
Gue terbangun karena mengenali bau khas yang memenuhi rongga dada gue. Mata gue mengerjap beberapa kali karena silau lampu. Kehangatan terasa menjalar dari tangan kanan gue.
"Kak.. Satya.." suara gue yang keluar malah seperti bisikan. Wajah Satya terbenam di dalam lipatan tangannya. Ternyata rasa hangat yang gue rasakan berasal dari genggaman tangan Satya.
Gue menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Badan ini rasanya lelah sekali, seperti habis berlari tanpa henti mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak sepuluh kali.
Gue menoleh ke sekeliling. Tempat yang sama. Ternyata gue berakhir di UGD lagi. Jam berapa sekarang, ya?
Tirai bilik ranjang gue tersingkap sedikit. Ibu muncul dari baliknya. Beliau kaget sejenak melihat gue balas menatapnya. Cepat-cepat dia menempelkan telunjuk di depan bibir. Ibu melangkah tanpa suara mengitari ranjang.
"Malam, Sayang!" bisik Ibu sambil mengecup kening gue. "Sudah enakan?"
Gue mengangguk. Gue nggak perlu penjelasan apapun. Ibu juga tidak memerlukan penjelasan apapun. Beliau akan lega begitu lihat gue sadar dan masih bernafas.
Ibu duduk di sebelah kiri ranjang gue. Tersenyum pada Satya yang masih terlelap. "Dia sampai ketiduran," Ibu kembali berbisik. Gue niat menjawab, tapi rasanya tidak ada tenaga yang tersisa, bahkan untuk mengeluarkan satu kalimat.
Hening menghampiri kami. Gue masih menunggu tenaga gue kembali, sementara dengkuran Satya membuat gue senyum-senyum sendiri. Ibu juga diam, memberikan waktu lebih banyak untuk Satya menikmati mimpinya.
Satya masih mengenakan seragam sekolah. Bau parfum dan keringatnya yang gue ingat tadi siang, masih bisa gue rasakan saat ini. Gue ingat, saat akan naik angkot untuk pulang, tiba-tiba saja dada gue nyeri seperti ditusuk seribu jarum. Rasa terbakar menjalar hingga ke punggung dan tangan kiri gue. Lalu, gue pingsan. Wajah terakhir yang gue lihat adalah wajah Satya yang panik.
Dia pasti tidak pulang setelah nganter gue ke rumah sakit. Gue bisa bayangkan bagaimana Satya kebingungan. Satya tidak pernah sendirian menghadapi gue yang nggak sadarkan diri. Masih untung dia bawa gue ke rumah sakit langganan gue. Dan untung lagi karena Ibu sedang shift sore.
"Astaga!" Satya tiba-tiba terlonjak, bangun dari tidurnya. Gue dan Ibu ikut kaget melihatnya bergerak mendadak. Gue hampir kena serangan kedua. "Maaf!" cicit Satya.
Ibu tertawa mendengarnya. Gue sibuk mengatur detak jantung gue agar kembali normal. "Nak Satya mimpi apa sampai kaget begitu?"
Satya tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya. "Mimpi kepleset, Tan."
Gue terkekeh pelan mendengar jawabannya. Ibu ikut tertawa lihat gue bereaksi. "Makasi, ya, kamu sudah bawa Debi ke sini. Berkat kamu, Debi selamat."
"Lain kali, saya akan antar Debi sampai rumah setiap pulang sekolah," tawar Satya.
"Bagaimana, Deb?" Ibu meminta pendapat gue.
__ADS_1
Gue menggeleng pelan. "Nggak..usah.. Bisa sendiri.."
"Gue nggak ada kerjaan lain selain pulang ke rumah selesai sekolah. Gue punya banyak waktu kalau cuma buat anter lo pulang," Satya berkeras.
"La..tihan?"
"Bisa gue atur waktunya. Lo tenang aja! Bila perlu, gue nggak jadi tim inti, yang penting lo aman!"
Hhh.. Begitu lagi.. Rasa bersalah dan marah langsung menyergap diri gue setiap ada yang bersikap begitu. Rena juga berkeras ingin antar-jemput gue sejak SD, padahal arah rumah kami berlawanan. Rena bahkan menolak ikut les karena tidak mau pisah dari gue. Rena mengorbankan banyak hal, terutama waktunya, hanya untuk jaga manusia macam gue.
Rasa bersalah dan marah yang sama juga gue rasakan begitu kata-kata Satya keluar dari mulutnya. Gue tahu, sangat tahu, bahwa mereka cuma khawatir dengan keadaan gue. Lalu apa? Nyawa gue nggak sepadan dengan waktu yang mereka relakan. Mereka harusnya bisa bebas menikmati masa remaja mereka.
