaban menenangkan seperti harapan gue. Tante Nami kembali menangis tersedu-sedu. Rasa perih yang dia rasakan menular merasuki tubuh gue.


"Masih di ruang operasi," jawab ayah Rena. Dia membenahi jasnya untuk menutupi rasa gelisah yang dirasa. Oom Reka mengusap keningnya lalu berkata," Debi, bisa bawa istri saya istirahat di ruang tunggu?"


"Aku tidak mau, Pa! Anakku sedang di dalam, berjuang untuk hidup! Mana bisa aku istirahat!?" Tante Nami tiba-tiba bangkit dan berteriak histeris ke arah suaminya. Oom Reka urung membuka mulut lagi, melihat keteguhan hati yang dipancarkan Tante Nami. Laki-laki itu sadar, tidak ada gunanya meminta istirnya mematuhinya saat ini. Mereka berdua sama-sama khawatir, sama-sama tidak bisa istirahat.


"Oom Reka sama Tante Nami sudah makan malam? Saya bawakan roti," Satya maju untuk menyerahkan bungkusan yang sedaritadi dia bawa. Namun tidak ada yang menerima. Tante Nami tetap menangis, sementara Oom Reka memandang ke pintu ruang operasi.


Gue memberi isyarat agar Satya mengikuti gue pergi dari sana. Satya meletakkan bungkusan yang dia bawa di sebelah Tante Nami tanpa kata-kata.


Ketika gue rasa kami sudah berjalan cukup jauh dari radius pendengaran orangtua Rena, gue membuka percakapan. "Gue belum tahu cerita lengkapnya. Ada apa sebenarnya?" tanya gue.

__ADS_1


Satya mengalihkan pandangannya. Tangannya bergerak ke belakang leher untuk mengusap tengkuknya. Baru kali ini gue lihat dia tampak bimbang. "Rena... Kecelakaan."


Tidak tahu kenapa, gue menangkap raut wajah bersalah dari Satya. Jawabannya yang singkat malah menambah kecurigaan yang gue rasakan. Tapi, gue memilih untuk menepis semuanya. Gue mau mendengar Satya menjelaskan secara langsung tentang apa yang terjadi. Kenapa Rena bisa sampai seperti ini. Bahkan, gue mau tahu apa alasan Satya tidak memberi kabar tentang Rena ke gue. Ibulah yang memberitahu bahwa Rena masuk rumah sakit dan Beliau ingin gue ikut mendoakan keselamatan Rena.


Sekilas, Ibu menceritakan bahwa kondisi Rena tidak baik. Dia ada di ambang maut. Rena menjalani operasi segera detik itu juga saat Ibu menelepon. Ditambah lagi, Ibu mengatakan tidak banyak yang bisa pihak rumah sakit lakukan. Rena masuk meja operasi karena orangtua Rena berkeras. Mereka yakin anak mereka bisa selamat jika pendarahan di kepala Rena dihentikan. Dokter penanggung jawab Rena bersedia melakukan operasi, namun tidak menjamin hasilnya.


"Ada apa, Kak?" gue jadi nggak sabar karena Satya diam seribu bahasa.


Satya menunduk lemas. "Rena kecelakaan karena gue."


Gue tercekat. Tenggorokan gue terasa sangat kering begitu mendengar pengakuan dari Satya. "Apa?" tanya gue, berharap telinga gue salah. Berharap Satya hanya ingin menenangkan suasana yang kacau.


Satya memijit keningnya. "Rena.. Dia tiba-tiba lari. Kejadiannya cepat banget. Lalu ada truk-" Gue memegang lengan Satya, memintanya untuk berhenti bicara. Rupanya Satya tidak sedang mengigau ataupun bercanda. Gue nggak sanggup membayangkan apa yang terjadi dari mendengar cerita Satya. "Gue minta maaf..."


Gue tidak tahu harus menjawab apa. Pikiran gue penuh dengan bayangan wajah Rena. Rena yang gue kenal selama dia hidup. Rena yang selalu menemani di saat-saat sulit sekalipun. Rena sahabat gue satu-satunya.


Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari tempat duduk karena kaki gue terasa lemas. Jantung gue berdebar tidak beraturan, pertanda bahwa bekerja lebih keras dari biasanya. Gue harus memberi waktu untuk jantung gue beristirahat. Kenyataan ini begitu tiba-tiba dan gue nggak bisa meng-handle-nya. Kepala gue ikut berdenyut nyeri.


"Lo baik-baik aja, Deb?" Satya memastikan. Dia ikut duduk di sebelah gue.


Gue harus menenangkan diri. Dalam keadaan emosi seperti ini, tidak baik jika mengambil keputusan. Bukan salah Satya kalau benar Rena tiba-tiba berlari. Bukan salah truk itu jika dia muncul tepat saat Rena mau melintas.


Tangan gue merayap masuk ke dalam tas, mencari pil yang harus gue minum di saat irama detak jantung gue tidak beraturan. Begitu menemukan pil itu, gue langsung menenggaknya. Gue menyandarkan kepala gue yang berat ke dinding, kemudian memejamkan mata. Dalam hati, gue terus memanjatkan doa agar Rena bisa selamat dan diberi kesempatan, seperti Tuhan memberi kesempatan hidup untuk gue.


