
"Lo mau makan apa?" tanya Satya sambil melajukan mobilnya di jalanan kota yang ramai. Di hari Jumat ini, lalu lintas lumayan padat. Kami dalam perjalanan pulang dari rumah Rena. Gue akhirnya bisa mendengar sendiri bahwa orangtua Rena tidak keberatan kalau gue menerima donor jantung dari Rena.
"Gue mau makan daging," celetuk Gilang dari bangku belakang mobil.
"Gue nggak nanya lo," sahut Satya sebal. "Lo nyamber terus, kayak ikan lele."
"Ya, mau gimana lagi. Gue laper banget. Saking semangatnya bakal ketemu sama Debi, gue jadi nggak mood sarapan tadi," jawab Gilang dengan bahu terangkat.
"Salah lo sendiri," cibir Satya. "Deb, lo harus tahu gimana gilanya orang ini! Dia nangkring di sekolah kita dari jam pelajaran pertama, karena takut ditinggal ke rumah sakit."
Gue terkikik geli, mengingat Gilang memang orang yang buta arah. "Dia nggak tahu jalan, tapi takut naik taksi."
"Takut kenapa? Diculik?" Satya bertanya dengan wajah serius.
"Iya, dong!" sambar Gilang lagi. "Gue ganteng begini, pastinya banyak yang punya niat jahat kalau ada celah!"
"Lang, ngaca, gih!"
"Kalian kalau bertengkar, bisa tambah lapar," potong gue. "Terserah kalian mau makan di mana. Gue ikut aja." Sebenarnya gue sedang tidak ingin makan. Belakangan, nafsu makan gue nggak bagus. Tapi gue harus makan untuk penyembuhan luka dan meningkatkan status nutrisi gue, kan? Kata dokter, gue harus menjaga stamina, karena gue minum obat yang melemahkan antibodi gue. Sekalinya gue sakit, bahkan meski cuma flu biasa, akan berdampak buruk buat tubuh gue.
Kami berhenti di depan sebuah restoran steak yang lumayan terkenal. Gilang bertepuk tangan riuh seperti anak SD yang keinginannya terpenuhi. Dia sampai mau mentraktir kami makan sepuasnya di sini.
"Gil, lo beneran bisa habiskan semua pesanan lo?" tanya gue sangsi. Bayangkan saja, dia memesan dua porsi double sirloin steak, tenderloin steak, spaghetti, dan wedges potato.
"Gue nggak mau jadi tong sampah dari sisa pesanan lo," Satya memperingatkan.
"Habis, kok!" Gilang berkata dengan yakin. "Gue ke toilet bentar, ya!" pamitnya, kemudian buru-buru ngacir ke kamar kecil.
Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran. Tempat itu tidak begitu ramai, mungkin karena belum waktunya makan malam, sementara terlalu terlambat untuk makan siang.
"Kayak kencan, ya?"
Gue menoleh kaget mendengar komentar Satya yang mendadak di tengah keheningan kami. Gue melihat sekeliling lagi, memastikan siapa tahu maksud Satya ada pasangan di sekitar kami. "Ki... Kita?" tanya gue gugup, karena tidak melihat muda-mudi selain gue dan Satya di restoran itu.
Satya tersenyum simpul. "Supaya suasana hati lo enak, minggu depan mau pergi kencan sama gue?"
__ADS_1
"Ke-kencan?" Gue bisa merasakan rasa panas di pipi gue yang menjalar ke telinga. Satya memandang gue tanpa berkedip, sementara gue malah salah tingkah. "Kak Satya bukannya harus siap-siap buat ujian kelulusan?"
"Kalau gitu, mau belajar bareng?" Satya menopang dagunya dengan satu tangan. Senyumannya masih melekat di bibirnya yang indah, melengkung sempurna seperti bulan sabit.
"Pe-pelajaran kita beda, Kak."
"Gue bisa ajari ketertinggalan lo selama dirawat. Begini-begini, gue adalah guru yang baik."
Gue menelan ludah dengan susah payah. Astaga! Jantung ini juga nggak bisa santai! Gue jadi panik sendiri.
"Permisi, pesanan!" seorang pelayan menghampiri sembari membawa nampan yang penuh dengan pesanan kami. "Double sirloin steak, tenderloin steak, spaghetti, wedges potato, chicken steak, salad potato," pelayan itu mendikte pesanan kami. "Untuk minumnya, tolong ditunggu sebentar."
