BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Latihan


__ADS_3

"Sini!" Satya melambai riang begitu melihat kami datang ke lapangan basket. Melihat wajahnya saat ini, sepertinya suasana hati Satya sedang baik.


"Siang, Kak!" sapa gue dan Rena bersamaan.


"Kalian duduk di sini, ya!" Satya memaksa kami duduk di kursi yang ada di pinggir lapangan. "Gue sengaja pinjem kursi sama anak OSIS buat kalian. Terus, jarak ini bakalan aman dari suporter yang lain, kan? Jadi nggak bakalan ada yang ngagetin lagi di dekat kalian. Dan teduh, pastinya!"


Gue mendongak, melihat sinar matahari yang terhalang oleh dedaunan pohon mangga yang rimbun. Lalu gue melihat kerumunan siswi-siswi yang berdiri di sisi lain lapangan. Mereka rela panas-panasan demi melihat tim basket berlatih siang ini. Gue rasa Satya benar. Semuanya akan aman kali ini. Gue juga sudah bawa obat tambahan kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Makasi udah mikirin Debi, Kak," Rena menjawab. Kali ini dia memasang senyum, walau masih agak kaku.


"Lihat gue latihan, ya!" pamit Satya. Dia kembali ke tengah lapangan, bergabung bersama timnya untuk memulai latihan.


"Lihat, tuh, katanya," gue nyenggol lengan Rena yang terkikik malu-malu.


Tidak diragukan lagi. Satya memang jago bermain basket. Sorak sorai penonton terdengar jelas dari seberang lapangan menyerukan nama Satya. Kakinya sangat lincah. Dia berkali-kali memasukkan bola ke dalam ring dalam sekali tembak.


Rena beberapa kali menjerit tertahan ketika Satya mencetak angka. Jelas Rena sampai lupa diri waktu kami menonton pertandingan semifinal Satya di GOR tempo hari. Penampilan Satya sangat mempesona.


Tapi Rena tetap duduk di samping gue kali ini. Gue tahu, dia menahan jeritan kagumnya agar tidak meledak-ledak. Matanya tetap awas memperhatikan gue dari samping. Tangan Rena menggenggam tangan gue, seolah tidak ingin terlalu larut dalam permainan basket Satya dan tetap tahu jika terjadi sesuatu.


Sahabat seperti ini tidak mudah untuk ditemukan. Mungkin karena kami telah berteman sejak kecil, Rena menjadi merasa bertanggung jawab dengan apa yang terjadi, walaupun itu bukan kewajibannya.


Gue jadi senyum-senyum sendiri melihat Rena yang menahan ledakan semangatnya. Seharusnya dia bisa menjadi seperti suporter yang lainnya. Berdiri dekat dengan lapangan dan melihat laki-laki yang dia sukai dengan jelas. Gara-gara gue, dia tertahan.


"Gila! Keren banget, Deb!" Rena geregetan sendiri. "Waktu final nanti, gue harus nonton pokoknya! Nggak bisa gue lewati pertandingan seseru ini!"

__ADS_1


"Iya, iya! Nanti kita nonton lagi."


Rena menoleh kaget. "Ah, maksud gue bukan gitu, Deb. Lo nggak boleh ikut lagi! Gue nggak mau lo kayak kemarin lagi!"


"Gue bakalan diam di tempat aman kayak sekarang. Lo nggak usah khawatir!"


Rena menggeleng tegas. "Nggak! Pokoknya nggak boleh! Cukup sekali aja gue lihat lo nggak bernafas kayak kemarin!" air mata Rena mulai tergenang di pelupuk matanya. "Gue frustasi, Deb! Gue nggak mau lihat lo kayak kemarin lagi!"


Gue menepuk bahunya yang kurus. Bagaimana ini? Gue nggak mungkin hidup dalam jangka waktu lama. Dokter pun tidak bisa memastikan berapa lama lagi waktu gue. Dalam sekejap mata, bisa saja gue kehilangan kesadaran atau jantung gue berhenti berdetak. Gue nggak bisa memastikan apapun, jadi gue memilih untuk tidak menjawab.


"Lo harus kuat, Deb! Demi gue!"


