BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Seblak


__ADS_3

"Mau makan apa hari ini?"


Gue memasukkan potongan jeruk ke dalam mulut. Rasa manisnya langsung menyatu di lidah gue. "Seblak."


"Gila lo? Mana boleh gue bawa seblak masuk ruang HCU!?" cicit Rena dari seberang.


Gue tertawa saja mendengar protesnya. Gue memang lagi pengen banget sama makanan pedas, dan nggak kepikiran makanan lain kecuali seblak.


Hari ini adalah hari ketujuh gue rawat inap di HCU. Berkat pemantauan yang ketat dari perawat-perawat di sini, serta penanganan yang cepat dari semua dokter yang terlibat, akhirnya gue membaik.


Waktu pingsan kemarin, gue sempat berpikir kalau gue nggak bakal bisa bertahan. Ternyata Tuhan menginginkan gue bertahan lebih lama lagi. Gue berharap, gue bisa bertahan hingga kelulusan nanti.


"Lo bawa apa aja, gue pasti langsung makan," jawab gue. "Gimana sekolahnya?"


Sekolah kami baru saja bubar. Berhubung sekarang adalah hari Jumat, sekolah bubar pukul dua belas siang. Rena langsung menghubungi gue begitu kelasnya selesai. Dia akan datang berkunjung hari ini, kebetulan dia tidak ada les dan gue sudah sadar. Kangen juga rasanya sama anak bawel satu itu. Lama gue nggak lihat wajahnya secara langsung.


"Banyak pelajaran yang gue nggak ngerti," aku Rena. "Gue nggak tahu, deh, gimana nasib ujian matematika gue dua hari yang lalu."


Gue cuma bisa tertawa mendengarnya. Rena itu memang agak kurang dalam hal pelajaran, tapi dia jago kalau masalah bisnis. Dia bahkan mengerti untung rugi dari salah satu swalayan yang dimiliki orangtuanya.


"Oh, ini gue nemu cafe pancake dekat sekolah. Wah, ternyata ada, ya?"


"Gue mau pancake! Gue mau yang cokelat, ya!"


Rena mendengus. "Cepet banget respon lo. Lo beneran sakit?"


"Hmm.. Gue kayaknya dibawa ke sini karena pingsan kelaparan, deh!"


"Dasar! Ya sudah, nanti gue langsung ke HCU, ya? Gue mau mesen pancake dulu."


"Hati-hati di jalan, Ren!" pesan gue. Setelah mendengar jawaban dari Rena, gue menutup telepon.


"Hai, Deb!"


Gue mendongak begitu sebuah sapaan terdengar. Satya berdiri di dekat ujung ranjang gue. "Oh, hai, Kak Satya!"


"Habis teleponan sama Rena, ya?" tanyanya. Dia langsung duduk di kursi di sebelah ranjang gue tanpa permisi.

__ADS_1


"Iya. Dia mau belikan pancake yang dijual di dekat sekolah."


"Wah, gue pernah ke sana sekali. Harga makanan di sana nggak cocok sama dompet anak SMA."


"Kak, apa Kak Satya lupa kalau Rena bukan anak SMA biasa?"


Satya terbahak mendengar ucapan gue. Dia mengangkat tas kecil yang sedari tadi dia jinjing. "Gue nggak tahu lo suka apa nggak," dia berbisik, lalu melirik keluar tirai. "Gue bawa seblak."


Iler gue langsung netes. "Kak Satya tahu gue pengen seblak?"


Satya mengangkat bahu. "Nebak aja. Gue mikir kalau lo pasti bosan sama makanan rumah sakit. Makan yang pedas sedikit, buat nyegerin tenggorokan."


Gue membuka bungkusan seblak yang Satya bawa. Kemudian menyendoknya ke mulut gue. Hmmm! Segeeeerrrr! "Beli di mana, Kak?"


"Enak? Terlalu pedas?"


Gue menggeleng. "Pas!"


Satya tersenyum, tampak puas. "Nanti kalau lo udah mulai sekolah lagi, gue ajak ke warungnya."


"Oke!" gue setuju. Gue sibuk makan untuk sepuluh menit kedepan. Satya hanya duduk diam, membiarkan gue menikmati seblak yang dia bawa. "Astaga, Kak! Rena mau ke sini!"


"Kalau Kak Satya masih di sini, Rena nggak bisa masuk," jelas gue. "Nanti dia ngamuk lagi kayak kemarin."


"Ooh gitu," Satya langsung berdiri. "Besok gue jenguk lagi, ya! Kabari kalau lo ada mau makan apa atau pindah kamar rawat!"


"Oke, Kak! Makasi seblaknya, ya!" gue melambai pada Satya yang berlalu. Gue memandang sedih pada bungkus seblak yang kini sudah kosong di hadapan gue. Pengen nambah..


