
Gilang membantu Ibu merapikan meja makan malam ini. Dia memang harus melakukan itu setelah makan hampir seluruh jatah makan malam kami.
"Masakan Ibu memang yang paling enak!" puji Gilang sambil mencuci piring.
"Duuuh, Nak Gilang, nggak usah cuci piring segala!" hati Ibu sepertinya sudah benar-benar diambil oleh kepala batu satu ini.
"Ini saya lakukan sebagai ganti Debi. Supaya Debi bisa istirahat."
Wah... Pintar anak ini, ya!
"Ibu bersyukur kalau Nak Gilang menyukai anak Ibu. Nak Gilang orang yang baik dan bisa diandalkan. Sepertinya, kalian juga cocok, karena sama-sama suka membaca."
"Jelas, Bu! Kalau kita nggak cocok, mana mungkin kita bisa pacaran." Gue mendelik waktu Gilang melirik ke arah gue. "Besok ibu shift pagi lagi?"
"Iya. Berangkat jam setengah tujuh pagi."
"Untuk sarapan, biar saya yang buat," Gilang menawarkan diri. Gue langsung batuk-batuk mendengarnya.
"Jangan, Bu! Jangan kasih Gilang masak!" gue mencoba mencegah.
Alis Ibu terangkat. "Memang kenapa?"
"Dia nggak bisa membedakan mana gula, mana penyedap!"
Ibu tertawa mendengarnya. "Lama-lama juga pasti bisa membedakan."
"Debi lebih milih makan mie instan."
"Kasih gue kesempatan, dong!" sahut Gilang sengit. Rupanya dia tersinggung. Gue nggak akan lupa gimana dia menaburkan penyedap di atas jagung waktu manggang tempo hari.
"Iya, Deb. Kasih Gilang kesempatan. Jarang, lho, ada anak laki-laki yang mau masak," Ibu malah membela Gilang. "Besok kamu masak untuk Debi saja. Ibu tidak biasa sarapan kalau dinas pagi. Tapi, kalau ada sisa, pulang dinas Ibu makan."
"Siap, Nyonya!" Gilang memberi hormat, layaknya seorang prajurit. "Nah, sekarang Ibu istirahat, ya! Saya mau ngobrol sebentar sama Debi sebelum pulang."
Ibu kaget sendiri waktu melihat piring sudah dilap dan ditata rapi oleh Gilang. "Baiklah..." Ibu mengeringkan tangan, lalu melemparkan senyuman ke gue sebelum pergi ke kamarnya.
"Emang lo nggak sibuk?" tanya Gue ketika Gilang duduk kembali di depan gue.
"Kemarin, waktu gue ke Jakarta, itu untuk tanda tangan kontrak novel baru gue. Sekarang tinggal panen hasilnya aja."
Oh... Itu alasan Gilang potong rambut dan dandan rapi?
"Besok lo masih harus istirahat di rumah," Gilang bicara pada dirinya sendiri. "Gue harus apa, ya, supaya lo nggak bosan?"
__ADS_1
"Lo nggak harus ngapa-ngapain. Kasih gue tidur aja seharian."
"Nggak bisa gitu. Lo harus makan."
"Iya, gue bangun buat makan aja."
Gilang menyilangkan tangannya di depan dada. "Pokoknya gue bakalan bangunin lo buat sarapan, makan siang, dan makan malam."
"Gue bakal bangun kalau lapar," tolak gue.
"Kita kayak pengantin baru," Gilang terbahak. "Sayang, besok pagi aku yang buatkan sarapan, ya?"
"Jijik lo, sumpah!" gue lempar botol kecap ke arah Gilang. "Pulang, sana! Gue mau balik ke kamar!"
***
Gue membuka mata karena mendengar suara ribut dari lantai satu. Ketika melirik jam di dinding, ternyata masih pukul tujuh pagi. Gue meraba meja dengan asal, mencari di mana letak obat yang harus gue minum pagi ini. Begitu menemukan bungkusnya, gue duduk dan membuka satu pil.
"Darliiiiing!"
Gue hampir keselek obat gue sendiri. Suara itu, sudah pasti milik Gilang. Dia benar datang pagi-pagi begini?
"Debi, lo masih molor?" serunya dari lantai satu. "Gimana caranya ngidupin kompor?"
