
Gue berjalan menyusuri lorong sekolah menuju perpustakaan yang letaknya agak jauh dari kelas gue. Beberapa buku yang gue pinjam sudah tenggat waktu untuk dikembalikan. Gue harus cepat sebelum jam masuk dimulai.
Perpustakaan adalah tempat yang paling jarang dijamah oleh anak-anak sekolah ini, tidak tahu kenapa. Hanya ada satu-dua orang yang akan berkunjung ke sana di jam istirahat atau saat jam kosong.
"Siang, Debi!" sapa Bu Indah, petugas yang menjaga perpustakaan. "Mau kembalikan buku?"
"Hehehe, Bu Indah ingat, ya?"
"Kamu ke sini setiap Senin dan Jumat. Biasanya Jumat kembalikan buku. Mana mungkin Ibu bisa lupa," jawabnya. Bu Indah langsung memeriksa buku-buku yang gue kembalikan. "Kamu mau pinjam buku lagi?"
Gue menengok jam dinding, masih ada waktu lima belas menit untuk melihat-lihat. Rena juga sudah kembali ke kelasnya. "Saya lihat-lihat, ya, Bu?"
"Boleh, boleh!" Bu Indah mempersilakan.
Gue melenggang masuk dan menyusuri rak dengan judul 'Kimia'. Buku-buku referensi yang berhubungan dengan kimia berjejer rapi tak tersentuh debu. Sepertinya Bu Indah membersihkan rak-rak di sana dengan rajin. Buku-buku di sini akan terawat jika yang menjaganya adalah orang yang menyukai buku juga.
Salah satu buku bersampul kuning menarik perhatian gue. Gue membaca sekilas isi di halaman depannya untuk memutuskan apakah perlu gue pinjam atau tidak.
"Hai, Debi!" suara berbisik itu cukup membuat gue kaget. Saat menoleh ke sumber suara, ternyata Satya berdiri di sana. "Baca apa?"
"Oh, ini?" gue memperlihatkan sampul buku pada Satya. "Gue lagi mau minjem beberapa buku untuk dipelajari."
"Itu.. Untuk kelas dua belas, kan?"
Gue mengangguk. "Gue pengen tahu gimana pelajaran kelas dua belas."
Satya memandang ke arah rak buku, lalu memilih salah satunya. "Itu terlalu jauh buat lo. Buku yang ini aja!" dia menyerahkan sebuah buku latihan soal kimia, lalu menaruh kembali buku bersampul kuning dari tangan gue.
"Ini latihan soal yang mudah?"
Satya mengusap-usap dagunya. "Menurut gue, itu setara sama kemampuan kerja otak lo. Tapi, kalau lo kasih ke Rena, pastinya dia nggak bisa."
Gue tertawa pelan mendengar pendapat Satya. "Rena memang nggak terlalu cepat menangkap pelajaran. Dia selalu minta diajari ini-itu."
"Tapi hebat masalah bisnis?"
Gue mengangguk bersemangat. "Kak Satya tahu banyak tentang Rena, ya?"
__ADS_1
"Dia suka cerita." Satya meneliti beberapa buku di rak fisika. "Kami beberapa kali ngobrol."
"Rena.. Dia jarang mau dekat dengan laki-laki."
"Tanpa lo jelaskan, gue juga nggak akan memvonis bahwa sahabat lo itu buruk. Dia memang cantik, populer, dan digandrungi laki-laki. Tapi itu bukan alasan menilai dia buruk."
"Makasi, Kak..."
"Lalu..." Satya kembali menatap gue. Raut wajahnya berubah serius, "...tentang lo dan Gilang?"
Astaga! Kenapa harus ke topik itu? Biasanya kami tidak membahas hal pribadi seperti ini sesering sekarang. Apa? Apa yang harus gue bilang perihal hubungan gue dan Gilang?
Oke, gue harus tenang! Jangan gegabah! Gue cuma harus menegaskan bahwa Gilang adalah pacar gue. Untuk urusan lainnya, Gilang yang akan mengurus. Dia pintar drama.
"Kenapa?" tanya gue, berusaha keras agar nada suara gue terdengar tenang.
"Lo benar pacaran sama dia?"
Gue mengangguk. Jika mengeluarkan suara, pastinya suara gue akan bergetar. Gue bisa ketahuan bohong.
