
Gue meninggalkan Ibu yang berdiri diam di pintu kamar ruang rawat inap gue. Hari ini, gue akhirnya bisa keluar dari rumah sakit. Tidak banyak pantangan yang dokter gue pesankan selama gue di rumah. Selain itu, gue mulai bisa olahraga ringan yang dinaikkan levelnya secara bertahan setiap bulan. Tidak lama lagi, gue bisa berlari.
Langkah gue berjalan cepat menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang lumayan ramai. Ketika tiba di pintu utama rumah sakit, gue melihat Satya dan Gilang berdiri di dekatnya. Mereka melambai bersamaan saat gue menghampiri mereka.
"Apa kabar?" Gilang meraih tangan gue. Air matanya mulai menggenang. "Lama sekali gue nggak lihat lo. Terakhir gue nengok, waktu lo belum sadar di ICU. Tapi setelah itu, Ibu melarang kami untuk datang lagi."
Oooh... Ternyata Gilang salah satu orang yang buat ribut di ruang tunggu waktu itu. Tapi, lama tidak lihat Gilang, rasanya dia bertambah dewasa. Penampilannya rapi seperti karyawan kantoran. Atau, dia sengaja berdandan karena mau ke sini?
"Lo jadi cantik," ujar Gilang sambil nyengir.
"Gue juga ngerasa kalau gue jadi cantik," jawab gue dengan nada angkuh.
"Ternyata lo tetap nyebelin, ya!"
Gue hanya menjawab dengan juluran lidah. "Yuk, berangkat!"
"Lo yakin bisa kuat?" Satya angkat bicara. Rasa khawatir yang dia sembunyikan membuat gue tenang.
"Kalau gue nggak kuat, ada kalian," gue menjawab dengan enteng.
Lalu, kami pun berangkat ke tempat di mana Rena telah dimakamkan. Sepanjang perjalanan, Gilang kepo bagaimana gue menghabiskan waktu selama masa perawatan. Kemudian, mereka lanjut bercerita mengenai diri mereka masing-masing selama gue nggak ada.
Desiran angin membelai pipi gue dengan lembut begitu kami tiba di sebuah pemakaman elite. Gilang dan Satya membimbing gue melewati beberapa anak tangga, menuju sebuah makam yang terletak di puncak. Tidak jauh dari kami, seorang petugas penjaga makam tengah memotong rumput, sehingga wangi rumputnya memenuhi udara.
Mata gue kembali mengarah ke depan, memperhatikan ke mana kami melangkah. Sebuah makam yang beratap tanaman rambat dengan bunga berwarna ungu, menjadi tujuan kami. Dari atas sana, gue bisa melihat sekeliling dengan jelas. Tempat seperti ini adalah tempat kesukaan Rena. Berada di puncak dan dapat melihat 'jauh'.
Gue menunduk, melihat sebuah makam yang sangat cantik, dilapisi ukiran bunga dengan warna emas. Batu nisannya bertuliskan nama panjang Rena, lengkap dengan foto dirinya.
Kaki gue lemas. Gue jatuh bersimpuh di depan makam Rena. Tanpa terasa, air mata yang sedaritadi gue tahan, tumpah begitu saja. Rasa rindu yang luar biasa besar, menyeruak keluar dari dada gue.
__ADS_1
"Rena..." rintih gue pelan. Rasanya sesak setiap kali menyebut namanya. Ingatan tentang Rena masih tergores jelas di pikiran gue. Bagaimana tingkah lakunya, caranya menyibak rambut ke belakang punggung, bahkan tawanya masih gue ingat. Tidak mungkin gue bisa melupakan Rena. Kami bersama sejak kecil, dan akan terus bersama sampai gue mati nanti.
Gilang ikut bersimpuh di sebelah gue. "Waktu itu..." dia membuka mulut, membuat gue mengatur nafas agar bisa mengontrol tangis, "...waktu lo cerita kalau Rena marah sama lo, gue menghubungi Rena."
Gue menoleh ke arah Gilang. Dia berhasil merebut perhatian gue. "Lo sempat bicara sama Rena?" gue meminta penjelasan.
"Iya," jawab Gilang pelan. "Gue bertanya apa masalahnya."
"Rena pasti marah lo nelpon dia. Gue kayak tukang ngadu," gue menggusap air mata yang terus mengucur.
Gilang menggeleng pelan. "Sebaliknya," jawabnya. Gilang mengusap makam Rena. "Dia menangis."