Tadi pagi, gue masih bertemu dengan Rena. Gue masih melihatnya dalam keadaan hidup. Paras cantiknya tidak ternodai oleh apapun, sempurna seperti biasa. Sifat angkuhnya tidak berubah sedikitpun. Walaupun dia marah, itu masih bisa diperbaiki. Kesalahanku hanya akan menjadi bahan tertawaan kami nantinya. Gue terus berdoa, berharap Rena akan keluar dari ruang operasi dengan senyuman manisnya.


"Kalau Rena bangun nanti, gue bakal minta maaf sama dia," gumam gue putus asa. Gue teringat kata-kata Gilang yang meminta gue segera minta maaf pada Rena. Namun, karena ketakutan yang tidak mendasar, gue menundanya. Gue urung membuka mata, mencoba menyangkal kenyataan yang dihadapkan di depan gue. Gue mencoba tegar sekuat tenaga dan bertekad untuk tidak menangis. Kesadaran gue harus tetap terjaga hingga gue mendengar kabar mengenai keadaan Rena.


"Nak?"


Gue membuka mata mendengar suara Ibu. Luapan emosi sedih langsung menguasai diri gue. Gue menggigit bibir bawah gue, masih berusaha untuk tidak menangis.


"Nak, kamu nggak apa-apa?" tanya Ibu. Ibu masih mengenakan seragam perawat. Sepertinya baru menyelesaikan shift-nya. "Tenang, ya!" Ibu duduk di sebelah gue. Tangannya yang hangat membelai lembut kepala gue. Gue bisa merasakan kasih sayang yang begitu besar dari dirinya.

__ADS_1


"Malam, Tante Linda!" sapa Satya.


Ibu membalas sapaannya dengan senyuman simpul. "Satya, nggak pulang? Kamu daritadi di sini. Sudah makan?"


Satya tersenyuman sumbang. Dia kelihatan sedikit senang karena ada yang mengkhawatirkannya di saat seperti ini. "Sebentar lagi, Tan.. Mau nunggu kabar Rena."


"Sekarang yang bisa kita lakukan adalah berdoa. Rena sedang berusaha di dalam sana," ujar Ibu, seakan dapat melihat gundah yang gue rasakan.


"Rena akan selamat, kan?" gue memastikan. Tapi Ibu sendiri tidak berani menjawab. Tidak mungkin Ibu berani menjawab hal yang menyangkut masalah hidup dan mati seseorang. Untuk hidupku saja, Ibu masih harus berjuang mati-matian.


"Ayo, kita temani orangtua Rena! Mereka pasti memerlukan dukungan dari kita." ajak Ibu. Gue mengangguk setuju. Ibu membantu gue untuk berdiri, lalu kami berjalan beriringan menuju tempat orangtua Rena menunggu.


Tepat saat kami tiba, pintu kamar operasi terbuka. Seorang laki-laki berseragam hijau tua keluar didampingi perempuan dua puluh tahunan yang berseragam seperti Ibu.


"Orangtua Pasien Rena?" panggilnya agar orangtua Rena mendekat.


Kami semua mendekati dokter itu. Tidak ada satupun dari kami memulai percakapan. Kami diam, menunggu apa yang akan dokter penanggung jawab itu katakan mengenai Rena.


"Kami sudah lakukan sebisa mungkin. Namun cedera yang Rena alami sangat fatal. Kemungkinan Rena untuk hidup, tidak lama."


"Nggak mungkin, Dok!" bentak Satya. "Tadi waktu saya bawa Rena ke rumah sakit, dia masih buka mata waktu saya panggil! Rena nggak segawat itu!"


"Dik, dimohon tenang!" perawat perempuan di belakangnya maju. "Di sini rumah sakit, tidak baik bicara teriak-teriak begitu!"


Tante Nami ambruk bersimpuh ke lantai. Wajahnya pucat pasi. Kedua tangannya terkulai lemas di sisi tubuhnya. "Anakku.. Astaga.. Anakku.." gumamnya pelan. Dia dapat merasakan lubang besar yang muncul di dalam dirinya.


Gue meremas tangan Ibu. Kepala gue semakin terasa berat, sementara dada gue rasanya nyeri. Obat yang tadi gue minum ternyata tidak memberi efek apapun.


"Maaf, saya harus bawa Debi ke UGD," Ibu menyadari bahwa gue tidak baik-baik saja. Ibu langsung memapah gue menuju UGD.


Debar jantung gue yang memburu mendengung di telinga gue, terasa menyesakkan. "Bu... Sakit, Bu..." keluh gue seraya menahan rasa nyeri. Apakah akan lebih mudah jika gue menyerah?


"Ayo, ayo! Kita ke UGD! Bertahan sedikit lagi!" pinta Ibu dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Tante, saya bantu, ya?" Satya tiba-tiba berjongkok di depan gue. Gue tidak punya pilihan lain, selain menerima bantuan Satya untuk menggendong gue hingga ke UGD. "Debi," panggil Satya. Dia melirik sekilas ke arah gue. "Gue mohon! Tetap jaga kesadaran lo!" pintanya dan mulai berlari ke arah UGD.


***


__ADS_2