"Nggak mau.. Gue bisa sen..diri."
Ibu mengusap kepala gue. Ibu pasti juga khawatir dengan keadaan gue, tapi nggak mau buat gue stres. Posisi Ibu jadi serba sulit karena gue. Semua salah gue. Gue bahkan nggak bisa jaga diri gue sendiri. Di saat begini, gue pengen banget menghilang. Melihat banyak orang susah, menjadikan kekuatan gue menguap dengan cepat.
"Tidak perlu setiap hari," Ibu menjawab. "Kalau Nak Satya senggang, Nak Satya bisa antar Debi pulang. Tapi kalau sibuk, tidak usah dipaksakan. Debi pastinya juga mau Nak Satya tidak terlalu merasa bertanggung jawab hanya karena kalian berteman. Dia juga berlaku sama pada Rena yang bahkan sudah dia kenal dari kecil."
Gue bernafas lega, senang mendengar Ibu menjelaskan isi hati gue dengan gamblang. Gue nggak mau dikasihani walaupun keadaan gue memang kasihan. Ya, gue memang sesombong itu, padahal sebentar lagi akan meninggal.
"Kamu nggak bawa tas belanja, Nak?" Ibu meraih bawaan Kak Dika dengan cekatan dan menaruhnya di atas meja. "Baju kamu sampai kena noda minyak."
Kak Dika tidak mengindahkan omongan Ibu, malah meluk gue erat-erat sampai sesak rasanya. "Adikku sayang, akhirnya kamu bangun! Mau makan? Haus? Mau apa? Bilang sama Kakak!"
"Mau.. Nafas.."
Kak Dika melepas pelukannya. "Bilang, dong!"
"Satya, sudah malam. Sebaiknya kamu pulang. Jangan buat orangtua kamu khawatir," usul Ibu.
Satya menatap gue lekat-lekat, seolah memastikan bahwa gue memang sudah melewati masa kritis. "Gue.. Nggak.. Apa.."
"Dika, ajak Nak Satya untuk makan malam dulu sebelum pergi!" Ibu menyerahkan dua bungkus nasi ke tangan Kak Dika. "Nak Satya, besok boleh tengok Debi lagi, itupun kalau Nak Satya tidak sibuk," Ibu menambahkan.
__ADS_1
Satya akhirnya pergi dengan tampang seperti anak anjing yang dibuang. Gue pengen foto dia waktu itu, sayang sekali rasa lelah menang melawan nafsu gue.
"Rena?"
Ibu duduk kembali ke kursinya. "Rena belum tahu kamu di sini. Tapi, handphone kamu terus berbunyi. Sepertinya Rena kirim banyak pesan. Beberapa kali nelpon juga."
"Ibu angkat?"
Ibu menggeleng. "Kondisi kamu stabil. Ibu rasa nggak perlu sampai buat Rena ke sini. UGD jadi heboh kalau dia datang."
Benar kata Ibu. Kalau Rena ke sini, UGD akan jadi penuh sesak oleh perawat ataupun penunggu pasien yang caper. Lebih baik tenang seperti ini sejenak.
Lagi, gue menghirup udara banyak-banyak. Bersyukur masih bisa bernafas, sekaligus marah pada diri sendiri karena menyusahkan orang lain. Jika setelah ini Satya merasa keberatan dan menghindari gue, gue nggak akan marah ataupun dendam. Kondisi gue memang nggak bagus. Gue bakal selalu merepotkan orang di sekitar gue. Ego gue yang buat gue bertahan selama ini. Ego untuk terus menikmati hidup.
"Wah, sepertinya ada ribut-ribut di luar. Ibu lihat sebentar, ya?"
Sayup-sayup, gue memang mendengar suara ribut di kejauhan. Namun, beberapa saat kemudian, suara itu menghilang, digantikan suara derap kaki dan roda ranjang UGD yang didorong. Ranjang itu berhenti tepat di sebelah bilik gue.
"Ibu ukur tensinya dulu, ya?" suara Ibu.
"Ini nggak apa-apa, kan, Sus?" seorang perempuan bertanya.
"Bu.. Lapar, Bu.." rengek seseorang yang suaranya sangat gue kenal.
"Aduh.. Kamu jadi lemas begini karena lapar?"
"Dia ini punya kadar gula darah yang rendah, Sus! Kadang suka lupa makan!"
Ibu berdecak. "Bukannya Ibu sudah bawakan makan ke rumah kamu? Kenapa nggak makan yang benar?"
"Lu..pa.."
Gilang! Itu suara si otak batu, Gilang! Jadi, dia yang buat heboh tadi? Dia lupa makan sampai lemas dan pingsan?
__ADS_1
***