
Gue mengerjap beberapa kali. Dada gue terasa berat, seakan ditekan dengan beban seberat dua puluh kilogram. Kepala gue berputar, memicu rasa mual yang luar biasa. Gue rasa, baju gue jadi basah karena keringat yang terus mengucur.
Saat gue menoleh, Ibu bicara dengan tempo cepat kepada seseorang. Telinga gue berdenging. Gue nggak bisa memikirkan hal lain, selain berusaha keras untuk memenuhi paru-paru gue dengan oksigen. Sedetik kemudian, sebuah sungkup oksigen dipasang. Itu cukup membantu gue dalam bernafas.
"Bu.." panggil gue. Suara gue jadi serak saking keringnya tenggorokan gue.
"Iya, Nak?" Ibu duduk hingga pandangan kami sejajar. "Kamu pasti baik-baik saja. Tenang, ya! Kamu harus kuat!"
Gue mengangguk saja untuk menjawab. Mengeluarkan suara rasanya sama dengan lari lima kilometer tanpa henti saat ini.
Oke. Gue harus tenang. Ini bukan kali pertamanya gue berada dalam kondisi seperti ini. Gue sudah di rumah sakit dan ada banyak tenaga medis yang akan turun tangan untuk menyelamatkan hidup gue kali ini. Yang bisa gue lakukan hanya berdoa. Meminta pada Tuhan agar bukan hari ini waktu yang Dia tetapkan.
Gue bisa lihat dua orang perawat sibuk di sebelah gue. Satunya sibuk dengan infus dan yang lainnya sibuk dengan mesin EKG. "Siang, Mbak Dewi dan Mbak Nana!" gue maksa mengeluarkan suara.
"Siang juga, Debi!" balas mereka hampir bersamaan.
Seorang dokter muncul dari balik tirai. "Siang, Deb! Saya periksa dulu, ya?" izinnya.
Gue mengangguk. Dok Dita jelas sudah tahu riwayat penyakit gue, jadi dia nggak perlu bertanya terlalu banyak lagi. Tidak ada semenit dia memeriksa, dia melontarkan beberapa pertanyaan ke Ibu, lalu memberi instruksi ke perawatnya.
Tenang.. Gue harus tenang.. Gue bisa lewati ini semua lagi..
"Debi, buka mulut! Obatnya di bawah lidah, ya!" Mbak Nana menyingkap sungkup oksigen di wajah gue sedikit. Begitu gue membuka mulut, dia meletakkan satu buah obat di bawah lidah gue. "Sebentar Mbak ambil darah arteri. Suntikannya agak sakit. Nggak apa, ya?"
Gue senyum aja. Disuntik berapa kalipun, gue nggak keberatan. Gue cuma mau rasa sakit dan sesak ini cepat pergi. Lama-lama, gue jadi ngantuk.
"Nak, jangan sampai tertidur, ya!" suara Ibu membuat gue sadar. "Kamu harus kuat!"
"Bu.. Haus.."
Ibu merogoh tas yang ia bawa, lalu mengeluarkan botol minuman gue. "Pelan-pelan, ya!"
"Debi! Debi! Debiii!"
Astaga! Ratu cabe-cabean muncul rupanya. Maunya gue istirahat, tapi kalau ada Rena, yang ada malah heboh.
"Debi, lo nggak apa? Harus kuat, ya! Cepetan sembuh! Bangun, dong!"
__ADS_1
"Gue bangun, bawel! Lo ribut banget!"
Rena meluk gue sambil nangis. "Sorry, gue telat datengnyaaaa! Guru fisikanya nggak ngasih gue ikut lo ke rumah sakit! Padahal sisa lima belas menit aja!"
Gue jitak dia supaya otaknya balik ke porosnya. Jelas saja dia nggak boleh bolos pelajaran.
"Rena, jangan goyang-goyang, dong!" protes Mbak Nana sebal. "Ini Mbak mau ambil darah dulu."
"Darah saya aja nggak bisa, Mbak? Kasihan Debi disuntik terus."
"Ngawur kamu!"
Rena diam selama Mbak Nana mengerjakan tugasnya. Mbak Dewi datang lagi dan memasang beberapa selang ke infus gue. "Sabar, ya, Sayang. Obatnya sudah masuk. Pasti cepat membaik," Mbak Dewi membelai kepala gue dengan lembut. Gue balas senyum untuk berterima kasih.
"Habis ini kalau lo mau kue, sebanyak apapun, gue kasih, Deb!" Rena buka mulut lagi. "Please! Lo harus sehat lagi!"
