
Gue memperhatikan Ibu yang masuk ke kamar rawat inap gue malam itu. Di luar, gerimis menyapa meski musim hujan telah usai, seakan mengerti bagaimana pedihnya hati gue.
"Kamu belum tidur?" tanya Ibu basa-basi. Setelah meletakkan tas jinjingnya di kursi, Ibu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangannya. "Gimana keadaan kamu? Ada yang terasa nggak beres?"
"Nggak ada," jawab gue. Otak gue berpikir keras, bagimana caranya gue memancing pembicaraan mengenai pindah sekolah, orangtua Rena, dan juga Rena sendiri. Gue mau tahu, apa alasan Ibu merahasiakan semua ini selama gue dirawat.
Ibu keluar dari kamar mandi, lalu menutup tirai jendela. "Ibu tadi sudah bicara dengan dokter kamu. Katanya hasil pemeriksaan kali ini bagus. Ibu senang mendengarnya."
Gue tetap memperhatikan gerak-gerik Ibu dari sudut mata gue. Beliau sibuk merapikan meja yang gue buat berantakan secara tidak sengaja.
"Boleh Debi minta handphone Debi kembali?" tanya gue. Dulu, Ibu mengatakan akan menyimpan smartphone gue selama kondisi gue belum stabil. Ibu beralasan kalau gue harus fokus dengan kesehatan gue dulu dan banyak istirahat ketimbang main smartphone.
"Lebih baik kamu jangan main hape dulu. Istirahat saja. Sudah jam tidur."
"Debi ketemu Satya," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut gue.
Ibu menghentikan aktifitasnya. Beliau mematung untuk beberapa detik, sebelum menoleh ke arah gue. "Satya?" gumam Ibu.
"Kenapa Debi harus pindah sekolah? Apa karena ini semua salah Debi, sehingga Rena meninggal?"
"TIDAK!" bentak Ibu.
Air mata mulai menggenang lagi di pelupuk mata gue. Rasanya panas dan menyakitkan. "Kenapa Rena meninggal? Kenapa Ibu mau menerima jantung Rena untuk Debi? Bisa saja suatu hari nanti, Rena bangun dari komanya. Kenapa Ibu membiarkan Rena meninggal?"
Ibu melangkah mendekat dan langsung menggenggam tangan gue. "Maaf..." suara Ibu bergetar. "Ibu berencana akan menceritakan semuanya begitu kita pindah ke luar kota."
"Kenapa pindah?"
__ADS_1
"Karena Ibu tidak mau kamu menjadi sedih setiap kali ingat Rena."
Kening gue berkerut. "Jadi, kalau kita pindah, Debi bisa lupa sama Rena?" gue mendengus geli. "Asumsi dari mana itu?"
"Setidaknya kamu bisa memulai hidup baru dengan diri kamu yang baru. Lihat, sekarang kamu membaik. Kamu menerima donor jantung, dan semuanya berjalan sesuai harapan."
"Kenapa Ibu merahasiakan semuanya?" gue kembali ke topik pembicaraan kami. Gue nggak mau menunda apapun lagi. Ibu tidak boleh merahasiakan apapun lagi saat ini.
Ibu menatap gue lekat-lekat. "Ibu tidak tahu bagaimana reaksi tubuh kamu, jika kamu tahu semuanya begitu kamu sadar setelah operasi. Ibu tidak mau ambil resiko jika emosi kamu tidak terbendung. Kondisi kamu belum stabil saat itu. Ibu harus menjaga agar jantung kamu tidak bekerja terlalu keras selama masa penyembuhan."
"Karena alasan itu, Ibu mengambil hape Debi dan tidak menerima penjenguk? Ibu takut, ada yang sengaja ataupun tidak sengaja membeberkan semuanya?"
"Iya... Ibu takut," aku Ibu. "Ibu melihat kamu berkali-kali hampir meninggalkan Ibu. Setelah mendapatkan donor jantung, kalau sesuatu yang buruk terjadi, Ibu tidak mau hidup lagi. Kamu anak perempuan Ibu satu-satunya. Terlalu menyakitkan jika kamu sampai tidak ada."
"Ibu juga merahasiakan ini dari Ayah dan Kak Dika?"
