BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Rencana


__ADS_3

Gilang duduk dengan tangan bersilang di depan dada. Kami baru saja sampai di rumah Gilang. Seperti biasa, Gilang jemput gue setiap sekolah bubar. Selama di perjalanan pulang, gue menceritakan secara detail apa yang terjadi antara gue dan Rena. Gilang tidak banyak berkomentar, dia lebih banyak mendengarkan cerita gue dan membiarkan gue menangis sepuasnya.


"Lo bandel, sih!" Gilang geleng-geleng kepala. "Sudah dari awal gue bilang, lo harus cerita ke Rena," tambahnya. "Sudah pasti Rena jadi marah besar karena dia tidak tahu apa-apa, padahal dia sahabat lo. Rena harusnya tahu segala hal yang berhubungan sama dia."


"Hhh..." gue menghela nafas panjang. Gue nggak tahu harus berkata apa. Untuk membela diri saja, rasanya gue nggak punya hak. Memang salah gue karena merahasiakan ini dari Rena. "Iya, gue salah. Gue harus minta maaf sama Rena. Tapi..."


"Lo masih bisa bilang 'tapi'!?" cicit Gilang, kelihatan kesal. "Ck, ck, ck. Nggak ada kata 'tapi', Deb! Kalau lo masih menghargai persahabatan lo sama Rena dan masih mau berteman dengannya, lo harus minta maaf!" Gilang memberi nasehat.


"Hhh..."


"Kapan lo mau minta maaf? Sekarang? Nanti malam? Atau mau nunggu sampai besok?"


"Gue belum berani, Gil," aku gue. Nyali gue menciut setiap kali mengingat bagaimana marahnya Rena di sekolah tadi. Gue memandang ke luar jendela, di mana langit tampak tertutup awan mendung. Udara sedikit menjadi dingin siang itu.


"Kenapa cewek ribet banget? Tinggal minta maaf aja susah."


"Hhh..." Tidak akan semudah itu. Rena sedang naik pitam. Apapun yang gue katakan tidak akan masuk ke kepalanya. Pembelaan macam apapun akan tampak sebagai pembenaran buat diri gue sendiri.


"Hari ini! Pokoknya hari ini, lo harus ke rumah Rena!" Gilang bangkit dari duduknya.


"Lo mau ke mana?"


"Dapur. Gue lapar, mau makan siang. Lo mau makan siang di sini sekalian?" tawar Gilang.


Gue menggeleng lemah. Perut gue nggak merasa lapar sama sekali. "Gue pulang aja," pamit gue pada Gilang. Gue berjalan gontai menuju pintu keluar dari rumah Gilang. Saat sudah berada di teras rumahnya, gerimis menyapa. Awan kelabu menggantung rendah di atas kepala gue. Gue berjalan setengah berlari menuju kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, gue tidak langsung mengganti baju. Gue memilih rebahan santai di sofa ruang tengah. Gue menyalakan televisi dan memilih sembarang siaran. Gue nggak berniat nonton apapun, cuma ingin suasana di rumah sedikit ramai karena tidak ada siapa-siapa selain gue.

__ADS_1


Perlahan, mata gue menjadi berat. Kantuk sudah menguasai sebagian besar tubuh gue. Waktu rasanya tubuh gue sudah melayang entah ke mana, dering smartphone gue membuat gue terjaga. Kantuk gue langsung menguap begitu melihat nama yang terpampang di layar smartphone.


"Siang, Deb!" sapa orang di seberang. Suaranya yang berat sudah sangat familiar di telinga gue.


"Siang, Kak! Ada apa?" gue duduk tegak di sofa.


"Gue mau tahu keadaan lo. Sudah enakan?"


Spontan, gue tersenyum. Satya memang selalu perhatian dan baik hati seperti ini. Benar kata Rena, gue nggak seharusnya menyakiti hati Satya. "Gue nggak apa-apa, Kak."


"Baguslah..."


