
Rena tampil cantik sore itu. Bagaimana tidak cantik? Dia menghabiskan waktu hampir dua jam untuk memperindah diri di salon. Gue yang nungguin aja sampai ketiduran. Pak Anton malah sampai ngiler ketiduran di mobil.
Balutan dress berwarna biru langit sangat cocok membalut kulitnya yang putih. Rambutnya dia biarkan terurai bebas menutup punggungnya yang ramping. Dia bukan cuma cantik, tapi sangat cantik!
Kalau gue? Hahaha, gue cukup pakai baju olahraga sekolah. Tujuan gue ganti baju cuma karena nggak mau seragam putih-abu gue lecek. Rena awalnya berkeras agar gue mau pakai dress yang dia bawa. Gue pakai alasan 'takut masuk angin dan harus rawat inap lagi', jadi Rena mengalah.
Perjalanan dari salon ke GOR hanya memerlukan waktu sepuluh menit ditempuh dengan mobil. Sesampainya kami di sana, ternyata tempat itu sudah ramai. Tidak hanya ramai oleh pengunjung yang mau menyaksikan pertandingan basket, namun juga pedagang-pedagang kaki lima yang melihat peluang untung berjualan di tempat ini.
"Ren, gue mau beli tahu bulat dulu, ya?" ijin gue.
Rena menangkap tangan gue sebelum gue beranjak dari sampingnya. "Lo harus hemat energi!" jawabnya. "Pak Anton, tolong belikan tahu bulat sama jus jeruk, ya? Kita tunggu di tribun," perintah Rena. Pak Anton bergegas menuju salah satu gerobak pedagang yang berjejer di sisi dinding gedung.
"Kayaknya gue harus urunan gaji untuk Pak Anton, deh!" gue ngasih pendapat. Sebenarnya nggak enak setiap kali Rena meminta Pak Anton melakukan sesuatu untuk gue. Dia, kan, digaji untuk melayani Rena.
"Lo nggak usah mikir yang aneh-aneh!" jawab Rena. "Gaji dia udah gue tambah lima juta perbulan karena udah ngasih service ke lo."
Wow! Lima juta perbulan? Uang saku gue setahun aja, nggak nyampe segitu. Memang, kita ini beda dunia.
Rena naik ke tribun, menyedot perhatian banyak orang yang melihatnya. Bahkan, banyak laki-laki yang terang-terangan menatapnya dengan liur menetes seperti serigala yang siap menerkam mangsanya. Gue siap-siap sama smartphone di tangan gue, buat jaga-jaga kalau ada keributan. Gue bakal langsung hubungi Pak Anton untuk jadi tameng.
"Kak Satya mana?" dia celingukan mencari sosok Satya. Gue ikut mengedarkan pandangan ke segala arah. Satya memang tidak tampak.
"Mungkin sedang siap-siap di ruang ganti," gue melirik jam tangan. Pukul tujuh belas kurang lima belas menit. Sebentar lagi permainan mereka dimulai. "Tandingnya sama sekolah mana?"
"SMA swasta di kota sebelah."
"Wah, jauh juga, ya?" gue kembali mengedarkan pandangan ke segala arah. Begitu sadar terlalu banyak serigala yang mengintai Rena, gue langsung telepon Pak Anton. Tidak butuh waktu lama, Pak Anton akhirnya datang.
__ADS_1
"Ini, Non!" dia menyerahkan sekotak tahu bulat dan jus jeruk ke gue. Nafasnya yang memburu membuat gue merasa bersalah karena memintanya cepat datang.
"Makasi, Pak! Ini berapa, ya?"
"Non, jangan pernah bertanya harga pada apa yang saya berikan!" Pak Anton menjawab dengan wajah sungguh-sungguh. Gue pun kalau jadi Pak Anton nggak akan keberatan mentraktir tahu bulat dan jus jeruk untuk anak kecil seperti gue, kalau tambahan gajiku sendiri sebesar itu.
"Duduk di sini, Pak!" gue menepuk bangku beton di sebelah gue. "Ngomong-ngomong, anak Pak Anton masuk kuliah, kan? Sudah keterima di mana?"
Wajah Pak Anton berubah sumringah. Ada raut bangga yang terpancar dari senyumnya. "Universitas di Depok, jurusan Ilmu Hukum."
"Ilmu hukum? Wah, sama dengan Kakak Saya, dong?"
