BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Cerita di Balik Layar


__ADS_3

Otak gue berputar untuk mencari cara agar Satya mundur dan menemui gue diam-diam. Seorang perempuan sebaya gue melintas di depan gue. Langsung saja gue tangkap tangannya. "Mbak, saya bisa minta tolong?" tanya gue tanpa basa-basi.


Perempuan itu meneliti gue sejenak. "Minta tolong apa?" dia tampak hati-hati.


"Tolong bilang sama cowok yang pakai seragam sekolah itu," gue menunjuk ke arah Satya, "untuk tenang dan pergi ke taman rumah sakit. Bilang juga, dia akan menemukan jawaban di sana. Tapi, usahakan supaya tidak ada orang lain yang mendengar pesan ini, ya?"


"Cuma itu?" tanyanya memastikan.


Gue mengangguk. Perempuan itu menyetujui permintaan gue tanpa meminta imbalan. Dia langsung menghampiri Satya dan menyeretnya agar menjauh dari pintu masuk. Awalnya, Satya menolak dan meronta tarikan tangan perempuan itu. Ada sedikit cekcok mulut yang terjadi. Namun, akhirnya perempuan itu mampu membuat Satya mendengar pesan yang gue titipkan. Satya langsung berlari menuju taman rumah sakit.


Gue tidak boleh tergesa-gesa. Tidak boleh ada kecurigaan yang muncul, karena wajah gue dikenali di rumah sakit ini. Apalagi Ibu ada di balik dinding emergency. Kapanpun, Ibu bisa menyeret gue kembali ke kamar rawat inap. Pasti ada alasannya, kenapa sampai tidak ada yang boleh jenguk gue. Ini kesempatan emas untuk tahu apa yang terjadi.


Rasa hangat menerpa kulit gue, begitu gue menapakkan kaki ke luar gedung rumah sakit. Saat mendongak, mata gue mengerjap karena silau oleh sinar matahari yang terik. Udara segar yang bercampur dengan bau pepohonan, merasuki paru-paru gue, menggantikan aroma obat yang sudah melekat.


Belum selesai gue menikmati nikmatnya udara bebas, sebuah pelukan melingkar dari arah belakang. "Debi," bisik orang yang memeluk gue.


Gue menoleh, mendapati wajah Satya dengan mata terpejam dan kening berkerut. Air matanya jatuh membasahi bahu gue. Jelas sekali tangannya bergetar.


"Debi..." panggilnya sekali lagi. "Syukurlah... Syukurlah gue bisa lihat lo lagi."


"Gue baik-baik aja, Kak," jawab gue, mencoba menenangkan. "Kenapa Kak Satya jadi melankolis begini?"


Satya melepas pelukannya, lalu memutar tubuhnya agar kami saling berhadapan. Dia tidak malu menangis di depan gue. Bahkan tidak berusaha menghapus air matanya. Satya tidak langsung bicara, melainkan menikmati lekukan wajah gue. Tangannya menangkup pipi gue.


Debaran aneh mulai muncul di dada gue ketika gue membalas tatapan mata Satya. Matanya indah, seperti yang gue ingat. Rambutnya yang sedikit panjang, membuat Satya tampak sexy. Gue menunduk, ada rasa panas yang aneh. Namun, kali ini rasa itu bukan dari jantung gue yang gagal memompa darah, namun dari pipi gue. Rasa panas itu menjalar hingga ke telinga.


"Debi..."

__ADS_1


Suaranya yang lirih membuat bulu kuduk gue meremang. Jantung gue melaju lebih kencang berkali-kali lipat, seperti suara gendang bertalu-talu.


"Gue tahu, seharusnya gue menuruti permintaan Tante Linda untuk tidak datang ke rumah sakit. Tapi, gue nggak bisa. Gue selalu rindu, selalu mau mendengar suara lo lagi dan lagi. Rasanya bisa gila."


Rasa panas tadi, bisa gue rasakan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasa aneh ini, gue rasakan saat mendapatkan pernyataan cinta dari pacar pertama gue. Debaran kencang seperti ini juga, harus gue hindari agar jantung gue tidak kelelahan.


"Kak!" gue mendorongnya menjauh. Gue berusaha keras mengontrol detak jantung gue supaya melambat. Namun ternyata membutuhkan waktu yang lama. Bisa saja karena gue tidak pernah latihan mengontrol emosi lagi dan tidak minum obat untuk mengatur irama jantung.


