BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Mulut yang Jujur


__ADS_3

Satya berhenti di pinggir jalan setelah menempuh beberapa kilometer. Dia menatap gue dengan teliti. Satya belum percaya kalau nyeri yang tadi gue rasakan, memang sudah menghilang.


"Kita ke rumah sakit aja buat ngecek, ya?" tawar Satya.


"Gue nggak apa-apa, Kak. Tadi itu..." gue menelan ludah, tenggorokan gue terasa kering sekali, "...gue cuma nggak suka lihat Kak Satya sama cewek itu."


Satya diam untuk beberapa detik. Mulutnya tertutup rapat, hanya membalas tatapan mata gue. Hanya ada suara deru kendaraan yang melintas.


"Rasanya sama seperti waktu mantan gue bilang kalau dia naksir Rena," tambah gue setengah berbisik. Gue bisa merasakan rasa panas di pipi gue. "Nggak nyaman di dada gue, tapi bukan serangan jantung."


"Yuna itu temen gue dari kecil," Satya angkat bicara. "Dia emang suka nempel gitu. Lo jangan salah paham. Kadang dia nginep juga di kamar kakak gue, kalau kakak gue balik dari Singapura."


"Kak Satya punya kakak?"


Satya mengangguk. "Kakak perempuan. Namanya Krisan. Sekarang lagi kuliah di Singapura. Tahun depan, kalau dia berhasil selesaikan tugas akhirnya, dia akan wisuda."


"Mirip ama Kak Satya?"


Satya tertawa kecil. Ia memasukkan gigi persneling. Kamipun kembali melaju di tengah keramaian kota. "Dia itu mirip sama Ibu. Ngomong nggak pakai dipilah dulu, ambil keputusan tanpa pertimbangan, dan suka seenaknya sendiri. Kalau Krisan ada di rumah, dia bakalan beradu argumen terus dengan Ibu. Rumah gue nggak bakal sepi kalau bukan jam tidur."


"Segitunya?"


"Beneran, Deb!" Satya melempar pandangan serius. "Nanti kalau dia balik, gue kenalin, deh!"


Gue mengusap lengan gue sambil tersenyum. Tidak tahu kenapa, mengenal satu-persatu keluarga Satya membuat gue senang. Selain penasaran, gue juga mau menjadi lebih dekat dengan mereka.


"Krisan pasti senang berteman sama lo, Deb," suara Satya melembut. Gue bisa melihat senyuman yang terpampang di wajahnya. "Ngomong-ngomong, kita mau ke mana, nih?"


"Terserah Kak Satya aja. Yang penting tempatnya bagus."


Satya menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal. "Lo masih harus jaga daya tahan tubuh, kan? Kita ke tempat yang nggak terlalu banyak orangnya dan bisa santai aja, ya?"


"Contohnya?"


"Bioskop," Satya menjawab dengan mantap. "Kebetulan ada banyak pilihan film hari ini. Terserah lo mau nonton apa. Gue ngikut aja."

__ADS_1


Gue memperhatikan Satya yang tengah fokus menyetir. Ternyata, kalau Satya mengenakan baju bebas seperti ini, dia terlihat lebih dewasa dan ganteng maksimal. Gue terbiasa lihat rambutnya yang hanya tersentuh sisir, namun kali ini, dia memakai pomade.


"Lo sukanya genre film apa?"


"Misteri."


Satya menoleh sekilas lagi. Gue menikmati tatapan mata kita yang bertemu dalam dua detik itu. "Seriusan?" tanyanya sembari tertawa. "Nggak bakal bosen di tengah jalan kalau nonton film misteri?"


"Mana mungkin. Gue jadi mikir kalau nonton."


"Hmm, kalau begitu, kali ini jangan nonton film misteri. Gue maunya lo menikmati filmnya sambil santai, bukan sambil mikir."


"Kalau Kak Satya, sukanya film apa?"


"Apa aja, yang penting bagus."


Tidak lama kemudian, kami akhirnya sampai di sebuah mall besar yang terletak di tengah kota. Agak sulit mencari tempat parkir mobil karena saat kami tiba adalah jam pulang kerja kantor. "Wah, jalannya jadi agak jauh. Nggak apa, Deb? Atau kita pindah tempat aja?"


"Kak Satya lebay, deh!" sahut gue sambil terkikik. "Jalan dari parkiran basement ke lantai atas aja, kok!" gue keluar duluan dari dalam mobil. Saat melihat pantulan wajah gue di kaca mobil, gue sadar, harusnya gue dandan sedikit.


"Yuk!" Satya ternyata sudah ikut keluar dari mobilnya.