Kami diam. Dari sudut mata gue, gue tahu kalau Satya juga ikut mendengarkan dengan serius. "Kenapa Rena menangis?"
"Dia menyesal sudah bertengkar sama lo," Gilang bicara dengan tempo pelan. Hembusan angin membuat bulu kuduk gue berdiri. Gue menatap Gilang yang membelai makam Rena, seolah itu adalah Rena sendiri. "Rena menangis. Lama sekali."
"Dia juga bilang, akan minta maaf sama lo besoknya. Dia nggak mau persahabatan kalian jadi rusak hanya karena masalah sepele."
Foto Rena yang tertanam di nisan, berkilat memantulkan cahaya matahari sore yang semakin turun di ufuk Barat. Rena tersenyum di dalam bingkai itu. Dia memakai seragam sekolahnya. Gue ingat, itu adalah foto pertama yang kami ambil di hari pertama kami masuk sekolah menengah atas.
Gue tersenyum memikirkan bagaimana girangnya Rena kala itu. Dia berencana menaklukkan separuh laki-laki yang bersekolah di SMA Swasta Pelita sambil belajar mengambil alih salah satu perusahaan kecil milik ayahnya.
"Rena juga bilang mau minta maaf malam itu," Satya menambahkan, suaranya terdengar getir. Dia menahan air matanya.
"Rena adalah sahabat yang baik. Dia memang sempat marah, tapi itu hanya emosi sesaat. Dia tetap sayang sama lo." Gilang menepuk kepala gue, memberi semangat yang sangat gue butuhkan.
Gue kembali menangis sesenggukan. Kata 'seandainya' tidak berguna lagi. Rena telah pergi dari dunia ini. Gue nggak bisa memeluknya atau bicara dengannya lagi.
Satya melingkarkan sebuah pelukan di bahu gue, membiarkan gue kembali terbenam di dadanya. Rasa hangat menjalar memberi kenyamanan dan ketenangan. Di luar dugaan, jantung Rena berdegup kencang lagi. Wangi tubuh Satya yang harum membuat laju jantungnya semakin menggebu.
__ADS_1
Gue menarik tubuh karena merasa kepanasan. Satya malah membuat gue tidak sanggup melanjutkan tangisan gue. Konsentrasi gue buyar karenanya.
"Sudah tenang?" tanya Satya, mendapati gue berhenti menangis. "Sebagaimana lo sayang sama Rena, Rena juga sayang sama lo sebesar itu."
"Menurut kalian, apa Rena rela mendonorkan jantungnya buat gue?" akhirnya pertanyaan itu meluncur dari mulut gue. Sebenarnya pertanyaan ini mulai muncul di kepala gue sejak gue tahu kejadian sebenarnya.
"Kalau lo jadi Rena, dan di ambang kematian, apa keputusan lo?" Gilang malah memutarbalikkan keadaan.
"Gue rela," sahut gue cepat. "Gue rela ngasih jantung gue ke Rena."
"Begitupun dengan Rena," ujar Gilang lembut. "Lo nggak usah berpikir yang aneh-aneh. Rena orang yang baik hati."
Gue menunduk. Iya, Rena memang baik hati sejak dulu. Jantung Rena yang berdetak konstan ini, akan gue lindungi. Gue mau terus merasakan kehadiran Rena di sini.
Dalam hati, gue berbisik pada Rena. Meminta pengampunannya karena telah membuatnya sakit hati, berterima kasih karena sudah menjadi penyelamat hidup gue, dan mengungkapkan betapa rindunya gue padanya. Rena, sahabat yang tidak akan pernah tergantikan.
"Lo jadi mau ketemu sama orangtua Rena?" tanya Gilang.
Gue berpikir sejenak. Selama gue berteman dengan Rena, gue sendiri jarang bertemu dengan mereka secara langsung. "Gue nggak tahu cara ketemunya."
"Kemarin, gue dan Satya ke rumah Rena," jawab Gilang. "Kebetulan orangtuanya ada di rumah. Kita sudah minta mereka meluangkan waktu untuk ketemu sama lo hari ini."
"Jam berapa?"
"Sekitar dua jam lagi."
Masih ada waktu. Gue belum mau pergi dari sisi makam Rena. Gue masih kangen, walaupun gue cuma bisa melihat dirinya dari foto di batu nisan.
***
__ADS_1