Alasan itu sesuai dugaan gue. Ibu pastinya melakukan semua ini demi kebaikan gue. "Debi nggak mau pindah. Debi mau terus di kota ini. Rena harus selamanya Debi ingat sebagai sahabat sekaligus penyelamat hidup Debi."
"Tapi itu nggak baik buat psikis kamu, Nak!"
Gue menggeleng. "Debi mau tetap di kota ini," gue tetap pada pendirian. Pandangan mata gue lurus menatap Ibu yang juga ingin tetap pada keputusannya. "Debi nggak apa-apa. Buktinya, hari ini Debi bisa melewati semuanya tanpa terjadi apa-apa. Waktu ketemu Satya, jantung ini berdebar keras sekali. Tapi Debi tetap sadar dan sehat-sehat saja." Gue meneliti ekspresi Ibu sebelum melanjutkan. "Debi mau tetap di kota ini."
Ibu tidak segera menjawab. Kami bergulat dalam hening untuk beberapa detik. Rupanya Ibu tidak serta merta mau menuruti keputusan gue.
***
Gue kembali berdiri di taman rumah sakit, seusainya gue melakukan pemeriksaan darah dan treadmill. Udara sore itu terasa agak basah karena semalam hujan turun lebat sekali hingga tadi pagi.
__ADS_1
Pandangan gue menyapu seisi taman itu, mencari sosok Satya. Gue menemukannya duduk dengan mata terpejam. Rambutnya tersibak angin sore yang berhembus. Pipi Satya tampak tirus, jelas dia memikirkan kejadian yang menimpa kami. Kesedihan terpancar dari wajahnya, meskipun matanya terpejam.
Jantung gue kembali memberi reaksi yang mengejutkan. Gue masih belum terbiasa dengan debaran kencang seperti ini. Detak jantung yang melaju cepat, membuat wajah gue menjadi panas.
"Kak Satya," gue menyentuh bahunya, karena dia tetap tidak bergeming walau suara tiang infus yang gue seret saat mendekatinya lumayan berisik.
Satya membuka matanya dengan cepat. "Debi," dia balas menyapa. "Maaf, tadi gue lagi berfikir."
Gue duduk di sebelahnya. Detak jantung gue menjadi semakin kencang waktu Satya memutar tubuhnya hingga menghadap ke gue. Gue membiarkan seperti apa adanya, menikmati bagaimana kencangnya laju irama jantung gue ketika ada di dekat Satya. Rena, apa lo juga dengar? Lo masih hidup di diri gue.
"Gimana kabar lo?" tanya Satya. "Lo masih nggak boleh megang hape?"
Gue menggeleng. "Ibu juga masih belum setuju kalau gue tetap di kota ini."
Satya membuka mulutnya, hendak protes. Tapi cepat-cepat dia menutupnya kembali. Dia tahu, gue belum cukup dewasa untuk menentukan jalan hidup gue sendiri. Gue tidak bisa begitu saja memutuskan ini-itu tanpa mendapat pertimbangan dari orangtua.
"Kak, begitu keluar dari rumah sakit, gue mau nengok makamnya Rena." Dada gue terasa diiris saat gue mengatakan itu. Gue belum yakin, kalau gue bisa mengendalikan diri jika melihat makam Rena. Namun, gue nggak mau menunda untuk melihatnya.
"Lo yakin?" Satya terdengar khawatir, seolah membaca pikiran gue yang tengah bimbang. Dia mengulurkan tangannya sampai melingkar di badan gue saat dia melihat gue mulai menangis lagi. "Gue akan temani. Lo tenang aja. Kita hadapi ini bersama-sama," ucap Satya mencoba memberi kekuatan.
Gue membiarkan kehangatan Satya meresap melalui pori-pori kulit gue, membuat jantung gue lari terbirit-birit tanpa henti. Wangi tubuh Satya yang bercampur dengan cologne yang lembut, membius pikiran gue. Kenyamanan yang gue rasa, lama-lama membuat gue mengantuk.
Gue menyandarkan kepala gue yang terasa semakin berat ke dada Satya yang bidang. Satya tidak menolak, malah membelai kepala gue dengan perlahan. Gue memejamkan mata, membiarkan kantuk masuk mengambil alih kesadaran gue.
"Kak... Diam sebentar, ya..." gumam gue.
***
__ADS_1