
Hampir dua bulan lamanya gue dirawat di rumah sakit. Gue hanya berada di ruang ICU selama beberapa hari setelah gue sadar. Begitu dokter penanggung jawab gue memastikan kondisi gue sudah stabil, gue dipindahkan ke ruang rawat inap biasa.
Anehnya, Ibu tidak mengijinkan satu orang temanpun menjenguk gue. Selama dirawat, para perawat juga tampak menyembunyikan sesuatu. Tentu saja gue bertanya, tapi semua bungkam.
Alasan sebenarnya gue harus menjalani terapi treadmill sebulan terakhir, juga Ibu rahasiakan. Gue menurut saja. Tidak ada yang bisa gue lakukan di sini selain mengikuti semua keinginan Ibu. Ini demi bisa segera keluar dari rumah sakit.
Jujur saja, gue masih terusik oleh mimpi gue tentang Rena saat itu. Rena yang tidak mau menjawab pertanyaan gue dan tidak mengulaskan sebuah senyuman yang sangat cantik di bibirnya. Gue kangen sama bawelnya dia.
"Oke, hasil kali inipun bagus. Di luar dugaan, kamu pulih dengan cepat," puji dokter penanggung jawab gue. "Setelah ini, kita observasi selama beberapa hari lagi, kalau respon tubuh kamu baik, kamu boleh pulang."
"Yuk, balik ke kursi roda," Mbak Jihan-perawat ruangan yang meng-handle gue pagi itu, membantu gue untuk turun dari mesin treadmill dan kembali duduk di kursi roda.
"Silakan kembali ke ruangan. Saya akan bicarakan hasil selengkapnya dengan ibu kamu," Dokter mempersilakan.
Mbak Jihan langsung mendorong kursi roda gue ke luar ruang treadmill. Kami kembali ke ruang rawat inap gue yang sepi. Sepiring nasi hangat, lengkap dengan lauk steak ikan, telah terhidang di atas meja. Gue sempat melirik jam dinding, rupanya sudah pukul dua siang.
Mbak Jihan membantu gue yang sebenarnya sudah mampu untuk berdiri sendiri, kembali ke tempat tidur. Tidak lupa ia mengubah tempat tidur bagian kepala, menjadi tegak, supaya gue bisa bersandar di sana. Kemudian, Mbak Jihan mendekatkan makanan di atas meja. "Makan yang banyak, ya! Habis ini, kita cek lab darah lagi."
"Makasi, Mbak Jihan," tambah gue sebelum Mbak Jihan keluar dari ruangan gue. Setelah pintu kamar rawat inap gue tertutup, gue memandang lapar pada makanan di depan gue. Meskipun makanan ini hambar rasanya, hanya ini yang bisa gue nikmati saat ini. Satya tidak boleh berkunjung, jadi tidak ada yang menyelundupkan seblak ke bangsal gue lagi. Rena juga absen, kue-kue yang selama ini dia suguhkan hampir gue lupakan rasanya.
Gue membuka tudung kaca yang menutupi makanan. Wangi ikan menggoda hidung gue. Perut gue langsung menjerit-jerit ingin diberi makan. Dalam lima menit, gue menghabiskan makan siang gue. Untuk mengatasi rasa lapar yang masih tersisa, gue menenggak air putih sebanyak-banyaknya. Karena terlalu bersemangat, secara tidak sengaja air tumpah membasahi baju gue. Gue segera mengambil tissue dan mengelapnya.
"Kayaknya harus ganti baju," gumam gue pada diri sendiri. Gue meraih tombol panggilan perawat untuk meminta bantuan, lalu menekannya. Samar-samar, gue bisa mendengar dering panggilan dari counter perawat. Gue menunggu salah satu perawat datang ke kamar gue.
__ADS_1
Lima menit menunggu, tidak ada yang datang. Gue memutuskan untuk membatalkan panggilan dan mengganti baju sendiri. Lagipula, kondisi gue sudah membaik dan dokter gue sendiri mengatakan gue pulih dengan cepat. Tidak akan masalah kalau sekedar ganti baju.
Perlahan, gue turun dari tempat tidur, lalu mendorong tiang infus menuju kamar mandi. Gue melihat pantulan wajah gue di cermin. Tangan gue yang bebas infus, terjulur menyentuh cermin. Tidak banyak waktu yang gue habiskan untuk memandangi cermin selama di rawat. Mandipun, Ibu yang membantu.