Gilang melakukan perintah gue. Dia berdiri diam di depan kompor sambil memeluk mangkok berisi adonan. "Gue udah diem," ujarnya kalem.
"Lo mau buat apa?" gue menengok adonan yang dia bawa.
"Lo cantik."
Gue mendongak, melihatnya nyengir memamerkan giginya yang rata. "Lo baru sadar?"
"Iya. Ternyata wajah baru bangun lo, cantik. Gue kira bakalan lihat surai singa."
Gue membantunya menghidupkan kompor. "Ini lo pakai air?"
"Iya."
"Lo mau buat apa? Goreng bakwan?" gue memastikan, karena adonan itu mirip dengan adonan bakwan. Gilang mengangguk lagi. "Gil, namanya juga 'goreng', yang dipakai itu, minyak!"
"Nggak bisa pakai air?"
"Ck ck ck," gue cuma bisa geleng-geleng kepala. Kalau kayak gini, bukannya istirahat, gue malah harus jaga Gilang supaya rumah gue nggak kebakaran. Gue merebut adonan dari tangan Gilang, menyecapnya sedikit untuk tahu kira-kira rasa seperti apa yang akan muncul. "Lo dapat resep ini dari mana?"
__ADS_1
"Youtube."
Setelah memastikan minyak di wajan sudah panas, gue minta Gilang mundur beberapa langkah. Gue nggak mau kalau nantinya gue ikutan kaget karena Gilang kaget terkena percikan minyak. Gue cuma buat tiga bakwan untuk permulaan. Jelas saja racikan Gilang harus diwaspadai.
"Nah!" gue mematikan kompor, lalu mengangkat bakwan yang sudah matang kekuningan. "Coba dulu!"
Gilang memperhatikan cara gue menyajikan bakwan di atas piring. "Boleh gue makan?"
"Lo buat ini memang untuk dimakan, kan? Atau lo mau ngeracunin gue?"
"Emangnya lo Putri Salju, sampe harus diracun segala?" Gilang memotong bakwan di depannya menjadi potongan-potongan kecil. Asap putih tipis menguar dari bakwan itu. "Hm!" Gilang tersenyum sambil mengacungkan jempol ketika satu potong bakwan masuk ke mulutnya.
Gue nggak langsung percaya dan memilih untuk ikut mencoba. "Wow!" Racikan Gilang ternyata benar enak! Sepertinya sarapan kali ini akan berjalan lancar.
Selesainya kami menggoreng habis semua adonan, Gilang duduk tenang di depan gue sambil menunggu nasi matang. Gue sengaja menanak nasi lebih banyak dari biasanya, karena nafsu makan Gilang yang seperti orang kesetanan tidak akan cukup hanya dengan porsi sepiring.
"Besok, gue harus pasang wajah gimana kalau bertemu Satya?"
"Seperti biasa aja."
Gue menunduk, tidak yakin bisa melakukan apa yang Gilang katakan. Terlalu berat rasanya tersenyum pada orang yang telah kita sakiti. Seakan gue nggak keberatan jika dia menangis dan gue bisa tetap tersenyum.
"Kalau nggak bisa, menghindar saja."
"Itu lebih mencurigakan," tolak gue. "Lo sendiri tahu, kan? Rena selalu nempel sama gue. Kalau tiba-tiba gue menghindari Satya, bakalan muncul tanda tanya baru."
"Kenapa lo nggak jujur aja sama Rena, kalau sebenarnya Satya suka sama lo? Tapi lo tolak karena lo lebih mementingkan persahabatan."
"Andai semudah itu..."
"Pertemanan perempuan kadang ribet, ya? Kalau gue, sih, ceplas-ceplos aja."
Gue mendengus mendengar pengakuan Gilang. "Lo kalau ngomong, kan, emang nggak pakai saringan!"
"Ngomongin soal saringan, gue mau teh," pinta Gilang tiba-tiba.
"Buat sendiri!"
"Lo kalau nggak mau buatin, gue laporin Rena tentang Satya, lho!"
Gue bangkit dari duduk dan memiting leher Gilang dengan gemas. Kepala batu yang seenaknya sendiri ini, harus diberi pelajaran! Gilang tiba-tiba menarik tubuh gue, hingga gue terduduk di pangkuannya. "Eh, bener kayak pengantin baru," dia cengengesan.
"Mimpi aja terus!"
__ADS_1
***