"Terima kasih," jawab gue dan Satya bersamaan sebelum pelayan itu pergi.
Tidak lama kemudian, Gilang kembali dari toilet. Tanpa banyak bicara lagi, dia melahap pesanan yang sudah tersedia di atas meja.
"Mau coba?" tawar Satya tiba-tiba, mengacungkan sepotong chicken steak ke arah gue. "Aaah!"
Spontan, gue membuka mulut. Tidak tahu kenapa, gue tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapat suapan dari Satya.
"Lo makan sendiri!" Satya bergidik jijik.
"Pelit amat lo! Gue juga mau nyoba chicken steak-nya!"
Satya mendorong pesanannya hingga dapat dijangkau sendiri oleh Gilang. "Silakan, Tuan Muda!"
***
Kata-kata Satya yang mengajak gue untuk kencan, terus terngiang di telinga gue. Degupan demi degupan yang membuat tubuh gue hangat, terus menghampiri.
"Debi?" panggil seseorang dari luar kamar gue.
Gue langsung tahu bahwa itu adalah Kak Dika. "Masuk, Kak!"
Kak Dika muncul dari balik pintu. "Lagi apa?" tanyanya, lalu berjalan mendekat.
__ADS_1
"Nggak lagi apa," jawab gue yang memang sedang melamun saja dari tadi. "Ibu sama Ayah masih diskusi masalah jadi pindah atau nggak?"
"Iya." Kak Dika duduk di sebelah gue. "Ayah mau mendukung pendapat kamu untuk tinggal di sini. Tapi, Ibu tidak. Kamu sendiri tahu, kan, gimana gigihnya Ibu."
Gue menghela nafas panjang. Ibu sama dengan gue jika sudah mengambil keputusan. Kami akan menjadi orang yang sangat keras kepala dan menyebalkan. "Kalau menurut Kak Dika, Debi baiknya gimana, ya?"
Kak Dika memilin rambut gue yang panjang. "Kakak mendukung kamu. Pindah dari sini bukanlah sebuah jalan keluar. Lagipula, untuk apa melupakan Rena? Bukannya lebih bagus kalau sakit hati yang kita bawa bertahan selamanya? Rena pantas mendapatkan tempat spesial di hati kamu."
"Kak Dika benar. Rena harus Debi ingat selamanya."
Kak Dika tersenyum mendengar jawaban gue. "Ngomong-ngomong, gimana perjalanan kamu sama Satya dan Gilang?"
"Mereka berantem terus, kayak bocah TK yang berebut mainan."
"Jarang, lho, ada teman seperti mereka."
"Oh, iya, Kak!" gue memutuskan untuk menceritakan sensasi-sensasi baru yang gue terima semenjak jantung Rena ada di tubuh gue. "Jantung Rena ternyata hiperaktif. Bukan dalam hal jelek. Jantung ini kadang berdebar nggak karuan kalau Kak Satya ada di dekat gue."
Kening Kak Dika berkerut. "Maksudnya?"
"Kalau Kak Satya megang tangan Debi, memperhatikan Debi diam-diam, atau meluk Debi, jantung Rena akan berdetak kencang banget!"
"Kamu deg-degan waktu di dekat Satya?"
"Bukan Debi, Kak!" gue mengoreksi. "Ini jantung Rena. Reaksi-reaksi itu timbul karena Rena naksir Kak Satya."
"Jangan bod-"
"Debi?" Ibu memotong pembicaraan kami. Beliau masuk ke dalam kamar gue diiringi Ayah. "Kami tadi sudah diskusi masalah kepindahan kamu."
"Debi mau tetap di sini, Bu!" sambar gue cepat sambil bangkit dari duduk. Gue mau melontarkan keinginan gue sekali lagi, sebagai tanda bahwa gue mengambil keputusan dengan mantap.
Ibu menoleh ke arah Ayah yang diam di belakangnya. Ayah mengangguk sekali, seolah menjawab pertanyaan yang terlontar dari mata Ibu. "Baiklah, Ibu mengalah," jawab Ibu pada akhirnya. "Ibu tidak jadi memindahkanmu ke luar kota ini."
Gue tersenyum sumringah, berterima kasih pada Ayah dan Kak Dika yang mendukung keinginan gue. Dengan begini, gue masih bisa terus hidup di sini dan janji kencan dengan Satya, bisa terpenuhi.
__ADS_1
***