Tidak lama setelah Satya pergi, Rena masuk ke bilik ranjang gue. Wajahnya sumringah. Sekiranya, gue tahu apa yang terjadi di luar. "Gue ketemu Kak Satya tadi," Rena menjawab apa yang gue pikirkan.


"Kenapa nggak ngobrol lebih lama lagi?" tanya gue heran.


"Jam berkunjung sudah mau habis, Deb! Ini udah untung gue masih dikasih masuk sama Mbak Sukma."


"Pancake?" gue nggak sabar melihat kotak kue yang dibawa Rena. Rena meletakkannya di pangkuan gue. Wangi aroma pancake bahkan sudah tercium walau kotaknya belum gue buka. "Kata Kak Satya, ini mahal, ya?"


Rena melemparkan pandangan penuh tanya ke arah gue. Mungkin dia nggak tahu harus mulai bicara dari mana untuk bertanya apa maksud dari pertanyaan gue barusan.

__ADS_1


"Tadi waktu gue nelpon lo, Satya datang. Gue cerita ke dia kalau lo mau bawain gue pancake dari cafe yang ada di dekat sekolah kita. Terus, ternyata Kak Satya pernah ke sana dan harga makanan di sana menurut dia, nggak cocok sama kantong anak SMA."


"Orang-orang yang datang ke sana memang nggak ditargetkan untuk anak SMA," jelas Rena. "Dari design interiornya aja, sudah mewakili kalau itu cuma untuk kalangan orang dewasa. Kalau untuk anak muda, pastinya banyak spot foto. Tapi di sana, lebih ke suasana tenang untuk kerja outdoor. Harga ma-"


"Ren, stop!" pinta gue. "Gue nggak minat dengar harga makanan di sana."


"Lo sendiri yang tadi nanya ke gue?"


Gue nyengir. "Gue makan, ya?"


Rena menyelipkan tissue ke kerah baju pasien gue. Ini salah satu kebiasaannya Rena kalau dia nemenin gue makan waktu gue rawat inap, karena gue duduk agak bersandar dan makanan kerap kali jatuh di dada gue.


"Wow! Wah! Hm!" gue nggak sanggup berkata-kata. Di luar penjelasan Rena masalah interior cafe ini, gue setuju kalau pancake seenak ini mahal harganya.


"Mana lebih enak sama cake buatan Pak Hasan?"


Gue menimbang selama beberapa detik. "Pak Hasan!" jawab gue mantap. Tentu saja kue atau apapun makanan buatan Pak Hasan sangat luar biasa rasanya. Pak Hasan pernah sekolah kuliner sampai ke luar negeri. Beliau juga pernah bekerja di Amerika, Paris, Korea, dan Jepang. Tidak heran Pak Hasan bisa membuat banyak jenis makanan negeri lain serta bisa banyak bahasa asing.


"Kapan lo pulang?"


Gue menggeleng saja. Makanan di mulut gue masih penuh. Gue nggak mau cokelat hangat di mulut gue muncrat kalau gue membuka mulut. Gue nggak mau merelakan secuilpun pancake ini.


"Ngomong-ngomong, Kak Satya nggak bahas apa-apa masalah kejadian tempo hari?"


Gue menelengkan kepala. "Kejadian apa?" gue nggak ngerti.


"Waktu lo pingsan setelah nonton pertandingannya Kak Satya, kita langsung bawa lo ke rumah sakit. Selama perjalanan, Satya teriak-teriak ke luar jendela minta diberi jalan. Gue sempat lemas waktu nggak merasakan denyut nadi lo di tangan, tapi masih ada denyut di leher. Untung gue belum lupa cara CPR."


Gue menelan potongan pancake besar-besar. Ternyata gue sudah di ambang kematian toh?


"Lo juga sempat diberi CPR waktu di UGD. Sekitar semenit, lo akhirnya respon."


Tubuh gue merespon pasti berkat Rena yang sigap memberi bantuan hidup dasar selama di perjalanan. Kalau saja dalam tiga menit gue nggak dapat pertolongan, sudah pasti saat tiba di rumah sakit gue cuma tinggal nama.


"Dokter penanggung jawab lo kelihatan marah sama kita setelah tahu kita ngajak lo nonton pertandingan basket." Rena menunduk. Dia memainkan jari-jarinya yang kurus. "Gue nggak tahu kalau tubuh lo bakalan sesetres itu menerima kejutan.. Gue-"


"Gue juga nggak tahu," gue motong kalimat Rena sebelum dia mengeluarkan kata maaf. Justru yang bersalah di sini adalah gue sendiri. "Gue mau minta maaf, karena udah buat kalian bingung dan kewalahan waktu itu. Dan terima kasih, berkat kalian, gue masih bisa bernafas."

__ADS_1


Rena menggeleng keras. Air mata jatuh membasahi rok abunya. "Debi.. Gue bakalan jaga lo sebaik mungkin," ujar Rena sambil terisak.


***


__ADS_2