Sehat lagi? Gue berharap getir. Gue malah nggak yakin gue bisa masuk kuliah atau nggak.
"Tadi ada PR fisika. Tapi gue bisa kerjain itu buat lo."
"Nggak mau!" jawab gue cepat. Nilai gue bisa anjlok kalau dia yang buat PR gue.
Gue menimbang keadaan gue sendiri. "Mendingan," jawab gue, setelah merasa nyeri di dada gue sudah jauh berkurang dan nafas gue nggak ngos-ngosan kayak tadi. "Udah gue bilang, kan? Gue tinggal mampir ke sini, semuanya beres! Lo nggak usah khawatir."
"Tapi.. Lo makin sering masuk rumah sakit."
"Silaturahmi."
"Mending lo silaturahmi bawa makanan."
"Rena, sudah makan siang?" Ibu menyela. "Tante belikan makan dulu, ya?"
"Duh, saya jadi ngerepotin," Rena basa-basi. "Biar Pak Anton aja yang beli makan buat kita, Tan!"
"Iya, Non!" sahut Pak Anton sigap.
Ibu menepuk lengan Pak Anton. "Biar saya saja. Saya titip lihat anak saya dulu, ya, Pak!"
__ADS_1
Gue menyesal di saat begini, gue malah pintar baca raut wajah. Ibu pakai alasan beli makan siang, padahal air mata sudah tergenang di pelupuk matanya. Yah.. Ibu mana yang sanggup lihat anaknya sekarat seperti ini.
"Ren, lo nggak jadi ketemu ama Kak Satya?"
"Astaga, Deb! Lo lagi kayak gini malah mikirin Kak Satya?" Rena balas jitak kepala gue. "Urusan Kak Satya bisa nunggu. Gue cuma punya lo, jadi nggak mungkin gue bisa tenang sebelum tahu lo baik-baik aja."
Dok Dita kembali masuk ke bilik gue. "Debi, kamu kecapean, ya?" tanyanya, ikutan nimbrung.
"Saya banyak belajar supaya dipilih jadi peserta lomba," aku gue.
"Nggak baik terlalu maksa dengan kondisi seperti sekarang, Deb," Dok Dita memberi nasehat, walau dia tahu gue pastinya sudah mengerti. "Ibu kamu mana? Saya mau sarankan untuk rawat inap dulu."
"Harus rawat inap, Dok?" gue memelas. Gue nggak mau meninggalkan pelajaran, apalagi ini baru awal masuk sekolah.
"Kamu harus diobservasi lebih lama lagi. Sekarang bisa saja sakitnya sudah berkurang, tapi sesakmu itu bahaya. Kamu harus ketemu sama spesialismu dulu. Rencananya besok mau echo."
"Tapi saya baru medical check up empat hari yang lalu, Dok!"
"Kenyataannya kondisi kamu memburuk."
Gue menggigit bibir bawah gue. Kesal rasanya kalau harus rawat inap lagi. Gue tahu, kondisi gue nggak akan membaik dalam waktu singkat. Gue bakal melewatkan banyak kegiatan di sekolah.
"Kalau tidak rawat inap, apa bisa, Dok?" Ibu tiba-tiba muncul. Ibu menaruh kantong belanjanya di atas meja, lalu berbalik untuk bicara langsung dengan Dok Dita. "Debi suka sekali sekolahnya. Saya juga tidak mau Debi terlalu lama tidak sekolah. Dia bisa ketinggalan pelajaran."
"Bu, Ibu sendiri sebagai seorang perawat pasti mengerti dengan kondisi Debi, kan?" Dok Dita mengingatkan.
Ibu menunduk, memainkan tangannya. Dia tampak gelisah dan bimbang. Ibu yang juga seorang tenaga medis paling mengerti dengan kondisi gue.
Gue menggenggam tangan Ibu. "Bu, Debi rawat inap aja," gue ngalah. Nggak ada bagusnya buat suasana makin keruh. Gue bisa ngejar ketinggalan pelajaran selama rawat inap. Rena mungkin bisa bantu.
"Masalah pelajaran, biar saya yang bantu Debi!" Rena seakan membaca pikiran gue. "Nggak usah khawatir Debi ketinggalan pelajaran. Saya akan berusaha semaksimal mungkin."
"Kayak lo pernah nyatet pelajaran aja," gue sangsi. Selama ini, Rena lebih sering minjam catatan gue ketimbang gue yang minjem.
"Gue udah dewasa, Deb! Orang dewasa punya tanggung jawab!" Rena menepuk dadanya dengan bangga.
"Nggak usah ngaco! PR aja sering lupa!"
__ADS_1
"Namanya juga khilaf."
***