
Gue duduk merosot di kursi penumpang, di sebelah Gilang yang tengah mengemudi. Kami hanya bersandiwara selama satu jam, tapi rasanya lelah sekali.
"Lo nggak apa-apa?" Gilang melirik sekilas, lalu kembali memperhatikan jalan. "Muka lo pucat. Kita perlu ke rumah sakit?"
"Nggak.. Gue cuma mau istirahat sebentar."
Gilang menepikan mobilnya. Dia menghela nafas panjang, lalu menurunkan sandaran kursinya. "Ya sudah, ayo istirahat."
"Di sini?" tanya gue, nggak percaya dengan keputusan yang Gilang ambil. Seriusan dia bakalan berhenti di sini, di pinggir jalan raya yang agak ramai?
"Kalau lo mau istirahat, gue harus nurut. Kalau gue tetap jalan, kita bakalan nyasar tanpa arahan dari lo."
Astaga.. Ternyata dia lebih manis dari dugaan gue.
"Kalau nyasar, gue jadi buang-buang bensin. Mubazir, kan? Masa segitu aja lo nggak ngerti?"
Batal! Batal gue bilang dia manis!
"Ngomong-ngomong, gimana menurut lo setelah drama kita tadi?"
Gue menutup mata. Warna hitam memenuhi penglihatan gue. Desiran angin dari AC membuat bulu kuduk gue meremang. "Gue nggak mau ambil kesimpulan hanya dengan sekali percobaan."
"Gue, sih, nggak masalah pura-pura jadi pacar lo," kata Gilang. "Tapi, lo harus ingat, gue ini lumayan terkenal. Satu-dua orang, pasti tahu siapa gue."
"Lo malu pacaran sama gue?"
Gilang malah terbahak. "Cieh, jadi kita pacaran, nih?" godanya.
Gue jitak aja kepalanya supaya waras lagi. "Gil, serius, dong!" Gue turut menidurkan sandaran kursi.
Gilang mengubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap gue. "Alasan gue pindah ke perumahan di pinggir kota, karena gue merasa capek dikejar wartawan terus. Gue ingin menjalani hidup damai beberapa saat dan juga berteman."
"Lo seterkenal itu?"
"Ya, gue terkenal, kaya, dan tampan!"
Sumpah, terserah lo, Gil!
"Masalah kita pacaran cuma pura-pura, gue nggak masalah. Gue udah sering jalin hubungan dan kalau ditambah sama lo, gue nggak masalah. Tapi, lo harus siap juga. Kalau ada wartawan yang melihat kita, lo harus bersandiwara sebagus mungkin. Buat seolah kita memang pasangan yang saling jatuh cinta. Dengan begitu-"
"-gue bisa jaga jarak dari Kak Satya!" terka gue.
"Yang ada di pikiran lo itu, cuma Rena, ya?"
"Dia sahabat gue. Dia satu-satunya yang mau bersama gue setelah tahu gue penyakitan dan sering buat repot. Rena adalah hal berharga yang mau gue jaga."
__ADS_1
Gilang menepuk kepala gue. "Anak baik.."
"Baru tahu?"
"Jadi, kita sepakat, ya? Urusan kita cuma pura-pura, nggak boleh ada yang tahu."
"Orangtua gue?"
Gilang menggeleng. "Kalau hubungan kita yang main-main diketahui khalayak luas, nama baik gue bakal tercoreng. Gue nggak mau jadi susah nyari istri gara-gara main-main sekali."
"Emang selama ini lo serius pacarannya?"
"Serius, dong! Gue ini tipe laki-laki yang menghargai hubungan!"
"Terus, kenapa bisa putus?"
"Kata mereka, gue terlalu baik buat mereka."
Gue tertawa mendengar Gilang yang menjawab dengan tampang bangga. "Itu alasan klasik yang orang-orang pakai untuk mutusin pacarnya!"
"Sok tahu!"
Gue menarik nafas panjang, menenangkan diri gue sendiri. "Ini seriusan kita bakalan istirahat di sini?"
"Apapun yang lo mau."
"Mikir, Non! Besok Rabu, lo harus sekolah!"
"Seandainya, Gil!"
"Ya, ya, gue bisa ajak lo ke Puncak," jawab Gilang pasrah. "Deb?"
"Apa?"
"Sakit lo itu, nggak bisa sembuh?"