"Debi, ada yang sakit? Lo ngerasa nggak enak badan? Kita ke UGD sekarang?" Satya ikut panik. Dia menggenggam lengan gue dengan erat.


Mata gue melirik tangan Satya. Tangan yang sehangat tangan Ibu. Nggak nyangka, gue bisa bertemu Satya secepat ini.


"Debi? Debi? Lo bisa dengar gue?"


Gue mengangkat wajah gue. "Kak, apa gue tampak pucat?"


Satya meneliti wajah gue. "Nggak," jawabnya.


"Bagaimana warna kulit gue sekarang?" gue ingin memastikan bahwa benar, gue baik-baik saja.


"Wajah lo agak merah. Lo demam?" Satya spontan meletakkan tangannya di kening gue.


Gue tidak menjawab, melainkan tetap memandang Satya, seolah menantang kerja jantung gue sendiri. Beberapa detik berlalu, jantung gue masih berdetak cepat.


Tapi, gue baik-baik saja. Gue meletakkan tangan gue di dada kiri, merasakan bagaimana cepatnya jantung gue bekerja. "Kak... Gue nggak pingsan," desis gue takjub.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Jantung gue, kalau bekerja secepat ini, biasanya bakal berimbas sama kesadaran gue," jelas gue dengan suara pelan. "Tapi, gue tetap sadar." Gue mengangkat tangan gue, melihat warna merah yang cerah di telapak tangan. "Warna tangan gue... Nggak pernah secantik ini."


"Gue senang lihat perubahan ini," Satya membelai kepala gue. Gue tidak lagi berusaha mengatur irama jantung gue, tetapi membiarkannya berdetak secepat laju kereta api. Gue menikmati kelembutan yang Satya pancarkan. "Gue terus menunggu waktu lo ada di ruang operasi. Sampai dipindahkan ke ICU pun, gue nggak mau lepasin lo dari pandangan gue."


Jadi, salah satu orang yang Ibu ceritakan tempo hari itu, adalah Satya? Sebegitu khawatirnya dia?


"Rena, mana, Kak?" gue teringat tujuan gue menemui Satya. "Gue nggak banyak dapat info tentang Rena dari pihak rumah sakit. Gue cuma tahu kalau Rena sudah tidak di sini lagi. Dia pulih lebih cepat daripada gue?"


Satya membuang wajah. "Dia sudah nggak apa-apa."


"Kalian jadian?" gue nanya langsung.


Satya kembali mengangkat kepalanya. "Kecelakaan tiga bulan lalu, lo mau dengar ceritanya?"


Saking senangnya bertemu Satya, gue sampai lupa kejadian penting beberapa bulan yang lalu. Benar, harusnya itu hal pertama yang gue tanyakan kebenarannya. Bukannya menanyakan apakah Satya jadian dengan Rena atau tidak.


Satya membimbing gue untuk duduk di bangku taman. Dia menghela nafas berkali-kali sebelum mulai bercerita. "Selesai pertandingan basket, gue pulang bareng Rena. Gue sudah punya firasat, kalau dia bakalan bilang suka ke gue. Sepanjang perjalanan, gue mikir cara untuk menolaknya tanpa buat Rena sakit hati."


Gue menelan ludah dengan susah payah. Jadi, Satya menolak Rena?


"Waktu sampai di depan gang rumah gue, Rena nembak gue. Dia mau gue jadi pacarnya. Tapi, gue bilang kalau gue suka sama lo dan nggak bisa nerima dia. Gue minta dia supaya berhenti berharap, karena nggak akan ada kesempatan," tangan Satya terangkat, menutupi wajahnya. "Rena... Lari. Dia nggak lihat kanan-kiri dulu dan langsung menyeberang. Lalu, truk itu-" suara Satya tercekat. Dia tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.


Gue ikut menunduk, memandangi kedua tangan gue yang saling bertaut di atas pangkuan gue.


"Gue minta maaf, Debi... Harusnya gue langsung kejar Rena waktu itu. Harusnya gue bisa bicara dengan benar, jadi Rena nggak perlu mengalami kecelakaan mengerikan seperti itu."


Saat menoleh, gue bisa melihat air mata telah meleleh dari mata Satya. Rasa penyesalan itu, pastinya akan membekas di diri Satya seumur hidupnya.

__ADS_1


"Kalimat terakhir yang gue dengar dari Rena adalah, dia ingin minta maaf karena sudah marah ke lo."


***


__ADS_2