BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Selisih Paham


__ADS_3

Rena menatap gue dengan pandangan dingin, terasa menusuk sampai tulang belulang. Di jam istirahat yang biasanya kami gunakan untuk makan siang bersama, hari ini berbeda. Rena tiba-tiba minta bicara empat mata sama gue.


"Ren, apa ada masalah?" tanya gue agak takut. Dia tidak banyak bicara seperti biasanya.


"Ada apa antara lo dengan Kak Satya?"


Gue menelan ludah dengan susah payah. Tanpa gue sadari, keringat dingin mulai muncul di pelipis gue. Suara gue nggak mau keluar.


"Lo ada rasa ama Kak Satya?"


"Nggak!" seru gue cepat. "Apa maksud lo? Gue nggak ada hubungan khusus sama Kak Satya, selain teman!"


Rena tidak langsung menjawab. Dia memandang gue tanpa berkedip, meneliti gerak-gerik gue. "Kak Satya berubah. Dia tidak seceria dulu. Dia bolos latihan, padahal minggu depan sudah pertandingan."


"Apa hubungannya sama gue?"


Rena memicingkan mata, keningnya berkerut curiga. "Dia berubah sejak kalian keluar dari perpustakaan."


Jantung gue terasa berhenti mendengar pengakuan Rena. Saking takutnya, mata gue nggak bisa berpaling. Benar kata Gilang, gue harusnya menceritakan semua pada Rena. Rena adalah sahabat gue, orang yang harusnya paling tahu apa yang terjadi.


"Gue nggak sengaja lihat Kak Satya keluar dari perpustakaan tempo hari. Lihat raut wajahnya yang aneh, gue nggak jadi nyapa dia. Lalu, nggak lama setelahnya, lo keluar dari tempat yang sama." Rena menyibak rambut panjangnya ke belakang punggung. "Gue nunggu selama ini, tapi lo nggak cerita apa-apa. Sementara lo asyik sama Gilang, Kak Satya semakin terpuruk."


"Hari itu, di perpustakaan-" gue memutuskan untuk menceritakan semuanya, "-Kak Satya bilang suka ke gue. Tapi gue nggak ada rasa sama dia."


Rena mendengus. "Gue sudah duga kalau Kak Satya ada rasa sama lo," ujarnya.


"Tapi kita benar nggak ada hubungan apa-apa, Ren!"


"Sejak kapan lo sadar?"


"Apa?"


"Sejak kapan lo sadar Kak Satya suka sama lo!?" bentak Rena.

__ADS_1


Gue mengatur degup jantung gue agar tidak memburu. "Bukan gue yang sadar, tapi Gilang."


"Gilang?" ulang Rena tidak percaya. "Pacar lo yang ngasih tahu lo, kalau Kak Satya suka sama lo?"


Gue menggeleng. "Gilang cuma bilang kalau Kak Satya naruh perhatian lebih ke gue. Tapi waktu di perpustakaan, Kak Satya sendiri yang menegaskan kalau dia-" gue urung menyelesaikan kalimat gue. Melihat ekspresi Rena yang sedih, membuat hati gue ikut merasa pedih. "Gue tahu lo suka sama Kak Satya, dan nggak main-main. Makanya, gue pacaran sama Gilang."


"Maksud lo, lo pacaran sama Gilang untuk menghindari Kak Satya?"


Gue mengangguk. "Gue rasa, dengan begitu, Kak Satya nggak akan punya rasa lagi ke gue."


"Bukan begitu caranya!" seru Rena. Dia tampak marah, kedua tangannya terkepal di samping badannya. Air mata mulai tampak menggenangi pelupuk matanya.


Semilir angin di siang hari itu terasa menyejukkan. Sinar matahari yang terik terhalang oleh rimbunnya pohon mangga yang tumbuh subur di taman sekolah. Sebenarnya, ini waktu yang baik untuk bercengkrama sambil bersenda gurau.


"Lo nggak ngerti perasaan ini. Deb," air mata mulai mengalir melewati pipi Rena. "Melihat orang yang kita sayangi terluka, itu lebih menyakitkan. Kak Satya yang terluka, di mata gue tampak begitu menyedihkan. Gue nggak suka hal itu. Kenapa lo buat Kak Satya jadi begitu? Apa salahnya?"


Gue maju beberapa langkah untuk mendekati Rena, tapi Rena malah menghindar. Gue nggak tahu apa yang harus gue katakan untuk membuatnya tenang. Rena terus menangis di depan gue.