"Bisa."
Gilang mendadak duduk tegak sampai mobil bergoyang. Dia menatap gue lekat-lekat. "Serius? Bisa?"
Gue mengangguk. "Mau dengar cerita gue dari awal?"
"Panjang?"
Gue manggut-manggut. "Banget!"
__ADS_1
"Kalau gitu, kita nyari tempat yang lebih enak buat cerita, yuk?" ajaknya. "Pantai? Cafe? Perpustakaan? Rumah gue?"
"Rumah lo aja!" putus gue. "Rumah lo bisa jadi tempat paling santai buat cerita."
"Hmm, berasa di rumah sendiri, ya?"
Gue tertawa mendengarnya. Gue ingat bagaimana awal pertemuan kami. Pertemuan yang di luar logika dan buat perut melilit kesal. Gue masih ingat bagaimana bencinya gue sama anak kepala batu satu ini, karena Ibu dan Kak Dika menjadi sekutunya.
Hal seperti ini, tidak pernah terlintas di kepala gue sama sekali. Berpura-pura menjadi pacar seorang penulis terkenal, hanya untuk menghindari laki-laki yang katanya menyukai gue.
Menyiapkan mental jika ada wartawan yang menangkap kami, nggak pernah gue bayangkan. Gue merasa hidup gue akan lurus-lurus saja sampai akhir waktu gue nanti, ternyata bisa menjadi serumit ini.
Gilang kembali melajukan mobilnya. Seperti biasa, gue harus jadi navigator pribadinya. Tampaknya, dia makin lihai menyetir. Beberapa kali, Gilang mendikte jalan yang akan kami lalui.
Setibanya kita di rumah, gue langsung mandi dan ganti baju, sementara Gilang menunggu di rumahnya. Ibu menitipkan kue basah yang baru saja dibuat untuk kami makan bersama. Sepertinya Ibu tidak keberatan dengan kedekatan kami.
"Wah! Kebetulan gue lapar!" Gilang langsung menyomot salah satu kue. "Udah lama banget gue nggak makan pukis!"
"Makannya jangan sambil berdiri!" gue menggiring dia ke dapur. Ternyata dapurnya lebih bersih dan rapi dari yang gue duga. "Rapi banget?"
"Nggak pernah gue pakai."
"Ck, ck, ck," gue geleng-geleng kepala. "Duduk!"
Gilang menurut saja gue suruh duduk. Dia diam seperti anak anjing yang menunggu diberi makan. Gue meneliti dapurnya sambil menyiapkan kue basah ke atas piring. "Dapur lo lengkap banget!"
"Ini semua manager gue yang menyiapkan. Gue terima beres."
"Pantes aja lo nggak pintar apa-apa. Diurus terus, sih!" Gue berbalik dengan piring penuh kue basah. "Astaga!" betapa kagetnya gue melihat Gilang sudah berdiri di hadapan gue. Tubuhnya yang tinggi seakan melahap kehadiran gue. "Kaget! Ngapain lo?"
"Gue pintar dalam segala hal," dia mengoreksi. "Gue juga pintar ngerayu."
Gue membalas tatapan matanya. Sinar mata lembut yang mempesona. Wajahnya bisa gue lihat sangat jelas kali ini. Gilang memang kurus, tapi dia tipe laki-laki tampan.
"Lo ganteng!"
Wajah Gilang langsung berubah merah seperti kepiting rebus. "Apaan, sih!"
"Bener, lho!" gue maletakkan piring ke atas meja. Tangan gue meraih rambutnya yang sedikit berantakan. "Kenapa nggak dari dulu lo dandan begini? Gue pernah lihat lo beberapa kali di televisi, tapi nggak seganteng ini!"
"Aaargh!" Gilang menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Nggak usah diterusin! Gue emang ganteng! Nggak usah diomongin lagi!"
"Kenapa? Gue bener muji! Kenapa lo jadi salah tingkah?" gue memaksa agar tangannya tidak menutupi wajahnya lagi. Ingin rasanya mengabadikan ekspresi Gilang saat ini, untuk dijadikan bahan lelucon di lain hari.
"Jangan lihat!" Gilang menarik gue hingga jatuh ke pelukannya. Otak gue lagi-lagi berhenti berfungsi. Gue hanya diam, membiarkan Gilang melingkarkan tangannya di badan gue.
__ADS_1
***