
Gue membuka mata dengan susah payah. Rasa kantuk yang luar biasa menguasai panca indra gue. Wangi obat langsung gue kenali begitu gue menghirup udara. Saat akan menelan ludah, ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan gue. Hidung gue terasa perih, sepertinya selang NGT terpasang melalui hidung gue. Mata gue mengerjap beberapa kali karena pandangan gue terasa kabur. Sudah berapa lama gue di rumah sakit?
Sementara mata gue berusaha memulihkan penglihatannya, pikiran gue kembali di saat gue terkulai lemas di atas punggung Satya. Gue berusaha bertahan untuk sadar waktu itu. Gue memandangi pipi Satya yang berwarna sawo matang karena terbakar sinar matahari. Wangi parfum yang bercampur keringat, masih jelas terpatri di penciuman gue. Punggung Satya yang lapang membuat gue merasa nyaman. Satya memang begitu, selalu menebarkan rasa nyaman di manapun dia berada. Suaranya yang berat, bahkan membuat rindu.
Deg, deg, deg, deg, deg!
Gue tersengal. Gue panik sendiri karena jantung gue tiba-tiba berdebar cepat, tapi kali ini tanpa rasa sakit.
"Debi? Sudah sadar?" seseorang masuk ke dalam tirai. Gue masih nggak bisa melihat dengan jelas. Namun suara itu, gue mengenalinya. "Dada kamu sakit?"
Gue berusaha menggeleng. Gue mengerjap beberapa kali lagi.
"Hmm... Tanda vital kamu bagus. Nadi kamu agak meningkat, mungkin karena kamu baru bangun?"
"Uhuk! uhuk!" hanya batuk yang keluar ketika gue mau menjawab.
"Minum dulu!" dia menyodorkan sesuatu ke mulut gue, yang kemudian gue sadari adalah sedotan. Gue meneguk air yang disuguhkan secara perlahan. "Pelan-pelan..." dia memperingati.
Mata gue akhirnya dapat melihat dengan jelas sekarang. Mbak Feli berdiri membungkuk di samping gue sambil memegangi gelas air yang tadi gue minum. Gue ada di ICU?
"Mbak akan kabari ibu kamu," ujar Mbak Feli sambil meletakkan tombol panggilan perawat ke genggaman tangan gue, "pasti ibu kamu senang mendengar kabar ini."
Setelah membelai kepala gue, Mbak Feli menghilang di balik tirai. Telinga gue seakan menemukan kemampuannya kembali. Gue mendengar suara monitor bersahut-sahutan kali ini. Tirai berwarna cokelat muda khas milik ICU membentang menutupi bilik gue.
Gue mencoba mengangkat tangan kiri gue. Sebuah selang infus dengan empat cabang tertempel di sana. Lalu, ketika mengangkat tangan kanan, selain menggenggam tombol panggilan, ada selang infus dengan enam cabang di sana. Sudah berapa lama gue di sini?
__ADS_1
Merasa tidak ada kerjaan selain mengedipkan mata, gue menghitung hembusan nafas gue sendiri. Tidak ada suara lain di sekitar gue selain bunyi monitor.
"Debi? Debi!" Ibu datang waktu gue menghembuskan nafas kelima belas. Air mata Ibu meleleh, membasahi pipinya. Perasaan gue aja, atau Ibu makin kurus, ya?
Tanpa kata-kata, Ibu membungkuk di atas gue, matanya meneliti wajah gue dengan cermat. Tangan Ibu menangkup pipi gue, rasa hangatnya menenangkan, sama seperti saat Satya menggenggam tangan gue. Sesekali Ibu mengusap air matanya.
"Anakku... Debi anak Ibu..." Beliau terus mengulang-ulang kata itu, seakan memastikan gue mendengarnya dengan jelas. "Sayang, kamu bisa lihat Ibu? Bisa dengar suara Ibu? Ada yang sakit?"
Gue berusaha untuk menggeleng. Melihat Ibu khawatir sampai menangis seperti ini, membuat gue merasa bersalah. Memang apa yang terjadi sampai gue harus ditangisi seperti ini? Biasanya Ibu tidak sampai heboh.
"Mau minum?" Ibu bertanya lagi. Gue menjawabnya dengan gelengan lagi. Ibu tersenyum, tidak hentinya membelai kepala gue. "Kamu harus segera pulih, Deb! Ada dua orang rusuh yang nunggu kamu di luar. Mereka sampai diberi peringatan sama satpam rumah sakit."
