BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Kakak


__ADS_3

Berkali-kali gue nengok ke arah pintu kamar ruang rawat inap gue, menunggu Rena datang. Baru tadi pagi gue dipindah ke ruang rawat biasa. Jika dalam dua hari semua pemeriksaan penunjang gue bagus, barulah gue bisa pulang. Gue juga sudah sangat bosan di rumah sakit. Pasien-pasien yang datang setelah gue bahkan sudah ada yang pulang.


"Mana anak itu!?" cicit gue sebal.


"Sabarlah.. Bentar lagi juga nyampe," sahut Satya. "Lo mau main monopoli aja kayak mau ngawas ujian tapi muridnya belum datang."


Pintu kamar ruang rawat gue tiba-tiba menjeblak terbuka. "Ren! Lama a-" kalimat protesan gue terhenti. Orang yang gue kira Rena, ternyata adalah orang lain. "Kak Dika?"


"Maaf aku baru datang sekarang," seorang laki-laki jangkung datang menghampiri ranjang gue. Wajahnya yang sudah tidak asing lagi menggambarkan raut khawatir. Dia melepas ransel dan menaruhnya sembarangan di dekat kaki ranjang. "Gue harus selesaikan beberapa kasus dan ternyata nyita waktu banyak banget!" dia memeluk gue dengan erat. "Kamu nggak apa-apa? Masih ada yang sakit?"


"Sekarang sudah nggak apa-apa, Kak," gue balas meluk. Sudah lama gue nggak ketemu Kak Dika secara langsung. Rasa rindu yang membuncah tertumpah semuanya begitu dia hadir.


"Ehem!" Satu berdeham, membuat kami ingat dengan kehadirannya. "Maaf, kayaknya gue ganggu, ya? Pacar lo sampai datang jauh-jauh ke sini."


Gue dan Kak Dika saling tukar pandangan, lalu terbahak bersama. Kita memang sering dikira pasangan sama orang-orang yang tidak mengenal kami.


"Lo siapa?" tanya Kak Dika. Dia menyilangkan tangan di depan dada.


"Kenalin, gue Satya. Gue teman sekolahnya Debi. Satu ekskul juga."


Kak Dika mengerutkan kening. "Udah lama lo kenal Debi?" tanyanya dengan nada angkuh. Gue tahu banget dia mau menyulut kemarahan Satya.


"Seminggu setelah MOS."


Gue mengerjap, kaget karena Satya masih ingat kapan pertama kali kami bertemu. Satya ternyata tipe orang yang perhatian sama hal-hal kecil, ya? Dari sikapnya yang cengengesan, sih, sepertinya dia memang jenis orang yang perhatian.


"Lo beneran cuma temen sama Debi, kan?" Kak Dika melingkarkan tangannya di bahu gue, mencoba mengompori Satya lagi. Gue, sih, berani taruhan kalau Satya nggak akan bereaksi apa-apa. Dia, kan, nggak ada perasaan apa-apa ke gu-


Satya mendadak berdiri. Raut wajahnya sama persis ketika dia marah dulu. Tatapan matanya yang setajam mata burung elang itu, kembali menusuk hatiku.


"Dia kakak gue," gue bersuara. Gue nggak mau Satya sampai marah lagi. Gue masih ada banyak keperluan sama dia selama gue sekolah. Gue juga belum balas semua budi baik dari Satya. "Dia kakak gue yang sekolah di luar kota. Kakak kandung."


"Ah! Nggak asyik lo, Deb! Padahal bentar lagi dia minggat!"


"Apa itu cara dia untuk ngusir laki-laki di dekat lo?" tanya Satya dengan mata menyipit penuh curiga.

__ADS_1


Gue mengangguk, sementara Kak Dika terbahak di sebelah gue. "Adik gue ini spesial. Gue harus menemukan orang yang spesial juga untuk dia."


"Sister complex!" sindir gue.


"Boleh, dong! Adik gue cuma satu. Gue harus jaga dia baik-baik, kan?" jawabnya sambil mengacak-acak rambut gue.


"Wah! Kak Dika!" suara Rena memekik dari pintu masuk. "Beneran Kak Dika!?" Rena berlari masuk dan langsung memeluk Kak Dika. "Astaga, Kak! Lama banget gue nggak lihat lo! Apa kabar?"


