BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Kenyataan Menyedihkan


__ADS_3

Gue kaget bukan main. Satya tiba-tiba narik tangan gue ketika gue jalan sendirian dari toilet menuju kembali ke kelas. Dari belakang, gue bisa lihat bagaimana tegangnya ekspresi Satya. Genggaman tangannya tidak begitu erat. Bisa saja gue menepis tangan Satya, namun tidak gue lakukan. Gue sendiri tidak tahu alasannya, tapi kaki gue mengikuti ke mana Satya membawa kami pergi.


"Ada apa, Kak?" tanya gue, setibanya kami di perpustakaan. Tempat ini sepi seperti biasa. Ibu Indah mungkin sudah kembali ke ruang guru, karena mejanya kosong saat ini. "Kakak bolos kelas?"


Satya berhenti. Dia tidak melepas pegangan tangannya dan tetap memunggungi gue. Kaki gue terasa kaku. Gue tidak berani bergerak ataupun bertanya hal lainnya. Gue sadar kalau gue bukan orang yang pintar berbohong. Sedikit bicara dalam situasi seperti ini akan lebih menguntungkan untuk gue.


Sekitar sepuluh detik kemudian, Satya akhirnya berbalik. Wajah yang dulunya selalu santai setiap harinya, kini berubah. Tawanya tidak terdengar sebanyak kemarin. "Ada apa, Kak?"


"Lo bisa datang ke pertandingan gue?"


Gue mengangguk. Gue tidak bisa janji. Bisa saja besok gue kena serangan jantung lagi dan butuh waktu lama untuk pulih. Segala hal bisa terjadi saat ini.


"Gue sudah siapkan bangku khusus untuk lo. Penutup telinga juga. Gue akan pastikan semuanya aman untuk lo."


Gue menjawabnya dengan senyuman. Dia setegang ini, hanya untuk ngajak gue nonton pertandingannya?


Tunggu!


"Gue ajak Gilang, boleh?"


Gue nggak boleh lupa dengan tujuan gue. Satya menyeret gue ke perpustakaan di jam pelajaran hanya untuk mengajak gue nonton pertandingannya, bukanlah hal yang wajar. Rena tidak ada. Status gue adalah pacar Gilang. Ini bukan hal yang lumrah.


"Kenapa?"


"Kenapa apanya?" gue berpura-pura bodoh, mengesampingkan raut wajah sedih yang jelas terlihat di wajah Satya.


"Kenapa harus ada dia?"


Gue berusaha keras menampilkan ekspresi 'tidak mengerti'. "Jelas harus ada dia."


Satya menyibak rambutnya ke belakang. Gerakan mempesona yang akan membuat para perempuan meleleh saat melihatnya. "Gue cuma perlu lo saat pertandingan," Satya terdengar putus asa. "Sekali ini saja. Cuma lo."


Kepala gue hampir mengangguk dengan sendirinya. Gue hampir luluh dan tenggelam dalam pesonanya. "Nggak mungkin, Kak." Gue menarik tangan gue. "Kalau gue ke mana-mana, gue harus izin sama Gilang. Kak Satya sendiri tahu, kan, gimana sifat Gilang? Dia bisa ngambek kalau gue nonton pertandingan basket cowok lain."


"Rena sendiri..." Satya tampak bimbang selama sekian detik, "...nggak percaya kalian pacaran."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena kalian nggak menunjukkan rasa saling suka sebelum ini. Tapi kalian tiba-tiba pacaran."


"Apapun bisa terjadi, Kak. Gue mati besok pun, bisa aja."


"Jangan ngomong hal menakutkan begitu!" tiba-tiba Satya membentak gue. "Gue nggak bisa bayangkan kalau lo menghilang..." Satya menunduk. Gue sampai harus menelengkan kepala untuk memeriksa apakah dia menangis atau tidak. Suara terakhirnya terdengar sangat putus asa.


Gue menyentuh lengannya agar dia tersadar kembali. Gue nggak mungkin bisa menenangkan kalau dia sampai menangis di sini.


Satya mengangkat kepalanya. "Gue suka sama lo, Debi."


Sebuah kenyataan langsung menghantam kepala gue. Lidah gue terasa kelu, sementara rasa panas menjalar di dada gue.


"Sudah dari dulu. Sejak pertama kali kita bertemu. Gue selalu suka sama lo."


Mata gue mengerjap, tidak percaya. Selama itukah?


"Gue nggak ngerti kenapa lo berasumsi kalau gue suka sama Rena dan selalu mencoba membuat gue dan Rena menjadi dekat. Itu buat gue kesal. Bahkan, sikap gue yang kekanakan di depan lo, nggak buat lo mengerti."


