BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Pendengar yang Baik


__ADS_3

Gilang duduk di meja makan dengan wajah ditekuk. Dia kesal karena gue goda tadi. Kue basah di depannya tidak tersentuh meskipun sangat menggoda. Gue duduk di depan Gilang, tersenyum meminta maaf, berharap marahnya cepat selesai.


"Ngambeknya nggak boleh lama-lama, Gil!" gue nyengir. "Nih, makan dulu!" sengaja gue dekatkan piring berisi kue basah ke arah Gilang. "Gue suapin?"


"Nggak usah!" sahut Gilang cepat. Dia langsung mengambil satu kue pukis lagi, dan melahapnya sekaligus.


"Apa lo bersikap begini juga waktu pacaran dulu?"


"Nggak! Karena nggak ada yang sejahil lo!"


Gue terkekeh mendengar jawabannya. Gue mulai menikmati menjahili Gilang. "Oke, gue minta maaf karena suka lihat wajah lo yang merah padam."


"Nggak usah diungkit lagi!"


"Hahaha! Iya, iya!"


Gilang mendengus. "Lo jadi cerita tentang sakit lo?"


Gue bersandar di kursi dapur Gilang. Menarik nafas sekuatnya, lalu menghembuskannya perlahan. "Jadi," gue memulai, "ini berawal dari terdiagnosanya gue mengalami cacat jantung saat di dalam kandungan."


"Dari dalam kandungan?" Gilang memastikan, seakan tidak percaya.


"Kata Ibu, sih, begitu. Gue selama di perut nyokap, 'kan nggak tahu apa-apa."


"Kalau lo tahu semuanya selama dalam kandungan, jadi cerita horror!" Gilang melahap kue pukis di depannya lagi. "Lanjut, Mbak!"


"Waktu gue lahir, nggak begitu berpengaruh. Gue cuma perlu beberapa kali kontrol. Gue bolak-balik ke rumah sakit untuk perawatan dan latihan tumbuh kembang." Gue bangun dari duduk, berniat membuat teh hangat. "Beruntung gue punya ibu seorang perawat. Ibu tahu apa yang harus dilakukan. Terkadang Ibu jadi panik, tapi itu bukan masalah."


'Teh ada di buffet atas."


Gue membuka buffet di atas gue, mengambil sebuah teh celup. "Teh apa ini?" tanya gue begitu tidak mengenali merk teh milik Gilang. Bacanya saja susah.


"Ini buatan luar negeri. Makanya rasanya beda dari teh di sini."

__ADS_1


Gue menghidangkan dua cangkir teh hangat dengan cepat. Kemudian kembali duduk. "Banyak kasus yang gue tahu tentang penyakit jantung bawaan," gue melanjutkan, sembari menyodorkan secangkir teh untuk Gilang. "Waktu kecil, kasus gue termasuk ringan. Tumbuh kembang gue nggak terlalu terganggu. Bahkan, gue termasuk beruntung karena otak gue berfungsi dengan baik. Tapi, waktu menginjak sekolah menengah pertama, sakit gue makin menjadi. Ternyata bukan hanya kebocoran jantung, katup di jantung gue juga nggak berfungsi dengan baik."


Gilang menyeruput tehnya. Gue jadi tergoda untuk mencicipinya juga. Rasa manis yang segar langsung terkecap di lidah gue. "Awalnya bisa hanya dengan obat-obatan dan beberapa kali operasi. Saat duduk di kelas sembilan, sebuah kenyataan yang pahit dihadapkan di depan gue. Dokter gue bilang, harapan hidup gue rendah. Dokter juga bilang, gue bisa meninggal kapan saja. Gue sudah menjalani operasi untuk mengganti katup jantung dan mengatasi masalah jantung bocor. Tapi ternyata Tuhan berkata lain. Masalahnya tidak sesederhana itu."


"Jadi, walaupun sudah operasi, lo tetap belum sembuh?"


"Begitu kata dokter. Karena hal itu, Rena berkali-kali mendapat kesulitan karena tiba-tiba gue henti nafas. Nggak semua orang ngerti cara bantuan hidup dasar kalau ketemu orang yang tidak sadar."


"Tapi Rena bisa?" tanya Gilang.


"Ya, cuma dia yang bantu gue kalau tiba-tiba gue pingsan. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Rena selalu menyelamatkan hidup gue."


"Dengan alasan itu juga, lo nggak mau mengakui kalau Satya sukanya sama lo?"