"Kak Satya seolah kehilangan segalanya. Semua gara-gara lo nolak dia. Apa kurangnya Kak Satya? Gimana bisa lo pacaran sama Gilang dibanding Kak Satya? Kenapa lo nggak ngasih Kak Satya kesempatan untuk membuktikan kalau dia lebih berhak jadi pacar lo?"


"Itu bukan alasan!" Rena membentak lagi. Emosinya tampak jelas di mata gue. "Gue cuma mau Kak Satya bahagia, tapi lo merusak semuanya! Gue nunggu lo cerita, jadi lo bisa perbaiki semuanya, tapi lo malah asyik sama Gilang!"


"Ren, bukan begitu..."


"Gue nggak ngerti cara pikir lo!"


Gue menggigit bibir bawah gue. Dari awal, gue seharusnya menceritakan ini pada Rena. Gue bisa membuatnya mengerti kalau saja gue menjelaskan maksud dari tindakan gue. Rena tidak pantas menangis seperti ini.


"Sudahlah..." Rena mengusap air matanya. "Sekarang, lo nggak lebih dari perempuan yang nggak berperasaan! Terserah kalau lo mau nempel terus sama Gilang! Tapi jangan muncul di hadapan gue ataupun Kak Satya lagi!"


"Rena!" gue menangkap tangannya, namun Rena langsung menepis tangan gue. Dia melemparkan pandangan jijik sebelum berlalu dari hadapan gue.


Kenapa jadi seperti ini? Terakhir ketemu Rena, semua masih baik-baik saja. Kenapa di hari pertama gue kembali ke sekolah, malah terjadi hal buruk seperti ini?

__ADS_1


"Debi, lo ngapain di sini?"


Gue berbalik cepat, sebenarnya kaget karena tiba-tiba ada orang di belakang gue.


"A-ada apa?" tanyanya gagap. "Lo nangis? Kenapa?"


Gue mengusap pipi gue yang ternyata basah. Tanpa sadar, gue sudah menangis. Dada gue rasanya sesak, bukan karena sakit jantung gue kumat, tapi karena ada sesuatu yang mengganjal di dada gue.


"Nggak apa?" Satya meraih lengan gue dengan kedua tangannya. Hangat dan nyaman terpancar dari tangan Satya. "Lo mau ke UKS?"


Gue mengangkat kepala. Satya yang berdiri di depan gue, tampak cemas. Matanya agak merah, namun tidak menutupi wajah tampannya. Air mata gue jatuh tak tertahankan. Gue jatuh bersimpuh, kaki gue terasa lemas.


"Debi?" Satya berlutut di depan gue. Dia berusaha menjajarkan wajahnya dengan wajah gue agar pandangan kami bertemu.


"Kak, gue minta maaf..."


"Untuk apa? Lo nggak ada salah apapun sama gue."


Gue menggeleng pelan. Rasa sakit hati itu, pasti masih membekas di diri Satya. Gue nggak tahu, apa yang sudah gue lakukan sehingga Satya menyukai gue. Tapi, gue yang pengecut ini, memang tidak pantas ada di sekeliling orang-orang baik hati seperti Satya ataupun Rena. Mereka tidak pantas disakiti oleh orang macam gue.


"Debi, tenangkan diri lo dulu," pinta Satya. Dia mengusap kepala gue dengan lembut. "Bagi gue, lo nggak ada salah apapun ke gue. Lo nggak perlu minta maaf."


Gue cuma mau Rena bahagia bersama Satya, orang yang dia sukai. Namun semuanya kacau karena gue yang nggak berani bicara jujur.


"Gue ada di sini. Kapan aja lo mau cerita, gue siap jadi pendengar."


Gue terbuai pada kelembutan yang Satya berikan. Tangannya yang besar, selalu memberi perlindungan tak kasat mata. Suara beratnya yang ceria, membuat gue percaya apapun yang dia katakan. "Apa Kak Satya masih sakit hati?" tanya gue di sela isak tangis.


"Masih," Satya menjawab pelan. "Nggak mungkin gue bisa lupa sama perasaan gue secepat kilat."


"Maaf untuk itu, Kak..."


"Gue rasa bukan itu penyebab lo nangis?" terka Satya. "Tadi gue lihat Rena yang pergi. Apa kalian bertengkar?"

__ADS_1


***


__ADS_2