"Deb!" Satya menarik lengan gue. Sontak gue jatuh ke dalam pelukannya. "Lo lihat ke mana, sih? Hampir aja lo nabrak orang."


"Maaf," gue segera menjauh dari Satya. Satya sukses membuat jantung gue lari kocar-kacir.


Satya merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah masker. "Gue nggak tahu bakalan seramai ini. Pakai masker, untuk jaga-jaga!"


Gue menerima masker yang dia berikan, kemudian memakainya. Hebat, dia sampai kepikiran sejauh ini. Gue yang sakit, malah santai. Harusnya gue memperhatikan kesehatan gue lebih baik lagi.


Kami masuk ke dalam ruangan berpintu dan berdinding kaca dengan karpet berwarna merah marun. Ruangan itu penuh dengan wangi manis karamel. Tidak banyak pengunjung di jam segini.


"Lo mau yang mana?" Satya mengedik ke arah dinding yang memamerkan empat buah poster film hari ini. Tangan gue menunjuk pada poster ketiga karena ada aktor favorit gue. "Lo duduk aja dulu, gue beli tiketnya."


"Gue beli popcorn-nya," usul gue. "Lebih baik kita bagi tugas." Gue langsung ngacir, melihat Satya mengeluarkan dompetnya. Anak itu, masa mau bayarin semuanya? Gue jadi nggak enak hati.

__ADS_1


Selagi menunggu antrian, gue sekali-kali menoleh ke arah Satya berdiri. Dia sibuk membaca tulisan yang tertera di atas kepala penjual tiket. Tubuhnya yang tinggi sangat kontras jika dibandingkan dengan orang-orang yang antri di sekitarnya. Pantas saja Rena suka dengan Satya. Satya orang yang baik dan memang pantas untuk diperjuangkan.


Mata gue melotot ketika melihat dua orang perempuan menghampiri Satya. Kedua orang itu berpakaian seksi, menonjolkan lekukan tubuh mereka yang indah. Tubuh mereka terlihat lebih tinggi beberapa sentimeter karena highheels yang mereka kenakan.


Gue memperhatikan Satya sejenak. Bukannya menolak perempuan-perempuan itu, dia malah tertawa dengan mereka. Gue memalingkan wajah. Ada rasa tidak nyaman lagi di dada gue. Ingin rasanya gue jambak dan tendang mereka ke luar bioskop.


"Silakan pesanannya!"


Panggilan dari penjaga stand makanan mengalihkan perhatian gue. Gue segera memesan dua popcorn caramel dan dua soda untuk kami. "Mbak, titip di sini dulu, boleh? Saya mau panggil teman saya buat ambil."


"Iya, Mbak, boleh," jawab si empunya meja.


Gue berjalan cepat menuju Satya yang masih tertawa-tawa bersama perempuan-perempuan tadi, padahal di tangannya sudah ada dua tiket nonton. "Kak Satya," panggil gue langsung, begitu ada di hadapannya. Dua orang perempuan itu menoleh ke arah gue. "To-tolong bawakan popcorn-nya!" daripada minta tolong, nada suara gue lebih seperti memerintah.


"Maaf, gue permisi, ya? Pacar gue sudah datang."


Gue menelan ludah dengan susah payah. Mendengar diakui sebagai pacar oleh Satya, membuat gue melambung. Gue harus tetap sadar untuk tidak terbang ke angkasa.


"Lo bawa tiketnya aja," Satya menyodorkan tiket nonton ke gue, sementara dia mengamit kedua popcorn dan memegang kedua soda.


Gue melirik ke belakang, perempuan-perempuan tadi masih berdiri di tempat kami meninggalkan mereka. Pandangan sinis dilemparkan ke gue. Meskipun gue nggak bisa mendengar suara mereka, gue tahu pasti kalau mereka tengah membicarakan gue.


"Pantas saja Kak Satya betah ngobrolnya. Cewek-cewek tadi cantik, ya?" gue malah menggerutu.


Dari sudut mata gue, gue bisa melihat Satya menoleh. Gue memilih untuk membuang wajah karena nggak bisa senyum.


"Emang kenapa?"


"Kalau suka ngobrol sama mereka, ajak aja sekalian nonton bareng!" Astaga... Kenapa gue jadi kekanak-kanakan?


Satya tiba-tiba berhenti di depan gue. Hampir saja gue menabraknya, kalau gue tidak segera berhenti.


"Cemburu?"


Gue mengangkat wajah dan membalasnya dengan galak. Percaya diri sekali dia mengatakan bahwa gue cemburu gara-gara hal tadi! "Iya! Gue cemburu!"

__ADS_1


Muluuuuutttt!!!


***


__ADS_2