Gue menggeleng pelan. "Satya nggak boleh suka sama gue." Gue meneguk lagi teh hangat di cangkir. Tenggorokan gue terasa kering jika membicarakan Satya saat ini. "Rena, dia jatuh cinta dengan Satya pada pandangan pertama."


Gilang mencondongkan tubuhnya ke depan. "Gue pernah baca beberapa buku. Tebakan gue, jalan keluar dari sakit lo adalah donor jantung?"


Gue mengangguk lemah. "Itu satu-satunya cara saat ini yang dokter bisa berikan."


"Mencari pendonor jantung yang sehat bukan hal yang mudah. Seseorang harus mati agar jantungnya bisa diambil. Gue nggak mau berdoa untuk hal sekejam itu."


Gilang mengusap kepala gue. "Anak baik satu ini..."


Gue membalasnya dengan senyuman simpul. "Gue udah hidup terlalu lama. Sudah banyak pengalaman yang gue dapat. Tapi, rasanya masih saja ada hal yang mau gue lakukan."


"Itu manusiawi, Deb. Lo nggak bisa mengatur apa yang lo mau capai." Gilang memakan kue pukis terakhir. "Gue bangga punya teman yang suportif kayak lo."


"Makanya, selama yang gue bisa, lo harus bantu gue untuk menjaga jarak dengan Satya!"


Alis Gilang terangkat. "Tapi, kalau tiba-tiba gue ketemu cewek yang gue suka?"


Gue berpikir sejenak. Gilang menunggu jawaban gue, masih dengan tubuh tercondong ke depan. Gue ikut menyondongkan tubuh ke depan. "Nggak boleh!"

__ADS_1


"Apa?"


"Lo nggak boleh suka sama cewek selama gue masih hidup!"


Gilang tertawa mendengarnya. "Artinya gue bakal jomblo seumur hidup, dong?"


Gue tertawa bersama Gilang. Meskipun dia hanya bicara ngawur, tapi itu cukup buat gue senang. Gue nggak pernah berani mengatakan 'seumur hidup' semudah itu. Gue terlalu takut kalau besok, atau bahkan semenit lagi, gue bakal meninggal.


"Nggak apa untuk takut," Gilang seolah membaca pikiran gue. "Takut juga manusiawi. Lo cuma manusia biasa, Deb. Nggak usah terlalu memaksakan diri."


Air mata langsung menggenangi pelupuk mata gue. Selama ini, semuanya meminta gue untuk kuat dan tegar, sehingga gue sendiri tidak bisa menunjukkan rasa takut di depan siapapun, bahkan di depan diri gue sendiri.


"Gue punya banyak koleksi film! Kita nonton, yuk!"


"Gue harus istirahat, Gil!" gue mengingatkan.


"Mau tiduran di sofa ruang baca gue?"


Gue berjalan duluan ke ruang baca Gilang. Tempat itu membuat gue merasa tenang. Harum kertas dari buku-buku yang Gilang koleksi memenuhi ruangan. Beberapa buku memang nggak bisa gue baca, karena menggunakan bahasa asing yang nggak pernah gue pelajari. Ajaibnya, Gilang bisa sebelas bahasa asing. Otaknya itu pasti di-design khusus untuk menghafal bahasa, jadi tidak ada ruang untuk menghafal jalan.


"Halaman belakang lo, apa nggak mau diubah?"


"Jadi taman bermain?"


"Nggak seekstrim itu, Gil! Maksud gue, lo bisa tambah tanaman di sana. Isi rumput juga supaya lebih asri. Rumah besar begini, tapi nggak terurus. Uang lo ke mana aja?"


"Gue tabung dan investasi untuk masa depan yang nggak pasti."


Gue ingat kalau orangtua Gilang sudah tidak ada. Memang pilihan yang tepat untuk mengolah pendapatan dengan baik di saat dia ada di titik puncak. "Nanti gue bawa beberapa tanaman dari rumah gue. Rumput juga."


"Nggak usah repot, Deb!"


Gue menghempaskan diri ke atas sofa. Makin lama, tubuh gue makin tenggelam ke dalam sofa. Empuknya kelewatan! Mata gue terbuai dan jadi berat. Dari sudut mata, gue bisa lihat Gilang bersandar pada salah satu rak buku sambil membaca.

__ADS_1


Kepala batu itu, ternyata pendengar yang baik. Gue bahkan nggak perlu terlalu banyak bicara untuk membuatnya mengerti bagaimana keadaan gue sebenarnya. Tipe teman yang baik walau kadang buat gemes.


***


__ADS_2