"Melihat lo sama Gilang, gue jadi gila. Gue nggak bisa konsentrasi belajar. Gue nggak punya semangat untuk latihan basket. Hidup gue kacau."


"Ja-jangan, Kak! Jangan suka sama gue!"


"Gue nggak bisa berhenti suka sama lo." Air mata Satya jatuh membasahi pipinya, menggambarkan bagaimana pedih hatinya saat ini. Pasti susah mengungkapkan perasaan yang membuat kita tampak lemah di depan orang lain.


"Gue nggak mungkin suka sama Kak Satya."


"Apa alasannya?"


"Gue pacaran sama Gilang, Kak."


Satya menggeleng. "Lo belum pasti sama dia seumur hidup. Beri gue satu kesempatan," pintanya. "Gue tahu, gue terdengar serakah dan nggak dewasa sekarang. Gue cuma nggak bisa menahan rasa suka gue yang besar ke lo, Deb. Gue sayang sama lo. Gue nggak mau berakhir seperti ini."


"Gimana dengan Gilang?" tanya gue. Sebisa mungkin, gue bersikap tenang. Gue nggak boleh sampai menyinggung perasaan Satya. Gue nggak tahu kalau dia suka sama gue sebesar ini. "Gilang akan sama terlukanya seperti Kak Satya kalau gue pergi."

__ADS_1


Satya terdiam. Pandangan matanya nanar dengan sinar mata yang redup. Tidak ada semangat yang biasanya mengalir. "Kalau saja gue maju lebih dulu, apa gue punya kesempatan?"


Gue berusaha keras untuk menggeleng. "Dari awal, gue nggak ada pikiran untuk melewati batas pertemanan dengan Kak Satya."


"Begitu..." jawabnya lemah. Sepertinya dia sudah mengerti dan percaya dengan semua kebohongan yang gue lontarkan. "Gue nggak akan bisa bersikap biasa di depan lo lagi. Maaf untuk itu..." ujarnya, lalu pergi meninggalkan gue sendirian di dalam perpustakaan.


Gue jatuh terduduk begitu Satya menutup pintu di belakangnya. Kaki gue terasa lemas. Kemarin, gue berusaha mati-matian untuk menyangkal perasaan Satya. Namun, Satya datang dan mengaku sendiri di saat gue nggak siap.


Semuanya terlalu tiba-tiba. Kenyataan ini terlalu berat untuk gue pikul. Satya menyukai gue selama itu? Saat pertama kali bertemu?


Lalu, apa yang harus gue lakukan sekarang? Gue nggak mungkin menghindar begitu saja, apalagi di depan Rena. Rena akan bertanya alasan dari tindakan kami. Jika dia tahu semuanya, dia akan sedih.


Gue mengambil smartphone di saku rok abu gue, dan menghubungi Gilang. Setelah nada dering pertama, suara Gilang langsung terdengar. "Ada apa? Sekarang masih jam pelajaran, kan?"


"Jemput gue."


"Oke! Lo nunggu di mana?"


"Gerbang sekolah." Gilang langsung menutup telepon begitu tahu posisi gue. Rasa panas dan nyeri yang menjalar di dada gue semakin meluas. Ini tidak baik!


Gue berusaha keras untuk kembali berdiri. Langkah gue terasa gontai. Sebagian besar tenaga, gue pakai untuk menahan nyeri yang semakin lama semakin hebat.


Sesampainya gue di gerbang sekolah, gue melihat ada sebuah motor yang melaju kencang dari kejauhan. Gue kira ada yang balap liar, tapi ternyata orang yang duduk di bangku penumpang adalah Gilang.


"Lo nggak apa?" Gilang lompat dari belakang motor sebelum motor benar-benar berhenti. "Sebentar, sebentar!" dia memegangi lengan gue sementara dia celingukan ke arah dia datang tadi. "Ah! Itu dia mobilnya!"


Gue ikut menoleh. Kali ini sebuah mobil datang menghampiri. Gue mengerti apa yang Gilang lakukan. Dia tidak tahu jalan, jadi memanggil ojek yang mangkal di depan kompleks. Lalu selama perjalanan, dia memanggil taksi online agar tidak perlu menunggu lama. Melihat cepatnya dia datang, gue nggak bisa bayangkan bagaimana bawelnya dia di jalan sampai telinga abang ojek panas dan memilih untuk ngebut.


"Ada apa ini?" Pak Satpam menghampiri kami. "Mau ke mana, Dik?"


"Pacar saya serangan jantungnya kumat!" Gilang yang menjawab. "Kita ke rumah sakit sekarang!"


"Beneran ini?"


"Kalau Bapak nggak percaya, ayo ikut!" Gilang menyeret Pak Satpam masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


***


__ADS_2