"Kak Dika nggak pernah pulang," celetuk Rena. Gue menyenggol lengannya dan menggeleng pelan. Dia ini nggak peka banget! Baru saja hati Pak Anton berbunga-bunga karena anaknya diterima di universitas ternama, malah dihempas ke tanah.
"Anak Pak Anton, mau saya kenalkan ke Kak Dika? Siapa tahu bisa akrab di sana?" usul gue.
"Beruntung banget bisa jadi anaknya Pak Anton!" puji gue sungguh-sungguh. Senyuman Pak Anton kembali mengembang.
Suara peluit menarik perhatian kami. Salah satu bagian tribun bersorak-sorai ketika lima orang laki-laki bertubuh jangkung mengenakan seragam basket berwarna hijau-hitam memasuki lapangan. Beberapa pesorak bahkan menyiapkan spanduk untuk mereka.
Ini pertama kalinya gue nonton pertandingan basket secara langsung. Ternyata seramai ini. Orang-orang yang hadir tampak penuh semangat, tidak kalah semangatnya dengan pemain yang ada di lapangan. Selama ini, gue memilih cara aman untuk menonton pertandingan apapun. Yaitu duduk manis di rumah sambil nyemil kudapan yang Ibu buat.
Dari bawah tribun gue, muncul lima orang berseragam basket merah yang gue kenali dengan seragam basket sekolah gue. Sorakan kencang langsung menyerbu seisi gedung. Gue sampai harus tutup telinga.
"Deb, nggak apa!?" Rena teriak dari sebelah gue.
Gue jantungan saking kagetnya! Rutuk gue dalam hati. Kalau yang teriak-teriak dari tribun seberang, sih, nggak terlalu terasa. Lha ini dari belakang gue! Jantung gue jadi lompat-lompat mau kabur!
__ADS_1
"Deb!?"
Gue melepas dekapan tangan gue dari telinga. "Nggak apa! Cuma agak kaget!" gue balas teriak. "Lo sendiri tahu, kan? Ini pertama kalinya buat gue!"
Rena mengangguk menjawab pernyataan dari gue. Dia kembali memperhatikan lapangan basket. Gue ikutan.
Satya berdiri di tengah lapangan, di antara empat temannya. Dia memakai bandana berwarna hitam agar rambutnya tidak jatuh di keningnya. Satya melambai riang saat pandangan kami bertemu. Gue menoleh, Rena balas melambai riang. Dia pasti senang banget bisa nonton Satya di lapangan seperti ini.
Gue mengatur nafas gue sebisa mungkin. Teriakan demi teriakan seiring berjalannya pertandingan membuat gue kaget beberapa kali. Kepala gue lambat-laun menjadi pening. Keringat dingin menetes dari pelipis gue.
"Non?" Pak Anton memegangi lengan gue tepat saat badan gue sempoyongan ke depan.
Gue menoleh cepat, lalu menempelkan telunjuk di depan bibir, memintanya agar tidak panik. "Obat. Di tas," bisik gue. Rena yang tengah asyik mengikuti jalan pertandingan yang seru tidak menyadari keadaan gue. Dia kini berdiri di pembatas tribun sambil bersorak mendukung tim sekolah kami. Bagus! Ini kesempatan gue minum obat.
Pak Anton menyodorkan lima macam obat. Jelas saja dia bingung dan tidak tahu obat mana yang gue maksud. Dia menunjuk satu-persatu obat ketika nafas gue tersengal. Ketika dia menunjuk obat yang tepat, gue ngangguk sekali.
Kedua tangan gue mencengkram bangku beton yang gue duduki. Rasa nyeri seperti ditusuk seribu jarum menggelayar di dada dan menjalar hingga ke leher. Gue bahkan nggak bisa melepas cengkraman gue sendiri akibat rasa sakit yang hebat, seolah gue ingin menyalurkan rasa sakit itu ke bangku beton.
Pak Anton ternyata sudah membuka bungkus pil yang aku perlukan. Dia buru-buru memasukkan pil itu ke dalam mulut gue. "Air, Non?" dia menyodorkan botol minumannya ke arah gue.
Gue menggeleng. Gua cuma perlu mengunyah pil kecil ini. Kemudian atur nafas agar detak jantung gue kembali normal.
"Kita ke rumah sakit aja, ya?" pinta Pak Anton.
Gue melirik Rena untuk kesekian kalinya yang masih asyik sendiri. Satya tengah bermain dengan serius. Gue nggak boleh merusak moment bahagia seperti ini. Gue bisa bertahan! Gue harus bertahan!
***
__ADS_1