Ada yang berbeda dengan diri gue. Wajah gue tidak sepucat yang gue ingat. Rona merah terpancar di pipi gue. Bibir gue yang biasanya berwarna biru, kini berubah merah. Seingat gue, tidak ada yang mengaplikasikan make up di wajah gue hari ini. Gue ganti menatap telapak tangan gue, bercak-bercak merah terpancar di bawah kulit. Kening gue berkerut, tidak mengerti. Kenapa gue bisa berbeda seperti ini?
Gue membuka baju pasien yang basah dengan perlahan, seraya tetap memandang ke cermin, masih takjub dengan perubahan yang cermin pantulkan.
Tangan gue bergerak ke arah perban yang menempel vertikal di tengah dada gue. Gue ingat kapan pertama kali melihat bekas luka itu. Sudah berapa kali gue menjalani operasi jantung, ya? Tujuh?
Tidak apa. Gue tidak perlu tahu apa saja yang sudah Ibu lakukan, karena gue tetap hidup sampai detik ini. Semua berkat Ibu. Tetap di rumah sakit dan menjalani semua terapi yang diperlukan, bukanlah sesuatu yang berat.
Perut gue berbunyi nyaring selesainya gue memakai baju yang baru. Gue lapar banget dan Ibu baru saja memulai shift-nya. Tidak mungkin gue minta dibawakan makanan tambahan.
Gue berjalan ke luar kamar. Lorong bangsal saat itu sepi. Tidak banyak orang yang lalu lalang. Mungkin karena belum jam berkunjung. Gue melangkah pelan menuju counter perawat untuk meminta izin pergi ke kantin.
Mendengar nama gue disebut, gue spontan berhenti. Pendengaran gue terasa menajam sepuluh kali lipat.
"Tadi gue habis anter pasien pulang. Anak yang biasa datang itu, buat ribut lagi sama satpam karena satpam diberi instruksi untuk tidak menerima titipan apapun untuk Debi."
"Wah, gigih juga, ya? Sudah berapa kali dia ke sini?"
"Setiap hari."
__ADS_1
"Cuma untuk menjenguk Debi?"
"Siapa lagi?"
"Hhh... Sampai kapan kita harus menutupi soal operasi Debi?"
"Sampai dia boleh pulang."
"Dia pulangpun, harus kontrol berkali-kali. Cepat atau lambat, dia pasti tahu semuanya."
"Setidaknya kita bisa mengulur waktu sampai dia benar-benar stabil."
"Gue nggak bisa bayangkan gimana hancurnya hati Debi kalau tahu apa yang terjadi."
Kali ini, pendengaran gue menajam dua puluh kali lipat. Apa? Apa yang tidak boleh gue ketahui? Kebenaran apa yang mereka sembunyikan? Kenapa hati gue bisa hancur?
Gue mundur, urung menuju counter perawat yang awalnya menjadi tujuan gue. Mereka bilang, ada seseorang yang berselisih dengan satpam rumah sakit. Mungkin saja orang itu masih di lantai bawah. Gue berjalan cepat menuju arah berlawanan. Gue harus ke lantai satu, dan satu-satunya cara agar tidak terlihat perawat adalah dengan menuruni tangga darurat.
Berbagai macam pertanyaan berkecambuk di kepala gue. Selama ini, gue bungkam, menurut saja apapun keinginan Ibu. Lalu, apa yang gue dengar barusan?
Sesampainya di lantai satu, gue berhenti untuk mengatur nafas terlebih dahulu. Gue mengecek telapak tangan gue, untuk memastikan apakah berubah pucat karena kekurangan oksigen atau baik-baik saja. Gue takjub, warnanya masih merah seperti tadi, bahkan rasanya lebih merah.
Gue mendorong pintu tangga darurat setelah memastikan tidak ada orang yang melihat. Gue menegakkan tubuh dan berlaku seperti tidak ada apapun yang terjadi. Jantung gue berdegup semakin kencang saat pintu keluar rumah sakit tampak di depan mata gue.
__ADS_1
Mata gue membelalak ketika melihat seorang laki-laki berdebat dengan salah satu satpam. "Kak Satya?"
***