"Gue selalu kuat, Ren," gue memeluknya erat. Ternyata tubuh Rena lebih kurus dari yang gue bayangkan. "Astaga, Ren! Lo harusnya nonton latihannya Kak Satya! Jangan nangis, dong!"


Rena mengusap air matanya dengan punggung tangan. Pipinya sudah basah, membuat blush on yang dia kenakan sedikit luntur. "Deb.. Maskara gue, Deb.."


Hampir dua jam lamanya tim basket berlatih. Tenaga mereka semua akhirnya habis setelah pertandingan yang sengit dan seru. Gue lebih kagum lagi sama suporter yang sejak dua jam lalu nggak putus-putus bersorak untuk anak-anak tim basket.


"Ren, kayaknya saingan lo banyak, deh!" gue mengedik ke pinggir lapangan. Beberapa siswi menghampiri Satya yang tengah mengambil ranselnya. "Ternyata di lapangan Kak Satya banyak penggemar. Beda banget waktu di ekskul matematika.


"Gue nggak akan kalah dari mereka!"


Ya iyalah nggak bakal kalah! Seorang Rena Kinarum Adiningrat, perempuan tanpa cela dengan kekayaan berlimpah, siapa yang bisa bersanding dengannya?


"Yuk, samperin Kak Satya!" Rena buru-buru berdiri dan narik tangan gue. Dia melangkah pelan, sepertinya tidak mau sampai berlari padahal 'mangsanya' sedang dikelilingi predator lain. Mungkin ingin jaga image.

__ADS_1


Sahabatku satu ini benar sedang jatuh cinta. Dia mabuk kepayang dengan Satya, tapi terlalu berhati-hati agar Satya tidak tahu isi hatinya. Sepertinya Satya tipe yang baik pada semua orang. Dia tidak peka. Hmm, perjalanan cinta mereka tidak akan tercipta dengan mudah.


"Kak Satya tadi keren!" seru Rena, membelah percakapan siswi-siswi yang mengitari Satya. "Gue yakin sekolah kita bakalan jadi pemenang di pertandingan nanti."


Ketiga perempuan yang tadinya mengerubuti Satya melempar pandangan satu sama lain. Nyali mereka tampak ciut setelah melihat Rena.


"Kalian mau makan sore dulu?" ajak Satya. "Kalian pasti nggak makan siang dan langsung ke lapangan begitu kelas selesai."


"Gue mau!" Rena menjawab cepat. Gue bisa lihat dia sengaja ceria di depan siswi-siswi lainnya. Jelas saja yang lain jadi minder dan mundur perlahan. Wah, Rena bisa begitu juga?


Kami bertiga berjalan beriringan menuju warung nasi campur yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Satya bercerita panjang lebar mengenai bagaimana dia mendapat nilai sempurna untuk ketiga ulangan yang diadakan kemarin. Sementara Rena, kembali menjadi Rena yang biasanya-menikmati keindahan Satya dalam diam. Dirinya yang tadi berani, menghilang entah kemana.


Gue cukup menjadi pendengar di sana, seraya menjaga Rena agar tetap sadar dan tidak pingsan saking senangnya bisa makan bareng Satya. Andai saja Satya menjadi orang yang lebih peka, mungkin saja mereka sudah pacaran sekarang.


Tapi kalau semudah itu, jadi tidak seru. Gue nggak bisa melihat Rena kesemsem kayak orang bodoh. Kelakuan Rena yang seperti anak kecil yang mendamba mobil dengan remote control tidak akan pernah gue tahu.


"Kalian mau makan apa?" tanya Satya.


Kami berdiri di depan rak kaca yang penuh dengan menu makanan. Mata gue berkilat melihat kepulan asap tipis yang mengepul dari setiap hidangan. Bau harum menjerat perut gue. "Gue mau semua!"


"Deb, kontrol, Deb!" Rena mengguncang tubuh gue. "Kak, jangan kasih Debi kerasukan!"


"Apa, sih!? Gue cuma lapar!"


Satya terbahak. Dia pasti merasa lucu lihat gue kelaparan tapi tetap kurus kering. "Makan sebanyak yang lo mau! Hari ini gue yang traktir!"

__ADS_1


"Mantap!"


***


__ADS_2