
Gue megang smartphone sudah lebih dari setengah jam. Gue nggak ketemu bagaimana tata bahasa yang bagus untuk dikirim ke Satya. Rena pun belum gue kabari kalau sekarang gue dalam perjalanan pulang.
"Ada apa, Nak?" tanya Ibu. Ternyata Ibu sadar kalau gue lagi risau.
"Lagi nyusun kata kejutan buat Rena."
"Tinggal bilang 'sudah di rumah', kan?" Ibu tertawa pelan.
Ya, sudah! Gue ikutin saran Ibu. Gie ngetik 'gue udah di rumah. Nggak usah ke RS' dan mengirimnya ke Rena, lalu meneruskannya ke Satya.
Hhh.. Bukan kejutan. Satya pasti marah banget sama gue. Ini seperti gue sengaja menghindari Satya. Tapi gue merasa nggak enak sama Satya kalau harus ketemu sama dia saat ini.
"Deb, mau makan apa?"
Oh, iya! Tadi pagi gue nggak makan apapun saking stresnya mikirin ini. Pantes rasanya perut gue agak sakit. Cacing-cacing di sana menuntut hak mereka. "Capcay."
"Kita beli di tempat biasa?"
Gue mengangguk setuju. Setelah itu, kami hanya menikmati perjalan pulang kami dari rumah sakit. Pagi yang indah. Sinar matahari bersinar terang. Tidak ada awan sedikitpun di langit yang biru. Berbeda dengan kemarin.
Waktu melewati jalan raya di depan sekolah gue, gerbangnya tertutup. Masih jam pelajaran sepertinya. Gue kangen sekolah.
"Ayah akan pulang nanti malam."
Gue menoleh kaget. "Serius, Bu!?" cicitku gembira. "Sama Kak Dika juga?"
"Tentu tidak, Sayang!" sanggah Ibu. "Kakakmu itu sedang sibuk sama magangnya. Dia nggak akan punya waktu untuk pulang."
"Hhh.. Kenapa Kakak milih tempat kuliah yang jauh, sih? Debi jadi kangen." Kakak semata wayang gue itu memutuskan untuk kuliah di luar kota demi mengejar cita-citanya menjadi hakim. Dua bulan terakhir ini, kami berhubungan hanya lewat chat atau video call. Kakak terlalu sibuk, jadi sering nggak balas pesan dari gue. Kemarin saja, dia cuma meluangkan waktu lima menit untuk bicara sama gue lewat telepon. Lalu kembali bekerja.
"Namanya juga laki-laki. Sukanya merantau. Ayah kamu juga begitu. Nggak pernah menetap di satu daerah, sampai akhirnya kita punya Dika."
"Tapi sekarang jadi sibuk sama tugas kantor ke luar kota," gue bergumam. Ayah bahkan nggak nengok gue di rumah sakit. Telepon juga cuma sebentar. Padahal Ibu juga harus bekerja, tapi hanya Ibu yang menemani di rumah sakit.
"Untung ada Rena dan Satya yang mau jagain kamu di rumah sakit."
"Jangan bilang Ibu berpikir untuk buatkan mereka cookies?" terka gue, ingat sama kebiasaan Ibu membuatkan cookies untuk berterima kasih pada teman yang sudah jenguk gue. Gue jadi nggak enak, kan. Itu kayak sogokan buat mereka.
__ADS_1
"Nggak ada salahnya, kan?" Ibu menepuk bahu gue, nggak merasa bersalah sama sekali. "Ibu punya feeling yang bagus untuk Satya."
"Ibu juga ngerasa gitu?" tanya gue kaget.
"Oh, kamu juga?"
Gue manggut-manggut dengan semangat. "Pertama kali ketemu Satya, dia orang yang enak diajak bicara. Nggak banyak menyampaikan apa yang dia mau dan apa maksudnya, tapi ujung-ujungnya, pasti melakukan kebaikan. Dia juga yang nemenin Debi di mall waktu Rena belanja, padahal cuma nggak sengaja ketemu. Lalu, waktu akhirnya Rena ketemu sama Satya, Rena jatuh cinta. Debi setuju dengan hubungan mereka. Debi punya firasat bagus untuk ini!"
Ibu diam beberapa detik. "Rena?" tanya Ibu pada akhirnya.
"Iya, Bu," gue memperbaiki posisi duduk gue. "Debi pernah cerita kalau Rena itu punya syarat yang aneh kalau mau pacaran, kan?"
Ibu tampak berpikir sejenak. "Kalau nggak salah.. Harus deg-degan?"
"Yap! Yang itu!" gue dan Ibu tertawa bersamaan.