Rena? Apakah Rena yang menunggu di luar? Gue nggak peduli dengan seorang lainnya, tapi gue mau bertemu dengan Rena. Begitu melihat wajahnya, gue akan langsung minta maaf. Bila perlu, gue bakal sujud di depannya. Apapun akan gue lakukan untuk berbaikan kembali dengan Rena.
"Ibu lega kamu sudah sadar," Ibu mengucap syukur. "Ibu akan memberi kabar pada mereka bahwa kamu sudah sadar. Jadi, mereka bisa pulang untuk istirahat. Ibu akan segera kembali," pamit Ibu.
Hari ini, skip dulu, seperti yang Ibu mau. Gue bakalan nurut untuk banyak istirahat supaya kondisi gue segera membaik. Gue kangen sama langit biru, udara pagi hari, Abang cendol di depan sekolah gue, dan gue paling kangen sama bawelnya Rena.
Mata gue terpejam kembali. Bayangan-bayangan indah melintas di benak gue tiada henti. Perlahan tapi pasti, membawa gue kembali ke alam mimpi.
"Debi..."
Gue menoleh ke sumber suara. Seseorang berdiri memunggungi gue. Rambut panjangnya yang bergelombang langsung gue kenali. "Rena!" seru gue girang. Sekejap, gue bingung karena selang-selang dan kabel yang menempel di tubuh gue, menghilang. Sekeliling gue juga berubah. Gue berdiri di atas tanah yang tertutup rerumputan hijau dengan bertelanjang kaki.
Detik itu juga gue sadar, kalau gue sedang bermimpi. Tidak apa, meskipun di dalam mimpi, ini salah satu kesempatan gue untuk minta maaf pada Rena.
__ADS_1
"Rena!" panggil gue lagi, kali ini lebih keras. Gue berlari menghampirinya. "Rena, gue minta maaf!" ujar gue tanpa basa-basi.
Rena berbalik tepat saat gue hampir tiba di belakangnya. Dia membalas tatapan gue, namun pandangannya kosong. Wajah cantiknya yang sempurna tampak agak pucat. Mulutnya terkatup rapat.
"Rena? Lo masih marah, ya? Walau ini di mimpi, gue minta maaf, Ren..."
Rena tidak bergeming. Dia menatap gue tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Matanya yang indah terlihat sayu. Bibirnya tidak semerah seperti yang ada di ingatan gue. Rena berbeda dari biasanya.
"Gue mau ketemu lo..."
Rena menggeleng pelan mendengar permintaan gue. Dada gue terasa perih karena mendapat penolakan dari Rena. Gue sangat tahu bahwa perbuatan gue yang sudah buat orang lain menderita itu, salah.
"Ren..." gue memelas. "Gue mohon, beri gue satu kesempatan. Gue mau perbaiki semuanya. Gue nggak bisa lihat lo marah kayak gini."
Rena tidak menjawab lagi. Dia terus memandang gue dengan tatapan kosongnya. Rambut panjangnya bergerak lembut diterpa angin.
Tidak perlu diberitahupun, gue sadar sendiri bahwa apa yang gue lakukan akan sulit dimaafkan. Gue sudah menyakiti orang yang Rena sayang. Satya menjadi terpuruk karena gue nggak bisa menjelaskan dengan baik, apa sebenarnya yang ada di pikiran gue.
"Kalau bangun nanti, gue bakalan terus minta maaf sama lo, Ren!" gue bersikeras. "Bila perlu, gue akan cium kaki lo untuk mendapatkan kata maaf. Kita sahabatan sudah lama dan gue nggak mau berakhir dengan pertengkaran."
Rena mengedipkan matanya sekali, kemudian berbalik memunggungi gue lagi. Perlahan, keberadaannya memudar seperti uap yang menyatu dengan udara. Dalam hitungan detik, Rena hilang sepenuhnya dari pandangan gue.
Gue tersentak, kaget sendiri saat membuka mata kali berikutnya. Di hadapan gue terhampar langit-langit ICU. Bau padang rumput yang segar tergantikan dengan bau obat yang menyengat. Kepala gue berdenyut menyakitkan.
Apa itu barusan? Gue mimpi? Saking inginnya ketemu Rena, gue sampai mimpiin dia?
__ADS_1
***