Hening menghampiri kami. Gue menikmati bagaimana hembusan nafas Satya yang beraturan. Tangan gue memilin rok abu yang masih membalut tubuh gue. Meskipun dalam diam, entah kenapa rasanya gue nggak mau telepon ini terputus.


"Malam ini..." Satya terdengar ragu sebelum melanjutkan, "adalah pertandingan basket final sekolah kita."


"Gue tahu kalau lo nggak mungkin datang," suaranya terdengar putus asa kali ini. Gue menggigit bibir bawah gue, agar mengingatkan tekad gue menjauh dari Satya. "Gue pengen dengar suara lo sebelum tanding nanti."


"Tanpa gue lihat pun, permainan Kak Satya pasti bagus," puji gue dengan tulus. "Lagipula, Ibu nggak akan ngasih gue pulang terlalu malam," gue ingat kalau pertandingannya akan digelar pukul delapan malam di GOR pusat kota.


"Lo lagi sama Gilang?" tanya Satya, tiba-tiba keluar topik pembicaraan.


"Nggak. Dia ada di rumahnya."


Hening kembali. Gue ingin memberi semangat sebelum pertandingan nanti, tapi tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuknya. Jadi, gue memilih untuk diam lagi. Menunggu Satya membuka kembali percakapan kami yang canggung.


Secara random, di tengah diamnya kami, gue membayangkan bagaimana jadinya nanti, saat Rena menyatakan cintanya pada Satya. Rena yang begitu menyukai Satya, akan menjadi pasangan yang baik. Rena bisa memberi support untuk Satya dan akan menguntungkan juga untuk masa depannya. Tidak ada alasan untuk menolak Rena. Mereka pantas bahagia berdua.

__ADS_1


"Rena bilang, dia akan datang."


"Rena bakalan heboh banget jadi suporter," gue tertawa pelan. "Jangan-jangan, dia sudah siapkan spanduk buat Kak Satya."


Satya tidak langsung menjawab. "Lo masih nggak mau cerita masalah lo sama Rena?" tanya Satya pada akhirnya.


"Kita nggak ada masalah," gue berdusta. Tidak mungkin gue menceritakan yang sebenarnya pada Satya. Rencana Rena malam ini tidak boleh sampai gagal. "Tadi cuma sedikit salah paham. Tapi bakalan beres besok."


"Yakin nggak perlu bantuan gue? Kayaknya, Rena belakangan sering nurut sama gue. Dia juga anteng nyemangatin gue."


"Rena begitu?" tanya gue pura-pura kaget.


"Dia jadi lebih terbuka semenjak lo pacaran sama Gilang. Mungkin dia merasa kehilangan, jadi nempel ke gue."


Gue hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan Satya. Rena menjadi sangat pemberani semenjak gue memutuskan untuk menghindar. Gue terlalu asyik dengan Gilang, sampai lupa bagaimana Rena berjuang sendirian.


"Ya sudah, baiknya lo istirahat sekarang. Gue lega dengar lo baik-baik aja," ujar Satya. "Nanti bakalan gue kasih kabar selesai pertandingan. Bye!"


"Kak Satya!" panggil gue, sebelum Satya menutup teleponnya. Gue mengumpulkan keberanian selama beberapa detik, lalu berkata, "semangat, Kak! Semoga sekolah kita jadi pemenangnya!"


Dan juga, Rena berhasil menyatakan cintanya ke Satya.


"Makasi, Debi."


Gue menunduk, memandang layar smartphone gue yang masih menampilkan nama Satya. Sebenarnya gue ingin menyaksikan sejarah percintaan Rena tercipta malam ini. Tapi, lebih baik gue nggak muncul di sana. Bisa saja gue malah membuat suasana menjadi kacau dan Rena semakin marah.


Lagi, gue merebahkan diri di sofa, memijit kening gue yang sedikit sakit. Sepertinya gue kebanyakan nangis. Besok pagi, gue akan minta maaf sama Rena. Gue nggak mau masalah kami terlalu lama dibiarkan. Lagipula, Gilang bakalan terus ngomel kalau gue nggak minta maaf secepatnya.

__ADS_1


***


__ADS_2