Gue mematung. Tidak ada jawaban yang bisa terlintas di benak gue. Gue nggak bisa berbohong terlalu banyak, karena gue nggak tahu seberapa banyak yang Rena ceritakan tentang kami ke Satya. Tapi, yang jelas, Satya akan tahu bahwa tidak ada rahasia di antara gue dan Rena.
"Apa dia maksa lo?"
Gue menggeleng cepat. "Gilang bukan orang yang seperti itu, Kak!" bela gue.
"Lalu?"
"Kenapa perlu penjelasan?" gue balik bertanya.
Kening Satya berkerut. Jelas sekali terlihat kalau dia tidak puas dengan pertanyaan yang dikembalikan padanya. "Gue perlu jawaban, Deb!" Satya berkeras.
"Kenapa?"
Sumpah! Nggak ada apapun yang bisa gue lontarkan sebagai sebuah jawaban yang akan memuaskan Satya.
Satya maju, tangannya meraih bahu gue. "Debi, lo serius pacaran sama Gilang?"
__ADS_1
"Iya," gue sendiri kaget mendengar nada tegas yang keluar dari mulut gue. "Gilang menyatakan cinta waktu kita manggang di rumahnya."
"Lalu, lo terima?"
"Iya, gue terima." Tiba-tiba saja sebuah jawaban akhirnya muncul. "Nggak ada alasan gue nolak dia. Gilang orang yang baik, perhatian, walaupun agak berkepala batu, dia ingat apapun yang gue katakan. Gilang itu tipe yang gu-" kalimat gue terpotong. Wajah gue terbenam ke dada Satya yang tiba-tiba menarik gue ke dalam pelukannya.
Sangat jelas terdengar... Suara detak jantung Satya yang melaju kencang seperti kereta api. "Jangan lanjutkan!" bisiknya. Getar suaranya yang bisa gue rasakan lewat dadanya, membuat bulu kuduk gue meremang.
"Kak?" gue mencoba melepaskan pelukannya. Rasa hangat yang gue rasakan, sangat berbeda waktu Gilang meluk gue. Bersama Satya, rasanya aneh. Rasa tidak nyaman ini juga gue rasakan waktu Satya yang menemani gue di rumah sakit tempo hari. Tangannya yang besar dan hangat, memberikan suatu sensasi yang tidak mau gue akui.
"Debi? Satya?" suara Bu Indah memecah keheningan. Satya langsung menarik tubuhnya untuk menjauh. "Oh, kalian di sini? Gimana? Sudah ketemu buku yang mau dipinjam? Jam istirahat sudah habis."
"Su-sudah!" gue melangkah duluan. Lutut gue bergetar hebat. "Saya pinjam buku yang ini."
"Baik, Ibu tulis dulu, ya?"
Satya berjalan canggung di belakang gue. Dia tidak membuka percakapan apapun, bahkan sampai kami keluar dari perpustakaan.
Sialnya, kelas kami terletak di arah yang sama. Kami jadi berjalan beriringan di dalam suasana hening yang mencekam. Gue nggak berani membuka mulut. Sementara Satya tidak membuka percakapan. Kami sama-sama tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.
"Mmm... Gue jalan duluan, ya, Kak?" gue memberanikan diri untuk membuka mulut saat pintu kelas gue akhirnya terlihat.
"Soal tadi-" Satya buru-buru menjawab sebelum gue kabur dari sampingnya, "-gue minta maaf."
"Nggak apa-apa, Kak."
"Lain kali, gue mau dengar apa alasan lo yang sebenarnya sampai tiba-tiba pacaran dengan Gilang."
"Kenapa Kakak sangat ingin tahu perihal hubungan gue dengan Gilang?" gue jadi emosi. Harus sejauh apa gue berbohong hingga Satya tidak akan mengungkit lagi tentang ini?
Satya terdiam. Dia membalas tatapan gue tanpa ragu. Gue berniat pergi kalau dia tetap tidak menjawab, karena gue lihat ada beberapa guru sudah menuju ruang kelas.
"Lo nggak sadar, Deb?" suaranya terdengar parau.
Gue menelan ludah. Gue memaksa otak gue untuk berpikir dengan cepat, agar Satya tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan. Gue harus bertindak cepat. "Maaf, Kak, nanti kita lanjut lagi. Kelas gue sudah mau mulai." Ada raut sedih yang gue lihat di wajah Satya waktu gue meninggalkan dia sendirian berdiri di sana.
***
__ADS_1