"Jadi, Rena deg-degan sama Satya?"
Gue menarik nafas panjang. "Yah.." jawab gue. "Rena deg-degan setiap kali ada Kak Satya. Dia juga salting. Pokoknya Rena jadi lucu kalau menyangkut Kak Satya."
"Lalu, perasaan Satya sendiri bagaimana?"
"Yakin?"
Gue menggaruk dagu gue. Berpikir lagi. "Emang ada yang nggak naksir ama Rena?" gue balik bertanya. Pertanyaan Ibu itu aneh. "Ibu ingat Andi?"
"Pacar kamu?"
"Mantan," koreksi gue.
Ibu menoleh sekilas. "Kalian putus?"
"Andi naksir Rena," jelas gue, seakan ingin mendukung pernyataan pertama tadi. Ibu tidak menjawab. Mungkin Ibu menunggu gue melanjutkan cerita selengkapnya mengenai Andi. "Debi nggak ingat jelasnya kapan. Pokoknya Andi bilang nggak bisa lanjut pacaran sama Debi karena sebenarnya dia naksir Rena."
"Lalu, Rena nanggapi?"
"Hmm.. Rena nggak cerita apa-apa tentang Andi. Mungkin belum ada pergerakan dari dia buat PDKT sama Rena."
__ADS_1
"Kamu nggak sakit hati?"
"Nggak," jawab gue enteng. Kehilangan Andi di hidup gue bukanlah hal besar yang harus gue tangisi. Masih banyak hal yang mau gue lakukan dan capai selama gue masih punya waktu.
"Kamu santai juga, ya, kalau masalah laki-laki."
***
Ibu menuangkan capcay yang tadi kami beli ke dalam sebuah mangkuk. Sepiring nasi merah hangat sudah tersaji di depan gue. Perut gue menjerit minta diberi jatah.
"Selamat makan!" gue menyendok capcay banyak-banyak ke atas nasi. Nggak sabar makan besar hari ini.
Waktu asyik menikmati sarapan gue yang telat banget, ada notification yang masuk. 'Rena', begitu tulisan di layar smartphone gue. Jadi males bukanya. Pasti dia ngomel lagi.
"Deb, Ibu dengar, bakalan ada yang menempati rumah kosong di sebelah," Ibu membuka percakapan. Sadar gue makan nggak pakai jeda dan bahaya kalau gue sampai keselek.
"Hm!" gue menelan nasi di mulut gue dulu. "Akhirnya rumah hantu itu diisi?"
"Hahaha, rumah itu memang kosong, tapi nggak ada hantunya!"
"Ada, Bu!" gue bersikeras. "Debi seringĀ lihat ada cahaya yang melayang dari jendela rumah itu. Terus dengar suara-suara aneh juga."
"Kamu kebanyakan nonton film hantu," Ibu tertawa mendengar cerita gue. "Sudah, makan yang banyak! Habis ini, istirahat lagi!"
Yah, gue nggak masalah, sih, kalau Ibu nggak percaya. Syukurlah rumah itu akhirnya laku dan ada yang menempati.
"Nanti, kalau orang sebelah sudah datang, kita ke sana bawa makanan buat nyapa, ya?" usul Ibu.
"Boleh." Gue juga penasaran, seperti apa orang-orang yang akan tinggal di sebelah rumah gue. Siapa tahu ada cewek yang seumuran gue, jadi gue bisa main bareng.
Selesainya gue kalap makan capcay, gue pergi ke kamar dengan perut kekenyangan. Tanpa pikir panjang lagi, gue merebahkan diri di kasur. Kangen banget rebahan di kasur sendiri setelah seminggu di ranjang rumah sakit.
Gue mengalihkan pandangan ke luar, menikmati indahnya langit biru. Di jam pulang sekolah nanti, Rena pasti akan ke sini dengan segala omelannya.
Satya.. Apa dia masih marah sama gue, ya? Dia mungkin tipe yang nggak percaya diri kalau bersanding sama cewek macam Rena. Jadi dia agak hati-hati. Aaargh! Dasar gue nggak peka! Harusnya gue nggak buru-buru nyomblangin mereka, cuma karena Rena kesemsem sama Satya.
Hhh.. Ketemu nanti, gue harus minta maaf yang benar sama Satya. Nggak boleh menyinggung perasaannya lagi. Dia itu teman yang baik, aku setuju dengan pendapat Ibu. Lagian, kalau gue bermasalah ama Satya, bisa aja gue nggak masuk hitungan dalam pemilihan kandidat olimpoade nanti. Gue nggak mau belajar percuma.
__ADS_1
***