"Baik, dong! Apalagi setelah lihat Debi udah sehat, jadi tambah baik lagi!"


"Lihat gue nggak senang?" goda Rena.


Kak Dika mengamati Rena dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Lo tetap kerempeng, ya? Nggak enak dilihat!"


"Ih!" Rena menyarangkan sebuah tinjuan ke rusuk Kak Dika. "Deb, sorry gue baru nyampe. Tadi gue ngantri beli ini buat lo," dia menyerahkan sebuah kotak kue ke tangan gue. "Hai, Kak Satya! Lama nunggu?"


"Nggak, kok! Gue, sih, santai. Si Yang Mulia Tuan Putri Debi yang ngegas daritadi."


"Hue hak hehas!" protes gue dengan mulut penuh kue.


Kue yang Rena bawa enak banget! Dari rasanya, gue tahu kalau kue ini tidak mudah dicari, tapi Rena rela antri untuk gue. Uuuh, terharu gue!


"Jadi mainnya?" Rena duduk di kaki ranjang gue.


"Main apa?" tanya Kak Dika.


"Monopoli."


"Hahian hajah! Hue mau maham."


"Deeeeb! Telen dulu, Cantik!" cicit Rena.


"Bukannya tadi lo yang marah-marah karena Rena lama datangnya? Sekarang malah nggak mau main?"


Gue mendengus. Kesal acara makan kue gue diganggu. "Iya,deh, iyaaa! Gue ikutan!" gue nyerah.

__ADS_1


Sisa hari itu kami habiskan untuk bermain. Gue sampai lupa rencana gue buat belajar semua mata pelajaran yang terlewat selama gue dirawat di rumah sakit. Gue terlalu senang dengan kehadiran Kak Dika. Apalagi saat dia cerita bahwa dia bisa libur selama seminggu penuh dan bakalan nemenin gue terus di rumah.


Sebenarnya gue agak nggak enak sama Kak Dika, karena di usianya yang sekarang, harusnya dia sibuk mencari pasangan hidup. Tapi dia malah memilih untuk berada di sisi gue lebih lama lagi.


"Ibu biasanya jam berapa datang?" tanya Kak Dika saat semua sudah pulang. Hampir empat jam lamanya kami bermain. Rena dan Satya sampai ditegur oleh perawat ruangan karena tidak mengingatkan gue untuk istirahat, malah ngajak gue main sampai lupa waktu.


"Selesai shift," gue menoleh ke arah jam dinding. "Kalau hari ini. jam setengah sepuluh malam."


"Ibu nggak pulang?"


Gue menggeleng lemah, merasa bersalah juga pada Ibu. "Ibu pulang untuk ambil baju atau laundry pakaian kotor aja. Selebihnya di sini sama Debi."


"Malam ini biar gue yang di sini."


"Kak Dika nggak capek?"


"Ibu lebih capek." Kak Dika duduk di atas sofa sambil meregangkan tubuhnya. "Aku sebenarnya merasa bersalah sama Ibu karena ninggalin kalian berdua di rumah. Kalau tahu Ayah akan sesibuk ini, aku nggak akan pilih universitas yang jauh dari rumah."


"Tapi itu cita-cita Kakak! Udah bagus sebentar lagi terwujud. Kakak jangan ngomong gitu, dong!"


Ingin rasanya mengutuk diri sendiri karena selemah ini dan memerlukan bantuan dari banyak pihak. Tidak hanya Rena yang gue sulitkan, tapi Ibu, ayah, dan juga Kak Dika. Ditambah lagi, ada beberapa kejadian dengan keterlibatan Satya juga. Nambah terus hutang budi yang gue punya. Padahal gue cuma mau tamat SMA dengan nilai bagus. Hmm.. Ditambah ikut olimpiade matematika juga.


"Lo mau ikutan makan sate ayam?" Kak Dika mengacungkan smartphone-nya. Sebuah aplikasi pesan-antar makanan terpampang di sana.


"Kalau malam, Debi nggak boleh makan daging, Kak," jelas gue. "Tapi kalau ada es tehnya, boleh, deh! Pengen yang manis."


"Lo tadi udah makan kue, Deb! Nggak boleh makan manis lagi!"


Bibir gue manyun. "Iya, deh.. Es teh tawar."


"Nah, gitu, dong! Jadi adik itu memang harus nurut!"


Serah lo!


***

__ADS_1


__ADS_2